Medan – kreatifonline.com, Siapa yang tak kenal Sumatera Utara, provinsi yang memiliki banyak potensi wisata dan keanekaragaman budaya yang menarik untuk diulas. Dihimpit Samudera Hindia di bagian barat dan Selat Malaka di bagian Timur, dipenuhi dengan hutan hujan tropis dijajaran Bukit Barisan, dan aliran sungai yang mengalir dari pegunungan.

Sumatera Utara juga memiliki beragam pantai yang eksotis dan danau tekto vulkanik purba terbesar di Asia Tenggara.

Dari sisi komposisi penduduk, Sumatera Utara merupakan provinsi dengan beragam suku budaya seperti  Batak, Nias, dan Melayu sebagai penduduk asli wilayah ini. Daerah pesisir timur Sumatera Utara pada umumnya dihuni oleh orang-orang Melayu. Pantai barat dari Barus hingga Natal, banyak bermukim orang Minangkabau. Wilayah tengah sekitar Danau Toba, banyak dihuni oleh Suku Batak yang sebagian besarnya beragama Kristen. Suku Nias berada di kepulauan sebelah barat. Sejak dibukanya perkebunan tembakau di Sumatera Timur, pemerintah kolonial Hindia Belanda banyak mendatangkan kuli kontrak yang dipekerjakan di perkebunan. Pendatang tersebut kebanyakan berasal dari Etnis Jawa dan Tionghoa. Pusat penyebaran suku-suku di Sumatra Utara, sebagai berikut:

1. Suku Melayu Deli : Pesisir Timur, terutama di kabupaten Deli Serdang, Serdang Bedagai, dan Langkat

2. Suku Batak Karo : Kabupaten Karo

3. Suku Batak Toba : Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Toba Samosir

4. Suku Batak Pesisir : Tapanuli Tengah, Kota Sibolga

5. Suku Batak Mandailing/Angkola : Kabupaten Tapanuli Selatan, Padang Lawas, dan Mandailing Natal

6. Suku Batak Simalungun : Kabupaten Simalungun

7. Suku Batak Pakpak : Kabupaten Dairi dan Pakpak Barat

8. Suku Nias : Pulau Nias

9. Suku Minangkabau : Kota Medan, Pesisir barat

10. Suku Aceh : Kota Medan

11. Suku Jawa : Pesisir Timur & Barat

12. Suku Tionghoa : Perkotaan pesisir Timur & Barat.

Keseragaman seni dan budayanya benar-benar membuat kawasan ini menjadi surga bagi para ilmuwan sosial dan peneliti budaya. Ini salah satu, harta karun tradisi dan budaya  yang siap untuk dikembangkan, Sumatera Utara memiliki makam kuno Raja-Raja Batak, tarian yang unik, upacara, seni dan kerajinan.Sumatera Utara juga merupakan salah satu provinsi di Indonesia dengan kekayaan flora dan fauna cukup beragam seperti burung, kupu-kupu, kerbau dan rusa. Salah satu hewan yang dibanggakan Sumatera Utara adalah Orang Utan yang dikumpulkan dalam Rehabilitation Centre di Taman Nasional Gunung Leuser, tempat ini berbatasan dengan Sungai Bahorok yang mengalir cepat hingga ke Selat Malaka. Wilayah ini juga menghasilkan lebih dari 30% komoditas ekspor Indonesia dan menangani sekitar 60% dari mereka, sehingga penting dalam perekonomian Indonesia. Tembakau, minyak sawit, teh dan karet yang diproduksi dalam jumlah besar, terutama sekitar Medan di bagian utara provinsi ini.

Sarana dan Prasarana

Sarana dan prasarana perhubungan di provinsi Sumatera Utara terutama di kota Medan terdiri dari prasarana perhubungan darat, laut dan udara. Di samping itu juga tersedia prasarana listrik, gas, telekomunikasi, air bersih, dan kawasan industri Medan. Untuk sarana penginapan sendiri Provinsi Sumatera Utara baik dari pemerintah dan swasta sudah membangun sebanyak 36 hotel berkelas bintang 3 dan 5 di kota Medan dan sekitarnya guna menarik wisatawan domestik dan asing untuk memasukkan Sumatera Utara dalam list tempat kunjungan wisata mereka.

