“Wirausahaan adalah pahlawan, pahlawan bisnis, ekonomi, dan pembangunan” (SBY). Indonesia memiliki kekayaan alam yang berlimpah, namun banyak di antara kita yang tidak menyadari akan hal itu dan tidak memperdulikan serta tidak merawatnya dengan baik sehingga banyak negara lain yang ingin merebut Sumber Daya Alam (SDA) tidak hanya itu saja bahkan kebudayaan kita satu persatu ingin direbut oleh negara lain. Seandainya kekayaan alam yang dimilki Indonesia dikelola oleh penduduk Indonesia sendiri dengan baik, tentulah akan mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan di Indonesia. Misalnya seperti pertambangan di Papua dikuasai oleh PT Freeport dan di Sumbawa Barat dikuasai oleh PT Newmon Nusa Tenggara. Tekanan hutang dan dominasi Negara asing dalam perekonomian Indonesia membuat penduduk Negara ini semakin jauh dari kesejahteraan.
Hingga sekarang, masalah bangsa yang sangat mengiriskan dan meresahkan adalah ketidakseimbangan antara lapangan pekerjaan dan jumlah penduduk yang ingin bekerja. Ini menjadi salah satu masalah terbesar yang dihadapi oleh Negara karena setiap tahun, angka pengangguran di Indonesia tetap berjumlah banyak. Meskipun pemerintah memprediksi jumlah pengangguran pada tahun 2014 akan menurun menjadi 7,24 juta orang (6,03%) dari jumlah 7,39 juta orang (6,25%) (BPS, Sakernas) namun tetap saja yang namanya pengangguran masih ada, dan angkanya masih sangat besar. Melihat kondisi sekarang ini, banyak warga Indonesia yang mencari nafkah harus menyeberang ke negara lain seperti Malaysia, Singapura, Arab saudi dan lain sebagainya. Hal ini sangat memprihatinkan karena seolah-olah indonesia tidak mampu memberi pekerjaan kepada masyarakatnya sendiri sehingga harus mencari pekerjaan atau menjadi buruh di Negara lain. Apalagi banyak kejadian-kejadian yang di alami para TKW seperti penyiksaan dan lainnya yang dilakukan oleh majikan mereka.
Semua permasalahan ini membuat Pemerintah harus mencari jalan keluar untuk mengurangi angka pengangguran di Indonesia. Berbagai usaha telah dilakukan, salah satunya adalah dengan mengadakan entrepreneurship.

Program Pemerintah
Selain memanfaatkan SDA, Indonesia bisa menjadi Negara maju melalui entrepreneurship. Enterpreneurship (kewirausahaan) merupakan salah satu alternatif atau solusi tepat untuk mengatasi pengangguran. Pemerintah sudah mulai mengarahkan enterpreneurship kepada perguruan tinggi. Perguruan tinggi mempunyai peran untuk mencetak mahasiswanya menjadi wirausahaan baru yang berkompeten dibidangnya sehingga mampu menghasilkan dan mengembangkan Sumber Daya Manusia yang memiliki pengetahuan tinggi, percaya diri dan berjiwa wirausaha sejati.
