Hatiku kehilangan. Maka, aku sadar betapa kematian memutuskan semangatku terhadap sesuatu.

Termasuk hidupku, ambisiku, juga nyawaku.

Ini tentang Ayah. Ku kenal bagaimana Ayah mencintai Ibu, atau berhenti menyakiti dirinya sendiri. Ku paham bagaimana Ayah mengajari kami, termasuk mengajari orang lain yang kumusuhi sekalipun. Tapi ku tak pernah tahu bagaimana Ayah meninggalkan kami, juga mengubah kebahagiaan kami sekejap menjadi penderitaan yang kami tanggung bersama-sama. Aku selalu berharap, takdir tidak ada. Karena aku yakin, kita yang memilih apa yang harus kita jalani di masa yang akan datang. Begitulah Ayah meyakinkan kami, ketika kenyataan ia meninggalkan kami adalah beban bagi kami semua. Aku tidak menduga ini pilihanku sendiri, ketika aku harus menjadi Jaksa dalam kasus Ayahku setelah ia terbunuh. Atau mau tidak mau, aku harus menyerah bahwa ini adalah takdir.

Disini, diruang kerjanya tempat ia biasa bergulat dengan kasus-kasus client-nya , aku menemukan banyak sekali benda-benda berserakan. Tim kepolisian sudah memasang garis polisi di berbagai sudut rumah ini, tepatnya di ruangan ini. Namun setelah aku berdebat setengahjam dengan salah satu dari mereka, akhirnya aku di perbolehkan masuk ke sini. Dengan catatan, aku tidak akan mengusik satupun barang bukti yang akan mereka investigasi.

Laptop yang berdarah, kertas-kertas berserakan di setiap sudut, pecahan piring dengan kuah sambal di sekitarnya, senter dan baterai yang terpisah, bingkai foto,sepatu cadangannya, handphone, isolasi, bolpoint, gelas kopi yang masih penuh,juga… kotak kacamata.

Tapi ini bukan kotak kacamata cokelat lusuh yang iapunya. Ini kotak kacamata merah jambu, apakah ini sungguh milik Ayah?

Aku memasang sarung tanganku, lalu membuka kotak kacamata itu perlahan. Tidak ada disini. Maksudku tidak ada kacamata Ayah disini. Aku kenal bagaimana Ayah memperlakukan barang-barang penting. Ia tidak mungkin ceroboh meletakkannya sembarangan dan membiarkan rusak lagi. Apakah Ayah sudah berubah? Atau apakah iaterbunuh dengan kacamata melekat di wajahnya? Atau, apakah Polisi mengamankannya sebagai barang bukti? Entahlah, aku tidak tahu.

“ Maaf, apakah anda yang bernama Gibran?” tanya seorang pria bertubuh jangkung dengan buku catatan kecil yang di pegangnya. Sepertinya ia wartawan.

“ ya, saya Gibran. “ jawabku singkat.

“ benar bahwa anda adalah anak kandung Pengacara Haris? Sekaligus Jaksa penuntut umum atas kasus ini?” tanyanya dengan nada hati-hati.

Aku mengerti, mungkin pria ini takut menyinggung perasaanku. Aku tersenyum sedikit kecut, lalu mengangguk pelan. “ ya, “

Akhirnya ia mencuri waktuku. Aku maklum, karena wartawan selalu begitu. Ia pasti tidak akan puas sebelum aku memberikannya semua informasi yang dia mau untuk ditulis. Baiklah, aku akan menyelesaikan ini sebelum aku mengeluarkan asumsiku atas apa yang ku selidiki di ruangan ini.

