Oleh : Patimah Sari Rangkuti

Tindak tutur yang dipengaruhi oleh linguistik (lingkungan) dalam komunikasi anak ataupun terhadap bahasa si anak sangat besar pengaruhnya terhadap pribadi sang anak, tergantung di lingkungan dimana dia tinggal dan ekologi apa yang mempengaruhinya dalam bertindak tutur. Misalnya tindak tutur anak di daerah pantai dengan di daerah pegunungan pasti berbeda, hal ini dikarenakan oleh ekologinya. ekologi adalah ilmu pengetahuan antara organisme dan lingkungannya (McNaughton dan Wolf, 1998:1) dan lingustik adalah ilmu yang mengkaji bahasa. Haugen (2001:57) ekologi bahasa adalah kajian tentang interaksi bahasa dan lingkungannya. Tindak tutur merupakan tuturan yang didalamnya terdapat tindakan. Dengan mengucapkan sesuatu penutur juga melakukan sesuatu. Seperti yang disampaikan Austin, “In which to say something is to do something or in which by saying or in saying something we are doing something, (Austin, 1962:12)”, “di dalam mengatakan sesuatu, kita juga melakukan sesuatu”. Menurut Austin, dalam menyampaikan sesuatu, penutur juga melakukan tindakan melalui ujaran yang disampaikannya.
Dalam hal ini ragam tindak tutur setiap anak berbeda-beda tergantung dengan maksud dan tujuannya dalam mengatakan tuturannya kepada si mitra tutur. Tindak tutur terbagi menjadi 3 bentuk yaitu tindak lokusi, ilokusi, perlokusi Ekolinguistik dengan tindak tutur sangat berpengaruh, saling berdampingan dan tidak akan terpisahkan, seperti yang di katakan oleh sebagian masyrakat bahwa lingkunganmu berpengaruh dengan bahasamu.
Faiz anak usia 8 Tahun tinggal di daerah pajak Aksara dan pajak Mandala dalam hal penelitian yang pernah kami lakukan dan juga salah satu kegiatan yang kami lakukan dalam PKM Penelitian yang sudah lolos dan di danai oleh Dikti dengan judul “Pengaruh Ekolinguistik Terhadap Tindak Tutur Anak”, kami mendengar bahwa anak tersebut yang masih duduk dikelas II SD mengucapkan “nenek kau sekilo” ketika dia berselisih paham dengan teman sepermainannya.
Kata “nenek” adalah panggilan untuk orang berusia lanjut sedangkan kata “sekilo”, kata yang sering digunakan dalam proses jual beli pedagang di pasar. Kata-kata tersebut kami dapatkan di jln. Pukat 1 Kelurahan Bantan Timur Kecamatan Medan Tembung yang berdampingan dengan pajak Aksara dan Pajak Mandala, dan hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa lingkungan berpengaruh terhadap tindak tutur si anak dan ini disesuaikan dengan tempat tinggal (lingkungan) dalam melangsungkan suatu kehidupan.
Haugen (2001:57) mengemukakan tiga konstituen dalam ekolinguistik. Pertama, bahasa hanya ada dalam pikiran para pemakainya dan akan berfungsi ketika para pemakainya berhubungan satu sama lain sebagaimana lingkungan sosial dan alamiah mereka. Kedua, bagian dari ekologi selanjutnya adalah psikologis: interaksinya dengan bahasa lain dalam pikiran penutur. Ketiga, sosiologis, yakni interaksi dengan masyarakat dalam fungsinya sebagai media komunikasi. Ragam tindak tutur yang dipengaruhi oleh ekolinguistik misalnya di daerah pantai yaitu seringnya anak-anak tersebut mengucapkan kata-kata yang berhubungan dengan laut ataupun pantai, contohnya : ayok kita memancing, mari kita menangkap ikan ke laut, mari kita berenang ketepian pantai, dsb. Begitu juga dengan ragam tindak tutur di daerah pegunungan dan juga di daerah pasar pasti berbeda-beda bila dilihat dari sisi ekologinya.
Oleh karena itu ragam tindak tutur yang dipengaruhi oleh ekolinguistik berbeda tergantung dengan ekologi yang mempengaruhinya. Ekologi bahasa dapat didefinisikan sebagai studi tentang interaksi antarbahasa yang ada dengan lingkungannya. Mühlhäusler, dalam salah satu tulisannya yang berjudul Ecolinguistics in the University, menyebutkan Ekologi adalah studi tentang hubungan-hubungan timbal balik yang bersifat fungsional. Dua parameter yang hendak kita hubungkan adalah bahasa dan lingkungan/ekologi. Tergantung pada perspektif yang digunakan baik ekologi bahasa maupun bahasa ekologi. Kombinasi keduanya menghasilkan kajian ekolinguistik.
Ekologi bahasa mempelajari dukungan pelbagai sistem bahasa yang diperlukan bagi kelangsungan mahluk hidup, seperti halnya dengan faktor-faktor yang memengaruhi kediaman (tempat) bahasa-bahasa dewasa ini. Ekolinguistik adalah suatu disiplin ilmu yang mengkaji lingkungan dan bahasa. Ekolinguistik merupakan ilmu bahasa interdisipliner, menyanding ekologi dan linguistik (Meko, Aron 2008:1). Berdasarkan hal itu bahasa sangat berkaitan erat dengan lingkungannya sendiri. Bahasa tersebut bisa hilang atau musnah apabila ekologi yang menunjangnya musnah pula.
Ragam tindak tutur lokusi, ilokusi, dan perlokusi, ialah ragam tindak yang terdapat dalam tindak tutur anak dan juga ragam tindak tutur yang di pengaruhi ekolinguistik. Penelitiantentang tindak tutur (Speech Act) Austin mengatakan bahwa tindak tutur terbagi menjadi 3 bentuk yaitu tindak lokusi (menginformasikan atau menyatakan), ilokusi (tindakan menghendaki mitra tuturnya untuk melakukan sesuatu), dan perlokusi (tindakan memberikan pengaruh kepada mitra tutur).
Penulis adalah Mahasiswi Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Medan pemenang PKM Penelitian Sosial Humaniora 2017 yang didanai oleh Riset Dikti dengan judul PKM “Pengaruh Ekolinguistik Terhadap Tindak Tutur Anak”.

Jumlah kunjungan: 23 kali

Bagikan

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published.