Wirausahawan harus memiliki potensi kemampuan, semangat, siap mental, keinginan yang pantang menyerah, motivasi yang tinggi untuk maju dan berkembang dalam kondisi apapun, serta yang paling penting berani mencoba. Pada tahun 90-an pemerintah membuat program Gerakan Nasional Memasyarakatkan Kewirausahaan (GMNK). Program ini tidak terlalu berkembang dan tidak berjalan, karena masih banyak masyarakat yang cenderung berfikir sempit tentang wirausaha dan tidak tertarik dengan wirausaha, apalagi pada zaman dahulu teknologi masih terbatas, sehingga masyarakat tidak mengetahui adanya program tersebut. Namun hal itu tidak membuat pemerintah putus asa untuk mendorong masyarakatnya untuk berwirausaha sehingga pemerintah pun membuat berbagai program-program baru yang dibuat oleh kementrian Koperasi dan UKM. Program ini lumayan berjalan apalagi teknologi zaman sekarang sudah semakin canggih dengan adanya internet. Melalui internet berbagai informasi dapat dibagi dan diperoleh dengan mudah. Dengan memanfaatkan teknologi sekarang, informasi tentang enterpreneurship semakin semarak di awak media. Banyak para pemuda-pemudi yang menggeluti entrepreneurship telah berhasil dan sudah diakui kreatifitasnya serta mendapat penghargaan, salah satunya Indra Prawira ST pengusaha muda yang saat ini menjadi ketua di Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) SUMUT bidang pengembangan UKM dan koperasi 2011-2014 dan beliau juga pernah menjadi motivator di UNIMED pada tanggal 5 maret 2014 banyak usaha yang digeluti seperti menjual sedotan minuman,ternak kambing,bimbingan belajar dan lain sebagainya. Berkat kegigihannya beliau bisa sukses seperi sekarang. Indonesia sangat membutuhkan sekali masyarakat yang berwirausaha untuk itu Pemerintah pun sudah mulai membekali para pelajar dan mahasiswa untuk berwirausaha seperti di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan di Universitas-universitas yang ada di indonesia seperti: Universitas Negeri Medan (UNIMED), Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Negeri Padang (UNP),Universitas Andalas, Universitas Trilogi, Universitas Cipura dan lain sebagainya. Pelajar dan mahasiswa di bekali dengan ilmu-ilmu yang mengikat ke wirausahaan, karena dengan begitu setelah tamat mahasiswa tidak hanya berharap pada Pegawai Negeri dan pegawai lainya saja melainkan mereka bisa menciptakan lowongan pekerjaan.
Berwirausaha… Pentingkah ?
“Seorang pengusaha harus optimis, seperti kue donat, orang optimis akan mendapat kuenya sementara, orang pesimis akan mendapatkan bolongnya.” (Chairul Tanjung)
Sukses adalah sesuatu hal yang sangat diinginkan oleh semua orang. Namun untuk mencapai sebuah kesuksesan tidaklah semudah seperti kita membalikkan telapak tangan. Untuk mencapai titik sukses membutuhkan proses yang lama serta perjuangan dan semangat yang gigih. Namun yang menjadi pertanyaan Apakah berwirausaha itu penting bagi kita? Bisakah berwirausaha membawa kita pada kesuksesan?
Indonesia memang masih dikatagorikan negara yang berkembang, namun jika indonesia mencetak pengusaha yang berkompeten, tidak menutup kemungkinan jika suatu hari indonesia akan menjadi negara maju. Kita sudah sering mendengar kalimat “Negara kita kalau mau maju syaratnya kita harus memiliki wirausaha yang jumlahnya banyak,” kata Chiarul Tanjung. Kalimat tersebut bukan hanya omong kosong belaka, dapat dibuktikan dengan melihat negara-negara maju di dunia seperti Amerika, Hongkong, Belanda, dan beberapa negara-negara maju lainnya. Negara-negara tersebut bisa maju karena sebagian besar masyarakat negara tersebut lebih memilih berwirausaha dari pada menjadi seorang tenaga kerja atau buruh di perusahaan. Misalnya Negara Amerika serikat yang mencetak kurang lebih 4% wirausaha dari jumlah penduduknya. Wirausaha Negara tersebut patut dicontoh karena dapat mengurangi angka pengangguran. Coba kita bayangkan seandainya jika masyarakat indonesia yang beribu-ribu orang yang mencoba PNS (Pegawai Negeri Sipil), atau yang mencoba masuk Polisi dari setiap daerah di alihkan semuanya mencoba menciptakan sebuah usaha. Luar biasa…..!! mungkin negara kita akan melebihi negara amerika serikat dan negara lainnya.
Berwirausaha harus ditanamkan sejak kecil mulai memasuki bangku sekolah atau mulai menempuh pendidikan usia dini dengan memberikan atau menunjukkan hal-hal yang ringan terlebih dahulu agar nantinya mereka terbiasa. Seperti bocah kecil Riski pulungan yang saat ini tinggal bersama keluarga yang sederhana di jl. Beringin psr v gg. H.muchtar tembung, bocah kecil yang sekarang berusia 10 tahun. Sejak duduk di bangku SD kelas V anak tersebut sudah menjual kue dan gorengan keliling sepulang sekolah. Berawal hanya mengikuti sang abang menjual kue lama kelamaan tertarik menjual kue secara pribadi. Gorengan tersebut diambil dari penjual kue bernama Uwak Uma dan dijual kembali ke setiap rumah-rumah. Anak ini tidak pernah merasa malu menjual kue keliling, hal tersebut patut di ancungin jempol, karena saat ini sangat sulit kita jumpai anak-anak yang mau bekerja seperti Riski. Tetapi untuk orang dewasa tidak lagi menjual produk orang lain seperti Riski, melainkan menciptakan sebuah produk sebagai contoh Kuncoro seorang perajin di sukoharjo jawa tengah, yang luar biasa mempunyai ide cemerlang beliau membuat kerajinan sajadah dan sarung bergambar tokoh kartun yang membuat tertarik anak-anak seperti : upin ipin, mickey mouse dan lain-lain. Hal seperti ini tidak hanya menguntungkan dirinya sendiri saja, tetapi menguntungkan juga untuk anak-anak agar anak tersebut termotivasi untuk melakukan ibadah sholat bagi umat muslim.
