Kreatifonline.com, Medan Budaya Hedonisme? Saat ini banyak orang yang telah mengalami sifat hedon, dan banyak pula orang yang tak menyadari bahwa dirinya adalah seorang penganut budaya hedonisme.

“Hedonisme itu semacam mengutamakan kesenangan kali ya, dimana kesenangan itu adalah sesuatu yang membuat hati senang, nyaman, melepaskan keluh kesah pokoknya memanjakan diri,” ujar Agus Timanta Tarigan, Mahasiswa Unimed Jurusan Pendidikan Bahasa Perancis atau sering dipanggil dengan sebutan “Karundeng”. Secara terminologi, Hedonisme merupakan paham aliran filsafat yunani yang muncul sekitar tahun 433 SM. Kata hedonisme diambil dari bahasa yunani hedonismos dari akar kata yaitu hedone yang berarti kesenangan. Tujuan paham aliran ini untuk menghindari kesengsaraan dan menikmati kebahagiaan sebanyak mungkin dalam kehidupan di dunia. Paham ini juga menjelaskan apa yang memuaskan keinginan manusia dan apa yang meningkatkan kuantitas kesenangan tersebut.

Saat itu, hedonisme masih mempunyai arti positif, namun ketika kekaisaran Romawi menguasai seluruh Eropa dan Afrika, paham ini berubah ke arah negatif yang memunculkan semboyan baru dalam hedonisme yaitu carpe diem (raihlah kenikmatan sebanyak mungkin selagi kamu hidup). Seperti apa yang diungkapkan oleh Cicerno dalam Russell (2004:335) bahwa persahabatan tak dapat dipisahkan dari kenikmatan, dan oleh sebab itu harus dikembangkan, karena tanpa hal tersebut kita tidak dapat hidup dalam keamanan dan terjauhkan dari kecemasan, tak pula bisa merasa kenikmatan.

Gaya hidup hedonis terbentuk oleh sifat, karakter serta mental seseorang yang memandang terbutuhnya kepuasan fisik dan mental dengan parameter ada banyak  atau sedikitnya harta atau uang yang dipunya. Kalau banyak uang atau harta mereka “kaum hedon” akan bergembira campur ceria dalam mengarungi hidup di dunia dengan harta di kiri kanannya atau mereka bahkan percaya inilah “surga” sebenarnya di dunia fana ini daripada memikirkan hidup mereka di “akhirat” karena terganjalnya pikiran yang mengekang mereka atau disebut “kebebasan hidup”.

Karakteristik hedonisme menurut para ahli :

Karakteristik Hedonisme menurut Cicerno dalam Russell ( 2004:335) yaitu :

  1. Memiliki pandangan gaya instan. Seperti melihat sesuatu perolehan harta dari hasil akhir bukan proses untuk membuat hasil akhir. Hal ini membawa ke arah sikap selanjutnya yaitu, melakukan rasionalisasi atau pembenaran dalam memenuhi kesenangan tersebut.
  2. Pengejar modernitas fisik. Orang tersebut berpandangan bahwa memiliki barang-barang berteknologi tinggi adalah kebanggaan.
  3. Memiliki relativitas kenikmatan di atas rata-rata tinggi. Relativitas di sini maksudnya sesuatu yang bagi masyarakat umum sudah masuk ke tataran kenikmatan atau dapat disebut enak, namun baginya itu tidak enak.
  4. Memenuhi banyak keinginan-keinginan spontan yang muncul. Dikarenakan benteng penahan kesenangan yang sangat sedikit sehingga ketika seseorang menginginkan sesuatu maka harus segera dipenuhi.
  5. Ketika mendapat masalah yang dianggap begitu berat muncul anggapan bahwa dunia begitu membencinya.
  6. Berapapun uang yang dimilikinya akan habis.

