Kreatifonline.com “Don’t judge the book by its cover” adalah pepatah terkenal yang selalu eksis menekankan bahwa sesuatu tidak dapat dinilai dan di ukur dari apa yang kelihatannya dari luar. Namun, pepatah ini sepertinya tidak cocok untuk diterapkan bagi sebagian kaum di dunia. Di Indonesia, khususnya Sumatera Utara yang dipenuhi orang-orang dari berbagai suku dan agama, kerap kali penampilan luar begitu menentukan identitas seseorang. Wanita yang berjilbab sudah pasti ‘Islam’. Wanita yang tidak mengenakan jilbab sudah pasti ‘Kristen’. Memang tidak bisa dijamin semuanya dipastikan dengan identitas tersebut, hanya saja siapapun yang berkunjung ke tanah deli tersebut dapat membuktikannya.
Sebagai contoh, pernah saya dan kedua teman saya yang keduanya muslim pergi ke Masjid. Kemudian saya membaca spanduk bertuliskan “Non Muslim dilarang masuk”. Beberapa minggu kemudian, teman saya mengajak untuk mandi di kamar mandi masjid tersebut. Siapa sangka, ia akhirnya memiliki ide untuk mendandani saya menjadi wanita muslim, dan akhirnya kami sama-sama bebas masuk ke dalam lingkungan masjid. Kasus lain terjadi lagi. Suatu hari saya pernah berkenalan dengan seorang teman lelaki bernama William. Wajahnya oriental, kulitnya putih dan rambutnya hitam lurus. Lalu, saya bertanya “ kamu jemaat gereja mana?”, “ maaf, saya muslim.” jawabnya. Saya menjadi sadar bahwa ternyata saya juga adalah pelaku “ menilai seseorang dari sampul”.
Tidak ada yang dapat memungkiri bahwa setiap individu manusia terlahir dengan etnis, warna kulit, paham dan kepercayaan yang berbeda satu sama lain. Tetapi Indonesia adalah salah satu negara paling sensitif apabila agama masuk didalam ranah pembahasan dan dialog publik. Perdebatan tentang agama tidak akan ada habisnya, bahkan tidak dapat dipungkiri bahwa dampaknya meluas kemana-mana. Dalam konteks ini, agama Kristen dan Islam adalah kedua agama yang paling sering diperdebatkan. Masing-masing tokoh agama sibuk mencari kebenaran atas ajaran di dalam kitab lalu menafsirkannya dengan cara berbeda pula. Salah satu perdebatan yang belum menemukan titik temu adalah persoalan tentang siapa anak yang dikurbankan oleh Abraham (red : Alkitab Kristen) atau Ibrahim (red : Kitab Quran) di Tanah Moria. Ismail-kah atau Ishak-kah?
Didalam kitab suci Kristen pada Kejadian 22 : 2, tertulis Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.” Kemudian jika kita menelaah siapa yang dikurbankan kepada Allah dalam versi Kitab Quran, jelas bahwa Ismail sempat menjadi anak tunggal Ibrahim sebelum Sara, isterinya melahirkan Ishak baginya. Apalagi tertulis bahwa Allah meminta Ibrahim mengurbankan anaknya yang tunggal. Sesungguhnya, jika kita menelaah kedua kitab tersebut, maka akan timbul banyak pertanyaan yang berhubungan dengan perbedaan yang ada. Padahal jelas diketahui bahwa Kitab Alquran menggenapi perjanjian-perjanjian didalam alkitab Kristen, apalagi dibuktikan dengan pengakuan Islam terhadap adanya Isa Almasih didalam kitab Qur-an. Lantas, mengapa banyak perbedaan ditemukan? Terlepas dari setiap perbedaan tersebut, pernahkah masing-masing dari kita merenungkan bahwa agama yang kita anut lebih benar dari agama yang di anut oleh orang lain? Atau, pernahkah kita menghitung berapa banyak ajaran di agama kita yang tidak dijalankan oleh teman-teman kita dari agama lain?
