Kreatifonline.com, Unimed Kekerasan seksual terlihat seperti fenomena gunung es, dimana di permukaan terlihat sedikit tapi sebenarnya dibawah tertimbun sangat banyak, dari ribuan kasus yang terjadi, hanya sekian persen yang melapor dan terangkat ke publik. Hal ini terjadi karena korban merasa malu, sulit mendapatkan bukti, dan lain sebagainya. Kekerasan seksual tidak hanya terjadi di lokasi-lokasi tertentu namun bisa terjadi dimana saja baik di kantor, kampus, komunitas bahkan dirumah sendiri. Korban kekerasan seksual sendiri 90 persennya adalah wanita. Pada tahun 2015 kasus kekerasan seksual terjadi pada 46 perempuan tiap jamnya, dan sebanayk 69% kekerasan terhadap perempuan dilakukan oleh orang terdekat, sisanya oleh orang yang tidak dikenal.

Dari 10.000 laki-laki yang diwawancarai di Asia Pasifik termasuk Indonesia, sebanyak 80 persen pernah memperkosa pasangannya dan mayoritas laki-laki yang melakukan perkosaan tersebut tidak mengalami konsekuensi hukum. Studi ini menemukan bahwa sebesar 75 s/d 97 persen laki-laki yang melakukan perkosaan terhadap pasangannya tidak mengalami kosekuensi hukum.

Aliansi Jurnalistik Independen (AJI) Medan bersama IWAPI (Ikatan Wanita Pengusaha Muda Indonesia) Sumut mengadakan kegiatan diskusi publik dengan judul “perempuan dalam pusaran kekerasan seksual” guna mewujudkan upaya dalam mencegah segala bentuk kekerasan seksual dan membahas hak dan prioritas terhadap korban, dan sebagai wujud dukungan terhadap pengesahan RUU penghapusan kekerasan seksual. Seperti yang kita tahu selama ini, banyak korban kekerasan yang tidak mendapat keadilan yang selayaknya, korban sering terintimidasi menjadi pelaku, karna dianggap menggoda dan lain sebagainya.

“Kasus perkosaan itu adalah kasus kita, bukan Cuma kasusnya korban. Kita sebagai perempuan, ayok punya empati. Hari ini dia yang kena, bukan gak mungkin besok kita yang kena. Hari ini perempuan lain yang menjadi korban, bukan gak mungkin besok anak kita, adik kita, kakak kita, atau keponakan kita bisa juga menjadi korban. Jika mereka gak punya keberanian untuk bicara, kita juga gak punya keberanian untuk melindungi, kasus pemerkosaan gak akan pernah mendapat perhatian dari pemerintah” ujar Endah Divisi perempuan, anak dan kelompok marjinal AJI.

Peran pers juga tak kalah penting dalam menolong korban dengan tidak memanipulasi kejadian, namun yang terjadi adalah media saat ini semakin memperparah keadaan psikologis korban kekerasan seksual dalam pemberitaan korban bukannya dilindungi namun di sudutkan dengan mencantumkan nama, alamat, dan keluarga terdekat korban dan pelaku hilang tenggelam begitu saja, tanpa pemberitaan sedetail mungkin sehingga yang dikenal adalah korban dan dampaknya adalah pengucilan di lingkungan sosial. Sudah korban kekerasan seksual jadi korban ketidakadilan pula.

Jumlah kunjungan: 41 kali

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published.