Sedangkan untuk prasarana jalan, di Sumatera Utara terdapat 2.098,05 kilometer jalan negara, yang tergolong mantap hanya 1.095,70 kilometer atau 52,22 persen dan 418,60 kilometer atau 19,95 persen dalam keadaan sedang, selebihnya dalam keadaan rusak. Sementara dari 2.752,41 kilometer jalan propinsi, yang dalam keadaan mantap panjangnya 1.237,60 kilometer atau 44,96 persen, sementara yang dalam keadaan sedang 558,46 kilometer atau 20,29 persen. Halnya jalan rusak panjangnya 410,40 kilometer atau 14,91 persen dan yang rusak berat panjangnya 545,95 kilometer atau 19,84 persen.

Ketika diwawancarai di kampus, Jaka Medan Intelegensia 2011, Dede Purwadi,”Harapan saya terhadap pemerintah untuk lebih memperbaiki infrastuktur pariwisata kota Medan serta Sumatera Utara, agar wisatawan domestik dan mancanegara nyaman tertarik berkunjung ke objek wisata. Banyak objek wisata Sumut ini belum terpublikasikan, salah satu contohnya adalah Tangkahan, banyak yang belum mengetahui keindahan, panorama dan keberadaan objek wisata itu. Padahal kita pasti akan mendapatkan keindahan yang tidak kalah dengan objek wisata di luar Daerah, misalnya di sana ada Kupu-kupu indah yang siap menyambut, menaiki Gajah hutan dan berpetualang mengarungi riak air sungai melalui arung jeram.”

Izal, mahasiswa Universitas Negeri Medan (UNIMED) menambahkan, ”Saya mengeluhkan infrastuktur yang terdapat pada salah satu objek wisata di Sumatera Utara. Misalnya, objek wisata di Daerah Berastagi, jalan menuju objek wisatanya rusak, sering longsor hingga mengakibatkan macet, terkadang saya kapok untuk berkunjung kembali. Seharusnya pemerintah memperhatikan infrastuktur yang ada di semua objek wisata di Sumatera Utara. Karena wisatawan akan merasa tidak puas dengan fasilitas yang dimiliki objek wisata di Sumatera Utara. Apalagi saya dan keluarga itu seminggu sekali pasti ada waktu untuk berlibur dan tujuannya adalah pariwisata di kota Medan dan sekitar. Tapi so far objek wisata yang ada di Sumatera Utara tidak kalah menarik dengan objek wisata lainnya yang ada di Indonesia maupun di Luar Negeri.”

Perhatian Khusus

Sebenarnya Sumatera Utara memiliki banyak sekali obyek wisata yang dapat dikembangkan dan dipertahankan keberadaannya. Salah satu contohnya adalah danau toba. Danau Toba adalah ikon wisata Sumatera Utara yang paling dibanggakan dan dijual ketika kita membuka situs wisata Sumatera Utara di dunia maya. Namun, ketika memijakkan kaki di Danau Toba apa kenyataan yang anda lihat. Kemunduran terjadi di beberapa lini yang cukup krusial. Bayangkan saja kini danau toba berada di posisi ke 30 dalam daftar New7wonder yang sebelumnya berada di posisi 26. Hal ini disebabkan banyak masyarakat sekitar maupun investor yang melakukan kekerasan terhadap lingkungan. sebagai contohnya kawasan wisata Danau Toba dijadikan sebagai tempat pembuangan sampah dan tempat pemandian binatang ternak. “Danau Toba kini dalam keadaan yang rusak parah”, begitulah kesimpulan penelitian yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup.

Ketika dilansir dari Media Online Seputar Toba pakar ekonomi Sumut DR Polin Pospos sekaligus salah satu penggagas Danau Toba masuk nominasi 7 keajaiban dunia, didampingi Ketua Komisi Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Provinsi Sumatera Ir Hasudungan Butarbutar MSi. Menurutnya, turunnya posisi Danau Toba dari ranking tersebut salah satunya dikarenakan banyaknya limbah yang mencemari Danau Toba, terutama limbah dari makanan ikan dari kerambah yang ada di Danau Toba serta limbah dari masyarakat sekitar. Seharusnya kerambah itu ditata dengan baik dan diatur banyaknya. Kalau tidak ditata, pencemaran Danau Toba semakin mengkhawatirkan.

