“>Kreatifonline.com – (11/12-2016)

Sejarah Rupiah

Kehidupan bak jam yang terus berputar. Menunjuk ke jarum jam satu, namun pada akhirnya akan berpindah lagi ke jarum jam yang sama. Hal ini berarti bahwa perjalanan waktu akan tetap sama, namun perkembangan teknologi akan mempengaruhi perjalanan hidup manusia. Setiap zaman selalu di iringi oleh peradaban dan perubahan, baik mengenai tatanan politik, hukum bahkan perekonomian. Oleh karena itu, manusia berkeinginan untuk melakukan perubahan dalam rangka mewujukan kesejahteraan yang semakin baik.

Untuk mendapatkan barang, tentu ada proses transaksi. Proses tersebut merupakan proses yang lumrah dilakukan oleh kedua belah pihak yakni antara penjual dan pembeli. Melalui kesepakatan, transaksi dapat terjadi hanya oleh alat yang disebut Uang. Samuelson (2004:256) mendefinisikan uang sebagai segala sesuatu yang berfungsi sebagai alat tukar yang diterima secara umum. Apabila pada zaman dahulu, transaksi dilakukan dengan proses barter (menukar) antara satu benda dengan benda lain yang di percaya memiliki kesetaraan nilai, kini uang menjadi alat praktis yang digunakan untuk membayar benda yang didapatkan. Apalagi, uang dapat berbentuk koin kecil ataupun lembaran kertas.

Indonesia, yang notabene-nya memiliki satuan uang rupiah memiliki sejarah yang menarik untuk di telusuri rekam jejaknya. Sebagai salah satu negara yang di anugerahi oleh keberagaman, baik etnis , kepercayaan terutama sumber daya alamnya, membuat bangsa asing berlomba untuk menguasai Indonesia. Namun, setelah penjajahan berakhir, barter tidak lagi dilakukan karena pada 3 Oktober 1946, pemerintah memutuskan untuk mencetak uang yang dinamakan ORI (Oeang Republik Indonesia). Dikutip dari berbagai sumber sejarah, Pemerintah menyatakan bahwa satu ORI memiliki nilai setara dengan 0.5 gram Emas.

ORI tidak hanya dianggap sebagai mata uang saja namun juga sebagai identitas negara Indonesia. Hal tersebut menjadi tanda bahwa Indonesia tidak lagi dijerat oleh penjajahan kaum asing. Presiden Soekarno menjadi tokoh yang paling sering tampil dalam desain uang kertas ORI dan uang kertas Seri ORI II yang terbit di Jogjakarta pada 1 Januari 1947, Seri ORI III di Jogjakarta pada 26 Juli 1947, Seri ORI Baru di Jogjakarta pada 17 Agustus 1949, dan Seri Republik Indonesia Serikat (RIS) di Jakarta pada 1 Januari 1950. Selang beberapa waktu, ORI mengalami masalah. Hal ini berawal ketika Pemerintah mencetak uang dalam jumlah banyak untuk mengisi kekosongan kas negara, namun ternyata hal ini berdampak pada inflasi yang membumbung tinggi.

Pada tahun 1952-1953, Bank Indonesia mengambil kebijakan dengan merilis uang kertas baru, mulai dari 1 Rupiah hingga 100 Rupiah. Momentum tersebut merupakan periode baru dalam sejarah Rupiah, dimana penerbitan dan peredaran uang kertas rupiah kini menjadi tugas Bank Indonesia, sedangkan uang koin masih ditangani oleh Pemerintah secara terpisah. Kemudian pada masa Orde Baru, Bank Indonesia diberi wewenang untuk mencetak dan menerbitkan uang, baik dalam bentuk koin ataupun kertas, serta mengatur peredarannya.

Kearifan Lokal dalam Rupiah

Kearifan lokal adalah suatu identitas/kepribadian budaya bangsa yang menyebabkan bangsa tersebut mampu menyerap dan mengolah kebudayaan asing sesuai watak dan kemampuan sendiri. Melalui kearifan lokal yang beragam di Indonesia, Pemerintah mencanangkan terobosan yang menarik dengan memanfaatkan uang rupiah sebagai media promosi. Tak hanya itu, uang rupiah menjadi wadah melestarikan kearifan lokal dimana salah satu alat musik khas Indonesia yang sempat di klaim oleh Malaysia sebagai alat musik kini telah tersedia gambarnya. Hal ini menjadi bukti bahwa rupiah menjadikan alat musik Angklung sebagai pusaka berharga tinggi.

