Medan – Kreatifonline.com, Jika ingin mewujudkan mimpi, Maka bangunlah dan berusaha. Pagi itu mentari mulai menunjukkan kegagahannya, sinarnya yang begitu menyengat menembus daun-daun yang hijau. Seorang dara manis dengan dengan rambut ikal sebahu sedang duduk dibelakang kantin kecil milik Prodi Bahasa Jerman yang terletak dilantai III gedung C Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) seraya memgang beberapa lembar kertas kosong yang tersusun rapid an merabanya. Ia sedang mengisi waktu luangnya membaca buku yang telah diterjemahkan kedalam tulisan braile.

Keterbatasan fisik bukanlah halangan bagi seseorang untuk meraih cita-citanya. Selama masih ada semangat, semua itu bukan hanya mimpi. Bahkan ada pepatah yang mengatakan tuntutlah ilmu sampai ke negeri China.

Tak ada larangan untuk bermimpi dan mewujudkan impiannya untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. Berusaha dalam segala kekurangan adalah hal yang wajar karena tak ada yang tercipta sempurna di dunia ini. Kesempurnaan diperoleh dengan merubah kekurangan menjadi kelebihan..

Kegigihan dalam meraih mimpi itu sendiri terlihat dari diri seorang dara manis yang bernama Wilma Margaretha. Dara kelahiran Pematang Siantar 21 Maret 1988 yang sekarang kuliah di Prodi Pendidikan Bahasa Jerman stambuk 2006 ini merupakan anak ke empat dari lima bersaudara. Ia sempurna dalam ketidak sempurnaanya. Tak pernah tampak raut kesedihan di wajahnya, ia bahkan sering bercanda dengan teman sebayanya di sela waktu pergantian perkuliahan. Tawa itu selalu mengiringi dara manis itu.

Ia memperoleh beasiswa dari asrama tunanetra untuk melanjutkan kuliahnya di UNIMED dari TK hingga SD ia bersekolah di sekolah luar biasa. Disanalah ia diajarkan bagaimana membaca dan menulis dalam huruf braille. Ia melanjutkan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) dan Sekolah Menengah Akhir (SMA) di sekolah umum. Hingga sekarang ia bisa bergaul dengan massyarakat tanpa ada rasa canggung.

Dalam menjalani perkuliahannya ia merasa banyak mengalami kesulitan ketika belajar. “kadang saya merasa kesulitan ketika saya membutuhkan banyak buku tapi ada yang bisa membacanya untuk saya,” ujarnya. Selama ini buku yang ia pakai dalam perkuliaahan telah diterjemahkan kedalam tulisan braile. Namun jika semua buku yang diperlukan kebanyakan tidak berbentuk huruf braile sehingga terkadang ia merasa kesulitan dalam perkuliahannya. Tak ada orang yang selalu membacakan bukupun menjadi salah satu permasalahan besar yang terjadi dalam perkuliahannya.

Ia juga memiliki sebuah mesin ketik yang khusus digunakan untuk tunanetra. Mesin ketik tersebut digunakan untuk membantunya dalam mengerjakan soal-soal ketika ujian. Teman-teman sekelasnya, dengan suka rela membantunya dalam membacakan soal saat ujian dan tak jarang mengantar jemput dan menuntunnya masuk kedalam kelas.

Meskipun fisiknya tak sempurna ia memiliki banyak prestasi yang tak kalah dari yang lainnya. Bakat yang ia punya dalam bidang catur membawanya bergabung pada Pekan Olah Raga Cacat Seluruh Indonesia (PORCASI). Disanalah ia dilatih dan diasah minatnya dalam percaturan bahkan PORCASI juga membantunya untuk mempertoleh kepercayaan diri yang lebih. Catur yang dipakainya bukan catur biasa tapi catur yang bidaknya memang digunakan untuk penyandang tunanetra. Ia bahkan menjadi juara pertama dalam PORCASI yang setingkat dengan Pekan Olahraga Nasional (PON).

Ketidaksempurnaan tidak membuatnya malu bahkan tak membuatnya enggan untuk terjun ke massyarakat. Ia bahkan ingin menjadi guru di sekolah umum. “Saya ingin jika mengajar nanti di sekolah biasa,” ujarnya.

Jumlah kunjungan: 1084 kali

Leave a Reply

Your email address will not be published.