Medan – Kreatifonline.com, “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” (Bung Karno)

“Dalam sebuah bangsa, kaum muda ataupun mahasiswa adalah aset yang tak ternilai harganya. Bahkan kemajuan sebuah bangsa sangat tergantung kepada kemampuan kaum muda atau mahasiswa untuk membuat perubahan-perubahan yang signifikan.” (Ortega G. Yasset)

“Bidang seorang sarjana  adalah berpikir dan menciptakan yang baru, mereka harus bisa bebas di segala arus-arus masyarakat yang kacau, tetapi tidak bisa lepas dari fungsi sosialnya, yakni bertindak demi tanggung jawab sosialnya apabila keadaan telah mendesak, kaum intelegensia yang terus berdiam di dalam keadaan yang mendesak telah melunturkan semua kemanusiaannya.” (Soe Hok Gie)

Berdasarkan pernyataan-pernyataan di atas, seharusnya kapasitas kemampuan mahasiswa tidak perlu diragukan lagi dalam hal menjadi gardu terdepan di dalam perubahan suatu bangsa untuk menjadi bangsa yang besar. Hal ini juga tertuang di dalam tridarma universitas.

Sejarah Indonesia mencatat bahwa beberapa kali mahasiswa mempunyai andil dalam penurunan pemerintahan Indonesia, misalnya pada tahun 1965 mahasiswa mampu mengudeta pemerintahan orde lama, sehingga terjadi orde baru, kemudian 1998 mahasiswa mampu mengudeta Soeharto sehingga terjadi reformasi. Dahulu mereka dapat disebut sebagai pahlawan, karena mereka rela mengorbankan tenaga, waktu, serta pikiran untuk melakukan aksi demo, turun ke jalanan demi rakyat Indonesia dan untuk menurunkan pemerintah yang tidak lagi sehat.

Di era reformasi, demokrasi menjadi hal berharga bagi seseorang dalam menentukan pilihan-pilihan yang bersifat individu dan kelompok. Namun masih banyak terdapat di beberapa daerah di Indonesia, hak-hak pemilih direnggut karena sodoran sejumlah uang dan unsur nepotisme. Mahasiswa sebagai kaum intelektual dan pengabdi untuk masyarakat harus bijak dan bersifat netral, memberikan pendidikan politik yang sehat kepada masyarakat, menjadi pialang untuk menyampaikan visi/misi dan memilih pemimpin yang prorakyat. Bukan mementingkan diri sendiri ataupun kelompok.

Dewasa ini mahasiswa sudah semakin jauh dari gambaran mahasiswa zaman dahulu. Mereka seakan tidur nyenyak di atas kasur dan apatis terhadap permasalahan sekitar. Bukan hanya itu, tidak sedikit paradigma yang dibangun mahasiswa sekarang ialah bagaimana mencari nilai akademik  yang tinggi atau sekedar “kuliah pulang-kuliah pulang”. Yang lebih riskan lagi harapan mahasiswa sebagai “agent of change” seakan sudah luntur seiring perkembangan zaman. Tidak sedikit mahasiswa yang bersifat arogan dan tidak mempunyai pola pikir yang kritis. Mahasiswa berubah menjadi sosok yang memberi rasa khawatir kepada masyarakat, dikarenakan tidak sedikit pelaku kriminal khususnya di Sumatera Utara (Sumut) berasal dari kalangan akademisi ini, mulai dari perampokan, tawuran, aksi yang berujung anarkis, membangun paradigma yang buruk, lain lagi maraknya pergaulan bebas dan peredaran narkoba di kalangan mahasiswa membuat masyarakat semakin pesimis dengan sepak terjangnya.

Tepat pada 7 Maret 2013, provinsi Sumut akan menyelenggarakan pesta demokrasi, untuk menentukan nasib 5 tahun kepemimpinan yang akan berlangsung. Lagi dan lagi integritas mahasiswa diuji.  Ini bias menjadi sebagai momentum untuk memperbaiki citra dengan cara memberikan pelajaran yang cerdas kepada masyarakat awam agar memilih pemimpin yang memang menginginkan Sumut menjadi provinsi yang bisa bersaing dengan provinsi lain yang memiliki kredibilitas yang tinggi.

Persfektif generasi muda bangsa harus dirubah, bukan dengan terjun ke dunia politik ataupun menjadi tim sukses kandidat calon, tapi manjadi penyambung lidah pemimpin yang memang mempunyai visi dan misi yang mensejahterakan rakyat Sumut. Ini bisa menjadi langkah awal untuk memperbaiki citra mahasiswa, karena setelah pesta demokrasi pemilihan gubernur, kita akan melakukan pemilihan legislatif dan pemilihan presiden. Independen mahasiswa di ranah politik lokal ataupun nasional harus tetap dijaga, agar julukan “pahlawan” tetap melekat.

Jumlah kunjungan: 3109 kali

Leave a Reply

Your email address will not be published.