Mereka yang terlihat seperti malaikat, tiba-tiba menyeramkan bak monster dalam sekejap…
Aku melihat mereka datang lagi. Ya, beberapa manusia yang tercium sangat memuakkan dengan aroma yang sangat tidak ku sukai. Mereka datang dan mengetuk pintu seorang tuan yang rumahnya dekat dengan tempat tinggalku yang sangat kumuh ini. Tuan itu membuka pintu rumahnya, lalu mempersilahkan orang-orang asing itu masuk. Aku mengendap-endap, lalu masuk melalui salah satu lubang yang berada di dekat selokan rumah tuan itu. Tidak ku dengar jelas apa pembicaraan manusia-manusia itu, sebab aku pun tak terlalu mau tahu. Hahaha. Sudahlah, cukup terlalu berfantasi tentang siapa aku. Permintaanku ya cuma satu, aku hanya ingin hidup bebas tanpa intimidasi apapun terhadap bangsaku. Atau sebaiknya aku tidak usah peduli, sebab manusia pun tak mau tahu.
Bagaimana tidak, kami yang menumpang di negeri manusia tidak pernah belajar berdemokrasi tapi kami tak pernah berebutan makanan. Lalu bagaimana dengan mereka? Ah, serakah!
Mereka adalah satu-satunya bangsa yang punya dasar pancasila dan UUD, tapi mereka tidak sadar jika kebohongan justru lebih tegak di atas segala hal tersebut. Hahaha. Lebih baik kami, bukan? Bangsa binatang yang tidak pernah tahu berdemokrasi, tetapi kami tak pernah ribut.
“ diam! Tutup mulutmu atau kau mati saja…”
“ Ku mohon bang, jangan bunuh aku…”
“ gampang saja, cukup kau tutup mulutmu dan jangan beritahu siapa-siapa bahwa beliau pernah datang membayarmu uang proyek tempo lalu. Jika tidak, maka anak isterimu tidak akan selamat!”
Aku berlari ketakutan, saat manusia yang datang sebagai tamu itu membuang sesuatu milik tuan rumah itu. Sepertinya sebuah potongan kayu, keras dan tampak berat. Aku tidak tahu apa. Aku masuk dan mengendap lagi ke sebuah lubang di sebelah saluran pembuangan. Lalu mendengar manusia itu lantam mengancam si tuan pemilik rumah.
“ bang, aku tidak tenang saat polisi datang menanyaiku kesini. Lantas aku harus bilang apa?”
“ bilang tidak tahu dan jangan sampai mereka curiga kalau bos terlibat dugaan korupsi proyek bangunan di belakang itu… kalau tidak, kau akan jadi tumbalnya!”
Si tuan berlutut di depan kaki mereka, manusia-manusia monster yang tampak menyeringai lebih dari bangsa musuhku, si kucing. Bahasa apa yang mereka gunakan pun aku tak mengerti, pastinya seperti sebuah ancaman. Ya, naluriku yang berkata demikian. Cukup, aku harus pergi lalu mencari persediaan makan buat keluargaku di selokan dekat pasar.
******
Meoooonnggg! Arrggggnggg…
Mampus aku! Itu dia monster yang selalu mengejarku, tidak!!!
Aku harus bersembunyi, dimana? Di kolong? Ah pastilah kucing itu tahu bahwa aku disini. Baiklah, aku akan berlari sejauh-jauhnya agar tidak ada yang bisa menangkap dan memenjarakan aku di dalam genggamannya.
Entah apa salahku, tetapi inilah kodrat yang harus ku terima. Aku harus menerima keadaan bahwa aku ini hanya makhluk anta beranta yang berhadapan dengan hidup dan mati seketika. Tidak setinggi dan berharga seperti mereka, manusia-manusia menyeringai yang sering ku lihat lalu lalang. Namun entah mengapa manusia-manusia itu menggunakan bangsa kami sebagai lambang si pelaku kriminal di negeri mereka. Apa salah kami? Walaupun kami suka menggerogoti atau mengerat, bukannya kami mengincar sampah? Atau paling tidak, jika kami beruntung kami dapat masuk ke selokan tuan-tuan kaya dan mengincar makanan sisa di rumah mereka. Namun lucu rasanya saat biadab-biadab itu disamakan dengan bangsa kami ini. Hahaha.
Yeah, aku puas karena kucing itu tak berhasil menangkapku. Baiklah aku selamat lagi malam ini. Mungkin lain kali aku harus mencari makan ditempat lain saja, tidak di sini.
