Medan – Kreatifonline.com

Matahari belum terbit
Malam juga sudah lewat
Aku melihat ketika mataku tertutup
Saksi buta pertengkaran api dan air
Teriakan yang diam, menggertakan telinga yang bersabar
Kaku jiwaku ingin mencibir bibirnya menahan amarah
Menelan sesak membasahi tenggorokan yang haus kasih sayang
Bergetar dinding membantingkan pintunya
Deru mulutnya melontarkan bara
Memancing kasih seseorang pupus
Dusta dikepalanya, itu yang kuingat
Lelah ia katakan, tapi kekuatannya utuh untuk mencaci
Ingin aku berziarah dengan perasaanku
Mengadu pada hati yang terkubur mati akan perihnya roh ini
Hanya aku dan bayanganku yang saling menatap
Aku berbalik dari tempat tidurku, dibelakang ada caci maki menembus kulit bagai pemburu
Senapannya tak berpaling mengiris-iris telapak tangan kakiku
Bayangannya bersentuhan dengan jemariku
Darahku berubah warna menjadi kelabu
Menampung seribu celotehan kisah diatas pundak
Tak sampai kapan umurmu bertambah
Namun kau tidak sadar-sadar juga
Membelah setiap hati yang mendengarnya
Mengeruk daging ini hingga ke tulang
Kutanya dan cukup menyakitkan
Sudah berpaling dari jalannya masing-masing
Oh Tuhan kapan ini berakhir

Jumlah kunjungan: 715 kali

Leave a Reply

Your email address will not be published.