*****

Entah apa kata orang setelah nanti semua orang tahu bahwa anak pengacara Haris akan menjadi jaksa dalam kasus ini. Aku mulai kehilangan nyaliku setelah sekian kali aku telah menangani kasus-kasus selain ini di pengadilan. Ini kasus yang tidak mudah. Aku tahu, ini sebenarnya bukan wadahku karena aku adalah jaksa dan bukanlah seorang penyidik yang bekerja untuk kepolisian. Selain itu aku juga telah memutuskan untuk membenci Ayah setelah sepuluh tahun lalu ia menceraikan Ibu hingga menelantarkan aku dan Yuri. Berjuang hidup dengan krisis identitas,memulai segala sesuatunya dengan sederhana tanpa campur tangan Ayah, lalumencambuk diri sendiri agar kelak membuktikan kepadanya bahwa kami dapat hidup setelah kehilangan pengakuan seorang ayah.

Entah ini takdir atau pilihan, lebih baik ini adalah takdir. Karena aku tidak pernah memilih berada di pengadilan, menangani kasus Ayah, lalu menuntut siapapun yang menjadi terdakwa bahwa ia harus dihukum seumur hidup atas kasus pembunuhan tak berkemanusiaan. Siapapun yang melakukan ini, aku memang tak akan memaafkannya. Karena biar bagaimanapun, kali ini Ayah adalah korban dan ia berhak untuk dibela. Sekalipun aku belum bisa memaafkannya hingga saat ini.

Menurut saksi, tidak ada tanda-tanda atau jejak apapun yang menunjukkan bahwa ayah kedatangan tamu. Karena jelas sekali yang terdengar adalah suara tembakan beberapa kali bersumber dari dalam rumah. Anehnya, pembunuh hilang jejak tanpa tanda sama sekali. Aku benci berasumsi, tapi sejauh ini semua menduga bahwa ini adalah kasus bunuh diri. Ah, ini aneh. Sebaiknya aku pulang dan beristirahat saja malam ini. Rasanya tubuh ini remuk setelah seharian aku mencari tahu informasi dari hasil pengamatan dan juga pertanyaan-pertanyaan dari saksi yang ada.

“ Jaksa Gibran, apakah anda sudah selesai?” tanya Gina, seorang polisi wanita yang cukup akrab denganku, karena ia bekerja di pengadilan tempatku bekerja.

“sebenarnya belum, tapi besok pagi saya akan kembali kesini.” Jawabku.

“ ya, saya akan membantu anda semaksimal mungkin.” Kata Gina, dengan nada pelan namun terdengar antusias.

“Terimakasih, saya percaya anda selalu melakukan hal itu”jawabku kalem, lalu tersenyum padanya.

Tiba-tiba aku terpikir mengenai kotak kacamata merah jambu yang ada di ruang kerja Ayah. Mungkin Gina telah mengamankan barang bukti berupa kacamata, atau sesuatu yangada hubungannya dengan kotak kacamata berwarna merah jambu itu.

“ Gina,saya mau tanya. Apakah polisi mengamankan barang bukti berupa kacamata?”

“kacamata? Sepertinya iya, cuma kacamata itu terlihat aneh untuk korban.”

“ aneh?Maksud anda?”

Belum sempat Gina menjawab, seseorang memanggil namaku dari balik tubuhku. Aku kenal betul suaranya. Semoga aku salah tebak. Karena aku tidak ingin orang-orang disini membicarakan nostalgiaku dengan beberapa orang yang mengenalku dulu,sebelum ayah meninggalkan kami.

“ Gibran,apakah itu kau nak?” suaranya berat , ia menyebut namaku.

Aku berbalik, lalu menemukan rupa senja yang sudah lama tak terlihat berdiri dihadapanku. Aku kenal sekali wajah ini. Astaga, Pak Darsono.

“ Pak Darsono? Apakah itu anda?” tanyaku memastikan.

“ iya nak Gibran, saya Pak Darsono. Anda ingat kan?” tanyanya haru, lalu mendekat padaku.

Sontak aku pun memeluknya, rupa senja ini dan suara beratnya yang halus selalu ku rindukan bertahun-tahun. Dialah Pak Darsono, supir pribadi Ayah yang sekaligus adalah sosok bapak yang bijaksana dan bersahaja bagiku, juga bagi Yuri.

