Medan – Kreatifonline.com– 

Ketika kita hendak berbicara mengenai kuliner, maka tak akan bisa terlepas dengan yang namanya sejarah, budaya, suku dan juga etnis. Karena elemen-elemen ini saling berkaitan, laksana dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Juga, berbicara kuliner yang sejatinya merupakan makanan, bisa digolongkan suatu hal yang cukup penting. Sebab, seluruh manusia sekalipun ia bertempat tinggal di tempat terpencil pasti memerlukan asupan makanan untuk melanjutkan hidupnya. Apalagi warga yang berdomisili maupun wisatawan yang datang ke Medan, Ibu kota Sumatera Utara yang merupakan kota terbesar ketiga di Indonesia ini. Lalu bagaimanakah ragam kuliner di kota tersebut?
Sejarah Kuliner Medan
Medan sebuah kota yang dahulunya juga pernah merasakan pahitnya masa penjajahan Belanda, membuat budaya bangsa kolonial menjalar ke sendi-sendi rakyat. Ini terbukti dari adanya jejak sejarah yang dapat kita dilihat di daerah kesawan. Khususnya Tip-top, restaurant bernuansa kolonial yang produk makanan, bahan hingga cara memasaknya masih mengikuti resep Belanda, membuat restaurant yang usianya terbilang senja, karena sudah beroperasi selama 75 tahun ini masih kokoh bertahan di tengah gempuran kuliner-kuliner baru. Dan ketika masa penjajahan Belanda ada pula bangsa yang datang mengadu nasib ke Medan, seperti bangsa India yang menjadi buruh di perkebunan tembakau deli maupun para pedagang China yang berniaga. Kedatangan bangsa-bangsa ini juga turut memperkenalkan budaya, termasuk kuliner negaranya seperti roti cane, bak pao dan mie pansit.

Banyaknya ragam etnis dan bangsa yang berdomisili di kota membuat sebutan miniatur Indonesia cocok disematkan bagi kota yang menurut Badan Pusat Statistik (BPS) berpenduduk sebanyak 13.326.307 juta jiwa pada tahun 2013. Terdiri dari bebagai suku baik suku pendatang, maupun suku asli wilayah ini yaitu suku melayu, nias dan batak yang terbagi lagi menjadi 6 jenis suku: batak toba, karo, pakpak, simalungun, angola serta mandailing. Dari beragam suku asli tersebut, tentunya memiliki ciri khasnya tersendiri yang dapat dijadikan sebagai suatu identitas diri masyarakatnya. Termasuk dari sisi kuliner, yang pastinya punya penggemar setia karena keunikan cita rasa dari kelezatan olahan rerempahan hasil alamnya. Seperti masakan khas batak, daging bakar yang memiliki cita rasa pedas, na Niura kuliner khas batak toba terbuat dari bahan dasar ikan mas yang bercita rasa asam karena adanya fermentase jeruk nipis dan asam jawa, maupun anyang serta bubur jagung makanan khas suku melayu yang rasanya manis.

Namun, seiring perkembangan zaman, globalisasi di bidang makanan serta perubahan gaya hidup menjadi serba praktis, membuat peminat kuliner asli khas sumatera utara perlahan mulai menurun. Serbuan kuliner pendatang yang beraneka ragam mulai dari fast food hingga makanan olahan khas daerah lain yang secara tidak langsung menjadi rival yang dapat menggeser pangsa pasar dari kuliner asli Sumatera Utara, hadir dengan varian produk, fasilitas, service, harga yang tidak terlalu menguras kantong alias terjangkau serta packaging yang cukup mengundang perhatian. Yang membuat pengunjung ramai berdatangan ke rumah makan pendatang dari negara maupun daerah lain dibanding dengan rumah makan yang menjual makanan khas Sumatera Utara. Contohnya dapat kita lihat rumah makan padang, rumah makan yang banyak kita jumpai di setiap sudut kota yang hampir tidak pernah sepi di datangi konsumen. Juga, gerai Mie aceh yang cukup marak dinikmati seperti halnya usaha mie aceh titi bobrok yang terletak di Jl.Setia Budi No 17 C.

