Medan –  kreatifonline.com, Melalui Undang – undang nomor 22 tahun 1999 yaitu penyelenggaraan otonomi daerah dilaksanakan dengan memperhatikan aspek demokrasi, keadilan, pemerataan serta potensi dan keanekaragaman daerah, sehingga ke seluruh kewenangan yang berada di daerah kabupaten dan daerah kota.

Hingga revisi selanjutnya menjadi Undang – undang nomor 32 tahun 2004. perubahan dalam hal tersebut mendesak pemerintah pusat untuk mengubah pemerintahan sentralistik menjadi desentralistik dalam wujudnya otonomi daerah.

Maka dengan hal demikian Kabupaten induk Asahan melakukan pemekaran daerah baru. Kabupaten Asahan yang memiliki luas 4624,41 Km2 yang terdiri dari 20 kecamatan dan 276 Desa/kelurahan tersebut merupakan wilayah yang sangat lua sehingga kemudian Kabupaten Asahan ingin memekarkan wilayahnya menjadi dua  wilayah yaitu Kabupaten Asahan yang beribukota di Kisaran dan Kabupaten Batu Bara yang beribukota di Lima Puluh.

Sejarah Awal terbentuknya wilayah Batu Bara.

Wilayah Batubara mulai di huni penduduk pada tahun 1720 M. Ada Lima suku yang mendiami wilayah itu, yakni Lima Laras, Tanah Datar, Pesisir, Lima Puluh, dan Bogak. Kelima suku tersebut di pimpin seorang datuk yang memiliki wilayah teritorial tertentu.

Konon nama Batu Bara berasal dari nama sebuah lokasi yang dulunya terdapat sebuah batu yang dapat mengeluarkan cahaya sendiri yang membara sekaligus dijadikan nama daerah dan tanda (Kubah Batu Bara).

Batu Bara masih menjadi bagian dari Kerajaan Siak dan Johor. Makanya setia Datuk kepala Suku mendapat pengangkatan dan capnya dari Sultan Siak. Untuk mewakili kepentingan kerajaan Siak dan mengepalai para datuk di seluruh Batu Bara, diangkat seorang bendahara secara turun menurun.

Di bawah bendahara dibentuk dewan yang anggotanya dipilih oleh para datuk Kepala Suku. Anggota dewan itu adalah seorang Syahbandar (suku Tanah Datar). Juru tulis dipilih dari suku Lima Puluh. Mata-mata dipilih dari suku Lima Laras dan penghulu Batangan di pilih tetap dari suku Pesisir. Data kerajaan Haru menyebutkan bahwa Batu Bara salah satu daerah yang wajib menyetor upeti kepada kerajaan ini.

Istana Lima Laras

”Karena daerahnya bernama Istana Lima Laras. Yang namanya dulu adalah Istana Niat Lima Laras oleh Datuk Muhammad Yuda”, ucap Bapak Azminsyah juru kunci Istana Lima Laras. Bangunan berbentuk rumah panggung ini dibuat dengan mengadopsi desain Eropa, Cina dan Melayu. Istana yang berukuran 40 x 35 M2 dan terletak di atas tanah seluas 102 x 98 M2. Istana Lima Laras yang berada di Desa Lima Laras, Kecamatan Tanjung Tiram, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara merupakan nazar atau niat dari Datuk Matyoeda Sridiraja atau orang sering memanggilnya dengan nama Datuk Muhammad Yuda putra tertua raja sebelumnya, Datuk H Djafar gelar Raja Sri Indra. Batas -batas wilayah dari Istana Lima Laras adalah Silau Laut, sungai Asahan dan atas tanah jawa atau Simalungun.

