Medan – Kreatifonline.com,  Jam telah menunjukkan pukul lima pagi. Pria separuh baya ini mulai membangkitkan semua tenaga dan kekuatannya untuk berpacu kembali dengan sang mentari. Tampak sebuah stang yang selalu digenggam, sepeda yang dikayuh dan juga tangan-tangan penumpang untuk memberikan beberapa lembar uang ribuan. Inilah sumber penghasilan yang ia tekuni selama 14 tahun. Dia adalah seorang pria yang telah berkeluarga dan kini bertempat tinggal di jalan Pardamean gang Pelita di rumah bernomor 17 bersama seorang istri dan dua orang anaknya. Bambang berusia 31 tahun, ia telah menarik becak selama 14 tahun mulai dari lajang sampai berkeluarga “Sebelumnya saya pernah bekerja di percetakan,namun ketika masa-masa bekerja saat itu, terjadi krisis moneter berkisar tahun 1996 tahun lalu, terjadi pemutusan hubungan pekerjaan, maka sejak saat itu saya memilih pekerjaan menarik becak,” ujarnya dengan nada datar. Sewaktu memilih pekerjaan menjadi penarik becak dayung, dulu saya menyewa becak orang dan memberikan setoran setiap harinya kepada yang punya becak. Dan sekitar tiga tahun yang lalu saya sudah dapat membeli becak dayung sendiri. “Itu semua berkat dukungan istri saya, setelah setahun menikah, alhamdulillah…saya ada rejeki dan bisa beli becak untuk menafkahi keluarga saya,” katanya dengan sedikit senyum.

Bila berbicara tentang penghasilan, uang yang dapat ia kantongi berkisar dua puluh ribu sampai tiga puluh ribu dalam seharinya. Namun tatkala, pernah juga hanya membawa uang ribuan sebanyak lima lembar ke rumah. “Yang penting sehat-sehat semualah kami sekeluarga, itu semua sudah cukup,”katanya. Dulu, sewaktu saya mangkal di daerah Sambu, penarik becak itu memiliki antrian, bila ada penumpang yang mau naik becak , maka penarik becak tersebut menunjukbecak yang sudah mengantri terlebih dahulu, Lain halnya dengan sekarang,bila mangkal di jalan Pardamean ini, tak ada kata antri,bila ada penumpang yang mau naik becak, tergantung cara kita menarik penumpang agar penumpang tersebut mau naik becak kita.

Pengalaman yang pernah ia peroleh saat menarik becak, ialah berhubungan dengan masalah penumpang. Beberapa bulan yang lalu ia pernah membawa dua orang anak kos naik becak yang ia kendarai, akan tetapi ia amat kesal karena kedua anak kos ini benar-benar tak dapat menghargai jasa orang lain. Ketika itu,mereka mematokkan ongkos dengan harga yang tak layak dan juga mereka membanding-bandingkannya dengan becak-becak yang lain. Dan dengan berat hati ia juga membawa penumpang yang agak sedikit pelit itu ke jalan yang hendak mereka tuju. Namun, karena kesalnya dan mereka tidak menghargai jasa seseorang walau hanya penarik becak saja. Setelah mereka sampai ke tempat yang dituju, penumpang tersebut membayar ongkosnya dan Bambang menerima uang ribuan tersebut lalu berselang beberapa detik langsung ia kembalikan kepada mereka sambil berkata “apa pantas ongkos segini?” ujarnhya dengan nada kesal. Lalu ia berbalik arah dan kembali ke tempat asalnya. Ketika kami tanyakan untuk beralih kepekerjaan lain, maka ia dengan cepat menjawab, “Mending jadi tukang becak aja karena dengan menawarkan jasa dan membantu orang lain melalui jasa kami, maka kami juga sudah sangat senang ,” katanya.Harapan saya kepada penumpang adalah cukup memberikan ongkos yang sewajarnya saja, karena kami disini juga bekerja untuk menawarkan jasa yang kami punya kepada penumpang.

Berbeda penarik becak, berbeda juga kisah yang dihadapi dalam hidupnya. Lain halnya dengan pria yang satu ini. Keadaan yang ia bawa sejak lahir,tidak mengganggu aktivitasnya. cacat fisik yang diberikan Tuhan kepadanya tak membuatnya surut untuk menampilkan diri di lingkungan dan bersosialisasi. Jansen (50) hidup melajang dan sebatang kara hidup di bumi ini. Ia mulai menarik becak sekitar tiga tahun yang lalu ketika orang tuanya telah tiada. Jansen Simanjuntak nama lengkapnya, ialah seorang penarik becak yang memiliki cacat fisik sedari lahir, kelainan yang ia miliki adalah tangan kanan yang membengkok sehingga tidak dapat digunakan untuk menggenggam benda. kelainan yang ia miliki tak menjadi surut untuk menarik becak demi memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

Tempat mangkal Jansen adalah di jalan Pardamean sekitar daerah Pancing. “Biasanya penumpang saya adalah warga yang malas jalan masuk ke ujung jalan dan anak-anak kos yang bertempat tinggal di Jalan Pardamean”. Jalan Pardamean termasuk areal kampus yang pada umumnya dihuni oleh mahasiswa dan mahasiswi yang berkuliah di Universitas Negeri medan dan sekitarnya.