Sayangnya,isteri dan anak Pak Darsono meninggal dunia dalam kecelakaan kereta api, hingga ia sendiri sampai saat ini, menemani ayah kemanapun ayah pergi. Jika adikku itu tahu aku bertemu Pak Darsono disini, ia pasti akan memintaku untuk membawanya kesini. Hanya saja, aku sengaja tidak ingin Ibu dan adikku tahu bahwa aku sedang menjadi jaksa di kasus pembunuhan Ayah.

“ maafkan saya nak Gibran…” kata laki-laki tua itu pelan, namun terdengar parau.

Pak Darsono menitikkan air mata. Begitu pula aku. Tanpa sadar, pilu menyerang hatiku seketika. Aku kembali teringat kenangan keluarga bahagia kami di rumah ini. Aku juga terbayang-bayang dengan masa kecilku, hingga kejadian yang tak kuinginkan terjadi begitu saja. Ayah dan Ibu bertengkar hebat karena ayah menemukan surat cinta Ibu dengan seseorang yang tak diketahui siapa pemiliknya. Sepertinya mantan kekasih Ibu, tapi entahlah siapa. Aku sangat ingat bagaimana Ayah marah pada Ibu, hingga akhirnya ia menceraikan Ibu dan mencurigai bahwa Yuri adalah hasil hubungan gelap Ibu dengan laki-laki itu. Awalnya Ayah ingin aku bersamanya, namun hatiku memilih bersama Ibu dan Yuri adikku. Aku yakin,Ibu tidak pernah berkhianat pada Ayah. Ini pasti salah paham.

“ nak Gibran, mengapa melamun?”

“ ah tidakpak, saya hanya memikirkan sesuatu “kataku cepat-cepat mengusap air mata yang hampir jatuh.

Beberapa menit berbincang dengan Pak Darsono, aku pun kembali menemui Gina yang tengah mengumpulkan barang-barang bukti di sekitar TKP. Ia sepertinya tengah memperhatikan sesuatu dengan serius. Aku tidak ingin menganggunya, maka aku pun kembali mendekati meja kerja Ayah tadi.

Kotak kacamata merah jambu yang ada diatas meja ini sepertinya mencurigakan. Ini sepele. Tapi aku tak begitu yakin Ayah menggunakan kacamata dengan kotak merah jambu. Aku mencatat alamat optik,mungkin ini bisa ku gunakan sebagai petunjuk untuk mencari tahu jejak pembunuh Ayah.

“ Jaksa Gibran, apakah ini kacamata yang anda maksud?” tanya Gina dari balik tubuhku.

Aku menoleh, lalu melihat Gina menunjukkan sesuatu padaku. Sebuah kacamata yang sudah rusak dan hanya memiliki satu gagang, namun anehnya gagang itu berwarna merah jambu. Apakah ini milik Ayah? Pikirku membatin.

*****

Hujan diluar seakan merajai bumi kota ini sejak tadi pagi. Padahal aku hendak keluar bertemu Gina untuk membicarakan kasus ini. Setelah itu, aku ingin mendatangi alamat optik tempat kacamata itu di pesan. Kebetulan ini hari minggu dan aku sedang meminta waktu untuk menyelesaikan laporan penuntutan hingga Polisi menghubungiku siapa tersangka dari kasus Ayah. Namun sepertinya, hujan tak merestui usahaku.

Dan tiba-tiba ponsel berdering, memecah sunyi yang tercipta di kamarku.

“ ya, saya Jaksa Gibran, ada yang bisa saya bantu?”

Teet-teet-teet- sambungan teleponnya terputus dan aku dibuat kebingungan seketika.

Baiklah, aku akan menemui Ibu untuk bertanya sesuatu sambil menunggu hujan segera reda.Aku menutup pintu kamarku, lalu menguncinya. Aku tak ingin ada yang tahu bahwa aku tengah menulis laporan atas kasus ayah di pengadilan. Cukuplah Ibu dan Yuri tahu bahwa Ayah meninggal dan pihak keluarga dari beliau menuntut tersangka dipengadilan.

