Medan – Kreatifonline.com, Mengintip dari jendela mobil yang melewati jalan aspal sempit berkelok, sudah tampak keindahan danau biru dengan korden kabut tipis. Bening danau seumpama cermin langit yang tengah menikmati keelokannya di permukaan air tenang.

Beberapa saat, mobil yang membawa beberapa sastrawan se-Indonesia pun merapat ke Hotel Darma Agung di Perapat, sementara mulai turun ke barat. Bayang-bayangnya memantul di bening air yang dari dekat berwarna kehijauan. Gerimis tipis menambah romantisme suasana dan membangkitkan gairah sastra para sastrawan, namun semua itu masih terkungkung lelah sisa perjalanan enam jam keberangkatan dari Medan tadi. Terlebih Mr. Victor, sastrawan dari Rusia sempat merasa ngeri melewati perjalanan bertikungan curam dengan ukuran pas-pasan. Maka semua sepakat sejenak beristirahat.

Suatu kebanggaan dan kehormatan teersendiri bagi saya karena telah diperhitungkan ke dalam jajaran sastrawan dan mendapat undangan menghadiri acara Pesta Penyair se-Indonesia di Danau Toba bersama tiga belas sastrawan dari berbagai daerah itu. Sebab tidak semua orang berkesempatan untuk berkenalan dan liburan bersama sastrawan se-Indonesia yang dananya dibiayai oleh Dinas Pariwisata Sumatera Utara.

Menurut sastrawan Medan sekaligus panitia pelaksana yang akrab dipanggil bang Afrion, acara rekreasi ke Danau Toba ini merupakan acara puncak sekaligus penutup rangkaian acara Pesta Penyair se-Indonesia yang berlangsung antara tanggal 19-22 November 2009. Acaranya meliputi lomba baca puisi, pagelaran seni drama/teater, musikalisasi puisi serta seminar dan diskusi oleh Mr. Victor Pogadaev yang merupakan sastrawan asal Rusia yang mengajar di salah satu Universitas Malaysia dan Brunei Darussalam sebagai pemateriunya. Acara ini diadakan untuk menjamu sastrawan dari luar kota, mempererat silaturahmi antar sastrawan Indonesia, sharing pengalaman sastra sekaligus memperkenalkan objek pariwisata di Sumatera Utara “Dari hasil kegiatan ini nantinya karya-karya para sastrawan yang terpilih Insya Allah akan dibukukan sehingga bisa dinikmati oleh masyarakat penikmat sastra,” tambahnya.

Lepas ashar dan berbenah, sastrawan bersama-sama menikmati keindahan alam Kota Parapat, sembari mengabadikan kenangan yang bagi kami sangat berkesan. Di pinggir jalan, pedagang souvenir khas Parapat tak henti menawarkan pernik seperti gelang, kalung, syal, pakaian dan beragam accessories unik.

Sembari berjalan kaki sore itu para sastrawan yang berasal dari Bandung, Medan, Palembang, Labuhan Batu, Rusia dan sebagainya memanfaatkan waktu untuk sharing tentang hal-hal sastrawi, saling bercerita corak sastra dan perkembangan sastra di daerah asal masing-masing. Berkaitan dengan hal itu, Cahaya (24) sastrawan Palembang mengatakan bahwa di daerahnay apresiasi terhadap sastra sangat besar, honor karya yang dimuat di media massa relative lebih tinggi, namun animo masyarakat Palembang masih minim dibandingkan masyarakat Medan yang sangat tertarik pada sastra. Sedangkan menurut sastrawan asal Bandung, Eka (21) berpendapat, di jawa animo masyarakat lumayan tinggi meski jumlahnya tak merata. “Sastra di Jawa lebih menekankan pada pencitraan-pencitraan benda, sedangkan di Medan pada metaphor-metafor alam dengan keindahan bahasa yang lugas,” tuturnya.
Diantara manisnya percakapan, ada kata-kata bijak yang diungkapkan oleh sastrawan Medan-Raudah Jambak. “Karya bisa membuat seseorang terkenal dan melambung, namun kesombongan akan membuatnya jatuh. Rendah hatilah yang membuatnya abadi.”

Sampai di Puri Soekarno, senja kian keemasan. Siluet-siluetnya melukis gurat-gurat jingga menantang mata untuk terus menikmati keindahannya. Suasana temaram melingkupi bangunan klasik bercat putih nan kokoh. Konon katanya di tempat ini Ir. Soekarno, Presiden pertama RI pernah diasingkan. Buru-buru saya abadikan kenangan dalam senja bersama para sastrawan sebelum mentari lelap di peraduan. Seperti burung-burung yang akan pulang, kami pun bergegas kembali ke hotel bersama rintik hujan yang tiba-tiba datang.

Malam hari Parapat diguyur hujan, dingin yang menusuk kulit membuat saya memilih beristirahat  di kamar setelah makan malam. Sedang beberapa sastrawan lain berkumpul di beranda hotel menikmati kelip malam Danau Toba. Malam itu tampak syahdu dihiasi rinai hujan dan semilir angina malam.
Hari kedua di Danau Toba, setelah menikmati sarapan di restoranhotel sembari berbincang dan menyeruput secangkir kopi lokal, kami berangkat ke Tomok di Samosir, pulau yang berada di tengah-tengah Danau Toba dengan menumpangi kapal.
Panorama sepanjang perjalanan di atas air sangat memukau. Kapal berjalan tenang di atas air yang kehijauan dan cukup dalam. Di pinggir danau anak-anak bermandi, beradu canda tawa di anatara teratai dan jarring ikan pora-pora, ikan tawar yang hidup di Danau Toba. Sembari menghirup aroma sastra di tengah Danau Toba, awan kumulus dan sirrus sempat tertangkap kamera, sungguh panorama yang menggambarkan keagungan Tuhan.

Tomok, yang kala itu saya sebut “Kota Belanja” syarat dengan riuh aktivitas jual-beli. Sepanjang mata memandang, toko-toko berjajar menjual berbagai souvenir khas Danau Toba dengan harga bersaing. Mata saya terus menggerayangi tiap sudut pasar, berburu buah tangan. Begitu pula dengan sastrawan lain hingga  tak sadar kami semua terpisah diantara keramaian pasar dan tanpa sengaja pula berkumpul di tempat Objek Wisata Budaya Sigale–gale karena tertarik mendengar dendang musik khas Toba, menyaksikan atraksi tradisional Sigale-gale, patung kayu yang bergerak dan menari mengikuti alunan music tradisonal Batak Toba. Beberapa pengunjung turut pula manortor (menari Tor-tor) bersama Sigale-gale.
Setelah puas berkeliling dan belanja para sastrawan kembali ke hotel dengan menjinjing kantung plastic penuh dengan buah tangan. Siang itu rna matahari begitu sempurna, cerahnya memantulkan cahaya ke air, dengan riak-riakan dibelah kapal, kilaunya seperti permata berkejaran di permukaan danau. Panas yang memanggang kulit tersaput angina sepoi-sepoi membuat ssuasana tetap sejuk.

Dua hari berbaur dengan aroma sastra di Danau Toba serasa begitu menggugah inspirasi, hingga memancing orgasme sastra para sastrawan memuncak dan melahirkan karya-karya ekologis Danau Toba. Namun waktu jua yang menyisihkan pertemuan cukup sampai di situ. Segala kenikmatan mata terpaksa harus ditinggalkan dan disimpan dalam benak beserta aromanya yang terus terbawa hingga kembali ke kota asal, menyisakan geliat-geliat kenangan yang tak terlupakan.

Jumlah kunjungan: 1234 kali

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published.