Kreatifonline.com, Medan Angka-angka statistik masih dijadikan patokan bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Para ekonom masih menganggap bahwa tingginya persentase pertumbuhan ekonomi membuat perekonomian nasional mengalami peningkatan sehingga meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Kalau angka statistik yang diolah Badan Pusat Statistik (BPS) dijadikan acuan Indonesia dikategorikan sebagai negara yang sukses meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Hal tersebut terlahir dari sebuah asumsi bahwa problematika kemiskinan hanya dapat ditanggulangi jika ekonomi tumbuh tidaklah tepat. Karena tingginya pertumbuhan ekonomi tidak secara otomatis menjamin masalah kemiskinan kan teratasi.

Pengamat ekonom Sumatera Utara Muhammad Ishak melalui artikelnya berpendapat bahwa pertumbuhan ekonomi hanya dapat mengentaskan kemiskinan manakala pertumbuhan ekonomi tersebut melibatkan langsung mereka-mereka yang dipresepsikan miskin kedalam kegiatan ekonomi sebagai aktor bukan hanya sekedar penonton. Kekeliruan asumsi tersebut membuat program pemberantasan kemiskinan yang dilaksanakan dari era orde baru hingga sekarang belum berhasil mencapai tujuannya sehingga kemiskinan menjadi masalah yang tiada habisnya di negeri ini.

Menurut Chris Manning dan Sadarno menemukan sebuah pertanda makin sukarnya menurunkan angka kemiskinan di Indonesia sekalipun banyak insiatif dari pemerintah dalam membuat program anti kemiskinan. Hal ini diperkuat dengan hasil perhitungan BPS menunjukkan penurunan angka kemiskinan yang semakin susah. Kalau selama tahun 2009 sampai 2010 angka kemiskinan dapat berkurang sekitar 1,51 juta orang, dalam rentang 2010 sampai 2011 penurunan angka kemiskinan dicapai hanya sebesar 1 juta orang. Sementara program kemiskinan yang disusun dan diimplementasikan jumlah dananya yang langsung diperkirakan berkaitan dengan program kemiskinan berturut turut sebesar Rp 66,2 triliun tahun 2009, menjadi Rp 80,1 triliun 2010, dan Rp 86,1 triliun tahun 2011. Sebuah anomali di mana semakin besar anggaran kemiskinan, yang diikuti kenaikan pertumbuhan ekonomi, namun semakin berkurang tambahan orang miskin yang dapat dituntaskan.

Menurut data dari susenas pertumbuhan ekonomi September tahun 2013 sebesar 5,63% (y-o-y) sementara itu persentase kemiskinan pada tahun itu sebesar 11,47% meningkat dibanding bulan Maret 2013 yang persentasenya sebesar 11,37% dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,03% (y-o-y). Selama periode Maret – September 2013 garis kemiskinan meningkat dari Rp 271.626 menjadi 292.951 per kapita. Kenaikan harga BBM, harga eceran komuditas pangan pokok merupakan faktor pemantik meningkatnya angka kemiskinan di tahun tersebut. Ironis jika pemerintah membuat kebijakan yang sasaran dan tujuannya bukan untuk memberantas kemiskinan negeri ini.

Jumlah kunjungan: 13 kali

Leave a Reply

Your email address will not be published.