“ Yuri… “seruku mendekati kamarnya, yang kebetulan berada di sebelah kamarku.

Kulihat pintu kamar Yuri terbuka lebar, lampu kamarnya juga padam. Tidak ada Yuri disana, tapi televisinya menyala. Aku masuk ke kamarnya, lalu mencari remote.Ah, lagi-lagi kamar Yuri berantakan sekali. Padahal ia gadis yang sangat cantik dan cerdas. Aku menggeleng-geleng kepalaku melihat suasana kamar Yuri yang tidak sedap dipandang, lalu mataku beralih ketika ku lihat kotak kacamata berwarna hitam berada di atas kasur. Tiba-tiba aku teringat pada kotak kacamata merah jambu di meja kerja Ayah. Aku mendekati kotak hitam itu, lalu melihat alamatnya yang persis seperti yang tertera di kotak kacamata merah jambu.

“ Bang Gibran, kenapa masuk ke kamar Yuri?” tanya seseorang di depan pintu, membuat aku kaget setengah mati.

Ia masuk lalu menyalakan lampu kamarnya. Wajah Yuri pucat sekali, mungkin ia sedang sakit. Aku yang memandanginya sambil memegang kotak kacamata itu, lalu hanya tersenyum meminta maaf. Ia tak menyahutku, lalu merampas kotak kacamata hitam itu dari tanganku. Sepertinya ia marah karena aku masuk kesini. Baiklah, aku pun mundur keluar dari kamarnya, lalu menuruni anak tangga untuk mencari Ibu dikamarnya. Tapi sekejap, pikiranku jungkir balik mengingat kotak kacamata tadi.Apa itu milik Yuri? Ia tidak pernah mengeluh kalau matanya memiliki minus. Sebenarnya itu kacamata siapa? Ah, aku takut terlalu paranoid.

“ bu,boleh Gibran tanya sesuatu?” tanyaku ketika kulihat Ibu sedang duduk santai di ruang tengah.

“ ya, ada apa nak?” tanya Ibu lagi, lalu menutup majalahnya dan menyesap teh hijau dicangkirnya.

“ apa warna kesukaan Ayah?”

Ibu kaget,lalu terbatuk-batuk mendengar pertanyaanku.

“ setahu ibu warna hitam atau cokelat, ya… hanya dua warna itu saja. “

Akumemperhatikan Ibu lekat, lalu bergumam di dalam hati. Apa mungkin seseorang yang hanya menyukai dua warna lalu memilih warna lain, ah tapi itu kan hanya kotak kacamata. Aku pun semakin dijebak rasa bingung. Tunggu, ada sesuatu yang aneh. Yuri tidak menggunakan kacamata, lantas mengapa aku menemukan kotak kacamata di kamarnya? Tapi ini tidak mungkin. Pasti semuanya hanya kebetulan.

“ ada apa?“ tanya Ibu padaku.

Aku melihat kotak kacamata Ibu terletak di atas meja. Warnanya putih.

“ bu, ini milik Ibu?” tanyaku lalu membuka kotak kacamata itu. “ kacamatanya kok tidak ada?”

“ iya,tapi sudah rusak. Makanya Ibu suruh Yuri memesan kacamata baru ke Optik, tapi Yuri bilang masih di kerjakan” kata Ibu lagi.

“ gagang kacamata ibu warna apa?” tanyaku semakin penasaran.

“ yang rusak kemarin warnanya merah, tapi beberapa hari lalu Ibu pesan ke Yuri untukmemesan gagang berwarna merah lagi ataupun merah jambu”

Petirmenggelegar seketika. Rasanya segala pertanyaan ini memuncak di ubun-ubunku. Aku langsung bergegas ke atas, masuk ke kamarku dan mencari ponselku. Ku lihat beberapa panggilan tak terjawab masuk ke handphoneku. Gina.

