Medan – kreatifonline.com, Siapa yang tak kenal pulau Bali? Pulau yang terkenal dengan keindahan eksotisme pantainya ini disebut-sebut sebagai surga dunia yang memikat turis domestik hingga turis manca negara untuk berkunjung. Namun, yang terkenal dari Bali tak hanya pantainya saja, orang Bali juga terkenal karena taat akan tradisi dan menjunjung tinggi nilai budaya leluhurnya. Bagi yang tertarik untuk mengenal lebih jauh etnis dan budaya Bali, tak perlu jauh-jauh harus ke pulau nan indah itu karena di Pulau Sumatera sendiri terdapat perkampungan yang bernama Kampung Bali. Tentu saja minus pemandangan pantai.

Untuk mencapai perkampungan ini dibutuhkan waktu ±3 jam dari kota Medan dengan sepeda motor. Terletak 12 km dari Kota Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), tepatnya desa Pegajahan dusun harapan II, tempat perkampungan warga etnis bali ini berada. Ketika memasuki dusun tersebut kita langsung disambut dengan pemandangan unik yang tak ditemui di tempat lain di Sergei, yaitu gapura megah kokoh berwarna coklat dan banyak ditumbuhi pohon kelapa hijau serta pasir putih yang membangkitkan nuansa kerajaan masa lalu. Di berberapa halaman rumah warga terdapat pura kecil menyerupai rumah yang membuat kita serasa di Pulau Bali. Mengitari perkampungan ini, kita akan menjumpai sebuah pura eksotis berdiri megah di tanah seluas 20 x 40 meter yang seolah menyambut dan berkata, “Ini Balinya Sergai.” Namun, pura itu berpagar tinggi dan terkunci rapat, tak sembarang orang bisa masuk.

Sejarah

Menurut I Made Sudante, penjaga pura tadi, keberadaan warga etnis Bali yang tinggal di Sergai ini adalah para buruh kontrak yang didatangkan langsung dari Pulau Bali oleh perusahaan perkebunan PTPN IV Adolina sekitar tahun 1962. Pada saat itu ada 53 KK atau sekitar 200 jiwa yang bermukim di Desa Pegajahan. Seiring berjalannya waktu keberadaan warga etnis bali ini pun kian berkurang. “Ada yang pulang ke Bali karena rindu dengan kampung halaman dan ada juga yang merantau ke desa lain, hanya ada sekitar 10 KK atau 30 jiwa yang merupakan keturunan warga Etnis Bali yang masih tetap bertahan di dusun ini” kata pria berusia 78 tahun ini.

Penanda Identitas

Warga etnis bali yang terkenal taat akan tradisi dan nilai budaya leluhur, sekitar tahun 1989, mendirikan sebuah Pura di dusun II B Pegajahan, yang merupakan gagasan dari Nengah Danu, seorang tokoh masyarakat yang dihormati Warga Etnis Bali di Desa Pegajahan. Pembangunan pura ini juga dibantu oleh sejumlah warga Bali yang tersebar di beberapa wilayah di Sumatra Utara. Pura yang dibagun di tanah seluas 20×40 meter ini berisikan patung-patung yang khusus didatangkan dari Bali. Pembangunan pura ini memakan waktu sekitar enam bulan dan diberi nama Pura Penataran Dharmaraksaka yang kemudian menjadi simbol pemersatu Etnis Bali khususnya di Desa Pegajahaan. Pura ini ramai dikunjungi setidaknya dua kali sebulan oleh umat Hindu Bali untuk beribadah pada waktu purnama dan Tilem (bulan gelap). Upacara tersebut dipimpin oleh Pandita Wayan Gio (52 tahun). Keberadaan pura ini juga dimanfaatkan sebagai tempat ajang silaturahmi antara warga Etnis Bali Sergai dengan warga Bali di luar Sergai. Itulah sebabnya Etnis Bali masih ada di Sergai hingga saat ini.

Objek Wisata

Setelah melihat keunikan yang ada di Desa Pegajahan ini, pastinya membuat orang yang berkunjung serasa berada di pulau Bali. Walau pun tanpa pantai, setiap minggunya ada saja orang yang dengan sengaja berkunjung ke desa ini untuk sekedar merasakan dan mengetahui kebiasaan masyarakat etnis bali yang berada di Sergai tersebut. Keberadaan budaya yang terjaga memungkinkan tempat ini untuk dijadikan salah satu objek wisata budaya yang mampu meningkatkan penghasilan warga desa sekaligus mempertahankan nilai budaya dan adat istiadat warisan bangsa.

Jumlah kunjungan: 458 kali

Leave a Reply

Your email address will not be published.