Biar mentari membiaskan cahaya ke jantung durjana. Menghapus jejak bengis, menumbuh humanis pada jiwa yang terban.
***
1953. Sipiongot, Padang Lawas Utara.
“Parrasun! Parrasun!”
“Dasar parrasun!”
“Matilah kau, parrasun! Enyah dari kampung ini!”
“Bunuh dia! Parrasun itu sama saja dengan ibunya! Pasung kakinya dan penggal kedua tangannya!” ucap warga porak-poranda.
Jelas, sangat jelas kumelihat tatapan mereka. Ganas, menyeramkan dengan celurit dan obor di tangan.
Tuduhan-tuduhan itu membuatku kalut. Takut jika dimutilasi, ketakutan yang menjadi-jadi. Berjalan sempoyongan dengan pandangan memburam. Napas pun enggan tuk diembus.
Darah segar merembes ke baju, menimpa corak ungu menjadi merah lembayung.
Apakah ini akhir hidupku? Apakah impian itu hanya sebuah mimpi yang akan dikubur bersamaku? Mengapa begitu lama malaikat tak menampakkan wujudnya?
Biarlah aku mati asal tak merasa perih lagi. Biarlah kebenaran dikubur dan dimutilasi. Biarlah…
BRRUUKKK!!!
***
Semua masih terekam jelas di benak, ketika kepala suku memberi burangir yang disusun indah sebagai ucapan selamat datang. Menebar senyum menawan, menenteramkan hati dan pikiran. Tak seorang pun tertinggal momen bersejarah itu. Sebab, untuk pertama kalinya desa kami kedatangan seorang guru.
Sebuah bangunan baru dan seorang guru berpendidikan nantinya akan merubah masa depan desa, masa depan kami. Mengalami perubahan hidup menjadi lebih baik. Itulah harapan penduduk desa, harapanku juga.
Bermimpi menjadi kepala suku yang dihormati, memakmurkan desa yang kucintai. Mengubah paradigma warga dan menghapus isu-isu yang beredar di tengah masyarakat Angkola dan Mandailing saat ini. Isu mengenai parrasun atau tukang racun yang sebenarnya tidak pernah ada. Semua itu hanya fitnah dari orang yang tidak bertanggung jawab untuk menyingkirkan eksistensi seseorang karena motif tertentu. Setidaknya, itulah yang kuyakini.
Hidupku dan Omak berubah karena isu itu. Kedai kudapan tutup, tersisih dari kehidupan sosial, serta cercaan dari masyarakat menjadi santapan pahit yang harus ditelan bulat-bulat. Bersyukur kami masih diperbolehkan menetap di desa, walau pontang-panting mencari pekerjaan.
“Siapa namamu?” matanya berbinar indah.
Malu-malu kusebutkan namaku, “Emmm, Ka… Ling…”
“Kaling?” tanyanya memastikan. Senyumnya benar-benar indah, seindah kelopak mawar yang tumbuh di musim semi. “Kalian harus belajar lebih giat lagi agar pintar seperti Kaling, ya” ucap buk guru mengarahkan kepada 17 murid lainnya.
Ini hari pertama sekolah dibuka. Susah payah Omak meminta ijin untuk memasukkanku ke sekolah.
“Eleh! Anakni parrasun, margaya ma iyak! ”
Sekejap suasana menjadi ricuh, suara tawa menggema di sudut ruangan. Wajahku yang semula merona, kembali layu mendengar ucapan anak di sebelahku. Mengepalkan kedua tangan, ingin rasanya kupukul wajah jeleknya.
“Tak ada parrasun! Tak ada anak parrasun! Kaling sama seperti kita. Jadi jangan sebut Kaling seperti itu!” tegas buk Mira bernada tinggi.
Semua anak terbungkam. Seketika suasana senyap. Kupandang buk Mira lekat, ia membalas pandanganku, dan tersenyum. Untuk pertama kalinya ada orang yang terang-terangan membelaku.
***
Sore itu, seperti biasa. Aku pergi mengantar makanan untuk buk Mira. Banyak warung makan yang buka, tapi entah mengapa buk Mira memesan makanan pada Omak. Setiap kali kutanya, dia hanya menjawab ‘Ingin membantu’. Awalnya aku tak mengerti, tapi kini aku paham, buk Mira tak percaya dengan isu itu. Beliau memang luar biasa, dan aku semakin kagum padanya.
“Kaling! Kaling!” panggil seorang pria separuh baya dari belakang.
Aku menoleh, diam memperhatikan.
“Giot tu dia ho? ” tanya pria di hadapanku.
“Bisa do tu bagas sattokkin? ” tanyanya lagi tanpa mendengar jawabanku.
Tanpa berpikir panjang, aku langsung menolak permintaannya, “Na bisa au. Harus manaruhon on ” menunjuk bungkusan di tanganku.