******

“ jadi tersangkanya Pak Darmono? “

Pertanyaan itu terdengar jelas dan keras, hampir menyamai suara petir di luar sana.Mendadak tubuhku lemas dan darahku seperti mengalir tidak stabil. Aku tak percaya kalau dalang pembunuhan ini supir pribadi Ayah yang sudah ku anggap Bapak kandungku sendiri.

“ iya, dia yang datang sendiri ke kantor polisi dan mengakuinya pada kami “ jawab Gina.

“ apa yang dia katakan?” tanyaku lagi.

“ dia bilang, dia sudah lama menaruh dendam pada korban. Tapi sebenarnya dia tidak berniat membunuh awalnya, hanya saja korban telah menghina dan memecat dirinya ” kata Gina lancar.

Aku harusmenemui Pak Darsono. Sebenarnya, diakah pelakunya? Perlukah aku mencari tahu lagi tentang kacamata merah jambu di ruang kerja Ayah? Oh Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi pada Ayah dan Pak Darsono?

“ kalau begitu, nanti lagi kamu hubungi saya. Saya segera ke kantor sore ini.” kataku,lalu memutuskan sambungan telepon.

Rasa penasaran di hatiku mulai menggeliat, seakan-akan ingin segera mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Aku sudah menyembunyikan kasus ini dari Ibu dan Yuri,apakah aku harus berubah pikiran untuk memberitahu mereka kalau aku adalah jaksa penuntut umum dalam kasus ini? Entahlah, aku mendadak ragu-ragu. Aku harus bergerak kesana, mencari tahu kacamata merah jambu yang mencurigakan itu.Aku segera mengambil jasku, lalu berlari keluar kamar. Lagi, aku menaruh curiga pada Yuri kali ini. Ia sedang menangis di kamarnya, lampu kamarnya pun di padamkan, tak biasanya ia begini. Aku mengetuk pintu kamar itu keras-keras sembari menyerukan namanya. Ibu, yang mendengar riuh di atas langsung menghampiriku yang sedang mengetuk pintu kamar Yuri.

“ ada apa Gibran?” tanya Ibu panik.

“ Yuri..Yuri, kamu kenapa? Buka pintunya” bentakku, tanpa memperdulikan pertanyaan Ibu.

“ Yuri,kamu kenapa nak?” tanya Ibu yang menyenderkan telinganya ke pintu, mendengar tangis Yuri yang sayup-sayup.

Ku dengarlangkah kaki Yuri mendekat, sepertinya ia segera membuka pintu. Aku menghitung dalam hatiku, satu, dua, tiga, dan pintu kamar pun terbuka. Yuri menatapku sinis, lalu memeluk Ibu sambil menangis. Aku semakin tak mengerti. Ibu pun menyuruhku pergi dengan isyarat tangannya, lalu membawa Yuri ke kamar. Mereka mengunci pintu kamar tanpa mengizinkan aku untuk masuk. Aku menghapus paranoid ini untuk sementara, lalu memantapkan langkahku menyelesaikan kasus ini.

******

Aku keluar dari toko optik dengan perasaan bersedih. Jadi semua prasangkaku lebih buruk daripada yang kubayangkan. Dua hari sebelum Ayah meninggal, ada pesanan kacamata di optik ini. Dan kacamata itu bergagang hitam dan berada di kotak warna hitam. Bahkan kacamata itu sudah di ambil di hari kejadian. Jadi kacamata bergagang merah jambu dalam kotak merah jambu itu, milik siapa? Milik ibu kah? Ah, apakah mungkin bisa di meja kerja Ayah? entahlah, kebingungan menyelimuti hatiku.

Aku pun masuk ke mobil, lalu mengemudikannya ke satu tempat, dimana aku akan menemui seseorang. Dia pasti tahu banyak tentang masalah Ayah dan Ibu. Aku harus kesana, segera.

