Kreatifonline.com, Medan -4 Mei 1998, di kampus IKIP Medan yang sejak kala itu sudah berada di Jalan Willem Iskandar Pasar V Medan Estate, sejarah terukir melalui kejadian brutal yang dihentakkan oleh perlawanan tim aparat terhadap mahasiswa yang turun ke jalan. Kibaran bendera merah putih, deru bunyi sirene, orasi-orasi tim heroik tersebut lantam menyuarakan amanat penderitaan rakyat. Ketika mahasiswa bergerak maju, tim aparat rapat memperkokoh barisan keamanan. Dorong-dorongan terjadi, benturan pun tak terelakkan. Batu-batu jalanan melayang, menjadi simbol peperangan baru saja dimulai. Tentu, mahasiswa berinisiatif karena adanya tuntutan moral dan intelektualitas saat melihat masyarakat Indonesia di tengah krisis moneter yang tengah terjadi. Kala itu, Soeharto ditantang mundur dari kursi kekuasaannya.

Dua anggota DPRD TK.1 Sumut datang mengadakan dialog agar suasana yang panas diredam oleh perdamaian. Namun kabar terbersit mengenai aparat yang masuk ke dalam kampus untuk menciduk beberapa mahasiswa. Semua peserta dialog bubar, lalu perang kembali terjadi lagi. Seluruh lokasi diblokir aparat, membuat mahasiswa kala itu kian terdesak. Untuk mengantisipasi akan terjadinya hal yang semakin runyem, dua anggota SEMA IKIP Medan diundang aparat untuk negoisasi yang lebih konkrit. Namun, keduanya diperlakukan dengan kasar oleh tim aparat.Namun, pada akhirnya disepakati agar tim aparat menarik diri agar keluar dari kampus dan mengizinkan mahasiswa untuk pulang kerumah masing-masing.

Sebanyak dua bus IKIP digunakan sebagai transportasi mahasiswa untuk pulang, namun sayang aparat kemudian menahannya diluar area kampus. Semua mahasiswa, baik laki-laki maupun perempuan dihajar, dibogem, dan diperlakukan dengan kasar. Tidak hanya itu, mahasiswi dilecehkan oleh tim aparat. Keji, aparat yang seharusnya memiliki moral justru memperlakukan mahasiswi dengan perlakuan biadab. Tak hanya mahasiswa yang menjadi korban, bahkan dosen juga dihajar, bahkan seorang satpam dihajar aparat keamanan dan sepeda motornya dibakar. Masyarakat yang melihat langsung dan mendengar peristiwa ini bereaksi dan naik pitam. Aksi pembakaran ban ditengah jalan pun terjadi, diikuti pelemparan terhadap ruko disepanjang jalan di Pancing. Inilah awal kerusuhan di Kota Medan. Sebenarnya, tragedi ini terjadi diseluruh tanah air, namun miris IKIP pernah dihujani duka 1998 tersebut. Ibarat kertas tersulut api, kerusuhan terjadi di seluruh wilayah yang meliputi daerah Bandar Selamat, Denai, Sukaramai, Simpang Limun, Tembung, Belawan dan kawasan khas lainnya. Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa mahasiswa sebagai elit masyarakat memiliki pengakuan yang benar-benar eksis dan layak diperhitungkan. Adalah suatu yang nyata dalam lingkungan masyarakat kita yang paternalistik, mahasiswa menjadi salah satu komponen sosial bernilai plus. Persoalan sekarang, masihkah mahasiswa mampu membawa akselerasi dalam berbagai proses kemunduran yang terjadi saat ini?

Jumlah kunjungan: 122 kali

Bagikan

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published.