Di Sumatera Utara, beberapa minggu belakangan ini tersandung beberapa kasus mengenai keberagaman yang sempat mengguncang perdamaian antar etnis dan agama. Salah satunya adalah aksi demonstrasi organisasi masyarakat islam yang menuntut Pemerintah Daerah Deli Serdang menjalankan ketetapan yang sudah tertulis di Perbup Deli Serdang No 68/2016 bahwa penataan kawasan perkotaan Kecamatan Lubuk Pakam sebagai ibukota Kabupaten Deli Serdang, telah mengatur, Jalan Lintas Sumatera hanya diperbolehkan untuk restoran dan atau rumah makan dengan spesifikasi halal. Masyarakat tersebut meminta Rumah Makan Babi Panggang Karo (BPK) agar ditutup karena dianggap melanggar spesifikasi halal, terlebih letaknya tidak jauh dari kantor Bupati Deli Serdang. Netizen yang mengetahu berita tersebut menganggap FPI (Front Pembela Islam) terlalu berlebihan dalam meluncurkan aksi protes yang disertai spanduk bertuliskan HARGAI KAMI UMMAT MUSLIM, BABI PANGGANG KARO (BPK) JANGAN JADI SUMBER KONFLIK. Sebagian dari mereka menilai bahwa nilai Bhineka Tunggal Ika sudah dicemari dengan tindakan ini. Namun, sebagian orang islam berpikir bahwa adanya rumah makan babi meresahkan umat islam yang lewat di depannya.
Siapapun tahu bahwa adalah haram bagi umat islam untuk mengkonsumsi daging babi. Jelas tertulis di dalam surat Al-Maa-Idah 5:3 , Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Sebenarnya juga tertulis didalam Alkitab tepatnya di kitab Imamat 11:7, “Demikian juga babi hutan, karena memang berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu.” Namun, setelah adanya perjanjian baru, setelah Pasca Lahirnya Kristus Yesus, maka pembenaran bahwa mengkonsumsi babi bukan sebuah masalah tertulis di Matius 15:11; 18-20a : “Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang… Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat. Itulah yang menajiskan orang”.
Perselisihan yang terjadi di Sumatera Utara tidak sekali ini terjadi, khususnya yang berkaitan dengan agama dan etnis. Bahkan akibat pelarangan Rumah Makan BPK ini, timbul kabar burung yang mengungkapkan kekesalan orang Karo Kristen terhadap tindak ini. Sempat juga diungkapkan bahwa Masyarakat Karo mengancam akan menutup seluruh usaha Rumah Makan Muslim yang ada di tanah karo. Akankah perselisihan ini berlanjut semakin parah? Semoga tidak. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara pasti dapat mengatasi perbedaan dan perselisihan ini.
Apabila kita melihat perbedaan-perbedaan yang tertulis di kedua kitab suci tersebut, maka sulitlah untuk melepaskan diri dari perpecahan. Benar bahwa kita sebagai umat beragama harus menjalankan ajaran yang tertulis dan diajarkan pada agama masing-masing, namun sekali lagi kita harus mengingat bahwa mengusik kehidupan orang lain, berbuat kehajatan,melakukan fitnah dan dosa-dosa lainnya juga bukan sesuatu yang dibenarkan, sekalipun kita melakukannya pada agama lain. Bukankah kita sama-sama diciptakan sebagai umat manusia? Satu hal yang membuat miris adalah apabila dendam terpendam terus dibiarkan, tanpa diluruskan melalui dialog yang dapat membuka pikiran kita masing-masing sebagai umat beragama yang hidup rukun dalam bermasyarakat. Sekali lagi, perlu dibaca dalam sejarah, keturunan siapakah kita? Dalam sejarah, Bangsa-bangsa yang dilahirkan oleh keturunan Nuh adalah Bangsa di Timur Tengah, Eropa, Afrika dan Asia. Lantas, apakah kita pernah menduga kalau sebenarnya kita adalah Bangsa-Bangsa besar dengan satu Tuhan yang Maha Agung? Namun, Agama telah membuat kita terpisah. Satu hal mencurigakan adalah siapa yang mengajari kita Agama? Apakah Nenek Moyang yang sempat berperang pada masa dahulu? Maka dari itu, tidak ada sampul yang membedakan siapa yang lebih beriman, siapa yang lebih benar dan siapa yang salah. Manusia dilahirkan telanjang dan akan kembali dengan tubuh yang telanjang pula. Intinya, Tuhan yang menciptakan manusia yang serupa hanya satu di dunia.

Jumlah kunjungan: 91 kali

Leave a Reply

Your email address will not be published.