Mahasiswa sebagai agent of change harus berperan aktif untuk menjadi pelopor terbentuknya perubahan perekonomian nasional kearah lebih baik. Oleh karena itu sudah saatnya dilakukan perubahan paradigma berpikir dikalangan mahasiswa, yaitu dari pola pikir sempit mencari kerja setelah lulus kuliah menjadi pencipta lapangan kerja yang berbasis pada penciptaan usaha kecil dan menengah. Untuk itu dibutuhkan pengetahuan dan kemampuan wirausaha yang dirintis sejak dari bangku kuliah. Kemampuan wirausaha merupakan modal dasar bagi seseorang yang ingin bergerak di bidang usaha tertentu. Wirausahawan harus berani mengambil langkah-langkah tertentu dan membuat konsep yang kuat demi mencapai tujuan wirausaha tersebut.
Menjadi pemula entrepreunership sangat membutuhkan sekali yang namanya bimbingan dari dosen-dosen atau orang tua, agar kiranya nanti bisa untuk bertukar pola pikir antara yang satu dengan yang lainnya untuk mengambil sebuah langkah-langkah. Dan untuk orang tua harus mempunyai pola pikir yang luas, mendorong anak-anaknya untuk menjadi seorang entrepreunership bukan berharap pada PNS saja.
Wajah ke-Wirausahaan di UNIMED
Pada tahun 2009 Universitas Negeri Medan (UNIMED) sudah mengadakan Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI).. Program ini diadakan oleh DIKTI setiap setahun sekali yang tujuannya untuk memfasilitasi mahasiswa yang mempunyai bakat berwirausaha. Pada tahun 2009 Unimed menginformasikan PMW melalui sebuah spanduk yang di pajang di tiga titik : yang pertama di pajang di gerbang mesjid, yang kedua di gerbang Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), dan di gerbang Fakultas Matematika dan IPA (FMIPA). Melalui spanduk tersebut dengan begitu mahasiswa yang berminat berwirausaha akan di bentuk dalam 4-5 orang/kelompok, meskipun demikian penginformasian yang di lakukan oleh pihak BIRO melalui spanduk kurang efektif karena dari penyebaran angket 150 responden yang dilakukan litbang kreatif Unimed dari tujuh Fakultas mereka memberi jawaban 47,90 % tahu tentang PMW UNIMED, 27,80 % mengatakan tidak tahu bahkan yang parahnya lagi 34,30 % mahasiswa yang tidak tahu sama sekali mengenai PMW yang ada di UNIMED
. Dari sebuah pengamatan, kemungkinan besar mahasiswa yang tidak tahu PMW tidak melihat isi spanduk yang di lakukan oleh BIRO sehingga informasi wirausaha mereka tidak tahu. dan mahasiswa yang tidak tahu berfikir kalau PMW yang diadakan UNIMED masih tertutup padahal mahasiswanya saja yang kurang peka terhadap hal-hal kecil yang ada dilikungan UNIMED seperti spanduk yang di lakukan pihak BIRO, dan rasa ingin tahu mahasiswa bisa dikatakan masih kurang.
