Nafasku tersengal, aku terduduk di antara semak belukar perpohonan yang jelas belum banyak terjamah oleh manusia. Kaki kiriku kini terasa begitu perih yang diperparah dengan kucuran darah yang mulai mengering. Kulihat arloji di tangan kiriku, bagus ! sekarang mati ! dan aku tidak akan tahu waktu saat ini, apakah ini sore atau masih siang, mengingat gemuruh yang terus bergema di langit menandakan akan segera hujan. Brengsek ! aku tidak tahan lagi ! aku bangkit dengan kaki setengah terpincang, menarik kerah kemeja putih yang digunakan oleh lelaki pucat didepanku, dan mulai menghantamkan tinju ke wajahnya yang sudah terlebih dahulu dipenuhi oleh luka-luka sayatan ranting tajam.
“ ini semua gara-gara kau ! kau ! kau yang menyuruh kami kesini ! kau yang bilang ini aman ! kau…. “ aku mau menghantamkan tinjuku untuk kedua kalinya, tapi lelaki berkacamata disebelahku menghalanginya.
“ Joshua bisa mati kalau kau pukul lagi ! “
“ mati ?!! Ya Tuhan Fred, aku akan dengan senang hati meninggalkan mayatnya disini “ balasku.
“ kau gila Fajar ! “ Freddy membentakku.
“ menurutmu kenapa aku bisa gila ha ?? Widya mati !!!! istriku mati !!! mati karena orang ini !!! “ aku ikut berteriak.
Tiba-tiba saja Joshua bangkit dan melayangkan pukulan tepat ke wajahku, “ Dia juga adikku !!! adik perempuanku satu-satunya !!! “ Joshua balas berteriak.
Aku tidak tinggal diam, aku berdiri dan memukul wajahnya lagi, “ kau yang membuat adikmu terbunuh ! “
Joshua balas menyerang perutku, “ kalau kau bisa memegang tangannya lebih kuat, dia tidak akan jatuh ke jurang itu, dia tidak akan mati ! “
Aku membalasnya dengan kakiku yang menyerang tepat di kaki kirinya, “ aku suaminya ! “
“ dan aku abangnya ! “ joshua membalas ku dengan pukulan yang membuatku terbanting ke tanah.
“ Kalian berdua hentikan !!!!! “ Freddy berteriak.
Aku dan Joshua melepas satu sama lain dengan keadaan yang cukup babak belur. Joshua beringsut ke kiri, dan aku bergerak ke kanan, sementara Freddy akhirnya terduduk di antara kami.
“ kalian tidak ingin saling membunuh seperti ini kan ? atau aku salah ? apakah aku harus pulang dengan membawa tiga mayat dan mulai membuat artikel yang berisi tentang dua sahabat yang telah bersahabat selama lebih dari 20 tahun akhirnya mengakhiri persahabatan mereka dengan membunuh satu sama lain ? dan yang lebih menyakitkan lagi kenyataan bahwa adik dan istrinya juga terbunuh di tempat yang sama ? apa begitu ? “ Freddy membesarkan suaranya.
Beberapa saat kami diam dalam keheningan, dan aku memutuskan untuk bertanya pada Joshua, “ sebenarnya tempat apa ini ? “
Joshua mengehela nafas, “ baiklah aku mengaku, “ jawabnya, “ aku memang berbohong soal mengetahui pasti tempat ini, tapi aku tidak berbohong waktu aku bilang ini tempat wisata yang indah. Kalian sendiri sudah liat kan ? gunung itu, air nya, uap nya ? tapi aku tidak tahu tentang makhluk yang ada disini, aku pikir itu hanya sekedar singa, harimau, atau ular buas, aku… “ Joshua menghela nafas lagi, “ kalau aku tahu ada makhluk pembunuh seperti itu disini, mana mungkin aku mengajak kalian kesini. “
Sekarang wajah Joshua benar-benar menyedihkan, sahabatku itu, dia selalu bersikap tolol, tapi aku berani bertaruh dia akan merelakan nyawanya demi kami.
“ baiklah ! “ aku berkata sambil bangkit masih menahan perih luka di kakiku, “ kita harus keluar dari sini hidup-hidup ! kita harus memberitahukan public tentang daerah dan makhluk disini, akan ada kemungkinan orang lain juga akan mencoba untuk berlibur kesini, dan itu akan sangat membahayakan. “
“ sebentar ! sesaat aku mengira ada sinyal ! “ Freddy menggoyang-goyangkan Handphonenya ke atas
“ aku yakin tadi ada sinyal “ tambahnya,