Tidak hanya angklung, masih banyak harta Indonesia lainnya yang di promosikan melalui rupiah yang terus berkembang dari zaman ke zaman, diantaranya :
1. Seribu Rupiah
a. Uang Kertas
Pulau Maitara dan Tidore terdapat pada gambar uang seribu rupiah milik Indonesia. Lantas, mengapa pulau ini dipilih menjadi ikon uang seribu? Pulau Maitara adalah sebuah pulau yang berada di Maluku Utara Indonesia. Pulau ini letaknya hanya 30 menit apabila ditempuh dengan speed boat dari pulau Ternate. Gubernur Maluku Utara menjelaskan lewat artikel Detik, alasan mengapa pulau ini di pilih menjadi ikon uang seribu, yaitu karna bangsa Portugis pertama kali menginjakkan kaki di Maitara, Tidak hanya itu, pulau ini memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi, dimana pulau ini menjadi batas dua kesultanan Ternate & Tidore yang ada di sana. Selain itu, Maitara memiliki kebun cengkeh tertua di dunia.
b. Uang Logam
Selain memperkenalkan pulau yang cantik nan indah, Maitara, ada juga benda tradisional pada uang logam pecahan seribu rupiah yakni gambar gedung sate dan angklung, Gedung Sate merupakan gedung bersejarah peninggalan pemerintah kolonial Belanda yang saat ini dipergunakan menjadi Kantor Gubernur Jawa Barat. Gedung itu memiliki ciri khas `tusuk sate` di atas menara utamanya.Sementara angklung merupakan alat musik bambu tradisional asal Jawa Barat yang dikembangkan oleh seniman asal daerah itu, Alm. Udjo Ngalagena. Bahkan, Angklung saat ini diusulkan menjadi salah satu warisan dunia, untuk menjaga warisan budaya maka Bank Indonesia memutuskan mencetak uang ini di pertengahan tahun 2010.

2. Dua Ribu Rupiah
Tarian di Indonesia mengandung makna di setiap gerakannya dan berbeda pula fungsi di setiap tarian dari berbagai daerah salah satu tarian yang di perkenalkan pada pecahan uang kertas. Dua ribu rupiah yang dicetak dalam bentuk kertas mengangkat tarian adat Dayak yang biasa di persembahkan untuk upacara atau ritual. Tari Giring Giring adalah tarian tradisional Dayak Kalimantan tengah yang menggunakan tongkat sebagai atribut dalam tariannya. Tarian ini merupakan tarian yang mengekspresikan kegembiraan dan rasa senang masyarakat dengan cara menari dan memainkan tongkat sebagai media menarinya. Tarian ini awalnya merupakan tarian yang berasal dari suku Dayak Ma’anyan yang kemudian berkembang dan populer di Kalimantan tengah, terutama di Kabupaten Barito. Nama Giring Giring di ambil dari nama tongkat yang di mainkan oleh para penarinya yaitu tongkat Giring Giring atau biasa di sebut Gangerang oleh masyarakat Kalimantan tengah.

3. Lima Ribu Rupiah
Beralih dari lembaran uang dua ribu rupiah, kegiatan perekonomian dan kesenian masyarakat turut dihadirkan dalam lembaran uang lima ribu rupiah. Gambar pengrajin tenun Sumatera Barat yakni Pengrajin Tenun Pandai Sikek menjadi ikon didalamnya. Pandai Sikek adalah nama sebuah tempat atau desa adat di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Sejak zaman dahulu Pandai Sikek dikenal sebagai tempat perajin tenun. Tenun Pandai Sikek sangat terkenal dan sering dijadikan koleksi atau cendera mata.

4. Sepuluh Ribu Rupiah
Rumah adat limas merupakan rumah adat khas Sumatera Selatan yang mewakili rumah adat lainnya yang dipilih untuk menghias desain lembar sepuluh ribu rupiah. Ciri khas rumah adat ini adalah rumah panggung yang memiliki ruangan bertingkat-tingkat seperti teras yang disebut bengkilas. Rumah limas dibuat dari kayu keras, yaitu kayu tembesu. Keunikan terdapat pada setiap kayu yang menegakkan bangunan ini karena di setiap sisinya menggunakan kayu yang berbeda bedasarkan filosofinya sendiri-sendiri.