Karakteristik Hedonisme menurut Epihurus dalam Russell ( 2004:372 ):

  1. Hedonisme Egoistis. Hedonisme yang bertujuan untuk mendapatkan kesenangan semaksimal mungkin serta dapat dinikmati dengan waktu yang lama dan mendalam. Contohnya makan-makanan yang enak dalam jumlah yang banyak dan bervariasi.
  2. Hedonisme Universal. Hedonisme yang mirip dengan aliran ulitarisanisme yaitu kesenangan maksimal untuk semua dan banyak orang.

Contohnya saat berdansa, maka harus berdansa bersama-sama.

Budaya Hedonisme Mahasiswa

Hedonisme sebagai tonggak awal matinya kritisisasi mahasiswa. Menjamurnya pusat perbelanjaan justru membuat kaum muda terlena, belum lagi suguhan fashion serta gadget terbaru, tontonan infotainment, belum lagi acara hura-hura yang dibungkus dengan alasan menghibur justru saat ini tidak memiliki nilai edukasi. Cafe dan club lebih dianggap sebagai tempat tongkrongan yang lebih asik, produk-produk serba instan yang selalu siap juga menginstankan mahasiswa, termasuk dalam mencetak “sarjana instan” dengan sistem copy-pastenya di hampir seluruh Perguruan Tinggi, baik negeri maupun swasta adalah salah satu dampak bahwa Hedonisme telah menjalar dalam setiap nalar kritis mahasiswa. Bahkan dari ujung rambut sampai ujung kuku pun tak luput menjadi saksi bisu budaya ini. Menurut mahasiswi jurusan manajemen 2013, Hasanatul Chairiyah, bahwa “Mahasiswa banyak yang mengutamakan style, secara anak ekonomi masak gak stylish. Tapi biasanya yang sudah semester dua ke atas yang seperti itu, kalau semester satu masih pada polos gitu dan memang kebanyakan orang yang tidak kaya yang menampakkan kekayaannya. Ini dikarenakan pengaruh lingkungan sekitarnya juga. Orang yang seperti itu gak akan pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Tapi selagi dia mampu mewujudkan semua itu sih fine-fine aja. Setiap individu kan memiliki hak untuk mendapatkan kebahagiaan jadi kalau dengan sikap hedonnya itu dia bisa ngerasa bahagia yah kita gak bisa ngelaranglah selagi itu gak ngerugikan kita.

Dunia kampus yang dianggap sebagai wadah dalam mencetak dan mencerdaskan generasi bangsa, saat ini justru hanya seperti tempat arisan yang hanya diwarnai pesan kosong atau sekedar membahas kehidupan yang serba mewah. Sudut-sudut kampus biru tidak lagi dipenuhi oleh mereka yang asik berdiskusi ilmiah atau permasalahan urgen bangsa dan meningkatkan kepekaan sosialnya. Hanya sedikit mahasiswa yang masih haus akan ilmu dan memiliki jiwa kritis terhadap ketidakadilan yang ada di negeri ini.

Namun dibalik itu, ada kondisi yang jauh lebih memprihatinkan, dimana kampus saat ini telah beralih fungsi sebagai kapitalis pendidikan. Bahkan, hal ini telah merambah pada universitas negeri yang notabennya harus mampu merangkul kaum marginal dalam mengenyam pendidikan sesuai dengan amanat UUD 1945. Karena sejatinya, pendidikan yang layak dan berkualitas bukan hanya milik segelintir orang-orang yang hanya memiliki kemampuan financial besar.

Mahasiswa, yang seharusnya haus akan ilmu pengetahuan dan memiliki karakter yang kuat, dan penuh dengan idealisme, serta tetap berdiri dan menyatakan keberpihakannya kepada keadilan, nampaknya tidak lagi mampu menunjukkan semangatnya, tidak lagi mampu menunjukkan dirinya sebagai agent of social control, dan hanya segelintir saja yang masih bertahan sebagai sejatinya mahasiswa yang masih memegang teguh bahwa mahasiswa juga memiliki tanggung jawab secara moral terhadap maju dan mundurnya bangsa ini kedepan. Ironisnya, yang bertahan semakin tersingkir karena dianggap asing dan pemberontak. (berbagai sumber)

Jumlah kunjungan: 97 kali

Leave a Reply

Your email address will not be published.