Medan – kreatifonline.com, Kondisi pariwisata Sumatera Utara sepertinya akan merangkak perlahan untuk berkembang. Hal tersebut terbukti dengan kurangnya keseriusan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah untuk membangun infrastruktur di daerah potensi pariwisata.

Adapun beberapa objek wisata di daerah Medan antara lain Kebun Binatang yang berada di SImalingkar B, Musem Galery Rahmadsyah, Taman Buaya Asam Kumbang, Istana Maimun, Mesjid Raya Medan, Tjong A Fie yang berada di Jalan Kesawan Square.

Salah satu contohnya adalah Museum Negeri Sumut yang berada di Jalan HM. Joni seiring berjalannya waktu dan dengan diberikannya perhatian kepada Museum Negeri tersebut maka terjadi peningkatan pengunjung sebanyak 40 persen sejak tahun 2009 hingga tahun 2011.

Walau terjadi peningkatan perlahan namun perhatian harus diberikan secara khusus kepada tempat-tempat pariwisata yang berada di Sumatera Utara khususnya di Kota Medan.

Sampai saat ini masih banyak siswa-siswa sekolah yang belum pernah sama sekali menginjakkan kaki untuk mengenal secara bangsa melalui peninggalan bersejarah yang berada di museum.

Lain hal dengan keadaan kebun binatang yang berada di Simalingkar B. Terdapat tiga kelas hewan yang ada dikebun binatang ini yakni mamalia, aves dan reptil, dengan 50 hingga 60 spesies hewan dan total hewan yang menetap di kebun binatang tersebut berkisar 150 ekor. Namun malangnya, kebun binatang yang berlokasi di Kecamatan Medan Tuntungan tersebut telah tiga tahun tidak membayar pajak bumi dan bangunan (PBB) dengan alasan minimnya dana operasional yang diperoleh.

Kebun binatang Simalingkar B yang dibangun tahun 2004 dengan luas 40 hektare saat ini dalam kondisi yang memprihatinkan. Masih didapati kandang hewan yang rusak, kondisi hewan yang terlihat kurang sehat, kandang hewan yang didapati dalam keadaan kotor menjadi salah satu alasan pengunjung untuk memilih tempat lain.

Perkembangan Pariwisata Sumut Butuh Perhatian

Daratan Sumatera Utara yang terletak pada 1 derajat sampai empat derjat Lintang Utara dan 98 derajat hingga 100 derajat Bujur Timur memiliki daratan sebanyak 71.680 km persegi.

Beraneka ragam objek pariwisata dapat ditemui di provinsi ini. Mulai dari wisata alam, wisata rohani, hingga wisata kuliner. Yang termasuk objek wisata alam yang berada di Sumatera Utara antara lain Danau Toba, Air Terjun Sigura-gura, Gunung Sibayak dan Gunung Sinabung, Lau Kawar, Tangkahan dll. Keindahan alam Sumut membuat munculnya wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara datang ke Sumut.

Contohnya Air Terjun Sipiso-piso yang juga merupakan pancaran indah Danau Toba, yang terletak di dataran tinggi Desa  ongging. Gemercik air menyejukkan wisatawan yang melintas, hijaunya panoramanya menambahnya kesegaran mata, sejuknya udara melegahkan paru-paru. Berjarak 35 kilometer dari Kota Brastagi Kabupaten Karo, gemericik air dari tebing setinggi 120 meter tumpah mengalir ke Danau Toba, bagaikan impian yang tak berujung, nasig Danau Toba yang hanya terleqati begitu saja.

Keberadaan Air Terjun Sipiso-piso sekira satu kilometer ke bawah dengan ketinggian 360 kaki, untuk sampai ke air terjun tersebut, wisatawan harus menapaki satu-persatu anak tangga beton yang kian tak terawat dan dapat mengakibatkan kecelakaan bagi pendaki. Sangat disayangkan keindahan yang tepampang luas dipadu dengan keadaan yang tidak membuat wisatawan dalam keadaan safety (aman-red).

Melalui keberadaan para wisatawan baik lokal maupun non-lokal maka hal tersebut dapat menjadi salah satu pendapatan daerah wisata tersebut. Namun hal itu belum menjadi perhatian serius pemerintah daerah ataupun pemerintah pusat. Danau Toba yang menjadi danau kebanggaan penduduk Sumatera kini telah tercemar dan kotor. Banyaknya eceng gondok yang menjadi membuat keadaan danau semakin tidak sehat dipandang mata. Banyaknya tanaman tersebut di area danau juga sempat menhambat lalu lintas kapal yang hendak menyebrang ke Pulau Samosir.

Pembuatan tambak-tambak di pinggiran danau merupakan salah satu sumber pendapat masyakat untuk bertahan hidup, namun ironinya keberadaan tambak tersebut menyebabkan air semakin tercemar. Tampak bila ada ikan mas yang telah mati, maka petani ikan tersebut tetap saja membuang bangkai ikannya di danau. Ikan mati yang terlihat mengapung di permukaan danau membuat wisatawan bertanda tanya dalam kepalanya. “Apakah airnya sudah tercemar sehingga banyak ikan mati?”

Pertanyaan spontan tersebut yang muncul saat melihat kondisi alam yang semkin kurang terawat dan kurang mendapat perhatian dari pemerintah daerah dan juga pemerintah pusat.

Kebersihan di lokasi wisata kurang diperhatikan, yang juga didukung dengan jalan menuju obek wisata masih banyak rusak, sehingga mempersulit akses menuju daerah wisata. Keadaan tersebut semakin menyurutkan niat wisatawan melancong ke tempat kurang terawat tersebut.

Hal tersebut memicu turunnya jumlah kunjungang wisatawan mancanegara.Terbukti dengan menurunnya jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman). Pada bulan Juni mencapai 18.888 orang, sedangkan pada bulan Mei mencapai 19.133 orang.

Ada tiga pintu masuk wisatawan mancanegara (wisman). Penurunan jumlah wisman pada bulan Juni 2011 dibanding bulan sebelumnya pada pintu masuk Bandara Polonia dengan persentase sebesar 4,02 persen, pintu masuk Pelabuhan Laut Belawan dan Tanjung Balai Asahan mengalami peningkatan masing-masing sebesar 1,17 persen dan 51,66 persen.

Lima negara yang warganya menjadi pengunjung terbanyak di Sumatera Utara pada bulan Juni 2011 adalah Malaysia 10.953 orang (57,99 persen), Singapura 1.341 orang (7,10 persen), Belanda 420 orang (2,22 persen), Amerika Serkat 308 (1,63 persen) dan Autralia 308 (1,63 persen).

Maka dari itu pembenahan secara bertahap perlu dilakukan guna meningkatkan jumlah wisatawan sekaligus menjadi salah satu sumber pendapatan bagi daerah tersebut.

Jumlah kunjungan: 912 kali

Leave a Reply

Your email address will not be published.