******
Pak Arifin tetap berdiri pada pendiriannya, bahwa lambat laun ia akan mengakui perbuatannya dan juga perbuatan atasannya itu apapun resikonya. Terlebih ada pengacara yang menjamin keselamatannya. Ia hanya tidak ingin terlalu lama terperangkap dalam kepungan dosa dan ketakutan yang setiap saat mengganggu pikiran dan batinnya. Apalagi ini mengorbankan keselamatan keluarganya yang tidak tahu apa-apa tentang perbuatan kotornya.
“ Far, jaga anak isteriku selama nanti aku ditahan oleh polisi…” kata beliau dengan mata berkaca-kaca.
“ saya janji pak, tapi sebaiknya bapak jangan terlihat mencurigakan dulu beberapa hari ini. Saya akan awasi langkah bapak kemanapun bapak pergi, agar saya juga bisa melihat suruhan Darko membuntutimu. “
“ saya tidak masuk kantor sepertinya besok…”
“ ada apa?”
“ saya khawatir pemberitaan di televisi tentang kasus ini semakin membuat mereka mengancam saya. Saya tertekan , saya tidak ingin seperti ini.”
Pengacara muda itu menunduk, lalu bergumam memikirkan sesuatu. Ia tak ingin membuat client-nya itu tertekan dan akhirnya putus asa. Ia pun tahu bahwa Pak Arifin hanya korban mereka, petinggi negeri yang ingin lari dari jeratan hukum. Awalnya Pak Arifin hanyalah seorang pengusaha biasa, yang di tawari untuk masuk ke dalam keanggotaan partai. Beberapa tahun sukses menjabat sebagai pengurus partai, akhirnya ia menang dalam pemilihan legislative dua tahun lalu. Teman satu partainya, Darko pun menawari jabatan lebih tinggi dengan catatan ia harus menandatangani kerjasama antara partai dengan salah satu proyek pembangunan gedung sekolah . Bukan hanya ia, tapi semuanya. Awalnya ia ragu dan menolak, namun dominasi suara seakan-akan menyudutkannya dan menganggapnya sebagai pengkhianat partai. Keuntungan dari uang gelap ini di anggap sebagai uang tambahan untuk kas partai, namun kecurigaan yang dari awal di sangkalnya menjawab. Ternyata teman-temannya membohonginya dan melarikan uang itu ke kantong masing-masing. Kini namanya mulai di sebut-sebut terlibat setelah salah satu teman separtainya di cebloskan dalam penjara.
“ besok kalau saya terbunuh, tolong bawa isteri dan anak saya ke rumah saya yang di Malaysia. Tolong saya!” kata beliau dengan tangis bergetar.
Pengacara muda itu tersentak, tapi ia tak ingin menjawab apa-apa selain merenungkan kata-kata barusan. Pukulan batin client-nya membuat tanggung jawab mendadak menjaring dalam pikirannya.
“ saya janji pak, tapi kita berdoa saja malam ini”
******
Perutku keroncongan, ah mau pingsan rasanya.
Aku ingin mencari makan saja di rumah tuan langganan yang sering ku datangi rumahnya itu.
Eh, monster-monster kemarin terlihat mengendap-endap mengawasi sesuatu dari balik kaca mobil. Apa mereka punya urusan dengan tuanku itu, atau bersahabatkah mereka dengan tuanku?
“ gon, kau siap-siap masuk ke rumah arifin, lalu tembak mati dia!”
“ tapi kita awasi saja dulu, karena suasana disini sedang ramai…”
“ kita tidak punya waktu banyak, ini demi kita semua. Aku melihat kemarin ada pengacara terkenal berbicara dengannya , aku curiga ia akan mengakui kasus ini… ”
“ apa maksudmu?”
“ pokoknya kita terancam masuk penjara jika ia buka mulut, bodoh!”
“ ya, baiklah. Tunggu disini, aku akan masuk lewat pintu belakang”
Monster itu keluar dari mobil, lalu berlari menembus pagar belakang. Aku tidak tahu apa yang hendak ia lakukan, karena aku hanya cukup mencari makanan untuk memuaskan rasa laparku di tempat ini.
Kali ini suara ledakan di awan membuat gemetar badanku. Aku bersembunyi di tempat sampah umum dekat mobil itu. Suara apa itu?
Suara ledakan dari dalam rumah, ternyata… ah, tidak. Apakah sesuatu terjadi?
Tutup mulutmu! Ah tidak, ada urusan yang lebih penting. Kali ini persetan dengan demokrasi manusia, aku harus kabur.
Penjara ada di depan mataku! Oh tidak! Celaka, seekor kucing besar siap menerkam.

Jumlah kunjungan: 771 kali

Leave a Reply

Your email address will not be published.