Medan – Kreatifonline.com Segala sesuatu kan kembali ke debu. Pasti, aku sangat percaya.
Nafas suci yang menghembuskan partikel-partikel padat itu juga yang menjadikannya bernyawa. Seketika sebuah raga pun terbentuk oleh karenanya. Raga yang hidup dan memiliki jiwa, juga siap untuk menjalankan kehidupan bersama raga-raga lain. Lalu, putaran waktu begitu sempurna hingga menggerakkan poros yang bertitik di lingkaran bola bumi. Akan ada agenda yang menjabarkan kehidupan itu, entah mulai dari periode mana dan berhenti pada titik poros sebelah mana. Pastinya, kehidupan yang abstrak dimulai dari misteri. Tidak ada seorangpun tahu bagaimana semua proses berjalan. Namun menurutku, kehidupan konkrit adalah idamanku, kehidupan yang dimulai dengan sentuhan.
Aku hidup dalam puluhan tahun yang silam. Mencoba mati, tapi aku tak mampu. Kutukan apa yang mulai menyerang raga ini, hingga setiap lapisan kehidupan sudah kujalani. Lahir dari rahim yang berbeda, tumbuh menjadi beberapa nama, jatuh cinta ratusan kali, puber untuk waktu yang silih berganti, tetapi tak sempat ku kecap manisnya masa tua. Hidupku selalu berganti pada poros pertengahan, hanya sepertiga abad kadarnya.

Oh, aku tak mengerti. Jika ku boleh bertemu Tuhan, aku pasti akan meminta kehidupan seabad yang sempurna, tentu hanya satu kali. Aku hanya ingin ditakdirkan sebagai seorang suami dari satu wanita, seorang ayah dari anak-anak yang lucu, juga seorang kakek yang bahagia melihat keluarga baru tumbuh dari spermaku. Tapi siapa yang mau mendengarkan permohonanku? Aku seorang terkutuk. Tapi debuku ter-reinkarnasi. Itupun aku lahir sebagai binatang!
******
“ Umang, kesini makan dulu… aku sengaja tidak menghabiskan nasiku, lalu membawanya kesini…ayo cepat kemari…” tuan kecil berseru padaku.
Aku menyambutnya dengan girang, lalu menyalak berterimakasih.
Inilah yang kusebut sebagai kehidupan keduaku. Hidup sebagai seekor anjing bau yang tak diinginkan. Mungkin hanya anak ini yang menyayangiku di dunia ini, selain daripada sisa-sisa keturunan Ayah dan Ibuku. Aku tak tahu lagi keberadaan mereka.
Sekarang aku tinggal dirumah seorang kepala desa. Setiap hari aku hanya mengikuti tuan kecilku ini bermain, atau mengikutinya mengawasi pekerja ayahnya memanen hasil lading mereka. Aku cukup bahagia, karena anak ini jugalah yang pernah menyelamatkanku sebelum aku menghadapi kematian ketigaku. Setidaknya tuan kecilku ini adalah semangatku untuk melanjutkan kembali takdir yang sempat kukutuk.
“ Umang, sehabis makan kau harus menemaniku ke kampung sebelah” Kaifar mengelus kepala kurapku, lalu tersenyum seakan ia menganggapku sebagai sahabat dekatnya.
Aku menghentikan makanku sejenak, lalu menjilat-jilat tangan dan kakinya. Ia tertawa girang, lalu menepuk bokongku. Aku pun hanya menyalak girang kepadanya. Namun firasatku tak enak, aku seperti mendengar sesuatu dari beberapa ratus meter di ujung sana. Aku tak tahu apa, tapi sepertinya itu adalah pertanda buruk. Bagaimana caranya aku harus mengatakannya pada Kaifar?
******
Kusaksikan sebuah ritual di kampung halamanku.
Jafar, si kepala suku sedang membaca mantera dengan mulut komat-kamit. Sementara itu beberapa pengawal kepala suku membawa obor dan meletakkannya di atas bambu-bambu yang berdiri disekitar sesajen dan persembahan upacara. Laki-laki setengah abad itu sedang memimpin upacara kematian beberapa warga kampung yang tewas akibat perang antara kampung kami dengan kampung lainnya. Jumlahnya sekitar puluhan. Salah satunya adalah laki-laki berwajah tampan keturunan kepala desa ini. Ia tewas terpanah saat sedang berlari menyelamatkan diri.