Tetapi semenjak tahun 2013 Mahasiswa yang ikut tidak dalam bentuk kelompok lagi melainkan sudah per individu, pada tahun 2013 mahasiswa yang lolos PMW sebanyak 40 orang dari berbagai fakultas. Namun untuk tahun 2014 untuk penginformasian entrepreneurship tidak lagi melalui spanduk melainkan sudah langsung ke setiap fakultas dan di setiap fakultas diberi kesempatan untuk 25 mahasiswa perwakilan per fakultas yang bisa mencoba mengikuti PMW tersebut, alasannya hanya 25 orang di karenakan kondisi ruangan yang tidak memadai untuk melakukan proses PMW. Walaupun demikian mahasiswa yang ingin ikut berwirausaha tetap saja harus mengikuti prosedur yang berlaku dari tahun ketahun yaitu: -Sosialisasi; mahasiswa yang ingin berwirausaha harus bersosialisasi terlebih dahulu mengenai program usaha apa yang ingin dia buat. -Setelah itu tahap penseleksiaan; dalam tahap penseleksiaan pihak rektor harus benar-benar teliti dalam memilih mahasiswa yang serius dikarena dana yang terbatas. Selanjutnya -pembentukan dana; setelah mahasiswa lulus tahap seleksi , mahasiswa di beri dana untuk pengembangan usahanya. –Serta monev dan laporan monev pendampingan oleh mentor (Dosen), dalam melukan usaha maahasiswa di beri dosen pembimbing yang akan memantau perkembangan usaha mahasiswa. Namun untuk tahun 2014 DIKTI hanya mendanai Rp 304 juta untuk 38 orang saja. Dari tahun ketahun dana yang di beri oleh Dikti tidak stabil terkadang meningkat dan terkadang menurun.
Melalui tahapan tersebut mahasiswa di seleksi dan yang lolos akan di danai oleh DIKTI kurang lebih Rp 8.000.000,00/ kelompok atau individu. Namun untuk pencairan uangnya tidak langsung diberi semua melainkan dua tahap yang pertama uang cair 70 % dan kemudian tahap kedua 30 %. Setelah mahasiswa menjalankan usahanya, masing-masing, mahasiswa di wajibkan membuat laporan akhir tentang usahanya dan seluruh mahasiswa yang lolos PMW harus mengembalikan uangnya sebanyak 50% di akhir laporan. Namun dengan begitu banyak mahasiswa yang kurang serius setelah mendapatkan dana dari dikti seperti yang di ujarkan oleh PR III UNIMED Dr.Biner Ambarita M.pd “Banyak mahasiswa yang sudah mendapat dana PMW kurang serius dan kurang termotivasi, padahal mahasiswa yang sudah dapat dana di harapkan dapat membuka lapangan pekerjaan kelak mereka lulus dari UNIMED“ ujarnya tegas. Mahasiswa yang lolos program PMW tidak semua usaha yang mereka buat berjalan atau sukses, malahan ada mahasiswa yang ikut jalur PMW di pertengahan jalan usahanya tidak berkembang atau bisa di katakan mengalami kegagalan. Salah satunya Mustika Roseka jurusan Pendidikan Luar Sekolah (PLS) stambuk 2010 yang menang seleksi PMW tahun 2013, usaha yang ia geluti adalah es bubur buah namun semenjak ppl usahanya tidak berjalan lagi “sekarang saya agak sibuk karena aktivitas kuliah, belum lagi tidak ada yang membantu saya” ujarnya. Kemudian mustika mengallihkan uangnya untuk menjual pakaian. Namun tetap saja usahanya tidak berjalan, secara pribadi mustika sendiri merasa kurangnya bimbingan oleh dosen. Jika mustika adalah salah satu mahasiswa yang kurang berhasil dalam membangun sebuah usaha, kebalikannya dari vania dwiani mahasiswa jurusan Bimbingan konseling lulus PMW 2013 yang bisa di katakan usaha yang dirintis oleh vania sebagai printing masih berjalan hingga sekarang.
