Langkah genit ia jejakkan dalam temaramnya lampu di gang sempit nan sepi. Dandanan maksimal, make-up super tebal, jadi senjata pamungkas demi tercapai asa yang diinginkan. Rambut lurus sebahu tergerai rapi dengan sedikit poni menutupi alis mata. Perona merah ia kenakan di bibir mungilnya, menambah sensualitas saat menebar tawa. Dibalut dress mini hitam bermotif mawar merah yang mengukir jelas siluet tubuh dan memamerkan kedua paha hingga mata kaki. Sepatu flat biru tua jadi pilihan melengkapi setelan andalan. Harum parfum menyerbak dari tubuh rampingnya ke udara. Wah, sempurna betul tampilannya malam itu.

 

Saat dunia mulai terlelelap, saat itu pula ia terjaga dan bergegas mengais rezeki. Tak peduli dengan dua kata “halal dan haram”. Baginya, inilah rezeki yang ia dapatkan dari tetes peluhnya sendiri, tak ada hak orang lain di dalamnya yang ia ambil, tak seperti para koruptor, pikirnya.

 

Berdiri manis di ujung gang Jl. Gajah Mada ia lakukan setiap malam selama hampir 7 tahun belakangan. Desah dan gemulainya mencerminkan seolah ia wanita sejati. Tersenyum manja penuh goda kepada para pengendara mobil yang melintas satu persatu di hadapannya. Sesekali ada juga yang terpikat, saling tawar-menawar pun terjadi diantara keduanya, laksana pembeli dan pedagang kaki lima. Cantik sungguh. Kerlingan mata dan sedikit sentuhan mampu menundukkan birahi pria biseksual yang meliriknya. Dengan tarif hanya Rp 100.000, itupun masih bisa ditawar, sang tamu sudah bisa memboyongnya. Yah, begitulah, jika sedang ramai, lima orang tamu dapat ia layani setiap malamnya. Jika sedang sepi, tak satupun, kalau sudah demikian maka Rani akan pulang dengan tangan hampa.

 

Namanya Dimas Surya Syahputra. Itu saat fajar datang hingga ditutup senja. Saat malam tiba, ia menamai dirinya sebagai “Rani”. Dia seorang Nasrani. Pria kemayu yang lahir 31 tahun lalu ini mengaku telah menjalani kehidupan sebagai seorang waria sejak 13 tahun silam, 2001 tepatnya. Sejak ia duduk di bangku sekolah dasar, gelagat kewanitaannya telah muncul. Lantas ketika di bangku SMA rasa cinta terhadap pria teman sekelasnya tak sanggup lagi ia bendung, sejak itu naluri kewanitaannya pesat merajai tubuh lelakinya.

 

“SMA kelas tiga, itu awal mulanya aku mangkal, waktu itu tempat mangkalnya di depan sekolahku sendiri, SMA Negeri 4 Pematang Siantar, sampai aku tamat dari sana.” akunya dengan gamblang.

 

Hijrah ke ibukota adalah satu-satunya jalan saat terusir dari rumah, sebab keluarga tak kuasa menerima kenyataan bahwa si “Ucok” telah bermetamorfosa menjadi “Butet”. Maklum, ia lahir di keluarga Batak yang kental dengan adat dan keras dalam mendidik anak. Apalagi ia anak lelaki satu-satunya. Remuklah sudah hati orangtua. Debutnya sebagai perantau di kota Medan ia awali sebagai karyawan di restoran cepat saji.  Kala itu tahun 2002. Dengan upah kerja Rp 250.000,00 per bulan, ia gunakan secukupnya untuk memenuhi kebutuhan hidup yang serba keras di kota Metropolitan. Di perantauan, selain menjadi pelayan restoran, menjadi Cleaning Servis di sebuah pusat perbelanjaan juga pernah ia alami, walau tak sampai setahun harus hengkang karena perusahaan mengurangi jumlah karyawan.