Kulihat kepala desa, sang empunya anak sedang berdiri tegar. Sesekali ia sesunggukan karena ia harus merelakan putra tunggalnya terbunuh dalam perang ini. Aku menjadi teringat tentang bagaimana Ayahku duduk meratapi mayatku saat pertama kali aku mengenal kematian. Kau tahu, kematian itu sangat menenangkan. Rasanya seperti melayang dalam dimensi gelap namun kau tak akan terjatuh. Itulah orientasiku saat pertama kali mati. Ayahku seorang saudagar kaya, ia memiliki banyak uang dan harta benda untuk menjamin kembali kehidupanku. Bagaimana kutahu? Ya karena ayah membayar seorang sesepuh untuk menyimpan debuku dan menghidupkan nyawaku lagi. Tapi seandainya ayah tahu, aku tak bahagia dengan keadaan ini. Ayah keliru mengartikan kehidupanku.
“ Yang Maha Kuasa dengarlah doa kami, terimalah roh mereka dan biarkan mereka bahagia dengan kehidupan baru disana. Yang Maha Kuasa dengarlah permohonan kami, lindungilah kampung ini dari serangan dan pemusnahan”
Aku bergerak mendekati mereka. Kepalaku celingak-celinguk memperhatikan satu persatu yang datang menghadiri ritual ini. Ada beberapa kerbau yang dipersiapkan, juga puluhan peti berjejer rapi di antara mayat-mayat yang tertutup kain hitam.
“ hush! Dasar anjing kurapan! Pergi kau…” sebuah tendangan menyepak bokongku.
Aku mengumpat dan pergi. Apa dayaku? Apalagi aku hanyalah anjing. Tapi jiwaku adalah manusia. Aku bisa merasakan rohku hidup dalam raga si kurap ini. Huh. Sial. Aku bukan seekor anjing! Aku anak seorang saudagar kaya. Kau harus tahu! Aku berlari menjauhi orang-orang tadi, lalu bergerak di dekat pondok tua. Aku melihat seorang anak laki-laki tengah duduk bersila di atasnya. Astaga, apakah dia adalah roh anak kepala desa tadi? Ku perhatikan wujudnya begitu sempurna, itu benar dia! Anak laki-laki itu namanya adalah Kaifar. Ia memeliharaku sejak aku berada dalam raga anjing ini.
Astaga! Aku baru ingat. Dua hari yang lalu, aku melihatnya terpanah didepan mataku.
Aku tak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkannya, aku hanya anjing reinkarnasi…
“ Umang… kesini, ayo kemari…” ia memanggilku.
Ekorku bergoyang menyambut panggilan ramahnya, lalu menyalak beberapa kali. Auuungg…Auuungggg….Auuuuungggg….
Ia tertawa sangat gemas melihatku. Lalu beranjak dari tempatnya bersila, kemudian membelai buluku. Aku menjilat wajahnya, lalu menyalak lagi. Seandainya aku bisa berbicara pada anak malang ini, aku pasti akan bercerita bahwa aku hanyalah roh yang menerima kehidupan reinkarnasi. Aku sangat menderita disini.
“ Umang, aku sudah mati. Aku tak akan pernah lagi bermain denganmu Umang.” Anak laki-laki itu menumpahkan air matanya, lalu membelai kepalaku lagi.
“ auuungg…” aku mencoba bicara, ingin menghiburnya.
“ Umang, aku tak ingin mati. Aku tak ingin dibakar oleh api neraka ” lanjutnya lagi.

Air mataku juga lepas dari kurungan. Hatiku tahu bagaimana yang sedang dirasakan anak ini. Jauh bertahun-tahun berbalik ke belakang, aku seperti membayangkan diriku seperti Kaifar. Waktu itu, aku juga mati saat usiaku masih remaja, mungkin sekitar lima belas tahun. Aku ingat bagaimana rohku menangisi mayatku saat orang-orang menarik tubuhku dari dalam telaga. Ku saksikan Ibundaku menjerit histeris, bagaimana tidak? Ia kehilangan anak semata wayang, sama seperti yang dirasakan Kaifar. Kami memiliki kesamaan nasib, tetapi aku harap majikan kecilku ini tak pernah mengalami reinkarnasi yang sama sepertiku.
