Peningkatan Kemampuan Berbicara Bahasa Jerman dengan Teknik Permainan Pyramida

Sampai saat ini kemampuan berbicara mahasiswa Bahasa Jerman semester dua Unimed masih rendah. Berdasarkan  hasil DPNA (Daftar Peserta dan Nilai Akhir) tahun 2014/2015. Berdasarkan tes yang telah kami lakukan kepada mahasiswa bahasa jerman, rata-rata kemampuan berbicara mahasiswa   adalah 6,7. Hal ini merupakan masalah yang cukup serius karna standar kelulusan kemampuan berbicara bahasa Jerman,  7,0. Berdasarkan hasil wawancara dengan dosen pengajar keterampilan berbicara bahasa Jerman diperoleh informasi bahwa motivasi belajar mahasiswa yang cukup rendah. Selain itu, mahasiswa juga masih banyak yang enggan menggunakan bahasa Jerman sebagai praktiknya di kelas. Maka dari itu diperlukan teknik lain untuk meningkatkan motovasi mahasiswa untuk berbicara dalam bahasa Jerman saat dikelas maupun diluar kelas. Teknik permainan Pyramida merupakan salah satu teknik permainan berbahasa di mana beberapa orang mahasiswa atau kelompok mahasiswa bermain tebak ide pokok. Untuk menjalankan teknik pyramida, perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:

  • Setiap mahasiswa membentuk kelompok yang terdiri dari tiga orang yang masing-masing bertugas : satu orang sebagai pengarah, dan dua orang sebagai penebak.
  • Dosen memberikan kata yang harus ditebak kepada mahasiswa yang bertugas sebagai pengarah.
  • Batas waktu untuk setiap ide dalam permainan ini adalah tiga menit untuk setiap kelompok menyampaikan kembali ide pokok.

Maka dari itu perlu dibahas bagaimana meningkatkan kemampuan berbicara (sprechfertigkeit) mahasiswa Bahasa jerman menggunakan teknik permainan pyramida.

Landasan Pembelajaran Bahasa Jerman

Kemampuan berbahasa dalam Bahasa jerman mencakup empat aspek penting, yakni, mendengar, berbicara, membaca dan menulis. Dari keempat aspek tersebut kmpetensi berbicara perlu dilakukan perbaikan dalam pengajaran , baik metode maupun penerapannya. Hal ini tertulis didalam silabus Bahasa jerman (2004)

Pengertian Berbicara

Rosdiana (2005:21) menyatakan bahwa berbicara merupakan bentuk perilaku manusia yang memanfaatkan faktor fisik, psikologis, neurologis, semantic dan linguistic, pertama faktor fisik, yaitu alat ucap untuk menghasilkan bunyi Bahasa,kedua faktor spikologis dapat mempengaruhi terhadap kelancaran berbicara.

Keterampilan Berbicara

Tarigan (2007:3) menyatakan bahwa berbicsara adalah suatu kemampuan yang sudah dimiliki sejak kecil yang harus dikembangkan. Berbicara merupakan salah satu keterampilan yangs angat penting dan pengembangannya harus dioterapkan dengan berkomunikasi dalam proses mengajar. Keterampilan berbicara ini memerlukan metode dan teknik yang mendukung Antara dosen dan mahasiswa.

Teknik Permainan Pyramida

Pyramida adalah teknik pendidikan untuk semua anak yang berusia antara 21/2 hingga 7 tahun. Teknik ini memiliki sejunmlah ciri meliputi rangsangan bahasa, bercerita secara interaktif, kegiatan bermain dan pembelajaran inisiatif tambahan, kegiatan untuk anak yang berbakat, dan pelajaran tambahan (Van Kuyk,2003).teknik permainan pyramid didasarkan pada sebuah teori baru:gabungan teori piaget dan Vygotsky yang menjangkau jauh ke luar karya mereka, Dynamic System Theory (Teori Sistem Dinamis) (Fischer & Bidell, 2006; Van Geert,1998).

Proses Pelaksaan kemampuan Berbicara dengan Teknik Pyramida

Setelah dilakukan penelitian selama pertemuan tiga kali di Prodi Pendidikan Bahasa Jerman Unimed Semester II dengan menerapkan model pembelajaran dengan teknik Permainan Pyramida pada keterampilan berbicara bahasa Jerman. bahwa model permainan Pyramida dalam proses pembelajaran di kelas diterapkan dengan langkah-langkah sebagai berikut: Pertama-tama Dosen membuka pelajaran dengan salam. Setelah itu Dosen memberikan materi pemebelajaran. Dosen membagi mahasiswa untuk berpasangan dengan teman 3 orang lainnya agar mempersingkat waktu. dosen kemudian membagikan  untuk mahasiswa yang menjadi pengarah, sedangkan 2 orang lagi sebagai penebak kata tersebut.kemudian dosen dan mahasiswa menetapkan siapa yang menjadi pengarah dan siapa yang menjadi penebak.kemudian penebak mulai menebak kata yang ada pada kertas pengarah dalam waktu yang telah ditentukan yakni Selama tiga menit, kemudian ketika sudah tertebak masing-masing dari mereka membuat kalimat dari kata tersebut. Kemdian dosen memberikan motivasi penjelasan dari permainan pyramida tersebut dan mengaitkannya dengan materi yang mereka bahas. Dengan interaksi tersebut diharapkan mahasiswa mampu memahami gambaran materi yang diberikan. Dosen dan mahasiswa merefleksikan pada pertemuan terakhir. Dengan demikian, model Permainan Pyramida dapat dijadikan salah satu alternatif bagi pengajar bahasa Jerman keterampilan mendengar mahasiswa dikelas.Model pembelajaran Pyramida ini mampu memotivasi mahasiswa untuk meningkatkan aktivitas mahasiswa dikelas.Dan dalam aktivitas mahasiswa selama pembelajaran permainan Pyramida benar-benar memperdayakan potensi mahasiswa untuk mengaktualisasikan pengetahuan dan keterampilannya.

 

Tulisan kiriman Nurhajijah Nasution, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Jerman Unimed – Judul PKM “MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA(SPRECHERTIGKEIT) MAHASISWA SEMESTER II PRODI PENDIDIKAN BAHASA JERMAN MENGGUNAKAN TEKNIK PERMAINAN PYRAMIDA”

Narasumber : Yuni Sari Amisryah ( 21 ) sebagai ketua PKM-P, Andina Lafiza Barus (21 ) sebagai anggota, Nurhajjiah Nasution (20) sebagai anggota, dan Risnovita Sari, S.,Pd, M.Hum (43) sebagai dosen pembimbing kegiatan PKM-P.

Jumlah kunjungan: 28 kali

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published.