BeritaSeputar Kampus

SOSIALISASI HASIL SURVEI DEMOGRAFI DAN KESEHATAN INDONESIA (SDKI) TAHUN 2017 DI SUMATERA UTARA

Rabu, 06 November 2018 Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Utara mengadakan kegiatan Pers Conference Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) Tahun 2017. Kegiatan yang berlangsung pukul 10.00 WIB ini dihadiri oleh beberapa media cetak LPM Kota Medan.

SDKI adalah salah satu survei sosial kependudukan berkala yang mengumpulkan berbagai informasi berupa: kelahiran, kematian, prevalensi KB, dan kesehatan (khususnya reproduksi). Survei yang merupakan bagian dari program Internasional ini telah diselenggarakan selama delapan kali sejak tahun 1987. Adapun yang menjadi sampel dalam survei ini, ialah Master Sampel Blok Sensus (BPS) yang berisi daftar blok sensus yang dilengkapi informasi jumlah rumah tangga, klasifikasi urban/rural, dan strata wealth indeks dan daftar rumah tangga biasa hasil pemutakhiran rumah tangga Sensus Penduduk 2010 pada blok sensus terpilih SDKI 2017.

Berdasarkan hasil SDKI 2017 Sumatera Utara dinyatakan bahwa median umur kawin pertama wanita kawin umur 25-49, tingkat persentasenya cenderung lebih tinggi di daerah perkotaan yaitu 23,2%, sedangkan di pedesaan 21,9%. Jadi total median umur kawin pertama wanita kawin umur 25-49 adalah 22,5%. Jumlah anak ideal berdasarkan SDKI 2017 ialah rata-rata wanita kawin (15-45) menginginkan dua anak sedangkan pria kawin (15-54) menginginkan lebih dari 3 anak. Pengetahuan tentang suatu alat/cara KB suatu cara modern di atas 95%. Sumber pelayanan alat/cara KB modern dari pemerintah sebanyak 46%, swasta 53% dan dari lainnya 1%. Distribusi presentase wanita kawin umur 15-49 berdasarkan kebutuhan ber-KB, yakni ingin ber-KB (membatasi kelahiran) sebanyak 36%, terpenuhi (membatasi kelahiran) 31%, ingin ber-KB (menjarangkan kelahiran) 14%, terpenuhi (menjarangkan kelahiran) 11%, belum terpenuhi (membatasi kelahiran) 5%, dan belum terpenuhi (menjarangkan kelahiran) sebesar 3%. Kebutuhan KB yang belum terpenuhi diperkotaan sebanyak 10% dan pedesaan 11% jadi total median sebesar 11%.

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Utara, Drs. Temazaro Zega, M. Kes., mengatakan bahwa masyarakat masih minim pengetahuan tentang alat KB, khususnya masyarakat pedesaan. “Penggunaan alat KB di masyarakat masih rendah, khusunya masyarakat pedesaan. Mereka masih cenderung menggunakan alat/cara KB tradisional. Hal ini disebabkan oleh kurangnya penyuluhan-penyuluhan kepada masyarakat tentang alat/cara KB modern. Masyarakat berpikir bahwa menggunakan alat KB modern memiliki efek samping, seperti membuat gemuk. Masyarakat harus diberikan penyuluhan-penyuluhan tentang alat/cara KB modern yang dibuat berdasarkan penelitian medis. Jadi, alat KB modern tidak memiliki efek samping dan penggunaannya berdasarkan saran medis”.

Dalam Pers Conference, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Utara menginginkan seluruh masyarakat untuk bekerjasama menekan angka kelahiran di negara Indonesia. Hal ini bertujuan untuk kesejahteraan rakyat Indonesia, serta menghidari berbagai penyakit yang ditimbulkan dari pernikahan di usia muda.

Tag

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Cek juga

Close
Close