Pagi yang cerah untuk memulai perjalananku hari ini, perjalanan panjang yang akan memadati kegiatanku selama lima hari kedepan. Aku adalah salah satu peserta Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut Nasional (PJTLN) yang diadakan oleh Lembaga Pers Mahasiswa Dinamika Universitas Islam Negeri Sumatra Utara (UIN-SU) yang tak jauh dari kampusku sendiri, lebih tepatnya bisa dibilang tetangga. Nama Kegiatan PJTLN ini adalah “Pena Persma 2015” yang mengangkat tema “Jurnalisme Bencana: Tak Ada Berita Seharga Nyawa”. Kegiatan ini berlangsung dari tanggal 21-25 Oktober 2015 di Mess Tamu Pemprovsu (Gundaling), Berastagi, Sumatra Utara.
Sesampainya di UIN Sumatra Utara yang merupakan titik kumpul para peserta Pena Persma 2015, saya bertemu dengan teman-teman dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) se-Indonesia yang merupakan peserta Pena Persma 2015 ini. Rasa canggung sempat menghampiri saya saat pertama sekali bertemu dengan mereka, namun tak berlangsung lama. Mereka adalah kru-kru terbaik yang di utus LPM-nya masing-masing untuk menambah ilmu dan pengalaman yang akan mereka sampaikan saat kembali ke LPM-nya nanti. Sebanyak 26 peserta hadir, termasuk saya didalamnya, dari LPM Kreatif Unimed. Kami berasal dari 16 LPM se-Indonesia, dari Pulau Sumatra, Jawa, dan Sulawesi. Diantaranya LPM Kreatif (Universitas Negeri Medan), LPM Suara Al-Muslim Bireun ( Universitas Al-Muslim Bireun), LPM Ganto (Universitas Negeri Padang), LPM Genta (Universitas Andalas), LPM Gagasan (UIN Suska Riau), LPM Teknokra (Universitas Negeri Lampung), LPM Manunggal (Universitas Diponegoro), LPM Suara USU (Universitas Negeri Sumatra Utara), LPM Pijar (FISIP USU) LPM Neraca (Politeknik Negeri Medan), LPM Ukhuwah (UIN Palembang), LPM Garda Media UKMI Ad-Dakwah (USU), LPM Profesi ( Universitas Negeri Makasar), LPM Wartadinus (Universitas Dian Nuswantoro Semarang), LPM Arrisalah (UIN Surabaya), dan LPM Teropong (Universitas Muhamadiya Sumatra Utara).
Pembukaan dilaksanakan meriah dengan menampilkan tarian adat dari suku-suku yang ada di Sumatra Utara dan dilanjutkan dengan workshop kepenulisan yang dibawakan oleh War Djamil, S.H. (Sekertaris Redaksi Harian Analisa) di Aula Lantai II UIN Sumatra Utara. Selesai workshop kami pun bergegas untuk segera pergi ke lokasi pelatihan di Mess Pemprovsu Berastagi. Peralihan udara panas dan sejuk dari Medan-Berastagi menemani kami menuju lokasi pelatihan. Pukul 19.02 WIB kami tiba dan kemudian panitia memberi instruksi kepada kami untuk masuk ke dalam Mess yang akan kami gunakan untuk melakukan pelatihan nantinya. Setelah melakukan registrasi ulang, segelas teh hangat dan hembusan angin menambah istimewanya pembukaan hari ini. Kami masuk ke dalam ruang kamar tidur yang sudah disiapkan panitia. Label berwarna orange yang dituliskan nama kami menandakan tempat peristirahatan kami selama kegiatan ini berlangsung.
Untuk pertama kalinya. Tok…tok…tok… “Mbak Nurul, Mbak Putri, Mbak Astrid, makan malam mbak, dilanjutkan perkenalan dan sharing LPM yaa?? Segera yaa mbak ditunggu di Mess utama,” panitia yang mengingatkan kami untuk agenda kegiatan selanjutnya. “Iya mbak,” jawab kami bertiga bersamaan. Ya, Astrid dan Nurul adalah teman debat saya saat akan tidur, karna kami memang sekamar. Oke, para peserta Pena Persma 2015 pun berkumpul dan memperkenalkan dirinya satu-persatu dilanjutkan dengan sharing LPM-nya masing-masing. Setelah selesai, kami kembali ke kamar dan tidur.