“ Pak Kades, bagaimana dengan pembakarannya? Bisa kita laksanakan sekarang?” tanya seorang lelaki berambut gondrong pada laki-laki bertubuh tegap yang tengah merenung sedih atas kepergian puteranya. Laki-laki itu mengangguk, lalu berjalan perlahan mendekati kerumunan orang-orang dalam upacara kematian itu. Kulihat Kaifar semakin terpukul pilu. Ia meninggalkanku, lalu berjalan mendekati Ayahnya. Dan tak peduli bahwa ia sekarang tak akan kembali, rasanya ia ingin menangkap dimensi nyata itu dengan tangan roh seperti dirinya saat ini.
“ ujang, katakan pada Jafar, aku ingin meminta debu Kaifar untuk kusimpan sendiri dirumah” jawab Pak Kades lirih.
“ baik pak, tapi saya dengar-dengar keluarga lain meminta debu itu untuk direinkarnasi …” jawab Ujang.
Pak Kades bergumam sejenak, lalu menghela nafas panjang. Ia tak ingin terlihat lemah dihadapan pesuruhnya itu. Aku menyalak, lalu berlari mendekati tuanku yang tengah kehilangan. Auuuuuunggg.
Aku hanya ingin bilang pada tuanku, bahwa aku tidak setuju Kaifar direinkarnasi. Biarlah ia kembali kepada Gusti Allah, pencipta langit dan bumi. Aku tak ingin Kaifar merasakan hidup kedua yang sungguh tak layak seperti yang saat ini kurasakan. Aku harus mencegah reinkarnasi ini!
“ Umang, ada apa? kenapa kau gelisah seperti itu?” roh Kaifar memanggilku, seraya menghapus kedua matanya yang basah.
Aku tak memperdulikan Kaifar, lalu tetap berputar-putar di sekeliling tuanku Pak Kades dan pesuruhnya Ujang. Aku tahu, mereka pasti akan menendangku karena bersikap konyol di saat-saat genting seperti ini. Namun aku hanya tidak dapat menahan diriku kali ini. Kaifar akan mengalami nasib sepertiku, merasa kesepian, kedinginan, kelaparan, ah jangan sampai terjadi pada tuan kecilku ini. Tidak.
“ hush Umang! Bisakah kau menyingkir jauh-jauh?” seru Ujang, pesuruh tuanku.
“ auuuuunnngg!” balasku berseru padanya, lalu memasang wajah menyeringai.
“ hush, anjing ini pasti kelaparan Ujang, biasanya Kaifar yang memberinya makan, tapi sudah dua hari kematian Kaifar, anjing ini menjadi kelaparan… anakku pasti sedih saat ini” kata Tuanku itu dengan mata berkaca-kaca.
“ biarlah aku yang menyuruh Gugun memberikannya makan pak, tenanglah disini…” lalu Ujang pergi meninggalkan kami .
Roh Kaifar berjalan dan berhenti sejenak di sebelahku. Sementara Tuanku, Ia meninggalkanku dan berjalan menuju upacara pemakaman itu. Ia mendekati Jafar, si kepala suku berkumis lebat itu dan berbisik sesuatu. Kami tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, karena suasana riuh musik kematian juga mengiringi pilu semua anggota keluarga yang kehilangan saudara, anak, orangtua dan temannya yang tewas dalam serangan warga kampung seberang.
Aku dan Kaifar hanya bisa melihat obor-obor dinyalakan di antara mayat-mayat itu, Bau asap kemenyan dan wangi-wangian rempah juga sangat menusuk hidung. Aku berkeliling di antara mayat-mayat itu, lalu tergoda oleh bau bangkai yang terpancar dari tubuh semua mayat itu. Tidak hanya aku, juga beberapa anjing kampung lain yang sepertinya mengincar mayat-mayat itu.
“ upacara pembakaran akan segera kita laksanakan satu jam lagi” seru pesuruh Jafar pada warga kampung yang tampak duduk lemas menjaga mayat anggota keluarganya.
Aku tak hanya melihat roh Kaifar. Puluhan roh berada disini bersama kami.
Apakah mereka semua akan di reinkarnasi, sama sepertiku?
******
“ ayah…”
“ anakku…”
“ titipkan salamku pada Ibu”
“ kau hendak kemana nak?”
“ menghadap penguasa pak”
*****
Air mataku mengalir tiba-tiba. Kulihat ayah bercengkerama denganku. Memori yang tak terlupakan, tapi sudah menghilang. Hanya seberkas ingatan saja. Semua sudah lewat tiga puluh tahun yang lalu. Dan itu membuatku bersedih sepanjang malam. Ah, aku ingin mati selamanya. Aku tak ingin di reinkarnasi! Tolong!!!