“Aha i? ” tanyanya penasaran dan meraih bungkusan. Ia sempat membuka sedikit bungkus bagian atas, cepat kurampas bungkusan itu darinya.
“Moof ma da, giot sosak au ” jelasku bohong. Buru-buru aku menghilang dari hadapannya. Sempat sekali aku menoleh ke belakang, terlihat senyum penuh makna menghias wajahnya.
***
“Eh, Kaling. Masuk!” pinta buk Mira setelah membuka pintu rumahnya.
“Duduk” menunjuk ke kursi kayu tua.
Tak bosan-bosannya aku berada di ruangan ini. Banyak buku disusun rapi dalam lemari, meja dengan beberapa buku di atasnya, dan ruangan wangi jeruk. Ranjang beralas tikar, sebuah lemari baju, serta kursi tua di ruang tamu. Tak banyak barang di rumah buk Mira, begitu pun peralatan dapur, hanya piring, sendok, gelas, dan teko seadanya.
“Bagaimana kabar Omak? Sehat?” tanya buk Mira sembari membawa peralatan makan dari dapur. Duduk di hadapanku, merapikan buku-bukunya yang sejak tadi berserak. Membuka bungkusan yang kubawa, dan menuangkan air minum ke dalam dua gelas kecil.
“Sehat…” ucapku singkat.
“Sepertinya lauk kali ini enak” Membersihkan tangannya dengan semangkuk parbasuan .
“Udah makan? Mari makan bersama?” ucap buk Mira menawari.
Aku menggeleng, “Omak titip pesan, katanya makasih atas bantuan ibu selama ini”
“Seharusnya ibu yang berterima kasih. Kalian membuat ibu betah di sini, ibu jadi gak khawatir kalau kangen masakan orang tua ibu” terangnya tulus. Ia melahap makanan di depannya.
“Oh, ya, aga uku wenarik yang waru dagang adi siang. Kau agan suga” ucapnya dengan mulut penuh makanan sambil memberiku sebuah buku ‘Cerita Rakyat’.
Aku menerimanya senang. Buk Mira memang sering memberiku pinjaman buku, itu karena aku suka membaca. Kami pun sering bercerita isi buku yang kami baca atau berbagi cerita pengalaman hidup. Tanpa kusadari, kami semakin dekat hingga membuat murid lainnya cemburu.
“Buk, cerita ini beneran ada ya?” tanyaku penasaran.
Tak ada tanggapan. Kulihat ekspresi buk Mira datar, terdiam memperhatikan makanannya yang masih banyak. Tangan kanannya gemetar, semakin cepat. Ia kesakitan, mulutnya terbuka lebar, memuntahkan makanan. Kedua tangannya mencoba mencegah dengan memegang leher mungil dan menutup mulutnya.
Spontan aku merasa gugup. Wanita muda di depanku merintih kesakitan, ia jatuh dari tempat duduknya, kakinya menendang meja, menumpahkan parbasuan di atas meja. Menekuk tubuh menahan sakit, batuk-batuk hingga mengeluarkan darah, lalu pingsan. Waktu seakan berhenti. Nuansa di ruangan berubah menjadi melankoli.
Aku menjatuhkan buku, mendekatinya. Mengangkat kepalanya, memukul-mukul pipi perlahan mencoba menyadarkannya. Tanpa sadar, aku histeris, bingung apa yang harus kulakukan. Mencari pertolongan, itulah yang ada di benakku.
Saat aku mencoba beranjak pergi, ia menarik lengan majuku. Bibirnya yang penuh darah bergerak perlahan mencoba bicara. Kubaca gerak bibirnya, samar tapi pasti. Aku terperangah, mataku seakan ingin keluar. Tubuhku gemetar.
Dari kejahuan, terdengar suara. Semakin lama, semakin keras, seperti gerombolan warga. Cahaya kemerahan semakin melebar diantara pepohonan. Salah seorang dari mereka menyebut namaku keras dari kegelapan.
***
Berlari kencang membuat napasku teregah-engah. ‘La… ri…’ itulah kata yang diucapkan buk Mira. Ia mencoba memperingatkanku dari bahaya. Malam semakin larut, menyelusuri semak berduri dengan bertelanjang kaki mulai menyadarkanku akan bahaya yang mendekat.
Omak, buk Mira, hanya mereka yang mucul di benak.
“Omak! Omak!” panggilku sesampainnya aku di rumah. Setiap sudut ruangan telah kucari, tapi batang hidungnya pun tak kunjung muncul. Hatiku semakin gusar, dimana sebenarnya Omak? Mengapa barang-barang di kamar dan ruang tamu berantakan? Satu persatu pertanyaan bermunculan di benak. Tak sadar, suara warga semaikin dekat.
Jantungku berdebar cepat, seakan meledak.
“Parrasun! Keluar! Kau kira bisa kabur, hah?” ucap seorang pria di depan rumah.