5. Dua puluh ribu rupiah
Indonesia tak hanya kaya akan budaya namun juga kaya akan bidang taninya, maka dari itu sepertinya Bank Indonesia mencoba memperkenalkan indahnya kebun teh dari lembaran uang dua puluh ribu rupiah. Sesuai dengan sosok Otto Iskandardinata yang berasal dari Bandung, maka dipilihlah pemetik the. Daerah Ciwidey, Bandung selatan terdapat perkebunan teh yang sangat indah. Tidak hanya itu, daerah lainnya seperti Rancabali, Malabar, Pangalengan, dan Gununghalu juga dikenal sebagai daerah penghasil teh.

6. Lima Puluh ribu rupiah
Bagi wisatawan domestik maupun turis asing, Bali merupakan tempat liburan impian yang menyimpan banyak kekayaan budaya yang sangat tak ternilai harganya. Maka, Bank Indonesia memilih Pura Ulun Danu Bratan lewat lembaran uang lima puluh ribu rupiah. Pura Ulun Danu Bratan merupakan pura besar untuk upacara persembahan Dewi Danu – dewi air, danau, dan sungai. Pura ini terletak di dekat Danau Bratan, daerah Bedugul, Provinsi Bali dan yang uniknya Pura ini memiliki 11 atap.

Rupiah sebagai Media Promosi Kearifan Lokal

Indonesia adalah salah satu surga yang pernah ada di dunia. Sumber Daya Alamnya yang melimpah ruah membuat Negara Multi Etnis ini tertarik memilih barter pada zaman dahulu. Selain proses barter di anggap mudah untuk dilakukan, rakyat pun tak pernah merasa kekurangan harta sebab laut dan hutannya menyediakan harta yang tidak pernah habis. Maka, tak salah apabila Koes Plus mengabadikan kekayaan negara tersebut dengan lagu berjudul “ Kolam Susu”.

Keindahan dan keunikan Indonesia mampu memancing pelancong untuk menguasai negeri ini, yang di kenal istilahnya sebagai penjajahan. Politik devide et impera serta taktik musuh dalam selimut seketika merobek kesejahteraan Indonesia. Tak salah, apabila saat ini uang menjadi “segalanya” yang dapat memunculkan kebaikan bahkan kerusakan. Penjajahan memang menimbulkan kesan yang berarti bagi rakyat, baik secara material maupun moral.

Secara material, rakyat mengetahui cara mengolah potensi alam dan memperbaharuinya kembali dengan bekal pengetahuan yang di sisakan oleh “mantan musuh”. Namun, secara moral rakyat mendadak menjadi “penjajah” terhadap alamnya yang asri dan indah. Mulai dari pembabatan hutan, perburuan liar, hingga pencemaran lingkungan merajalela dilakukan. Rakyat lupa, potensi alam Indonesia dapat menjadi sumbangsih terbesar pemasukan rupiah. Bahkan, rupiah telah lama menjadi media promosi kearifan lokal khas Indonesia sejak pertama kali dicetak.
Desain uang rupiah seakan menjadi bukti dari peribahasa terkenal khas Indonesia “ Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui”. Maka, rupiah menjadi alat yang multi fungsi. Selain sebagai alat pembayaran, rupiah juga memperkenalkan kepada masyarakat lokal maupun turis yang berasal dari luar negara Indonesia bahwa potensi wisata serta kearifan lokal Indonesia menggiurkan untuk di abadikan serta di singgahi. Maka, rupiah pun berfungsi sebagai media promosi dan pengenalan. Tidak hanya itu, rupiah menjadi identitas bangsa yang membuktikannya melalui gambar pahlawan yang pernah berjuang untuk kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Melalui perjalanan uang rupiah, pemilik uang pun di ajak untuk bertamasya dengan melihat ‘panorama’ yang terdapat melalui lembaran atau logamnya. Rupiah memiliki nilai yang patut di apresiasi, yakni “harta pusaka” yang menjadi desain didalamnya. Hal ini patutlah menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia secara serentak, bahwa rupiah menggambarkan kearifan lokal yang tiada tara harganya.

Jumlah kunjungan: 92 kali

Leave a Reply

Your email address will not be published.