Keadaan ini diperparah dengan belum adanya pemusatan lokasi yang khusus dijadikan tempat menjajakan kuliner asli kota yang dijuluki sebagai surga makanan ini. Walaupun sekarang sudah ada beberapa kawasan yang dijadikan pusat wisata kuliner seperti halnya Merdeka walk yang diresmikan tahun 2005 silam, Pagaruyung, sepanjang ruas jalan Jl Gagak hitam Ring road dan Dr Mansyur dsb. Namun, dari beberapa kawasan ini hampir tak ada satu gerai makanan yang khusus menjual kuliner asli Medan, contohnya Merdeka Walk. “Kalau saya perhatikan di Merdeka Walk yang terkenal sebagai icon tempat kuliner, hingga saat ini belum ada gerai yang khusus menjual kuliner asli Medan, dan saya rasa dinas pariwisata perlu memperhatikan hal ini,” tutur Ibu Amy, dosen tata boga Unimed ketika diwawancarai. Malahan restaurant yang menghidangkan menu khas medan terletak berjauhan. Rumah Makan Sipirok yang berlokasi di Jl sunggal maupun Soto Medan dan sate kerang rahmat yang terletak di jalan Gatot Subroto.
Hal yang sama juga dirasakan oleh Staff pengajar bidang kuliner di Akademi Pariwisata Medan yang bernama Zaitun,Spd, M.kes, “Kurangnya minat warga akan kuliner medan ini dikarenakan restoran tempat menjual makanan ini terletak di tempat yang berjauhan”.
Maka tak mengherankan jika minat konsumen akan kuliner asli medan berkurang dan ironisnya kini para muda-mudi yang lahir dan besar di kota ini ada yang tidak mengetahui makanan khas daerahnya. Seperti pengakuan mahasiswi jurusan tata boga Unimed yang bernama Mega, “Banyak anak muda yang tidak tahu kuliner asli daerahnya, termasuk saya. Saya pun tidak begitu tahu kuliner khas Medan walaupun saya kuliah di jurusan tata boga.” Tentu saja hal ini tidak menjadi tugas pemerintah kota saja melainkan tugas pebisnis kuliner, pemerhati makanan, serta warga asli medan itu sendiri untuk lebih memperkenalkan kuliner khas Sumatera Utara ke kota-kota besar lainnya.

