Medan – Kreatifonline.com, Unimed kini telah banyak berbenah dan diproyeksikan menjadi kampus yang go international  di tahun 2025. Perkembangan kampus dapat dengan mudah kita lihat dari bangunan-bangunan yang terus tumbuh berdiri tegak di antara rerimbunan pepohonan kampus. Adanya masa kini tentu disebabkan oleh adanya masa lalu. Universitas negeri medan (UNIMED) yang kita kenal saat ini tidaklah serta merta berdiri menjadi sebuah univeritas yang besar seperti saat sekarang ini, melainkan ada sejarah panjang yang menyertai berdirinya kampus yang dahulu dikenal dengan nama IKIP medan. Namun sayang karena banyak mahasiswa yang tidak mengetahui sejarah lahirnya kampus ini, sehingga menyebabkan sejarah ini terlupakan. Berikut adalah kisah singkat tentang lahirnya universitas negeri medan yang dikutip dari urain profil sejarah singkat Universitas negeri medan.

Pada  masa setelah revolusi yakni di  tahun lima puluhan situasi pertumbuhan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan sekolah Menengah atas (SMA) demikian pesatnya, namun kebutuhan akan tenaga kependidikan (guru) yang berkualitas saat itu belum dapat dipenuhi. Dengan berbagai upaya Pemerintah pada masa itu mencari solusi untuk memecahkan persoalan ini, yakni Kementerian Pendidikan membuka lembaga-lembaga pendidikan guru, seperti Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama (PGSLP) dan Kursus B-I untuk mendidikan calon guru, khususnya guru yang bertugas di jenjang pendidikan SMP dan SMA. Walaupun usaha itu  sudah demikian gencar dilaksanakan, namun jumlah kebutuhan tenaga  pendidik (guru) untuk Sumatera Utara belum juga terpenuhi dalam waktu singkat.

Berdasarkan keadaan ini, pada tahun 1956 beberapa tokoh pendidik di Sumatera Utara membuka Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG), Gagasan ini dipelopori oleh Prof. Ani Abbas Manopo, SH, yang pada waktu itu menjabat Dekan Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat Universitas Sumatera Utara (USU),kemudian G. Sianipar, kepala Inspeksi Pendidikan Masyarakat dan R.M. Simanjutak, Direktur SMA Negeri 1 Medan.

PTPG saat itu masih membuka jurusan Bahasa Inggris, Ilmu Pendidikan, Ilmu Pengetahuan Masyarakat (kemudian dikenal sebagai Civic Hukum) dan Pendidikan Jasmani. Berdirinya PTPG ini tidak berlangsung lama, karena kemudian demi kelengkapan Universitas Sumatera Utara (didirikan oleh Yayasan Universitas Sumatera Utara pada tahun 1952) ketika dijadikan perguruan tinggi negeri pada tahun 1955, maka PTPG bergabung menjadi salah satu bagian dari Universitas Sumatera Utara (USU) dengan nama fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Penggabungan ini terjadi pada tahun 1957, Berdasarkan pada Surat Keputusan Menteri PPK RI No. 95254 tanggal 22 Agustus 1957, maka resmilah FKIP menjadi salah satu Fakultas di Universitas Sumatera Utara (USU).

Sejak penggabungan dengan USU, Jurusan-jurusan yang dikelola FKIP tidak berubah, yaitu Pedagogik (Pendidikan), Hukum dan Kemasyarakatan, Bahasa Inggris, dan Pendidikan Jasmani. Untuk memimpin fakultas yang baru itu Prof. Ani Abas Manopo dikukuhkan sebagai Dekan. Sesuai dengan perputaran waktu Fakultas ini terus berkembang dengan pesat, maka untuk meningkatkan kualitas staf pengajar beberapa dosen memperoleh kesempatan untuk tugas belajar ke luar negeri (Amerika Serikat). Dosen-dosen yang di berangkatkan saat itu antara lain, G. Sianipar, S.H. R.M. Simanjutak, Harun Ar Rasyid, dan Ahmad Munir untuk mengambil program master.