Lagi-lagi, tok..tok..tok.. Mbak Nurul, Mbak Putri, Mbak Astrid, bangun mbak kita sholat subuh berjamaah yaaa…? Cepat ya mbak. Ntah berapa kali dalam sehari ini panitia membangunkan kami, dari sholat berjamaah, senam pagi, sarapan, kegiatan materi pelatihan, sampai makan makan malam. Pagi yang menggoda hari ini, udara dingin namun tetap menyejukkan. Langit yang biru tidak tampak karna diselimuti kabut tipis namun sedikit tebal. Memang sudah hampir satu bulan kebakaran hutan terjadi di Pulau Sumatra dan Pulau Kalimantan, mau tidak mau dampaknya yaitu kabut asap pun menyelimuti kota Jeruk ini.
Materi teknik pemotretan di daerah bencana membuka pelatihan pertama di hari kedua ini. Tarnizy Harva ST (Jurnalis foto freelance) membawakan materi dengan sangat menarik ditambah sharing pengalaman beliau saat masih menjadi fotografer kantor berita reuters. “Tak ada berita yang eksklusif jika mengandung kematian,” ungkap beliau. Materi pun ditutup dengan pemutaran video dari kumpulan foto-foto beliau saat meliput Tsunami yang terjadi di Aceh. Setelah selesai makan siang, berikutnya dilanjutkan M. Harizal, S.H. (wartawan contributor Metro TV Biro Medan) dengan materi cepat tanggap bencana. Dzerrr…… suara video eksklusif deburan awan panas gunung Sinabung tahun 2014 kemarin yang menewaskan beberapa orang itu sukses membuat saya merinding.
Selesai materi hari kedua ini, malam harinya kami disibukkan dengan persiapan malam budaya dari daerah kami masing-masing. Saya dan teman-teman LPM se-Kota Medan yang saat itu menjadi peserta pun mulai mendiskusikan penampilan apa akan kami perlihatkan nantinya. Kurang lebih dua jam kami latihan, dan jadilah penampilan kami malam itu dengan menari tor-tor dan menyanyikan lagu daerah Rambadia. Riuh tepuk tangan bak menyaksikan band atau penari profesional diberikan kepada kami dari Sumatra Utara yang sudah berhasil membuka malam budaya Pena Persma 2015 ini dengan sangat istimewa. Malam budaya pun dilanjutkan dengan penampilan teman-teman LPM lain yang tidak mau kalah dengan kami. Tapi tetap saja, kita-kita dari Medan yang paling kece (cuacimm muji sendiri nih, hahah).
Pagi hari berikutnya, seperti biasa lantunan panitia yang tidak ada lelahnya membangunkan kami setiap pagi. Gerimis tipis membuat pagi di hari ketiga ini begitu dingin. Ir. Iing Kusnandi dengan materi Inside Sinabung mengawali pagi yang bermanfaat ini. Dilanjutkan dengan materi bencana dan penanggulangannya yang dibawakan Bapak Drs. Matinus Sembiring, M.Si (Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Karo). Karna seriusnya memperhatikan materi hari ini, saya sampai tidak sadar kalau hujan deras mengguyur Brastagi. Tau-tau diluar sudah basah dan becek. Malam ketiga ini ditutup dengan diskusi bersama teman-teman yang lain. Ini adalah malam terakhir tidur di kamar kami masing-masing, karena malam berikutnya kami akan menuju Huta Sialagan di Pulau Samosir, Danau Toba. Sudah tidak sabar untuk memandang keindahan alam sang pencipta. Namun, malam ini harus dimanfaatkan untuk benar-benar beristirahat, karna besok adalah reportase lapangan di daerah aman erupsi Sinabung.