Krekkkk, terdengar suara langkah yang sedikit terseret, sontak aku melihat ke belakang, Joshua langsung berdiri, dan Freddy waspada. Sial ! makhluk itu menemukan kami !
“ lari ! “ teriakku.
Kami berlari secepat mungkin, menembus semak belukar, tanah yang licin, dan perpohonan yang tak kalah menyeramkannya sekarang, entah berapa jauh kami berlari, hingga rasanya semua aliran darahku naik ke otak, aku berhenti untuk mengatrur nafasku, “ kalian… “ aku menoleh ke belakang, sekarang kepanikan menyerangku, dimana mereka ? dimana sahabat-sahabatku ?
“ woiiiiiii “ teriakku, jelas suaraku menggema.
Aku menoleh ke kiri, ada yang bergerak, aku langsung menoleh ke kanan, ada juga yang bergerak. Sialan ! makhluk itu mempermainkanku.
“ keluar ! aku bilang keluar ! “ aku berteriak.
“ AAAAAAAAAA “ tiba-tiba Freddy berlari, bajunya telah compang camping, kacamatanya tidak ada, dan tangannya penuh darah.
“ Freddy ! apa…apa yang, dimana Joshua ? “ tanyaku panik.
“ makhluk itu mengambilnya, makhluk itu mengambilnya, dia mati… “ Fredy sekarang terisak keras.
Aku hanya membatu, ya Tuhan… apa kami semua akan berakhir disini ?
Isakan Freddy berhenti, ada yang bergerak lagi. Kami waspada. “ makhluk seperti apa dia sebenarnya ? aku tidak bisa melihat, kacamataku hilang “ bisik Freddy.
Aku menoleh ke segala arah, aku juga belum pernah melihat makhluk itu, dia hanya mengintai diam – diam dan selanjutnya menyerang dan membunuh.
“ kita harus pergi dari sini, jangan sampai kita terpisah oke ! “ kataku.
Perlahan-lahan kami bergerak, mataku masih melihat ke segala arah, dan telingaku kutajamkan dua kali. Sesekali kami berhenti karena mendengar sesuatu yang bergerak dari balik perpohonan, tapi aku memaksa untuk terus berjalan setidaknya keluar dari rerimbunan pohon-pohon yang sekarang tidak tampak indah sama sekali.
“ Fajar, kita harus berhenti ! “ tiba-tiba Freddy berkata.
“ kenapa ? “ tanyaku
“ kita sudah memutar dua kali “ katanya.
“ bagaimana kau tahu ? “ tanyaku.
“ itu ! “ Freddy menunjuk jejak – jejak sepatu yang sudah terlewati sebelumnya, ya ampun ! ternyata kami hanya memutar – mutar.
Aku mengacak rambutku, “ sekarang bagaimana ? “
“ aku ingin kacamataku kembali, pandanganku benar-benar kabur sekarang “ kata Freddy.
Aku tahu, dan Freddy kurasa juga tahu, bahwa itu adalah hal yang mustahil sekarang, mengingat keberadaan kami saat ini pun kami tidak tahu ada dimana. Freddy akhirnya bersandar pada salah satu pohon dan membelakangiku, “ apa kita akan mati ? “ tanyanya.
“ tidak. “ jawabku datar, tapi sebenarya jelas aku ragu – ragu.
“ seharusnya kita liburan ke Bali, dasar si Joshua ! “ kata Freddy.
Aku sedikit tersenyum, tentu saja, sebelum kami memutuskan liburan ke sini, Freddy dan Joshua berdebat tentang tempat liburan yang akan kami tuju, dan akhirnya Joshua memenangkan perdebatan.
“ aku ingin dia disini, tapi aku malah meninggalkan mayatnya “ aku bisa melihat dari ujung mataku Freddy mengusap matanya, dan aku terhenyak, baru menyadari bahwa sahabatku, yang sekian lama bersama, manis dan pahitnya persahabatan, kini dia telah mati ! Aku juga tak tahan, tanpa mengeluarkan suara aku menitikkan air mata.
“ Fred, we must strong… demi Joshua dan demi Widya. “ kataku.
Hening cukup lama, “ Fred ? “ panggilku. Menyadari tak ada yang menyahut, seketika aku berbalik arah, dan aku membeku, Freddy telah hilang, hilang !!! ya Tuhan….
“ Fred !!!! Freddy !!!! “ aku mencari seperti orang kehilangan anak, sangat sulit kemana aku harus melangkah, mengingat tak ada jalan setapak, dan jenis semua pohon yang sama.
Tiba-tiba aku melihat sebuah tangan yang tergeletak tak berdaya di balik sebuah pohon, jantungku berdegup kencang, pelan-pelan aku melangkah dan mendekati tangan itu, aku melihat sosok dibaliknya. Mulutku terbuka, perutku mual, kepalaku pusing, rasanya aku pitam, jelas aku melihat mayat Freddy yang sangat mengerikan berlumuran darah, tapi bukan mayat Freddy yang membuatku seperti terkena serangan jantung, bukan ! tapi makhluk, makhluk yang selama ini mengejar dan membunuhku kami, yang membuat tiga orang berharga dalam hidupku mati, setidaknya aku mengira begitu.
Dia tersenyum, tersenyum sangat manis, bahkan paling manis diantara senyum yang pernah ditunjukkannya padaku selama ini, “ Halo Sayang ! “ Widya menarik pelatuk senapan dan menancapkan pelurunya tepat di kepalaku

Jumlah kunjungan: 782 kali

Leave a Reply

Your email address will not be published.