Berdasarkan keadaan pada waktu itu FKIP USU mengalami kemajuan-kemajuan yang sangat berarti, maka bantuan staf ahli dan tenaga pengajar didatangkan dari Colombo Plan dan Ford Foundation. FKIP pada waktu itu berlokasi di Jalan Imam Bonjol yang sekarang ditempati oleh Perguruan Pendidikan Harapan. Pada tahun 1961 itu pula FKIP-USU sesuai dengan keputusan Kementrian PDK, diharuskan untuk menampung para mahasiswa dari kursus B-1 agar jangan terjadi dualisme dalam penyediaan tenaga kependidikan. Berdasarkan keadaan ini, maka jurusan-jurusan di FKIP bertambah, yaitu jurusan Matematika, Ekonomi Perusahaan, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Sejarah dan Civic, dan Jurusan Pendidikan Jasmani. Para staf pengajar dengan sendirinya juga bertambah dengan berintegrasinya B-1 ke FKIP USU.

Pada tahun 1962 staf pengajar yang dikirim ke Amerika Serikat kembali ke Indonesia dan bertugas kembali di FKIP USU, pada tahun yang sama pula sudah terdapat staf pengajar tamatan IKIP Bandung yang bertugas di FKIP USU. Situasi ini membuat FKIP USU menjadi lebih dewasa setelah melalui beberapa masa yang cukup memprihatinkan karena keterbatasan tenaga dosen serta sarana dan fasilitas.

Walaupun FKIP USU masih banyak memiliki keterbatasan sarana dan fasilitas namun disisi lain menunjukkan perkembangan yang pesat. Hal ini dapat dilihat dari jurusan yang bertambah, dan jumlah mahasiswa sudah mencapai ribuan mahasiswa. Pada masa itu juga pemerintah telah memikirkan untuk membentuk suatu kelembagaan IKIP seperti yang ada di Bandung dan Malang, dengan maksud untuk menghapuskan PTPG. Kondisi ini mengharapkan FKIP USU lebih berkembang dan dapat menjadi IKIP. Pada saat ini FKIP USU belum memenuhi syarat untuk menjadi suatu Institusi Keguruan dan Ilmu Pendidikan yang berdiri sendiri, maka FKIP USU kemudian dijadikan cabang dari IKIP Jakarta.

Pada tanggal 23 Juni 1963 terbentuklah IKIP Jakarta cabang Medan. Dekan Koordinator diangkat G. Sianipar, SH, M.Sc, dibantu oleh dewan Presidium yang anggotanya terdiri atas G. Sianipar, S.H., M.Sc., Apul Panggabean, M.A, dan D.Q. Nasution. Bersamaan dengan itu Jurusan Pendidikan Jasmani ditetapkan menjadi Sekolah Tinggi Olahraga (STO) yang berdiri di bawah Departemen Olahraga Republik Indonesia.

Seiring dengan perubahan FKIP USU menjadi IKIP Jakarta Cabang Medan, maka terjadi pula reorganisasi pada Fakultas ini. Jurusan-jurusan dikelompokkan sesuai dengan bidang ilmu dan mematangkannya untuk menjadi Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) yang berdiri sendiri. Kelompok-kelompok Jurusan itu terdiri atas 4 Fakultas, yaitu : 1) Cabang Fakultas Ilmu Pendidikan yang terdiri atas Jurusan, Pendidikan Umum, Pendidikan Sosial, Bimbingan dan Penyuluhan, serta Administrasi Pendidikan. 2) Cabang Fakultas Keguruan Sastra dan Seni terdiri atas Jurusan Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris. 3) Cabang Fakultas Keguruan Ilmu Sosial terdiri atas Jurusan: Ekonomi Perniagaan, Antropologi, Sejarah, dan Civics Hukum 4) Cabang Fakultas Keguruan Ilmu Eksakta terdiri atas Jurusan: Ilmu Pasti, Ilmu Kimia,  Ilmu Hayat, Ilmu Alam dan Teknik Sipil.

Jurusan Pendidikan Jasmani pada tahun 1964 melepaskan diri dari IKIP Jakarta Cabang Medan sesuai dengan keputusan Pemerintah dengan Cabang berdirinya Sekolah Tinggi Olahraga (STO). Hal ini terjadi karena dalam kabinet baru terbentuk Departemen Olah Raga sehingga STO berada di bawah naungannya. Perkembangan selanjutnya adalah dibukanya Extension Course IKIP Medan di Pematangsiantar dan Padangsidempuan yang mengelola Jurusan Sejarah, Bahasa Inggris, Civics Hukum dan Ekonomi Perusahaan. Staf pengajarnya didatangkan dari Medan. Oleh karena kebutuhan administrasi yang sangat mendesak, diangkatlah seorang Koordinator di Padangsidempuan yaitu Drs. Cholil Dalimunthe. Extension Course di Pematangsiantar namun karena perkembangan yang terus terjadi akhirnya ditutup pada tahun 1970.