Berawal dari larangan berdagang untuk para raja oleh Pemerintah Hindia Belanda yang ditentang oleh Datuk Matyoeda. Datuk Matyoeda sendiri adalah, Raja Kerajaan Lima Laras XII. Tidak ada alasan khusus mengenai hal ini. Namun bila ditinjau lebih jauh lagi, dapat disebabkan karena tindakan Monopoli oleh VOC yang pada saat itu melalangbuana di perairan Sumatera Timur dan Malaka.

Bila ada yang melanggar kebijakan tersebut maka armada beserta isinya ditarik paksa oleh pihak Belanda setelah tiba di Asahan atau tetap berada di Malaka. Datuk Matyoeda sering berdagang ke Malasyia (Malaka), Singapura dan Thailand. Dagangannya berupa Koprah, damar, dan rotan.  Datuk Matyoeda sendiri sering dihadapkan persoalan mengenai kebijakan Pemerintah Hindia Belanda tersebut. Sehingga timbul niat Datuk Matyoeda untuk membangun sebuah Istana apabila setibanya sampai dengan selamat. Sebelumnya pusat pemerintahan kerajaan Lima Laras yang tunduk pada Kesultanan Siak di Riau dan diperkirakan sudah ada sejak abad XVI, sering berpindah-pindah karena belum punya istana permanen. Dan ternyata Datuk Matyoeda dapat berlabuh dengan selamat dan juga memiliki untung besar setelah berdagang tersebut.

Dia kemudian membangun istana itu dengan biaya 150.000 gulden dan memimpin langsung pembangunan istana dengan mendatangkan 80 orang tenaga ahli dari Cina dan Pulau Penang, Malaysia serta sejumlah tukang dari sekitar lokasi pembangunan istana. Matyoeda bersama keluarga dan unsur pemerintahannya mendiami istana sejak 1883, walaupun pada saat itu istana masih belum rampung. Waktu wafatnya pada 7 Juni 1919, sekaligus penanda berakhirnya masa kejayaan kerajaan Lima Laras. Aktifitas di Istana ini berakhir sekitar tahun 1923 yaitu akhir dari pemerintahan Datuk Muda Abdul Roni (Raja ke-XII).  Tahun 1942 tentara Jepang masuk Asahan dan menguasai istana.

Masa Agresi Militer II, istana Lima Laras kembali ke tangan Republik dan ditempati Angkatan Laut Republik Indonesia di bawah pimpinan Mayor Dahrif Nasution.

Istana Lima Laras memiliki empat anjungan yang masing-masing menghadap ke empat arah mata angin. Dan Dua buah meriam berada di depan bangunannya. Lantai bawah dan balai ruangnya terbuat dari Beton sementara lantai dua, tempat keluarga istana tinggal, hanya berlantaikan kayu.  Terdapat beberapa kamar di lantai dua dan tiga yang dihubungkan oleh tangga yang melingkar di tengah-tengah Istana.

Istana lima laras tidak dapat dibandingkan dengan istana maimun (Medan) yang megah dan penuh dengan barang-barang antik yang mahal. Alangkah sayangnya Istana lima laras sendiri kondisinya sangat tidak terawat. Bangunan bercat kayu warna hijau yang dominan ini sudah diambang kehancuran. Kayu-kayu bangunan sudah lapuk, beberapa anak tangga sudah hilang dan semak-semak setinggi orang dewasa menghiasi pekarangan. ditambah beberapa jendela pecah terlihat pada ruangan lantai tiga. Sebagian besar perlengkapan istana sudah hancur atau raib.

Datuk Muhammad Azminsyah, 62, salah seorang cucu Datuk Matyoeda, beruntung masih menyimpan beberapa barang pusaka perlengkapan istana. Seperti tempayan besar dengan ukiran naga, sejumlah barang pecah-belah, dua buah pedang dan sebuah tombak. Barang itu disimpan di rumahnya yang berjarak sekitar 100 meter dari istana. Istana Lima Laras sekarang ini memang tengah dalam tahap perbaikan. Lantai satu dan dua bagian belakang istana sudah diperbaiki dan dicat.