*****
Kaifar tidak ada disini bersamaku. Aku lupa dengan apa yang terjadi semalam. Aku hanya ingat saat api membakar puluhan mayat yang disaksikan oleh anggota keluarga dan warga sekampung. Lalu aku terluka saat beberapa anjing besar mengeroyokiku di sekitar area pembakaran mayat. Aku pun bersembunyi dibawah dipan rumah majikanku, lalu terlelap. Hingga kumimpikan ayah datang menemui.Sekarang matahari sudah datang merangkak dari arah timur, bercahaya hampir di seluruh permukaan. Astaga! Dimana roh majikan kecilku? Bagaimana pembakaran semalam? Sial! Dasar Anjing-anjing besar yang bebal! Seandainya mereka tidak menggertakku dan membuatku berdarah-darah seperti ini.
Aku berlari, beranjak dari rumah majikanku. Kakiku secepat kilat menuju area semalam dengan harapan Kaifar ada disana. Semoga saja.
“ auuuuungg” suaraku mengaung mencari-cari Kaifar disana.
Beberapa kayu bekas pembakaran masih berserakan disana, juga dengan beberapa wadah tanah liat yang berisi sesajen dan tujuh kembang. Beberapa pengawal dan pembantu kepala suku kampung itu pun tampak mengangkat sisa-sisa perlengkapan semalam dan juga drum-drum berisi air yang digunakan untuk memandikan mayat semalam. Aku memutar kepalaku, tapi tak kutemukan siapapun, bahkan roh Kaifar.
*****
Sebulan berlalu semenjak aku kehilangan sahabat juga saudara, yang merupakan majikanku di kehidupan ini. Hatiku sungguh merana. Bagaimana tidak, saat kemarin-kemarin aku bisa bermain dengannya ataupun melepas gundah dengan mengikutinya kemana ia pergi, kini tak ada lagi. Andai aku mati saja di kehidupan ini. Cukup, aku sudah sangat berlelah kehilangan siapapun. Biarlah kukecap kematian abadi, asal aku tak hidup lagi dalam tubuh si bau dan si kurap ini.
“ umang…” seru majikan besarku, lalu berjalan menghampiri.
“ kau sakit? Sudah dua hari kau tak mau makan Umang” sambungnya lagi, lalu mengusap kepalaku dengan lembut.
Aku membuka mataku perlahan, lalu menggoyangkan ekorku pelan. Rasanya aku sudah tak tahan melihat apapun. Tubuhku lemas dan sempoyongan.
“ Ujang!” seru majikanku itu kepada salah satu pesuruh setianya.
Ujang datang dan membawa sesuatu dalam kotak baja. Aku tak mau tahu, karena pastilah itu hanya makanan ataupun obat tradisional agar aku sembuh.
“ ada apa pak?”
“ biarkan Umang menjaganya”
Aku salah. Dugaanku salah. Hidungku mengendus-endus, lalu menggeser sedikit kakiku ketika majikanku itu mengeluarkan seekor anak anjing dihadapanku.
“ Tuan, ini adalah anak anjing tuan Jafar. Baru saja beranak dua minggu lalu”
“ ya aku tahu, aku yang memintanya agar Umang tak sendiri menjaga rumah”
Aku menjauhi anak anjing ini, lalu bersembunyi dibalik dipan. Tetapi anak anjing ini cukup cerdas mengikutiku, bahkan berani sekali ia menjilat dan mendekatkan tubuhnya padaku. Aku ingin menggertak tapi…
“ Umang, ini aku Kaifar.” Seru anak anjing itu dalam bahasaku.
“ Kaifar, ka..ka.kau…” aku terkejut bukan main.
“ Umang, aku senang bisa bertemu denganmu walau aku hanya seekor anjing sekarang… kita bisa bersama-sama lagi Kaifar…” jawabnya sendu dan semakin mendekat padaku. Aku sangat tidak percaya, Kaifar? Bagaimana ini bisa terjadi pada majikanku yang malang? Astaga!
“ Umang, mengapa kau diam? bukannya kita sekarang sama-sama seekor anjing?”

Jumlah kunjungan: 856 kali

Leave a Reply

Your email address will not be published.