CURANMOR atau Pencurian Kendaraan Bermotor akhir-akhir ini sangat mersesahkan masyarakat Universitas Negeri Medan (Unimed). Mengapa tidak? dihitung dari satu bulan belakangan ini saja, sudah tercatat kurang lebih 5 kendaraan bermotor hilang di sekitaran Unimed. Tempat hilangnya kendaraan bermotor ini pun berbeda-beda disetiap pelaporan adanya kehilangan. Ada yang hilang di tempat parkiran sepeda motor fakultas, di sekitar lapangan, bahkan ada pula yang hilang di sekitar Masjid Unimed saat sedang melaksanakan ibadah.

Tepat pada hari Jumat (8/2/2019) kehilangan kembali terjadi di parkiran fakultas Bahasa dan Seni Unimed. Seorang mahasiswi angkatan 2015 jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia mengungkapkan penyesalannya setelah meninggalkan motornya di parkiran fakultas yang ia kira aman.

“Kejadian ini terjadi ketika ia dan temannya hendak bepergian dan meninggalkan motor di parkiran fakultas. Namun nasibnya, ketika ia kembali sekitar pukul 21.00 dan hendak mengambil motor, motor itu sudah tidak ada.” Ungkap salah satu teman korban.

Masyarakat Unimed khususnya yang menggunakan kendaraan tentu saja merasakan keresahan yang sama dengan kejadian ini. Lalu pihak mana yang akan disalahkan dengan adanya kasus ini?

Sebagai salah satu teman korban, Rizky Syaipullah Ritonga, mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2015 mengungkapkan kekecewaannya kepada kasus ini. “keamanan kampus itu merupakan salah satu poin penting, di kampus CCTV ada namun kurang berfungsi, pos satpam juga sudah memiliki plang namun hanya seperti pajangan saja karena sudah tidak berfungsi dengan baik. Kalau memang mau betul-betul mau membuat peraturan untuk tertib agar tidak ada yang melanggar, plang itu harusnya difungsikan dengan benar dan satpam sudah seharusnya mendapatkan pelatihan dengan benar.” Ungkapnya

Maraknya Curanmor yang terjadi, membuat masyarakat sekarang sudah memasang CCTV sebagai sistem keamanan yang dapat diandalkan. CCTV akan sangat dibutuhkan pada jalur keluar tempat-tempat publik layaknya Universitas. Masyarakat Unimed sangat mengharapkan kasus ini dapat diselesaikan dengan cepat.

“Harapanku keamanan kampus sudah harusnya lah untuk dikoreksi kembali, termasuk pada penjaga-penjaganya (satpam). Fasilitas juga harusnya diberdayakan semaksimal mungkin, karena fasilitas bukan hanya sebagai pajangan saja. Mahasiswa dan pegawai sebagai masyarakat kampus juga harus menjaga fasilitas tersebut. Ketika fasilitas sudah dimaksimalkan, mahasiswa juga harus memaksimalkan dirinya untuk mengikuti aturan yang sudah diberdayakan tadi dengan baik.” Lanjut Rizky.

Hingga saat ini sudah ada gambar elektronik yang terus dieredarkan dikalangan mahasiswa tentang gerakan peduli keamanan kampus. Gambar tesebut diharapkan sampai kepada pihak kampus agar keamanan kampus segera diperbaiki.

Reporter   : Tommy Lumban Tobing