Sebelum matahari terbit ia tepatnya pada pukul 05.00 WIB, sesuai dengan kesehariannya ia sudah keluar untuk mengais nasi, mencari penumpang yang mau ia bawa. ” Kalau pagi-pagi biasanya penumpang saya orang-orang yang mau pergi ke pajak” kata Jansendengan sedikit senyum yang ia lemparkan. dan biasanya ia pulang ke rumah di sore dengan harapan mendapatkan setoran dan membawa lembaran uang ribuan yang dapat digunakan untuk membeli kebutuhannya.

Walaupun secara fisik ia berbeda dengan penarik becak lainnya, tapi hal tersebut tidak mengganggu aktivitas sebagai penarik becak. Ia biasanya mengayuh becak dengan kedua kaki mungilnya yang sudah mulai keriput akibat lanjut usianya dan mengendarai hanya dengan satu tangan yaitu tangan kiri yang ia miliki yang masih dapat menggenggam stang becaknya seperti penarik becak lainya. Dan terkadang terlihat tangannya sedikit agak gemeteran ketika becak yang ia kayuh berjalan untuk menghindari lubang demi kenyamanan penumpang yang ia bawa.

” Saya biasanya tidak terlalu menekankan harga terhadap penumpang yang mau saya bawa terutama anak kos, yang penting saya bisa narik dan becak saya tidak nonggok saja,” ujarnya. Hati yang lapang ia pelihara demi kelangsungan hidupnya. Untuk hidup pas-pasan saja dia sudah termat senang, karena pria lajang ini masih hidup sendiri tanpa beban pikiran yang mengganjal di hatinya. sehingga ia tidak terlalu memaksakan tubuhnya yang sedikit kurus untuk mengejar materi yang banyak. Ia berkata, ” Yang penting saya bisa makan aja udah syukurla…”

Walaupun hanya menarik becak aja namun berkat kegigihannya, ia dapat mengais uang ribuan hingga lima puluh ribuan setiap harinya. Namun, tatkala ada saatnya rejeki tidak menghampirinya, sehingga ia hanya membawa uang berkisar dua puluh ribu sampai tiga puluh ribu saja. Karena setiap harinya ia harus taktik, kecepatan dan keberuntungan dengan tukang becak lain, walaupun kondisinya sedikit berbeda dengan keadaan penarik becak lainnya, tapi perjuangannya tak kalah gigih dengan penarik becak lainnya.

Tak ada hari libur ataupun hari-hari besar yang mempengaruhi pendapatannya setiap harinya. Keadaan yang mempengaruhi pendapatannya hanya alam, seperti keadaan cuaca, manakala siang hari teriknya matahari menusuk kulit sehingga orang-orang enggan berpanas-panas ria untuk berjalan sampai ketempat tinggalnya dan juga hari yang diguyur hujan dapat menambah pendapatan penarik becak. terkadang dalam hati berharap supaya hari terik, walaupun tak semua orang senang danb mendapatkan keuntungan dengan panas mentari yang menyengat, namun hanya itulah harapan ketika tak ada uang ribuan dalam kantong untuk mengisi perut yang sejengkal ini. Begitu pun harapannya ketika hujan turun dan penarik becak ini akan sangat senang menawarkan jasanya kepada penumpang, walaupun ia memperjuangkan kesehatannya dibalik mantel hujan yang kusam. Penarik becak adalah orang-orang yang selalu bersyukur baik saat terik matahari menyengat kulit setiap orang maupun di saat hujan tumpah membasahi bumi ini.

Tak ada  kata menyerah dalam hati walau hidup hanya membujang. Terus mengayuh roda tiga tanpa henti. Terkadang hati berteriak mengapa harus hidup begini.  ” Tidak ada niat untuk beralih ke pekerjaan lain, karena hanya dengan bekerja seperti ini saja saya sudah dapat membantu banyak orang melalui jasa yang saya tawarkan sewaktu saya menarik becak.” Walaupun kendaraan bermotor sudah  mulai menjamur dan digemari banyak orang karena lebih cepat dari becak dayung, tapi penarik becak ini tetap saja optimis dalam mencari rejeki, karena penumpang takkan lari kemana bila memang sudah rejeki.

Ketika bercerita tentang sedikit harapan yang hendak digapai, ia hanya berkata, “harapan saya agar saya tetap seperti ini tanpa merugikan orang lain” ucap Jansen dengan nada yang sedikit pelan. Itulah harapan sederhana yang keluar dari bibir masyarakat miskin kota yang terus memperjuangkan hidup walau dalam keadaan yang serba tak menentu, walau berjuang sendiri, tapi semangatnya tak pernah pudar.

Jumlah kunjungan: 1909 kali

Leave a Reply

Your email address will not be published.