Seputar Kampus
Viral

Pelantikan Kru 31 Sekaligus Pembukaan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Nasional oleh Pers Mahasiswa Kreatif

R Rabu 24/4/2019, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pers Mahasiswa Kreatif Universitas Negeri Medan menyelenggarakan acara pelantikan kru baru angkatan 31 sekaligus menyelenggarakan Pekan Jurnalistik Tingkat Lanjut Nasional (PJTLN). Acara tersebut dimulai pada pukul 09.30 WIB di ruang Audio Visual tepatnya di Digital Library UNIMED. Ini merupakan kali ketiga bagi UKM Pers Mahasiswa Kreatif menjadi tuan rumah PJTLN.

Acara ini dihadiri oleh perwakilan bidang kemahasiswaan Pak Dr. Yasaratodo Wau, M.Pd, beberapa perwakilan dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) dari kota Medan, perwakilan dari masing-masing UKM di wilayah Universitas Negeri Medan, senioren-senioren UKM Persma Kreatif, serta tamu terhormat dari LPM diberbagai daerah di Indonesia yang mengikuti acara PJTLN. Acara tersebut tentunya memiliki daya atraktif tersendiri. Sebab, acara tersebut merupakan acara yang cukup bergengsi. Bahkan, melalui diaselenggarakannya acara ini marwah Universitas bisa menjadi lebih baik lagi.

Acara pelantikan kru baru angkatan 31 sekaligus PJTLN secara resmi dibuka oleh Pak Dr. Yasaratodo Wau., M.Pd. Pembacaan ikrar yang khidmat, penyematan rompi sebagai simbolis pelantikan, serta sesi pemotongan tumpeng turut memeriahkan acara pelantikan ini. Setelah itu ada juga persembahan visualisasi puisi dari kru angkatan 31 yang baru saja dilantik.

Acara tak sampai disini saja. Setelah acara pelantikan selesai, Pelatihan Jurnalistik Tingkat Nasional turut dimulai. PJTLN yang memfokuskan pada tema “Jurnalisme Lingkungan” ini memiliki tujuan memberikan pemahaman tentang energi dan lingkungan kepada jurnalis mahasiswa di Indonesia, menguatkan pemahaman dan praktik jurnalisme lingkungan, membangun kepedulian lembaga pers mahasiswa terhadap lingkungan, membangun tindak kritis lembaga pers mahasiswa di Indonesia terkait isu lingkungan, serta menjalin tali silaturahim antar LPM se-Indonesia.
Pelatihan pertama melibatkan pemateri dari Dinas Kepariwisataan kota Medan, Agus Suryono selaku Kepala Dinas Pariwisita kota Medan. Beliau memaparkan materi PJTLN yaitu mengenai tata kelola kebersihan dan pariwisata kota Medan. Tema besar acara PJTLN tentang jurnalisme lingkungan yang juga memiliki esensi pengamatan serta hasil verifikasi data berdasarkan permasalahan lingkungan terkhusus di masyarakat, tentu memiliki relevansi dengan materi yang dipaparkan oleh Pak Agus Suryono. Dalam penyampaian materinya, beliau mengungkapkan bahwa predikat kota Medan sebagai kota terkotor itu sebenarnya hanya asumsi yang dibangun oleh masyarakat lokal saja. Jadi, kota Medan itu sebenarnya kebetulan berada di peringkat paling rendah persoalan alokasi sampah atau kinerja Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang tak sesuai dengan apa yang pemerintah harapkan. Tentu, kebersihan sangat mempengaruhi sepak terjang pariwisata. Maka dari itulah Dinas Pariwisata berupaya mendatangkan wisatawan dari luar untuk meningkatkan pariwisata di kota Medan kembali. Hal tersebut juga dibarengi oleh upaya pengubahan asumsi yang menyatakan bahwa kota Medan adalah kota yang paling kotor di Indonesia.

Sedangkan pada pelatihan kedua yang diadakan setelah kegiatan Istirahat Sholat Makan (ISHOMA), turut dihadiri oleh pemateri dari Dinas Kebersihan kota Medan yaitu Pak Muhammad Yamin Daulay, SE. Yang menjabat sebagai Bidang operasional persampahan dinas kebersihan dan pertamanan kota Medan. Beliau memaparkan materi yang juga berangkat dari predikat yang melekat pada kota Medan sebagai kota terkotor. Beliau mengungkapkan, bahwa permasalahan itu sebenarnya dipicu oleh standarisasi perspektif masyarakat dalam memandang sampah. Hal tersebut menjurus pada segi ketidak pedulian masyarakat yang membuang sampah pada tempatnya. Padahal, berbagai macam upaya dilesatkan oleh pemerintah untuk menjaga lingkungan. Tetapi, masyarakat sudah termakan oleh tindakan buruk yang dijadikan budaya itu. Tak hanya itu saja, beliau juga turut menjelaskan hukuman dari peraturan daerah bagi siapa saja yang membuang sampah sembarangan. Baik itu masyarakat, maupun instansi seperti pabrik-pabrik yang memproduksi sampah plastik.
Setelah pelatihan kedua selesai, Pak Rizal Rudi Surya dari Bidang Pendidikan dan Lingkungan Hidup di Persatuan Wartawan Indonesia menjadi pemateri untuk pelatihan jurnalistik ketiga. Dalam materinya, beliau mengangkat tema tentang “Eksistensi Pers dalam Problematika Lingkungan”. Dalam pembahasannya, beliau mengungkapkan bahwa Jurnalisme Lingkungan merupakan hal yang kurang seksi jika diangkat menjadi berita. Namun, hal tersebut bisa menjadi berita yang seksi jika dibuat dengan gaya jurnalis sastrawi. Beliau juga menjelaskan mengenai daya akurasi seperti verefikasi, independen, maupun sikap yang harus dimiliki oleh seorang jurnalis demi menghasilkan berita yang bagus. Di akhir acara, beliau membagikan buku karyanya pada siapa yang beruntung menjawab pertanyaan yang diajukan. Materi dari Pak Rizal merupakan penutup Pelatihan Jurnalistik Tingkat Nasional (PJTLN) di hari pertama. (*)

Tag

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close