 

Dimas atau panggil lah ia Rani, merasa terjebak di raga pria, meski ia meyakini benar bahwa jiwa dan nalurinya adalah seorang wanita. Tak kuasa menahan hasrat yang mengerang hebat dalam dirinya, membuat Rani memutuskan kembali ke dunia malam nan haram yang sempat ia lakoni saat SMA dulu. Selain beralasan untuk menyambung hidup, ia punya dalih lain mengapa memilih jalan sebagai waria. Dengan menjadi waria, Rani berhenti berpura-pura menjadi seorang laki-laki tulen. Bonusnya, ia bisa merasakan bercinta dengan pria. Pernah juga ia mendapat tamu yang berasal dari kalangan pejabat, naik mobil mewah dan dibawa ke hotel bintang lima pun telah dirasakannya. Tapi tak selalu juga pekerjaannya itu berjalan mulus. Tamu nakal yang menghampirinya kadang tak mau membayar. Pengalaman getir Rani rasakan dua tahun yang lalu. Sang tamu dengan mobil mewah membawanya pergi dengan nego harga terlebih dahulu tentunya. Buntutnya, Rani lalu dibuang dengan cara ditendang dari dalam mobil hingga terdampar di pinggir sungai kawasan Binjai tanpa sepeser uang pun di tangan. Untunglah, ia selamat. Akhirnya dapat kembali ke Medan dengan berhutang ongkos kepada temannya disana.

 

Itu baru secuil cerita Rani, menjalani kehidupan sebagai waria bukanlah pilihan yang mudah Rani tentukan. Anak ketiga dari empat bersaudara ini sejak lama telah berteman baik dengan hinaan dan pandangan kerdil masyarakat tentangnya. Maka, menghadapi hardik  masyarakat yang tinggal di negara dengan adat ketimuran harus ia terima dengan dada lapang. Tak semua orang sudi berteman dengannya, belum lagi cibiran para tetangga yang melontarkan ejekan seenaknya. Adapula yang beranggapan bahwa bencong seperti dia harus dijauhi, seolah-olah mereka tak punya sisi humanisme seperti manusia normal lainnya. Lantas bagaimana dengan lelaki biseksual yang memakai jasanya? Pantaskah mereka bebas dari hujatan? Para waria ini tentu tidak akan ada, jika tak ada lelaki yang memakai jasa mereka. Rani merasa cemoohan itu sungguh tak adil jika hanya ditodongkan pada ia dan teman-teman senasibnya.

 

Memang, sulit rasanya bagi Rani dan waria lainnya untuk bersosialisasi di tengah masyarakat, jika pun ada orang yang memandang baik dan hendak berteman, merekalah orang-orang dengan pikiran yang lebih liberal. Sukar mendapat pekerjaan yang layak menjadi persoalan lain pula. Apalagi mendapatkan hak politik sepenuhnya dalam hidup bernegara.

 

Tentu ini merupakan polemik yang tak henti mendera, keberadaan kaum waria di Indonesia masih menjadi hal yang tabu, kemungkinan besar tak akan pernah bisa bersalaman dengan adat istiadat masyarakatnya, bahkan agama manapun tak membenarkan. Bagaimana mungkin seorang manusia yang terlahir sebagai pria, bertumbuh menjadi wanita. Namun, fenomena waria atau lelaki yang mencintai sesama jenis bukanlah hal baru yang muncul belakangan. Jika kita tilik lagi dalam sejarah, sejak zaman Nabi Hud, kaum homoseksual ini telah ada.

 

Masyarakat sebagai kontrol sosial berperan penting dalam menekan tumbuh suburnya penyimpangan sosial termasuk yang terjadi pada kaum waria ini. Komisi Penanggulangan AIDS Kota Medan menyatakan bahwa 30 persen pengidap HIV/AIDS di Medan merupakan kaum waria. Ini berarti mereka harus mendapat perhatian lebih dari masyarakat dan pemerintah. Jangan hanya menghardik mereka, tapi memberikan mereka tempat dan solusi seperti memberdayakan mereka untuk kegiatan yang positif. Menyediakan yayasan untuk pembinaan kaum waria, karena sebenarnya mereka juga warga negara Indonesia yang potensial jika diarahkan dengan benar.

 

Sebenarnya, Rani tak berharap banyak dengan pemerintah untuk nasibnya. Baginya hidupnya dapat terus berjalan dengan usahanya sendiri, tanpa campur tangan pemerintah. Setiap lima tahun Pemilu digelar, setiap lima tahun negara ini ganti presiden, kaum waria yang marginal tetap saja marginal di masyarakat. Politik dan tata negara bukan santapan lezat yang renyah bagi Rani dan kaumnya. Pun semua itu tak akan mempengaruhi nasib mereka. Jadi, buat apa berpusing memikirkannya.