Inilah realita ikon pariwisata yang digaungkan Pemerintah Sumatera Utara dimana-mana. Jika pemerintah tidak ingin kehilangan ikon tersebut mau tidak mau pemerintah harus memberi perhatian khusus akan keberlangsungan Danau Toba. Jika tidak maka pemerintah pun harus siap dengan resiko kehilangan penghasil devisa daerah.

Statistik Kunjungan Wisatawan

Menurut data dari Badan Pusat Statistik Sumut, jumlah wisatawan mancanegara  yang berkunjung ke Sumut melalui 2 (dua) pintu, yaitu Bandara Polonia (17,24%) dan Pelabuhan Tanjung Balai Asahan (1,00%). Sedangkan dari Pelabuhan Laut Belawan mengalami penurunan sebesar 36,44%. Pada Januari mencapai 15.757 orang. Sementara pada Februari mencapai 17.034 orang atau meningkat 8,10%. Pada tahun 2010 mencapai 14.067 orang, mengalami penurunan sebesar 20,30% dibanding yang datang pada bulan Desember 2009 yang mencapai 17.649 orang. Namun jika dibandingkan dengan bulan yang sama tahun 2009, jumlah wisatawan mancanegara pada Januari 2010 mengalami peningkatan sebesar 9,24 persen, yaitu dari 12.877 orang menjadi 14.067 orang.

Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Sumatera Utara pada Januari 2010 mencapai rata-rata 37,07%, atau turun 0,34 poin dibanding TPK hotel Desember 2009 sebesar 37,41%. Rata-rata lama menginap tamu asing dan domestik pada hotel berbintang di Sumatera Utara di bulan Januari 2010 mencapai 1,44 hari, yang mengalami peningkatan 0,05 hari dibandingkan rata-rata lama menginap tamu pada bulan Desember 2009.

Jumlah penumpang domestik yang berangkat dari Sumatera Utara melalui Bandara Polonia Medan selama bulan Januari 2010 mencapai 211.555 orang, atau naik sebesar 13,36% jika dibandingkan dengan bulan Desember 2009 yang mencapai 186.619 orang. Jumlah penumpang tujuan luar negeri (internasional) bulan Januari 2010 mencapai 44.732 orang, atau turun 12,57% dibanding bulan sebelumnya. Demikian pula kedatangan penumpang dari luar Negeri di Bulan Januari 2010 mengalami penurunan 4,86%.

Jumlah penumpang angkutan laut antarpulau (dalam negeri) yang datang pada bulan Januari 2010 tercatat sebanyak 4.728 orang, atau turun hingga 62,81% dibandingkan bulan sebelumnya, yaitu sebanyak 12.713 orang. Sedangkan jumlah penumpang yang berangkat pada bulan Januari 2010 tercatat sebanyak 15.217 orang, atau mengalami peningkatan 293,92% dibandingkan bulan sebelumnya sebanyak 3.863 orang.

Sementara itu, Daniel Hill, wisatawan mancanegara asal Amerika Serikat mengatakan, Medan menjadi daerah tujuannya, karena dekat kemana-mana. Mulai dari Bukit Lawang, Danau Toba, Berastagi dan tentu saja Aceh. Daniel juga menjelaskan bahwa Sumut memiliki daerah yang menjadi icon tersendri, seperti Danau Toba dan Bukit Lawang.

Menurut pakar pariwisata, Hetty Claudia Nainggolan S.ST.Par, “Dilihat dari satu sisi, pariwisata tidak dapat berdiri sendiri, tapi apabila dilihat dari sisi lain seperti, bagian ekonomi pasti ada kenaikannya dan ada hubungannya dengan masyarakat sekitar. Salah satu dampaknya adalah jika pariwisata berkembang maka lingkungan sekitar akan berkembang pula. Kondisi pariwisata sumut pasti ada kemajuannya, akan tetapi apabila dilihat dari satu-satu sisi pasti ada kelebihan dan kekurangan.”

“Hal yang mendasari pariwisata adalah yang pertama dari pihak pengelolah, pengelolah dari pihak pemerintah dan swasta. Contohnya museum, museum Negeri pasti berbeda dengan museum Rahmat galeri, dari segi bangunan, pengaturan, pengelolaannya dan fasilitasnya berbeda. Cara dosen untuk membuat mahasiswa care terhadap objek wisata dengan cara memupuk hati mereka agar ada rasa memiliki terhadap wisata di daerahnya.” Sambungnya .

Jumlah kunjungan: 765 kali

Leave a Reply

Your email address will not be published.