Mengenal Kuliner Medan
Wisata kuliner adalah jenis wisata yang memperilakukan makanan sebagai subjek sekaligus tujuan wisata. Oleh karena itu tak lengkap rasanya bila tidak mencicipi kuliner khas daerah yang kita kunjungi. Maka umumnya para pelancong atau wisatawan akan memasukkan kunjungan bersantap di tempat makan ke dalam list perjalanannya. “Mencicipi kuliner itu agenda wajib, sebagai salah satu wisata budaya di daerah yang dituju karena kita bisa belajar karakter rasa melalui masakan. Dan kuliner merupakan perwujudan kekayaan budaya dari suatu daerah,” ungkap Ancha Sitorus, S.Pd, alumni pendidikan geografi Unimed yang gemar travelling saat diwawancarai melalui jejaring sosialnya.
Dan wisata kuliner di Sumatera Utara ini tak perlu diragukan lagi karena di setiap daerahnya memiliki ragam kuliner enak nan menggugah selera, terlebih lagi di Medan, Ibu kota yang dijadikan tempat transit para wisatawan ketika hendak melakukan perjalanan ke objek-objek wisata seperti halnya berastagi, Danau Toba dll.
“Tanpa kita sadari, Kota Medan, kota yang terdapat beragam etnis dan ras memiliki sekitar 140 jenis makanan,” ungkap Ibu Zaitun, S.Pd, M.Kes . Beberapa diantara makanan-makanan khas di Medan yang sudah familiar di dalam maupun di luar medan seperti Arsik, Lontong Medan, Soto Medan, Ayam Tasak Telu, Babi Panggang Karo (BPK), Dengke Mas na Niura, Bika Ambon, Lemang, Roti Jala, Lappet, Roti Ketawa, Kacang Sihobuk, Pancake Durian, Durian Medan, Daging Bakar khas Sipirok, Sop Iga Sapi khas Sipirok, Mie Aceh, Martabak Gapa , Mie Gomak, dll.
Selain itu juga, di Medan juga punya makanan khas lain seperti Bubur Pedas. Makanan dari khas melayu ini pastinya tidak asing lagi di mata masyarakat Medan khususnya etnis Melayu. Walaupun bagi masyarakat Medan sendiri banyak yang tidak tahu karena jarangnya bubur pedas itu didapatkan dan pembuatannya yang sulit. Seperti yang dikatakan oleh ibu Ana Rahmi,kepala Laboratorium di jurusan Tata Boga Unimed bahwa Bubur pedas ini asli khas melayu, jadi sulit mendapatkannya karena hanya ada pada bulan Ramadhan. Nah, ini kesempatan bagi anda pecinta kuliner di Medan yang belum tahu rasa nikmatnya Bubur Pedas bisa mencobanya pada saat Bulan Ramadhan. Karena sudah menjadi tradisi di Medan berbuka dengan menyantap bubur ini, yang biasanya ada dapat dinikmati di seputaran area mesjid Raya Al Mahsun Medan. Serta, Kawasan Kolam Taman Sri Deli di Jalan Sisingamangaraja bisa menjadi referensi kunjungan anda saat berbuka karena biasanya setiap tahun Pemerintah Kota (PemKo) Medan menggelar Ramadhan Fair sebagai ikon pariwisata religi. Tak ketinggalan dengan Ramadhan Fair, Fenomena ngabuburit di café-café juga menjadi tren masyarakat medan khususnya para anak muda yang biasanya hang out dengan teman-temannya dan ngabuburit di café sambil menunggu azan Magrib.
Jika dilihat, perkembangan café di Medan cukup terbilang pesat pesat. Hal ini didorong oleh para muda-mudi masa kini yang menjadikan aktivitas nongkrong sebagai suatu kebiasaan yang tidak hanya dilakukan pada saat ngabuburit di bulan puasa saja. Trend yang membuat para wirausaha kafe di medan sangat berkembang. “Saya lebih suka ke kafe karena lebih banyak macam kuliner yang disajikan. Mulai dari menu yang bermacam-macam, bukan hanya dari Sumatera Utara dan kita juga bisa mengenal masakan maupun makanan selain dari kota Medan,” ujar mahasiswi jurusan Tata boga Unimed stambuk 2013 yang bernama Mega Wahyu Ningrum. Seiring pesatnya perkembangan kafe dan restoran di Medan, namun tak jarang kita masih saja kesulitan mencari kuliner khas sumut di Medan itu sendiri. Seperti halnya yang dikatakan oleh Rita Maulina S. Dalimunthe, Mahasiswi jurusan Pendidikan Bahasa Inggris 2013 bahwa di kota-kota besar jarang di jumpai tempat yang menyediakan kuliner khas Sumatera Utara. Anak muda sekarang ini hanya tahu makan tapi tidak mengenal makanan yang dimakannya apakah termasuk khas kuliner daerahnya sendiri atau tidak. Namun, ada juga kuliner Medan yang terkenal hingga ke Jambi yaitu Aneka Durian khas Medan. Bahkan diolah dan dipasarkan disana. “Kuliner Medan yang saya ketahui, ya cuma durian. Olahan durian ini juga ada yang dijual didaerah saya,” Ungkap Kawirian, Mahasiswa asal Jambi yang kuliah di Universitas Batang Hari melalui pesan singkatnya.
Dan masyarakat Medan sudah sepantasnya harus tahu mengenai kuliner khas daerahnya sendiri. Karena seperi yang kami lansir dari situs yang menyediakan informasi mengenai kuliner di Sumatera Utara yakni makanmana.net terdapat kurang lebih dari 400 gerai makanan di Medan, termasuk didalamnya makanan khas kuliner medan, kuliner Indonesia, kuliner luar negeri baik yang berbentuk rumah makan tradisional hingga café-café yang cocok buat tempat nongkrong

