Medan – Kreatifonline.com, Orang pinggiran, kaum termarjinalkan. Itulah panggilan umum bagi mereka. Bergerak bersama saat mentari sudah menyelinap ke peraduan barat. Melintasi di kebisingan yang tak berirama. Mengkayuh sepeda di jalan raya yang sesak. Rombongan roda-roda yang tak berpolusi kelompok study BARSDem melaju ke kawasan perumnas Mandala tepatnya di pemukiman kumuh di pinggiran rel kereta api.

Seraya demonstrasi sederhana roda-roda sepeda ontel kelompok studi yang mengaku kawan sang demonstran ini melaju dengan sebuah energy kepedulian. Kurang lebih satu jam perjalanan, kelompok sampai ke tempat tujuan. Menarik napas sejenak, kemudian mulai membentuk beberapa kelompok kecil 3 atau 4 orang per kelompok. Kelompok kecil berpencar untuk menemukan sudut-sudut realitas kehidupan masyarakat pinggiran rel.

Langit tak begitu dipenuhi binatang kala ini, namun semilir angin malam mampu menyejukkan badan yang keringatan. Bau-bau menyengat di saraf penciuman mulai menyeruak tajam, bau sampah dan kotoran ternak sangat pekat di setiap sudut rumah penduduk sekitar. Dengan menggiring sepeda ontel di atas batu-batu rel kami menikmati suasana kumuh. Khas dengan tumpukan botot di tiap depan rumah kotak yang sedianya menjadi istana bagi penghuninya.

Seketika kilatan cahaya dari ujung rel begitu cepat mendekat. Kereta api menggetarkan tumpuan kaki seperti gempa bumi melaju kea rah kami. Buru-buru untuk minggir ke pinggiran. Eh… ada yang kena sial, kakinya terperosok pada tumpukan tinja babi. “AgoOi…! Sial nai, lontong lah ini!” ungkap Quardes akan nasibnya. Teman-teman yang lain terkekeh menikmati tontonan kesalahannya. Kelompok berjalan ke arah titik api masakan pakan babi di pinggiran rel. Disamping titik api yang menyala tiga orang wanita paruh baya sedang duduk di pinggiran rel, dan dua orang perempuan remaja menjaga api masakan pakan babi.

Aku dan Rina mengayunkan langkah mendekat kearah seorang ibu yang menyapa dengan sekelumit senyum dilapisi warna malam. Wanita paruh baya ini Boru Tampubolon yang melahirkan dua orang putri yang masih berstatus pelajar. Kebetulan dua orang remaja itu adalah belahan jiwasang ibu yang sedang masak pakan babi mereka. Didahului basa basi yang ringan, kami mulai merangkai kata sederhana untuk memahami mereka lebih dalam. Ibu yang sudah 10 tahun menjanda ini bercerita begitu terbuka seakan sudah kenal dekat dengan kami membuat suasana semakin akrab. Dia begitu menyadari kondisi sosial di sekitarnya, tak merasa hidup merdeka tinggal dikondisikan nasib. Ibu berhasrat untuk mengubah nasib, tuk keluar dari situasi kumuh.

Ketidaklayakan itu membuat semangatnya untuk keluar dari ketidakmerdekaan sosial setinggi menara cinta untuk anaknya. Ibu bertubuh mungil ini begitu antusias untuk menyekolahkan putri sulungnya Tiur yang tengah duduk di bangku SMK Kelas XII untuk sampai ke perguruan tinggi. Tiur pun ingin sekali melanjut ke perguruan tinggi. Dia bercita-cita sebagai sekretaris. “Aku ingin melanjut jurusan sekretaris sambil kerja sampingan.” ungkapnya dengan semangat. Dialog-dialog ringan dengan ibu anak itu mengalir dengan situasi relative emosional. Kami pun harus menapak ke sudut lainnya, hanya meninggalkan senyumdan penguatan harapan yang teoritis.

Tinggal dengan bergoni-goni sampah, tumpukan kotoran babi di tiap sela angina, kebisingan yang merusak gendang telinga, dan situasi tidak bersyarat hunian higienis memang sungguh tidak nyaman tetapi keterbiasaan membuat semua menjadi sangat biasa. Masih menjelajah di pinggir rel, kami melangkah ringan ke rumah mungil berbata tanpa balutan semen Ibu Hutapea. Saat ditemui, ibu ini tengah sibuk membersihkan dan merobek-robek kantongan plastic berbau  campur aduk namun khas menyengat, sambil menjaga bara api pakan babinya. Ibu beranak lima ini hanya sendirian mengerjakannya, anak bungsunya sudah tidur, putri sulungnya jalan malam mingguan sama temannya dan dua orang tinggal di asrama. Nasib sial anak sulungnya yang dirusak lingkungan pergaulan mengharuskan kedua anaknya diasramakan, karena sang ibu tidak ingin terjadi kegagalan yang kedua kali.

