KreatifOnline.Com-Ratusan pengungsi Rohingya di Medan masih diselimuti rasa trauma dan luka yang mendalam atas kejadian di negara bagian Rakhine, Myanmar, kembali memanas. Terlihat pada kunjungan Senat Mahasiswa Universitas Negeri Medan (Unimed) bersama Youth Inter Peace Comunity (YIPC) di pengungisan Rohingya di Jalan Jamin Ginting, Kota Medan, Minggu, 24 September 2017.

Menurut pengungsi Rohingya, Kamal Hussein Arakani (28), perbedaan hidup beragama antara Myanmar dengan Medan sangat kontras. Padahal suku dan agama di Indonesia jumlahnya lebih banyak dibanding dengan Myanmar. Akan tetapi di Indonesia masyarakat lebih toleran terhadap perbedaan agama.

“Sebenarnya di Myanmar kami tidak ada masalah. Genosida yang terjadi karena masalah perbedaan agama, hanya itu alasannya. Pemerintah dan kelompok ektrimis buddha tidak suka kami, karena berbeda agama,” ujar Kamal kepada Presiden Mahasiswa Unimed, Juan Utama Batubara dalam percakapan mereka di pengungisan Rohingya di Jalan Jamin Ginting, Kota Medan.
Kamal pun melarikan diri dari Myanmar dan sampai ke Aceh, Indonesia, pada tahun 2015 lalu. Setelah itu dia dibawa pihak imigrasi Indonesia ke tempat penampungan di Medan. Selama lebih dari 1 tahun, dia bersosialisasi dengan masyarakat di sekitar lokasi penampungan. Selain itu, Kamal juga diberikan pendidikan di beberapa tempat belajar di Medan.

“Warga di sekitar sini baik. Pemerintah Indonesia baik. Kami sangat berterimakasih kepada bapak dan ibu (masyarakat Indonesia),” katanya. sembari tersenyum. Selama belajar dan membaca pemberitaan di Indonesia, Kamal merasa di Indonesia mayoritas masyarakatnya memiliki sikap toleransi terhadap perbedaan agama.
“Di Medan banyak macam suku dan agama, tapi di sini damai. Tidak ada bunuh-bunuhan karena berbeda agama. Toleransi di Indonesia harus dicontoh pemerintah Myanmar. Jangan buat kami menderita hanya karena berbeda agama,” harap Kamal.

Presiden Mahasiswa Juan Utama Batubara Mengatakan ini merupakan salah program kerja Senat Mahasiswa Unimed dalam bidang keagamaan, Pengungsi Rohingya juga saudara kita yang harus dilindungi sesama umat beragama. Toleransi harus dibangun mulai dari hal kecil sehingga terbentuklah rasa kekeluargaan antar umat beragama agar tidak terjadi hal seperti ini lagi di Negara bagian manapun terkhusus Indonesia. “ Ujarnya.
Kunjungan Senat Mahasiswa diakhiri dengan bermain futsal didekat rumah pengungsian Rohingya, terlihat diwajah mereka rasa bahagia yang amat mendalam sehinggga tidak terlihat memikirkan problematika yang pernah mereka alami atas simpati dari Presiden Mahasiswa Juan Utama Batuabara beserta jajarannya melalui kunjungan Senat mahasiswa Universitas Negeri Medan.

Jumlah kunjungan: 9 kali

Leave a Reply

Your email address will not be published.