Oleh karena perkembangan yang begitu pesat, lahan kampus yang terletak di Jalan Imam Bonjol tidak lagi memadai, sehingga pada tahun 1965 pindah ke Jalan Merbau 38 A ke bekas sekolah Hoa Thiao Middle School. Di tempat yang baru ini pada tahun perkuliahan 1966/1967 IKIP menambah lagi satu fakultas yaitu Fakultas Keguruan Teknik dengan tiga Jurusan yaitu : Jurusan Sipil/Bangunan, Mesin dan Elektro.

Sekolah Tinggi Olahraga (STO) yang dahulunya keluar dari IKIP Medan kembali diintegrasikan kepada IKIP Medan berdasarkan Surat Keputusan Menteri P dan K Republik Indonesia No. 042/0/1977. Sejak itu IKIP Medan memilili 6 fakultas dan yang berakhir adalah Fakultas Keguruan dan Ilmu Keolahragaan. Pada periode ini beban dan tugas IKIP Medan bertambah besar, maka di pertengahan tahun 1991 menambah satu lagi Pembantu Rektor. Dengan demikian pada periode ini Pembantu Rektor IKIP Medan yang semula hanya tiga menjadi empat.

Di masa kepemimpinan Prof. Djanius Djamin. S.H., M.S.. IKIP Medan dikonversi menjadi Universitas Negeri Medan (UNIMED) sesuai dengan Surat keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 124 Tahun 1999. Perubahan IKIP Medan menjadi Universitas dimaksudkan sebagai upaya peningkatan mutu penyelenggaraan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK). Perubahan ini pada gilirannya ditempatkan sebagai upaya untuk meningkatkan mutu lulusan yang dipandang relevan untuk menjawab kebutuhan kedepan.

Perubahan kelembagaan menjadi Universitas Negeri Medan yang peresmiannya dilaksanakan pada bulan Pebruari tahun 2000 dengan SK. Presiden No. 124 Tahun 1999, tanggal  7 Oktober 1999 menyebabkan terjadinya perubahan fungsi lembaga dan yang sebelumnya hanya mengelola bidang-bidang jurusan/program studi kependidikan (Dik) yaitu Sarjana Pendidikan (S.Pd), setelah menjadi universitas juga menamatkan Sarjana Sains (S.Si) di bidang jurusan/program studi non kependidikan.

Berikut adalah daftar nama Rektor UNIMED mulai dari masa FKIP, IKIP hingga menjadi UNIMED:

  1. Prof. Ani Abbas Manopo SH sebagai Dekan FKIP USU tahun 1957-1961
  2. G. Sianipar, SH. MSc. Sebagai Dekan FKIP USU/ IKIP Jakarta cabang Medan 1961-1965 dan Rektor IKIP Medan tahun 1965-1967
  3. Prof. Apul Panggabean MA. Rektor IKIP Medan periode tahun 1968-1973 dan tahun 1973-1978
  4. Prof. Drs. M. Joenus Alim, M. Sc Rektor IKIP Medan Periode tahun 1978-1982 dan tahun 1982-1986
  5. Prof. Drs. Sukarna MA. Rektor IKIP Medan Periode tahun 1986-1990 dan tahun 1990-1994
  6. Prof. Drs. Darmono M.Ed Rektor IKIP Medan Periode tahun 1994-1999
  7. Prof. Dr. Djanius Djamin SH. MS. Rektor IKIP Medan/ UNIMED Periode tahun 1999-2003 dan tahun 2003-2007
  8. Prof. Drs. Syawal Gultom M.Pd Rektor Unimed Tahun 2007-2011
  9. Prof. Dr. Ibnu Hajar Damanik M.Si Rektor UNIMED tahun 2011-2015

Demikianlah sejarah singkat universitas negeri medan, yang terkesan semakin hari terasa semangkin terlupakan. Ada beberapa hal yang mungkin menjadi penyebab hal ini diantaranya terjadi karena tidak adanya kegiatan atau moment khusus yang diadakan universitas untuk memperingati setiap hari jadinya. Semoga kita tidak menjadi sosok pemakan kacang yang lupa terhadap kulitnya dan Semoga kedepan setiap civitas akademik  kampus lebih perduli terhadap perkembangan universitas dari waktu ke waktu demi menjaga eksistensi kampus dimasa mendatang.

Jumlah kunjungan: 938 kali

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published.