Telepon genggamku berdering. Satu panggilan masuk dari… Hendra, polisi yang menyelidiki kasus ini. “ halo” , “ ya, dimana?” , “ baik, tunggu dua jam lagi”.

Aku melajukan mobilku. Beribu-ribu pertanyaan berputar pada poros kepalaku. Rasanya ingin aku berteriak karena menghadapi dilema ini sendirian. Berapa tahunkah harus ku berikan tuntutanku pada Pak Darsono yang jelas begitu baik padaku dan keluargaku. Atau adilkah bagi Ayah, jika aku meringankan hukuman itu sedangkan nyawanya menjadi taruhan? Ataukah aku harus memperjuangkan tuntutan yang besar pada Pak Darsono karena yang terbunuh adalah Ayah kandungku? Jaksa manapun tidak akan lama-lama hidup jika menghadapi dilema seperti ini. Media pasti akan menyerbuku untuk mempertanyakan pertimbangan yang ku berikan.

Ini benar-benar sial!!!

Akhirnya, sampailah aku di rumah sederhana di ujung komplek ini. Aku memarkirkan mobilku di sembarang tempat, lalu turun dari mobil dengan payung hitam yang tersedia dikantong mobilku. Seorang wanita setengah baya duduk bersantai di teras rumah,ketika ia melihat mobilku berhenti di depan pagar, ia langsung berdiri dan menyambutku dengan tatap mata keheranan.

“ benarkah ini rumah Pak Sam?” tanyaku menghindari hujan karena wanita itu belum mempersilahkan aku naik ke terasnya.

“ Pak Sam itu suami saya, dia sudah meninggal tiga tahun lalu. Ada perlu apa?” tanya wanita itu padaku, lalu mengisyaratkan tangannya mempersilahkanku mengikutinya naik ke atas teras.

“ saya anak Pengacara Haris, kebetulan ayah saya terbunuh beberapa hari lalu dan polisi baru saja menetapkan tersangkanya” kataku hati-hati sambil menunduk.

“innalilahi, siapa pembunuhnya?” tanya wanita itu kaget.

Dalam sunyi hujan yang berkerumun, aku mulai menatap ke langit. Lalu memulihkan ingatanku, hingga aku pun bercerita dan menanyakan segala hal yang kurasa harus aku ketahui sebelum mempertimbangkan tuntutanku pada tersangka pembunuhan Ayah. Aku harap wanita ini akan memberitahuku segalanya dengan jujur. Mengingat almarhum suaminya adalah pengacara Ibu saat menerima putusan cerai dari pengadilan.

*****

“ mengapa anda membunuh Ayah saya?” tanyaku pada laki-laki di hadapanku yang menitikkan air matanya sedari tadi ketika menatapku.

“ maafkan saya nak Gibran, maafkan saya… ini diluar niat saya” katanya lirih.

Dengan emosi yang berkumpul di ubun-ubun, aku hampir saja memukul wajah itu. Tapi sekali lagi aku ingat bahwa aku adalah jaksa yang sedang berada didalam sorotan media dan kepolisian karena korban adalah ayahku. Aku tidak boleh gegabah.

“ lalu,apa salah Ayah saya pada anda?” tanyaku setengah berteriak.

“ Jaksa Gibran, anda tidak boleh mengintimidasi pelaku, biarkan pihak kepolisian yangmenanganinya” kata Hendra, salah satu Polisi di ruangan ini.

Aku menarik nafasku dalam-dalam, lalu memutuskan untuk keluar dari ruanganpemeriksaan. Gina menungguku disana, lalu menghampiriku.

Ia pun menceritakan padaku semua kesaksian pelaku dan juga beberapa saksi. Aku ingin menangis rasanya, karena ini mengenai nyawa Ayahku. Entah mengapa kebencianku pada Ayah menghilang seketika.

“ adik anda, Yuri Oktavia adalah salah satu saksi “ kata Gina padaku.

“ apa?  bagaimana mungkin?” tanyaku kaget.