Perbaikan kecil itu sifatnya hanya menunda kehancuran, sebab bangunan utama di bagian depan masih berantakan. Dinding-dinding sudah bercopotan papannya, demikian juga atap dan lantai. Beberapa tiang penyangga yang terbuat dari kayu pun bernasib serupa. Renovasi terakhir yang dilakukan pemerintah tahun 1980-1981 dengan biaya Rp234 juta, saat masih dikelola Kanwil Depdikbud Sumut. Setelah diserahkan ke Pemda Asahan sejak 14 September 1990, praktis tidak ada perbaikan apapun lagi. Padahal upaya melestarikan istana sangat penting mengingat sejarah dan nilai budaya yang dikandungnya.

Istana Lima Laras sendiri berada di sebuah perkampungan nelayan kecil. Akses kendaraan agak sulit karena  jembatan yang menghubungkan jalan ke depan istana terputus. ”Kondisi itu diperparah dengan buruknya prasarana transportasi menuju ke istana yang terletak tidak jauh dari pantai tersebut”, kata tokoh masyarakat Batu Bara, Amrin Almy. Bila ingin mengunjungi Istana tersebut maka harus menggunakan akses Transportasi khusus seperti sepeda motor atau memanggil abang becak yang sering mondar-mandir di Kota Batu Bara -nya.

Apabila melihat sekeliling Istana Lima Laras ini, maka didapatkan makam Datuk Matyoeda dan beberapa makam-makam para keturunan dan sanak keluarganya di sisi samping kanan Istana. Juga didapatkan beberapa makam di depan Istana di samping Masjid yang tak jauh dari Istana Lima Laras. Dua buah meriam yang berukuran besar berbaring kokoh tergeletak di depan Istana.

Bandar Perdagangan Pagurawan

Manusia yang selalu berinteraksi satu dengan yang lain sejak dahulu sampai sekarang mengetahui tentang adanya hubungan kerjasama. Hubungan kerjasama yang dilakukan ini ada yang bersifat lokal maupun kerjasama dengan daerah lain. Salah satu bentuk hubungan kerjasama yang sering terjadi diantara manusia adalah hubungan dagang.

Kemudian perdagangan  berkembang, hubungan  perdagangan yang terjadi belakangan  tidak hanya di dalam satu wilayah saja, namun sudah ke luar daerah dan mencakup pedagang asing. Hal ini didorong oleh kebutuhan hidup manusia yang meningkat terhadap suatu barang. Di masa lalu setiap transaksi dagang yang terjadi pasti berkaitan dengan kapal, pedagang, barang dagangan dan bandar (pelabuhan).

Sejarah Bandar Perdagangan Pagurawan tidak terlepas dari Kerajaan Pesisir. Karena Kerajaan Pesisir berada di daerah Batubara. Kemudian Kerajaan Pesisir merupakan salah satu kerajaan bercorak Melayu yang pernah tumbuh dan berkembang di Sumatera Timur. Kerajaan Pesisir ini termasuk wilayah hukum daerah Batu Bara, dimana Kerajaan Pesisir di pimpin oleh Datuk Panglima Muda seperti yang dinyatakan oleh Tahir (2008 : 196)

Kerajaan Pesisir berdiri pada tahun 1723 yang dipimpin oleh Datuk Panglima Muda. Datuk Panglima Muda mempunyai tiga (3) orang putera yaitu anak pertama bernama Datuk Muda Jalil, anak kedua bernama Datuk Muhammad Idris dan anak ketiga bernama Datuk Muda Husin.  Datuk Panglima Muda sering berlayar dengan membawa barang dagangannya sampai ke daerah Timur dan Barat. Sebelum Datuk Panglima Muda mangkat, maka Datuk Panglima Muda mengajari anaknya yang bernama Datuk Muda Jalil untuk berlayar dan berdagang. Tujuannya adalah untuk menggantikan Datuk Panglima Muda ketika ia sudah mangkat. Maka sebelum Datuk Panglima Muda mangkat maka Datuk Panglima Muda melantik puteranya Datuk Muda Jalil sebagai penggantinya dan Datuk Muda Husin untuk membantu abangnya, sedangkan Datuk Muhammad Idris yang bergelar Datuk Pemuncak keluar dari Kerajaan Pesisir mencari tapak baru untuk dijadikan perkampungan.

