Selasa (2/5), Universitas Negeri Medan mengadakan Upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional pukul 07.30 WIB, bertempat di lapangan serbaguna Unimed  dengan mengusung tema “Peningkatan Relevansi Pendidikan Tinggi untuk Mendukung Pertumbuhan Ekonomi”. Harapannya perguruan tinggi dapat menghasilkan lulusan yang berkompeten dalam bidang kerja. Upacara ini dihadiri oleh Bapak rektor Prof. Dr. Syawal Gultom M.Pd., wakil rektor, dosen, juga mahasiswa/i Universitas Negeri Medan. Meski cuaca terik, seluruh peserta upacara tetap antusias mengikuti upacara tersebut termasuk mahasiwa/i Unimed.

Terkait dengan tema yang diangkat, perguruan tinggi memiliki peran yang penting dalam memajukan pertumbuhan ekonomi juga pendidikan. Muhammad Azmi mahasiswa jurusan psikologi pendidikan Unimed mengatakan bahwa pendidikan Indonesia sekarang ini sudah berada pada ambang batas yang dianggap baik namun belum sangat baik, dikarenakan pendidikan di Indonesia sendiri belum mecapai seluruh wilayah atau dapat dikatakan belum merata. Terkait dengan pertumbuhan ekonomi tersebut banyak daerah-daerah tertinggal yang tidak dapat mengenyam pendidikan dari Sabang sampai Marauke.

“Sebagai mahasiswa kita harus mampu mengaplikasikan dan mengimplementasikan ilmu yang kita punya kepada masyarakat. Jika masyarakat belum mampu mengenyam pendidikan, mahasiswa harus mampu memberikan pendidikan kepada masyarakat agar semuanya baik.” Ungkapnya.

“Harapan kedepannya pemerintah harus lebih bisa melihat dan menyamaratakan. Bukan pemerataan ujian atau penentuan kompetensi tapi pemerataan pendidikan. Ketika di perkotaan paham betul bagaimana dengan standarisasi tapi tidak didaerah tertinggal namun diharuskan untuk mengerti dan memahami standarisasi tersebut. Ini yang menjadi masalah pendidikan di Indonesia. Oleh karena itu, bukan pemerataan kompetensi melainkan pemerataan pendidikan di seluruh wilayah di Indonesia.” Lanjutnya.

Menurut salah satu dosen yang menerima penghargaan satyalancana, Drs. Risman Sitompul, pendidikan Indonesia sekarang jika dibandingkan dengan dulu, sudah sangat berkembang jika dilihat dari kuantitas jumlah lulusan. Namun, berdasarkan pengamatan beliau, kualitas lulusan belum dapat dinilai sebelum lulusan-lulusan tersebut memasuki dunia kerja. “Dan juga, kita tidak bisa hanya menekankan akademik, namun juga karakter dan pendidikan harus disesuaikan dengan budaya lokal,” demikian ungkap dosen yang telah mengabdi selama 38 tahun tersebut.

Jumlah kunjungan: 41 kali

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published.