Kreatifonline.com–  ” Setelah tamat SMA, kamu Kuliah saja nak, masuk Kedokteran, Ekonomi, Sekolah Guru, biar mudah dapat kerja, biar bisa mengangkat harkat martabat kita, jika kamu bekerja tentunya bisa bantu- bantu ayah membesarkan adikmu “

 

Tidak sedikit orangtua, menjadikan orientasi masuk sekolah/perguruan tinggi tetentu, bagi anak-anaknya, mengharapkan kelak si anak dapat pekerjaan yang mampu mendongkrak stratafikasi sosial keluarga. Hal ini membuktikan bahawa masih ada harapan masyrakat terhadap pendidikan. Namun banyak juga pandangan masyarakat mengganggap harapankan seperti itu adalah orientasi pendidikan yang pragmatis. Benarkah begitu? eloknya statemen ini kita bahas dalam tulisan kali ini.
Pendidikan merupakan bagian yang inhern dengan kehidupan. Pemahaman seperti ini, nampaknya terkesan dipaksakan, tetapi jika mencoba merunut alur dan proses kehidupan manusia, maka tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan telah mawarnai jalan panjang kehidupan manusia dari awal hingga akhir.

Pendidikan menjadi pengawal sejati dan menjadi kebutuhan asasi manusia. Prof. Proopert Lodge, pernah mengatakan bahwa life is education and education is life. Itu berarti bahwa membicarakan manusia akan selalu bersamaan dengan pendidikan, dan demikian sebaliknya
Perdebatan tentang pendidikan, hemat penulis bukan terletak pada perlu atau tidaknya pendidikan bagi manusia, tetapi lebih kepada bagaimana pendidikan itu dilaksanakan, apa saja yang harus dicapai (tujuan) dan bagaimana tata kerja para pelaksana (pendidik). Oleh karena itu, pendidikan kemudian didefinisikan dalam beragam pendapat dan statement. Keragaman pendapat merupakan hal yang patut disyukuri sehingga membuka peluang untuk membandingkan berbagai pendapat dan menambah khazanah pengetahuan. Beberapa definisi pendidikan dapat dikemukakan sebagai berikut.
Dalam Kamus besar disebutkan Pendidikan artinya proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses perbuatan, cara mendidik.Merunut pengertian tersebut, pendidikan dimaknai sebagai upaya yang dilakukan untuk mencapai tujuan melalui proses pelatihan dan cara mendidik.
Pengorbanan dan harapan terhadap Pendidikan
Betapa bahagia rasanya memakai toga dalam resepsi acara wisuda, Sungguh luar biasa rasanya menyandang gelar kesarjanaan. Menjadi kebanggaan tersendiri memakai penambahan huruf dibelakang nama yang diberi orang tua. Betapa tidak akan demikian karena memang sungguh besar perjuangan menjadi seorang sarjana, gelar akademik yang diberikan kepada lulusan program pendidikan sarjana (S-1) tidak didapat dengan mudah, untuk mendapatkan gelar sarjana secara normatif dibutuhkan waktu selama 4 (empat) sampai 5 (enam) tahun.untuk luluspun mereka harus harus menyelesaikan sebuah karya ilmiah yang biasanya dinamakan dengan skripsi.
Secara materipun jika dikalkulasikan akan menghabiskan puluhan juta rupiah untuk mencapai gelar tersebut, hitung saja biaya hidup mulai dari biaya kos, makan, transportasi, foto copy, buku, uang kuliah, minimal menghabiskan minimal delapan ratus ribu rupiah Rp 800.000 jika kita kali 4 tahun masa kuliah saja sudah menghabiskan uang sebesar Rp 38.400.000 (tiga puluh delapan juta empat ratus ribu rupiah) uang yang tak sedikit untuk keluarga petani, guru, nelayan.
Jika kita mengkaji tujuan Pendidikan nasional yang diamanahkan dalam UUD 1945 Pasal 31, ayat 5 menyebutkan, “Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menunjang tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.”Jabaran UUD 1945 tentang pendidikan dituangkan dalam Undang-Undang No. 20, Tahun 2003. Pasal 3 menyebutkan, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Jika seperti itu hal yang diamanahkan oleh konstitusi negara kita, tentunya dapat kita maknai bahwasanya pendidikan dapat mengangkat harkat martabat manusia, semakin tinggi pendidikan seseorang tentunya akan mendapatkan kelas yang tinggi juga ditengah masyarakat, hendaknya semakin mendapatkan penghidupan yang layak.
Berbanding terbalik dengan relita hari ini, ketika kita merujuk pada data jumlah penganggur terdidik di Indonesia setiap tahun terus bertambah. Data Biro Pusat Statistik (BPS) menyebutkan jumlah sarjana (S-1) pada Februari 2007 sebanyak 409.900 orang. Setahun kemudian, tepatnya Februari 2008 jumlah pengangguran terdidik bertambah 216.300 orang atau sekitar 626.200 orang. Jika setiap tahun jumlah kenaikan rata-rata 216.300, pada Februari 2012 terdapat lebih dari 1 juta pengangguran terdidik.
Belum ditambah pengangguran lulusan diploma (D-1, D-2, D-3) terus meningkat. Pesakitan pengecap pendidikan dinegeri ini juga semakin luka ketika kita harus menelan realita perlakuan tidak adil kepada kaum terdidik dinegei ini, lihat saja fenomena pegawai honorer, mereka yang bekerja menjadi pegawai di instansi pemerintah ini, tentunya adalah orang yang berpendidikan, sangat banyak dari mereka yang juga telah menamatkan sekolah sarjananya. Lalu menurut kita wajarkah jika mereka harus di gaji dengan suka rela, yang nominalnya tidak lebih dari lima ratus ribu rupiah. Sebandingkah dengan pengorbanan mendapatkan gelarnya?
Memang salah jika kita memandang harapan pendidikan yang paling utama adalah pekerjaan, tetapi saya fikir tidak ada juga salahnya berharap adanya penghargaan untuk seseorang yang berjuang mendapatkan ilmu oleh pemerintah. Wajar saja masyarakat berharap banyak, jika pendidikan di negeri inipun harus dengan pengorbanan waktu dan materi yang cukup banyak.
Berpendidikan tentunya sebuah pilihan rasional untuk dapat bersaing dalam percaturan pasar global saat ini. Teori pilihan rasional Coleman mengungkapkan bahwa tindakan perseorangan mengarah pada suatu tujuan dan tujuan itu ditetentukan oleh nilai atau pilihan, individu tentunya memilih tindakan yang dapat memaksimalkan kegunaan atau yang dapat memuaskan keinginan dan kebutuhan mereka. Ritzer (2004:394).
Jika kita mengkaji dari teori ini, harapan pendidikan dapat memberikan kehidupan yang layak yang dimaknai dengan pekerjaan yang baik, menurut penulis sangat wajar karena memang biaya yang dikeluarkan untuk menjadi manusia berpendidikan saja sangat tinggi, jadi jika orientasi pendidikan kita hari ini adalah pekerjaan itu bukanlah sesuatu yang pragmatis tetapi sesuatu bentuk kewajaran dari proses pendidikan yang carut marut. sebenarnya bukan hanya lembaga pendidikan yang tidak berhasil, tapi pemerintah sebagai pengelola negara tidak berhasil memberikan bukti bahwa pendidikan memang penting untuk mengangkat harkat dan martabat manusia, karena output dari dunia pendidikan tidak dapat ditampung secara optimal oleh pemerintah.

Jumlah kunjungan: 380 kali

Leave a Reply

Your email address will not be published.