Sedangkan cerminan tak senang tersirat di wajahnya ketika disoalkan keadaan suaminya. Suaminya sudah tidak di pelupuk mata, entah kemana sejak beberapa tahun yang lalu. Tempat yang dulunya merupakan rawa-rawa itu kini menjadi tumpuan berdirinya tiang-tiang rapuh kotak-kotak yang berpenghuni di sini disebut  istananya. Rumah yang tak diisi furniture bahkan fasilitas furniture pun tak lengkap, air sumur yang berwarna dan berbau dengan selokan yang tak jelas karena tidak ada parit, aliran listrik remang-remang yang meminjam meteran ke rumah orang-orang Cina. Tiap bulannya pemonopoli menuntut sewa rumah. Rumah kotak kecil itu biasanya dihuni dua sampai tiga kepala keluarga. Hanya dinding tepas kamar yang membatasinya.Bukan tidak jarang keributan rumah tangga terjadi. Dari berberapa rumah yang kami jalani kebanyakan mengaku janda dan kurang berhasrat menceritakan suaminya. Anak remaja dan pemuda yang pengangguran yang ada menjadi tanggungan di hamper setiap rumah. Rumah panggung babi hamper di setiap pelataran rumah. Tumpukan kotoran dibiarkan begitu saja, apabila sudah menggunung dengan mudahnya dilemparkan ke rel kereta api. Sebagian ternak adalah milik kapitalis kecil, yang diternakkan masyarakat sekitar dengan upahan babi yang beranak dibagi.

Pinggiran rel kereta api dengan kondisi kumuh dan deretan rumah kotak yang sederhana menjadi sebuah pemandangan yang sudah sering ditonton membuat kita tak begitu miris melihat kisahnya. Upaya untus memantaskan kehidupan, hidup mereka sudah tak begitu diibakan, nurani sosial mungkin sudah jenuh. Kedai kecil yang didominasi bapak-bapak dengan tuaknya (minuman beralkohol khas Batak), pemuda setempat dengan meja bilyard dan kartunya, anak-anak remaja yang berceloteh ramai-ramai di pinggang rel dan ibu-ibu dengan botot plastic dan pakan babinyaitulah rutinitas umum yang ada di sana.

Tumpukan goni-goni plastik dan botot-botot hamper di setiap rumah, menyiratkan bahwa 99% penduduknya menjabat sebagai tukang botot dan peternak babi. Pinggiran rel dihuni masyarakat yang berseragam sesuku yang sejarahnya para perantau dari daerah Toba, agama bahkan mata pencaharian juga tak berbhineka (homogen). Serikat tolong-menolong (STM) yang tak setikar dengan masyarakat di belakang di rumah-rumah kotak, bahkan bisa dikatakan layanan administrasi tidak jelas. Masyarakat yang suka curiga, kawasan terlarang bagi orang asing karena dikhawatirkan mata-mata pihak penggusur yang melakukan survey. Malah Ibu Rajagukguk mengusir secara halus kami untuk segera pulang, takutnya pemuda setempat curiga.

Masyarakat yang termarjinalkan, kaum pinggiran kota itulah sebutan umum bagi mereka. Tak tahu apakah mereka pantas diiba atau dibersihkan. Keinginan untuk mendapatkan tempat yang layak adalah harapan semua manusia, realita kehidupan sering menempatkan kita di kondisi yang tak diinginkan. Akankah mereka akan digusur?

Malam sudah semakin larut, kami kelompok kecil kembali ke titik awal pergerakan. Setelah melihat sepenggal peta rutinitas kehidupan di pinggiran rel kereta api, kami hendak beranjak pulang. Sewaktu perjalanan pulang, ban sepeda barang yang kami tumpangi kemps, Penk sudah sangat kelelahan mengayuh sepeda. Yah…! Penumpang harus ada yang turun. Hingga sampai di tempat temple ban.

Sementara ban ditangani seorang ibu yang berbadan gemuk, kami duduk santai beramai-ramai. Kami mengisi waktu dengan bercengkerama dan berbagi cerita tentang hal-hal yang kami lihat di pinggiran rel tadi. Ada gejolak tawa di sela-sela cerita yang menghidupkan suasana, ada teman yang melucu, bertingkah konyol tuk sejenak mengelap butir keringat di tengah dingin malam.
Hari sudah berganti sekitar dua jam yang lalu. Dini minggu kami  kembali ke jalan, tetap dengan roda-roda sepeda ontel dan sepeda barang yang mengangkut kami. Sepanjang jalan raya yang sepi, membuat seakan jalan itu milik kami karena taka da kebisingan mesin dan istilah lampu merah.

Sepanjang jalan tetap ada cerita. Sedikit melirik kisah jalan dikala langit bertingkap gelap menyembunyikanmentari, ada play station yang terus menggila 24 jam, kelompok judi kecil, anak remaja yang begadang, sesosok kupu-kupu malam di sudut jalan yang remang dan tak jarang tuna wisma  yang merebah lelap di aksur karton, beratap langit, dan berselimut lembaran berita sosial, tak lupa orang tak waras yang telanjang melintas santai di depan kami, ada teman yang terbahak, ada kesan yang tersirat.

Serpihan kisah perjalanan di gelap hari ini menyatu menjadi sebuah hembusan napas panjang dan kelelahan yang nikmat. Realitas kehidupan pinggiran rel menjadi pesan dan kesan yang tersirat halus di relung iba iri hati. Dengan jarak tempuh kira-kira lima kilo meter, betis dan pantat terasa pegal-pegal. Roda-roda juga mulai kemps, bahkan ada yang sampai putus rantainya. Akhirnya kami melentangkan tulang-tulang pegal dini hari. Huhh….

Jumlah kunjungan: 1159 kali

Leave a Reply

Your email address will not be published.