“Omakmu, udah kami kurung. Jangan coba-coba kabur kau!” ancar seorang wanita tua.
Hiruk-piruk warga semakin menjadi. Suasana sudah tidak terkendali.
“Tenang semuanya! Kita bisa selesaikan masalah ini baik-baik! Jangan main hakim sendiri.” Pinta seorang pria dengan suara berat mencoba menenangkan.
“Nak Kaling, tenanglah. Ibumu baik-baik aja. Lebih baik, kau keluar dan jelaskan apa yang sebenarnya terjadi dengan buk Mira?” tambah pria itu lagi. Suara yang tidak asing di telingaku, kepala suku.
Kubuka pintu, melangkah keluar. Beberapa orang melempariku dengan batu, dan beberapa lainnya menghujatku.
“Aku gak melakukan apa-apa. Aku gak tau kenapa buk Mira bisa gitu.” Ucapku membela diri.
Seakan tak menghiraukan ucapanku, mereka terus melempariku dengan batu. Bahkan ada yang melempar tahi kerbau, mengenai pipi dan telingaku.
Beberapa kali kepala suku mencoba menenangkan warga, namun sepertinya mereka menikmati situasiku dan terus fokus menganiayaku. Hingga sebongkah batu besar melayang di kepalaku, darah segar mengalir deras, merembes ke bagian tubuhku yang lainnya.
Pandanganku buram, kepala pusing. Jumlah mereka semakin banyak dan semakin sedikit, aku tak lagi bisa membedakan mana yang asli dan mana yang bayangan. Sedikit demi sedikit mereka ditelan malam. Namun aku masih bisa mendengar suara dan jerit kesal mereka.
BRRUUKKK!!
Kaki kecil wanita malang ini tak sanggup lagi menyangga tubuh yang lemah, menyangga mimpi-mimpinya. Bahkan kesempatan berjumpa dengan Omak, jauh di depan mata. Begitu pula kepada buk Mira.
Malam terasa dingin. Langit memuntahkan hujan sedikit demi sedikit. Mengguyur basar jiwa pendosa, dan larut dalam sunyi. Meninggalkan jejak perih, membungkam harapan dalam diri.
***
Cahaya mentari menghalangi penglihatan. Ia menerobos masuk melalui sela-sela dinding kayu. Ruang kosong, lantai beralas jerami, dan sebuah tembok kayu berdiri tegak di tengah gubuk kecil ini.
Kaki dan tangan di pasung? Ah, kejadian semalam… sepertinya mereka menyekapku di tempat ini saat aku pingsan. Aku berusaha sekuat tenaga melepaskan diri, tapi percuma.
Terkejut, suara pintu dibuka.
“Kau sudah sadar?”
Aku merintih kesakitan, mencoba menangisi keadaan tak berdaya ini.
“Sshhhtttt! Jangan berisik!” ucap kepala suku mencoba menenangkan.
“Kau harus pergi dari sini. Untuk sekarang pergilah bersama Omakmu ke kota” tambah kepala suku meyakinkan. Ia membuka gembok, menggendongku keluar dari gudang diam-diam.
Omak baik-baik saja? Alhamdulillah ya Robb, dimana dia sekarang? Aku hanya bisa diam tak berdaya, butiran air mata terus mengalir.
Kami berhasil keluar, sepertinya desa kembali seperti semula, seakan tak pernah terjadi apa-apa.
Kepala suku membawaku melewati hutan karet, badannya yang gembul membuatnya cepat lelah. Tapi ia terus berlari, membawaku jauh dari desa, melewati suangai dan hutan. Hingga kami tiba di jalan besar, terlihat dua wanita yang kukenal baik melampaikan tangan keada kami. Kepala suku membawaku kepada mereka.
“Cepat pergi! Kendaraan ini akan membawa kalian ke kota. Jangan kembali untuk waktu dekat. Barang-barang kalian akan kukirim segera” perintah kepala suku kepada kami. Ia meletakkanku dalam bak Mobil, Omak dan buk Mira segera mendekapku bahagia.
Wajah buk Mira pucat, mungkin ia masih sakit.
“Ibu baik-baik aja” ujarnya tersenyum. Ia mengerti bahwa aku memandangnya penuh tanya.
Mobil kami pun bergerak, kulihat kepala suku melambaikan tangan. Aku tersenyum padanya, terima kasih telah menyelamatkan kami, ucapku dalam hati. Mulutku masih lemah untuk berkata-kata.
Kami semakin jauh terpisah. Sekali lagi terima kasih untuk segalanya. Kelak, jika aku kembali, aku akan membersihkan tanah kelahiranku dari kutu. Menjadi sepertimu, kepala suku.

Gelitar, April 2015

Jumlah kunjungan: 733 kali

Leave a Reply

Your email address will not be published.