Di awali di kawasan pematang (tanah tinggi), Datuk Muhammad Idris berlabuh untuk melihat keadaan alamnya yang memiliki keistimewaan yakni jarak antara laut dengan sungai yang memiliki jarak yang dekat. Oleh karena itu Oleh Datuk Muhammad Idris membuka kuala sungai menjadi sebuah kampung yang disebut dengan Pagurawan.

Nama Pagurawan berawal dari pergurowan dari para raja Pagurawan dan raja Siantar. Yang diperjelas lagi oleh Ok Jera’in ( Kamis, 17 Juni 2010) bahwa Nama Pagurawan di buat karena orang-orang yang di Pagurawan suka bergurau (bercanda), maka dibuatlah nama kampung ini menjadi Pagurawan (Pergurauan) sekitar abad 19.

Adapula beberapa kampung untuk persinggahan bagi para Jiran, antara lain Nenas Siam, Kampung Bogak, Kampung Durian, Limau Kipas, Megung.

Setelah dibuka menjadi sebuah kampung, Banyak para nelayan yang agak sukar pulang ke daratan yang di sebabkan karena angin kencang dan faktor lainnya. Karena di kampung tersebut agak sukar menyimpan cadangan makanan, yang diakibatkan menanggung kebutuhan dari para nelayan yang tidak bisa pulang, begitu juga dengan pendatang-pendatang dari Simalungun. hal ini merupakan kebijakan dari Datuk Muhammad Idris mengarahkan semua rakyatnya untuk membuka sawah ladang, menanam padi serta bercocok tanam termasuk juga tanaman-tanaman keras seperti kelapa, rumbiah, nipah, lada dan segala jenis buah-buahan. Dan akhirnya berita ini tersebar  kemana-mana dan membuat kampung tersebut ramai hingga menjadi sebuah bandar perdagangan, menjalin hubungan sosial, ekonomi dan politik.

Adapula faktor-faktor di mana Pagurawan menjadi pusat Perdagangan yaitu, letak Kuala Pagurawan, dimana Sebelah Barat dengan Kabupaten Sergei, Sebelah Timur dengan Desa Nanas Siam, Sebelah Utara dengan Selat Sumatera, Sebelah Selatan Kelurahan Pangkalan Dodek Baru. Setelah pembukaan kampung Pagurawan oleh Datuk Muhammad Idris, pagurawan tumbuh dengan pesat banyak Kerajaan-kerajaan tetangga yang bekerja sama dengan Kerajaan Pagurawan. Pagurawan memiliki keadaan alam yang cukup baik, muara kualanya lebar dan alur kualanya cukup memperoleh tongkang dan perahu-perhu besar senang untuk keluar masuk.

Kini, Pagurawan masih dapat dilihat keeksisannya dalam bidang Bandar perdagangan, terutama dalam hal pasar hewani laut. Banyak terlihat kapal-kapal yang masih menepi di tepi-tepi jermal pelabuhannya. Hasil tangkapan laut itu dikumpulkan kepada agen-agen hasil tangkapan laut tersebut. Dan kemudian (restoran-restoran, rumah makan), atau juga mengirimkannya kepada pasar-pasar tradisional di sekitar wilayah Pagurawan, Batubara, atau daerah yang lebih jauh lagi seperti kota Siantar, Kota Tebing Tinggi, bahkan Medan.

Jumlah kunjungan: 849 kali

Leave a Reply

Your email address will not be published.