“Yuri dan Pak Darsono bertemu di Optik dua hari sebelum kejadian. Tak sengaja, kacamata yang di pesan Yuri dan Pak Darsono tertukar. Saat hari kejadian, korban hendakmemakai kacamatanya untuk mengetik, tapi ternyata kacamata yang ada didalam plastik optik adalah milik seorang wanita. Korban membentak Pak Darsono, lalu melempar kacamata itu dengan kesal. Hingga akhirnya, Korban memecat tersangka.Namun ketika tersangka ingin minta maaf dan mengatakan bahwa kacamata yang tertukar ini milik mantan isteri korban, korban semakin naik pitam dan mengambil pistol. Tapi , tersangka melawan dan akhirnya menembakkan pistol itu pada ayah anda”

“a..a..apa? ini sulit dipercaya. Apakah anda yakin?” tanyaku kaget mendengarkejadian sebenarnya.

“sebenarnya, yang membuat Ayah anda naik pitam adalah ketika tersangka membuat pengakuan bahwa ia adalah ayah kandung Yuri…”

Astaga, OhTuhan. Ini benar-benar diluar jangkauanku. Seketika aku tersudut mendengar Ginamenjelaskan semua kesaksian. Benarkah Tuhan?

******

Malam ini,aku tak dapat menahan segala penyesalanku. Di sudut jendela rumah ini, aku membaca ulang laporan tuntutan yang tadi pagi ku bacakan di pengadilan. Tuhan memberiku teka-teki ini, lalu aku mencari tahu jawabannya. Ketika aku hendakmenemukan satu potongan puzzle lagi, aku malah berniat membuangnya daripada mengakui takdir satu kali lagi dalam perihal ini.

Aku tak akan memaafkan diriku jika aku membiarkan pembunuh Ayah dihukum ringan. Tetapi Yuri juga tidak akan memaafkan aku jika aku menghukum Ayah kandungnya demi ayah yang menyia-nyiakan ibu dan kami. Hakim telah mempertimbangkan tuntutanku juga memutuskan sepuluh tahun sebagai hukuman bagi Pak Darsono, pembunuh Ayahku juga yang adalah Ayah kandung Yuri.

Nafasku hampir hilang saat ku tahu semua ini, terlebih semenjak ku tahu bahwa Ibu dan Pak Darsono menjalin hubungan khusus satu sama lain. Ternyata benar, bahwa Ibu mengkhianati Ayah dan berselingkuh dengan Pak Darsono. Namun karena Ibu tidakingin Ayah tahu siapa Ayah kandung Yuri, ia pasrah di ceraikan dan hidup dengan kami berdua. Bertahun-tahun tidak ada yang tahu siapa laki-laki yang berselingkuh dengan Ibu, hingga akhirnya saat ini juga ketika Ibu tahu akuadalah jaksa penuntut dalam kasus ini, Ibu pun menceritakan semuanya.

“ maafkan Ibu nak, maafkan Ibu telah berbohong pada kalian…” kata Ibu menangis bersimpuh ke lantai.

Aku takmampu lagi berkata apa-apa. Bahkan melihat wajah Yuri saja pun aku sudah takmampu.

Rasanya ada penyesalan dan kesedihan yang mendalam di dalam hatiku.Mengapa harus seperti ini? Aku, lalu berlari ke atas, mengunci pintu kamarku.

Dalam keheningan malam ini, suasana di pengadilan tadi pagi tergambar jelas dibenakku. Aku melihat semua pasang mata menatapku ketika aku membacakan surat putusan tadi pagi. Media pun menyorotku sebagai Jaksa yang bijaksana, walau Yuri adikku menyorotku sebagai kakak yang jahat. Aku bisa membaca kesedihan dimatanya. Aku berteriak memanggil Ayah dalam hatiku, “ maafkan aku Ayah… aku membencimu tanpa alasan, padahal Ibu yang telah mengkhianatimu. Maafkan aku Ayah…“

Jumlah kunjungan: 893 kali

Leave a Reply

Your email address will not be published.