Kreatifonline.com, Medan – Masih banyak di antara kita yang belum mengetahui arti kata parmalim. Mungkin sebagian pernah mendengar informasi yang berbeda-beda tetapi cenderung informasi yang didapat berbau negatif dan berbagai prasangka. Bahkan banyak yang taksungkan mengatakan bahwa parmalim itu adalah “Sipele Begu” ( dalam bahasa Indonesia adalah pemuja setan atau berhala). Kejadian seperti ini bahkan menutup pergaulan bagi kaum penganut parmalim. Padahal banyak yang sama sekali tidak tahu tentang parmalim hanya ikut-ikutan untuk menjauhi parmalim dan klimaksnya yang didapat hanyalah prasangka dan tidak ada klarifikasi dan informasi.

Parmalim merupakan suatu kepercayaan yang berbau budaya yakni budaya Batak Toba. Parmalim dipercaya sebagai kepercayaan budaya asli batak yang perlu dilestarikan sehingga esensi budaya itu tidak hilang dan punah dari muka bumi. Parmalim merupakan kepercayaan pertama orang batak sebelum masuknya agama lain ke kawasan Tapanuli. Pimpinan parmalim yang paling tinggi yaitu Raja Marnangkok Naipospos sebagai suatu kepercayaan yang masih menanamkan tinggi unsur kebudayaan batak ini, maka cara ibadah parmalim ini sangat berkaitan erat dengan kebudayaan batak, mulai dari musik, tari-tarian bahkan rumah ibadah merekapun memiliki ciri khas berupa gorga-gorga batak.

Cara Ibadah Umat Parmalim

Cara ibadah umat parmalim tidak terlalu berbeda dengan cara-cara agama dan kepercayaan yang lainnya. Misalnya dari agama kristen yang memulai acara ibadah dengan berdoa, bernyanyi serta tarian persembahan untuk Tuhan. Sama halnya dengan parmalim juga memiliki runtunan acara ibadah sebagai persembahan untuk Tuhan yang mereka percaya sebagai Allah pencipta manusia, langit, bumi dan segala isinya yang mereka sebut sebagai “Debata Mula Jadi Nabolon”. Perayaan ibadahnya diadakan setiap hari Sabtu dan cara ibadahnya yang pertama yakni setelah memasuki rumah ibadah berdoa di pintu dan setelah itu setiap umat berdoa masing-masing dengan 10 panggilan doa karena mereka percaya ada 10 orang utusan debata Mula jadi Nabolon sebagai nabi seperti halnya di kristen ada 12 orang murid Yesus. Doa tersebut dipanjatkan bagi Allah pencipta alam, air, bumi, manusia dan segala isinya selanjutnya pembacaan patik (hukum-hukum taurat).

Pada umat kristen juga acara ibadahnya dimulai dengan sujud berdoa di pintu ibadah yang berfungsi untuk membersihkan diri sebelum menghadap Tuhan. Selanjutnya setelah membaca patik maka diberikan kesempatan bagi umat yang bersedia dan tersentuh hati untuk berkotbah, dan setelah itu diadakan semacam simbol membersihkan diri dari kesalahan dan dosa dengan air yang telah dicampur dengan air purut dengan cara  dipispis dan kegiatan ini biasa mereka namakan sebagai “diuras”. Nah, perbedaan yang menarik lagi dari umat parmalim ini yakni saat melakukan ibadah ada beberapa yang harus diperhatikan yakni: semua perempuan harus menggunakan pakaian adat kebaya dan ulos serta rambut harus disanggul, tidak boleh digerai. Beda halnya untuk kaum laki-laki ibadah memakai sarung, dan bagi yang sudah menikah ada dibuat suatu tanda ikat kepala warna putih yang  mereka percaya bahwa putih itu adalah suci. Untuk yang belum menikah sama seperti biasa. Tidak ada kursi bagi umat saat melakukan ibadah yang ada hanya tikar dan semua umat duduk bersama di atas tikar. Ada juga beberapa yang dipersiapkan untuk kepentingan ibadah seperti membakar arang yang memunculkan tanggapan aneh masyarakat dan memperjelas ucapan yang mengatakan “sipele begu”(pemuja berhala). Padahal jika kita telusuri hal itu hampir sama dengan umat katolik yang membakar kemenyan yang dinamakan dengan istilah dupa dan asapnya  akan  disebarkan ke umat sebagai wujud persembahan yang telah menjadi tradisi saat orang–orang majus yang dari timur membawa persembahan mas, kemenyan dan mur saat mengetahui kelahiran Yesus.