Kejahilan panitia dan teman-teman lainnya membangunkan ku di hari terakir kami disini, saya adalah salah satu peserta yang bandal sepertinya, disaat teman Pena Persma 2015 lari pagi dengan panitia, saya malah memilih melanjutkan tidur. Alhasilll… setelah selesai lari pagi mereka menggrebek saya yang masih bau iler dan naik di atas kasur sambil berselfi ria. Tok..tok..tok “Mbak Nurul, Mbak Putri, Mbak Astrid, sarapan mbak. Segera ya mbak??”. Ini adalah panggilan yang terakir untuk pagi ini, karna pagi besok sudah tidak ada tok, tokk, tokk.
Sebelum reportase lapangan, kami mengikuti materi terakhir di pelatihan ini. Bambang F. Wibowo adalah pemateri terakhir dengan membawakan materi standers operational procedure. Pada pelatihan ini beliau mengungkapkan kembali bahwa, “Tak ada berita seharga nyawa.” Reportase lapangan kami dimulai dengan berdoa, karna lokasi yang akan kami datangi merupakan salah satu desa terdampak akibat erupsi gunung sinabung. Jadi hujan deras sebentar saja, desa ini sudah langsung diguyur lahar dingin. Cuacu kurang bersahabat kali ini, gerimis tipis menghantarkan kami menuju desa ini. Desa ini adalah Desa Perbaji, terdiri dari kurang lebih 16 kepala keluarga. Setelah melakukan reportase lapangan, kami pun langsung kembali ke Mess dan segera menuliskan hasil reportase untuk dijadikan sebuah tulisan feature.
Makan malam terakhir dan dilanjutkan pemutaran video yang sudah disiapkan panitia. Kata-kata perpisahan dilontarkan panitia dan kami para peserta Pena Persma 2015. Perpisahan ini bukanlah akhir, namun ini adalah awal kami untuk menyalurkan ilmu yang sudah kami dapat dalam pelatihan ini. Tawa dan air mata jatuh pada hari itu, lima hari yang kami lewati antara peserta dan panitia sudah membawa kami menjadi satu keluarga besar yang luar biasa. Penutupan Pena Persma 2015 pun diakhiri dengan pelepasan lampion harapan untuk Gunung Sinabung. Jam sudah menunjukkan pukul 00.56 WIB, ini artinya kami harus berkemas dan melanjutkannya dengan field trip ke Huta Sialagan.
Kami tiba di Samosir, malam yang sedikit kami lewati dengan beristirahat di bus. Sayang sekali, cuaca memang sedang buruk, kabut asap lagi-lagi menyelimuti daerah yang kami kunjungi. Danau Toba yang indah dan mempesona dengan airnya yang biru dan pegunungannya yang hijau tidak dapat terlihat. Yang kami lihat hanyalah putih kabut yang sangat tebal, dan diantara kabut ada cahaya yang redup. Itu adalah matahari. Mentari paginya tak bisa kami rasakan akibat ulah mereka yang tidak bertanggung jawab membakar hutan. Tapi walaupun begitu, kemegahan Danau Toba tetap dapat saya rasakan.
Huta Sialagan, kampung si raja batak Sialagan. Setelah mendapat informasi tentang Huta Sialagan, berfoto dan berburu souvenir kami lakukan untuk mengakhiri lima hari yang panjang ini. Tawar menawar saya lakukan untuk membantu teman-teman mencapai kesepakatan harga yang menurut kami pantas. Memang saya sudah sering ke daerah ini, karna ini adalah daerah saya bagian dari Sumatra Utara. Itu sebabnya teman-teman memboyong saya untuk membantu mereka. Setelah selesai berfoto dan berburu souvenir, kami pun melanjutkan perjalannan untuk kembali ke Medan, ibu kota Sumatra Utara. Satu per satu peserta meninggalkan kota Medan untuk kembali ke daerah asalnya dengan membawa pengalaman dan ilmu yang tidak akan mati.

Jumlah kunjungan: 33 kali

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published.