Oleh karena itu, tim kreatif merekomendasikan bagi anda pecinta kuliner sejati yang ingin tahu lebih mengenai tempat makan di Medan bisa datang ke Roemah Indonesia Kitchen yang terletak di Jln. Sawah Lunto no. 14 daerah Sisingamaraja belakang RS Permata Bunda. Rumah makan ini menyajikan maknan khas Indonesia seperti ikan bawal karo, sup buntut dll, dengan nuansa ruangan bergaya tempoe doloe mulai dari interior hingga furniture-nya plus dihiasi dengan pajangan foto sang proklamator Indonesia, bung karno. Ada juga Rumah Makan Sipirok, rumah makan khas batak yang beralamat di jln. Sunggal no. 14 Medan. Rumah makan yang sudah beroperasi sejak Desember 2002 lalu ini terkenal akan sup sum-sum, iga serta daging bakarnya yang diolah dengan menggunakan resep turun temurun dari orang tua si empunya rumah makan, ibu Tiar Nasution. Dan ada juga Kesawan Square di jln. Ahmad Yani, Merdeka walk Rumah Makan Kalasan di Jln Iskandar Muda, Kedai Ucok Durian di jln. Iskandar Muda no. 75 dan lain-lain.

Bisnis kuliner
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Jumlah wisatawan mancanegara di akhir tahun 2012 mencapai 241.833, jumlah yang meningkat dibanding tahun 2011 yang hanya berjumlah 231.126 orang. Banyaknya wisatawan mancanegara yang berdestinasi ke Medan dan melakukan praktek konsumsi berbasis kuliner, ikut andil menstimulus pertumbuhan bisnis makanan di kota ini. Menurut pengamat ekonomi Unimed, Bapak Ishak, “Faktor lain menunjang pertumbuhan sektor kuliner variannya yang sangat banyak, juga cepat mengalami perputaran. Tidak perlu menunggu waktu lama, dalam sehari banyak pengunjung datang untuk mengkonsumsi sehingga membuat omset pebisnis bergerak naik,” ujarnya.(Harian jurnal Asia, 27/3/2014). Laju perputaran omset yang pesat tersebut juga akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi di Medan. “Pertumbuhan ekonomi jika dihubungkan dengan banyaknya bisnis kuliner yang beroperasi yah pasti meningkat karena adanya perputaran perekonomian masyarakat dari kegiatan konsumsi tersebut dan juga dilihat dari sisi perpajakannya tentu sangat berpengaruh karena sesuai aturan pihak penjual dipungut pajak daerah atas usahanya,” kata Bapak Ok.Sofyan Hidayat, dosen perpajakan Jurusan Akuntansi Unimed. “Dan dalam hal pengutipan pajak ini semua bisnis makanan dikenakan tarif yang sama sebesar 10% baik usaha milik pribadi maupun bisnis kuliner dengan sistem frencise yang pebisnisnya tidak perlu terlalu bersusah payah dalam merintis bisnis karena adanya goodwill / nama besar yang dibawa,” tambahnya.

Pertumbuhan bisnis kuliner selain berdampak positif bagi pendapatan asli daerah (PAD) karena adanya pajak restaurant yang wajib dikutip tiap tahunnya oleh Dinas Pendapatan Daerah (DISPENDA), juga berdampak positif bagi produktivitas daerah yang tercermin dari meningkatnya nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita. PDRB per kapita di tahun 2011 yang dilihat dari Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kota Medan (Lakip) sebesar Rp 93,61 juta meningkat 29% dari tahun 2009 Rp 72,63 juta. Dimana dari Rp 93,61 juta PDRB Medan sumbernya didominasi oleh sektor perdagangan, hotel, restaurant hingga mencapai 27,09%.

Besarnya kontribusi sektor kuliner terhadap laju perekonomian daerah disebabkan karena sektor kuliner adalah sektor yang tidak akan pernah tidak dicari orang alias tidak ada matinya. “Kuliner merupakan salah satu bidang yang memang memiliki potensi luar biasa bila dikembangkan dan dikemas dengan baik serta tidak meninggalkan nilai-nilai tradisional. Dan saya berharap agar terus maju dan berkembangnya pengusaha-pengusaha pribumi yang bergerak dibidang kuliner namun tetap memperhatikan tingkat kesehatan dan kegienisan dari produk yang dihasilkannya,” Kata Dosen tata boga dari Akademi Parawisata Medan, ibu Zaitun, S.Pd, M.Kes.

Jumlah kunjungan: 1178 kali

Leave a Reply

Your email address will not be published.