Tanggal Menurut Parmalim

Menurut umat parmalim dengan mengikuti warisan budaya batak yang masih tersisa bahwa tanggal dan waktu seperti yang kita ketahui seperti tanggal 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8. 9, 10, dst sangat berbeda dengan di budaya batak. Orang batak ini melihat tanggal sesuai dengan parlangitan serta siklus bulan dan bintang dan mereka menamai tanggal sebagai berikut:

1= artia, 2 = suma, 3 = anggara, 4 = muda, 5 = boraspati, 6 = singkora, 7 = samisara, 8 = artia ni aek, 9 = suma ni mangadop, 11 = muda ni mangadop dst. Ada beberapa perayaan besar umat parmalim seperti hari raya umat dan agama lainnya. Misalnya seperti Hari Raya Idul Fitri, Natal dan tahun baru lainnya. Bagi umat parmalim juga punya perayaan pada saat bulan terakhir atau akhir tahun yang mereka namai “Hari Hurung Bulan Kurung”. Saat hari istimewa tersebut ada beberapa pantangan dan sesuatu hal yang wajib dilakukan yakni: menghindari menjemput ternak untuk dipelihara, menghindari tabur benih, dan tidak bisa melakukan acara pengesahan perkawinan dan lain-lain. Jadi hari itu benar-benar dianggap suci  dan mereka mengalami yang namanya hari keterkukungan.

Maka mereka harus “marsolam diri, membatasi diri dari keduniaan dan mereka juga membuat peringatan “Hari Napaet”(berpuasa). Nah setelah itu, maka tibalah saatnya untuk berbahagia dan berpesta pada bulan “sipahaoppat” (Hari Raya Parmalim) yang artinya pameleon bolon seperti perayaan kepercayaan lainnya. Pada bulan ini dipersembahkan segala kurban persembahan di altar diiringi dengan tarian dan berirama musik tradisi sebagai warisan budaya yakni seperti gondang batak, ogung dan musik tradisi lainnya. Dalam ibadah parmalim sangat diharamkan untuk menggunakan musik modern seperti keyboard maupun yang lainnya. Jadi intinya, ibadah kepercayaan parmalim harus sejalan dengan adat. Tak heran segala aturan adat istiadat batak masih sangat kental bagi penganut parmalim. Mereka percaya jika menjalankan adat istiadat, rajin berdoa maka mereka percaya kehidupan akan lebih baik dan bisa sukses. Dari segi makanan parmalim sama dengan umat muslim yang hanya bisa memakan makanan yang dinyatakan halal.

Mereka tidak bisa memakan hewan ganas dan buas seperti anjing, ular, babi dan lain-lain. Mereka hanya bisa memakan hewan yang memakan rumput seperti sapi dan lain-lain. Perbedaan kepercayaan bukanlah suatu hal yang tabu untuk dibahas. Perbedaan memang telah ada diciptakan sejak dahulu kala untuk manusia saling melengkapi satu sama lain. Takseharusnya saling mengutuk dan membenci karena takakan ada ujung. Prasangka telah menghilangkan niat untuk mengetahui fakta yang sebernarnya. Menuduh tanpa paham arti telah merugikan jutaan orang yang labil dan ikut-ikutan. Mengenai tanggapan negatif tentang parmalim tak seburuk yang orang pikirkan. Sudah sepatutnya saling bersahabat dan memahami. Seperti agama dan kepercayaan lain parmalim juga memiliki kumpulan muda-mudi parmalim atau yang disebut naposo bulung parmalim yang terhitung mulai umur 15 tahun hingga menikah. Meskipun diwajibkan setelah umur yang ditentukan anggota naposo bulung ini harus melewati tahap penyeleksian. Dalam agama kristen dinamakan naposo bulung kristen atau katolik dan untuk muslim disebut remaja mesjid.

 

 

 

 

Jumlah kunjungan: 696 kali

Leave a Reply

Your email address will not be published.