Program mahasiswa wirausaha ini sangat bagus sekali tetapi banyak mahasiswa yang masih takut untuk berwirausaha seperti yang di lontarkan salah satu dosen pembimbing PMW Drs.Rahmatsyah M.pd “mindset mahasiswa masih kurang, banyak mahasiswa yang takut gagal sebelum mencoba” ujarnya. untuk mengembangkan usaha ternyata mahasiswa perlu bimbingan dosen dan orang tua juga yang tujuannya untuk memotivasi mahasiswa dergerak di bidang usaha. Tidak hanya PMW saja program wirausaha di Fakultas Ekonomi UNIMED pun sudah lama berdiri jauh sebelum PMW di buat, Berbagai usaha dibuat seperi kantin, fotocopy dan lainnya yang di buat di lantai 3, sehingga mahasiswa langsung terjun ke dalam dunia wirausaha. Tujuan dibuat usaha tersebut agar mahasiswa tidak hanya mendapatkan materi dari dosen saja melainkan mahasiswa bisa terjun secara langsung dalam bidang usaha. Usaha tersebut di jalankan oleh mahasiswa-mahasiswa FE saja. Namun yang sangat di khawatirkan “usaha mahasiswa ini dari tahun ke tahun tidak terlalu berkembang dan kurangnya pengetahuan dosen-dosen mengenai wirausaha sehingga mahasiswa FE kurang termotivasi dari dosen-dosen” ujar Dosen FE Muhammad Ishak, S.E.,M.Si.,Ak. yang saat di wawancarai mengenai perkembangan wirausaha di FE. Berwirausaha tidak hanya terpatok pada PMW saja banyak mahasiswa UNIMED yang membuka usahanya sendiri tanpa mengikuti jalur apa saja, salah satunya Alimuis Dongoran mahasiswa sastra inggris stambuk 2010, bisa di katakan muis nama sapaan akrab membuka wirausaha internal dengan dana pribadi yaitu membuka tempat ngeprint yang berada di gedung B Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), semenjak tahun 2011 terpilih menjadi anggota BPMF (Badan Pengurus Mahasiswa Fakultas) dia dan kawan-kawan mendirikan usaha tersebut namun periode 2012 dia membuka usaha tersebut secara pribadi karena semua sarana dia yang mengusahakannya mulai dari printer, tinta dan lain sebagainya. Menurutnya usaha tersebut tidak sama sekali mengganggu kuliahnya “Mahasiswa harus pandai berperan karena hal ini yang di butuhkan untuk suatu hari nanti “ ujarnya dengan bijak. Usaha tersebut sangat di support oleh dekan dan dosen-dosen karena para dosen banyak juga yang membutuhkan untuk mengeprint RPP. Selain itu muis juga menambah usahanya menjual parfum (minyak wangi) dengan berbagai harga yang berbeda. Tidak hanya itu saja beberapa mahasiswa menjual berbagai minuman dan makanan ringan.
Selain itu Doorsmeer dan lab otomotif (sejahtera service) yang berada di UNIMED tepatnya di jalan Laboratorium juga salah satu usaha yang dikembangkan kembali oleh dosen Fakultas Teknik Drs.Andi Bahar, semenjak April 2010 yang lalu. Melalui dana pribadi beliau sangat antusias sekali untuk membuka usaha tersebut yang sudah lama bungkam, usaha ini selalu mengutamakan mahasiswa, selain meanfaatkan fasilitas yang ada usaha ini juga sangat membantu agar mahasiswa bisa belajar secara langsung seperti yang di katakan pak bahar “mahasiswa di sini bersifat freelance (bebas) yang artinya jika mahasiswa yang lagi bekerja tetapi pekerjaannya belum selesai namun tiba-tiba mereka harus masuk kuliah, dan pekerjaan tersebut wajib di tinggalkannya.” Ujarnya. selain mahasiswa doorsmeer dan sejahtera service juga mempunyai 1 karyawan yang full time yang benar-benar satu harian bekerja, uang hasil usaha doorsmeer dan sejahtera service di salurkan untuk pengembangan usaha, gaji dan makan siang mahasiswa. Usaha ini sangat di dukung sekali oleh Rektor karena fasilitas yang di beri dari BMN (Badan Milik Negera) tersebut sudah lama tidak dipergunakan.
Berbagai upaya mulai dilakukan oleh UNIMED untuk menggerakkan mahasiswa terjun ke dunia wirausaha, namun dari penyebaran sebuah angket 150 responden dari tujuh fakultas 95 % mengatakan mereka setuju jika kuliah sambil berwirausaha dan 5% tidak menyetujuai dengan pernyataan ini (Data Litbang Kreatif Unimed), untuk itu mulai dari sekarang mahasiswa harus berfikir cerdas dalam menghadapi kondisi perekonomian saat ini yang terjadi terlebih untuk mahasiswa yang tidak menyetujui kuliah sambil berwirausaha, dan mulai menanamkan pada diri masing-masing untuk membangun negara kita melalui wirausaha, yakinlah bahwa enterpreneurship adalah salah satu solusi yang tepat.untuk mengatasi permasalahan perekomnomian kita, membuka lapangan pekerjaan adalah tujuan dari berwirausaha. Dan jangan terlalu berharap untuk bekerja di perusahaan orang lain tetapi berharaplah orang lain yang bekerja di perusahaan anda.

Jumlah kunjungan: 2211 kali

Leave a Reply

Your email address will not be published.