 

Pemilihan Presiden tahun ini, ia tak mencoblos, sebab namanya tak termasuk dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT). Namun, ia punya calon presiden dambaan. Sudah pasti ia dengan rela akan menyumbangkan suara untuk jagoannya itu seandainya bisa mencoblos pada 9 Juli lalu.

 

“Bapak itu pasti orang baik, wajahnya lugu dan nampaknya jujur. lebih mementingkan rakyat bawah daripada urusan luar negeri. Dia juga udah terbukti berhasil memimpin suatu kota, kota apa itu ya namanya…? ya pokoknya itulah yang aku tau dari berita-berita di TV” tuturnya mendeskripsikan salah satu kandidat calon presiden.

 

“Itu baru namanya presiden. Harus memperbaiki yang di dalam dulu, baru luarnya. Bukan cuma perkara ganteng dan berkharisma, tapi kerjanya pakai hati nurani” tambahnya kemudian.

 

Bagi kaum yang sering terlupakan dan dipandang sebelah mata seperti Rani, presiden ideal adalah presiden yang mulai membenahi negara ini dari bawah. Memperhatikan nasib wong cilik. Menurut Rani, jika sang presiden mampu mensejahterakan perekonomian rakyat, itulah cikal bakal terwujudnya negeri yang aman, nyaman, dan makmur. Tersedianya lowongan pekerjaan, kaum marginal sepertinya mendapatkan pendidikan yang lebih layak, tentu akan mengurangi menjamurnya pekerja malam seperti dia.

 

Suara orang-orang seperti Rani memang kerap tak terlalu diperhitungkan dalam pesta demokrasi seperti saat ini. Entah karena pemerintah yang kurang sosialisasi atau individunya sendiri yang terlanjur apatis dengan kondisi politik Indonesia kini. Khususnya masyarakat kalangan bawah, menganggap bahwa siapapun presiden terpilih tak akan merubah nasib mereka, hanya sebuah siklus lima tahunan yang tak membawa perubahan. Alamak, sikap pesimistis itu terlanjur bersarang di pemikiran mereka yang awam. Padahal, suara kaum marginal tersebut sangat penting meskipun sering luput dari perhatian pemerintah. Belum terjangkau informasi Pemilu dan pendidikan pemilih kepada pemilih marginal mengakibatkan meningkatnya angka golput. Untuk itu, Program Pendidikan Pemilih bagi pemilih marginal dirasa kian perlu untuk mensukseskan pilpres 2014.

 

Sangat disayangkan, Rani tidak berpartisipasi dalam peristiwa bersejarah yang menentukan nasib Indonesia ke depan. Jika alasannya karena tidak terdaftar sebagai pemilih tetap, maka KPU telah memberikan solusi untuk permasalahan tersebut. Pemilih pemula dan pemilih marginal lainya yang tidak terdata dan tidak masuk dalam daftar pemilih tetap, masih bisa menyumbangkan suaranya asalkan mereka memiliki identitas yang sah ditambah dengan menunjukkan formulir A-5.

 

Di dalam Undang-undang No. 8 Tahun 2012 tentang Pemilu Legislatif dan Undang-Undang No.42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden telah diatur bahwa warga negara yang sudah berusia 17 tahun atau telah menikah dan memiliki identitas kependudukan yang sah berhak untuk menyalurkan suaranya pada pemilihan umum dan pemilihan presiden. Akan tetapi faktanya, pemilih marginal ini masih banyak yang belum memahami pentingnya memilih dalam Pemilu. Oleh karena itu, mereka perlu mendapat dukungan dan dorongan semangat dari semua kalangan agar mau menyalurkan suaranya.

 

Rani lebih senang jika ia disebut waria daripada banci. Katanya, sebutan “waria” itu lebih elegant. Kini di usianya yang menginjak kepala tiga, belum ada di benak Rani untuk menikah dengan lawan jenisnya, wanita. Namun, ia berijtihad untuk tidak merubah ciptaan Tuhan yang ada pada dirinya lewat operasi trans-gender. Rani berharap suatu saat akan ada orang yang peduli dengan nasib para waria di negeri ini, menyediakan pembinaan dan keterampilan bagi mereka. Tak muluk-muluk mimpi Rani, hanya berharap kaum waria dapat sejajar dalam menyongsong hidup yang lebih layak di negara tercinta, Indonesia.

Jumlah kunjungan: 2034 kali

Leave a Reply

Your email address will not be published.