Kreatifonline.com – Medan – Momen sumpah pemuda menjadi momen berakhirnya Semarak Bulan Bahasa (SBB) 2015 yang diadakan mulai tanggal 26-28 Oktober 2015. Pada hari ketiga, acara SBB dimeriahkan oleh adanya penampilan dari Teater LKK Unimed, HMJ Bahasa Inggris, HMJ Bahasa Jerman, pembacaan puisi dari beberapa panitia, serta pemilihan Putera-puteri SBB 2015.

Setelah tiga hari dilaksanakan di FBS Unimed oleh himpunan dosen dan mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia, SBB mendapat respon positif dari berbagai kalangan. Hal ini tampak dari respon mahasiswa-mahasiswa Jurusan lain ketika ditanyai oleh kru Kreatif, “Acara ini bagus banget, karena ada beragam busana adat nikah. Dari situ kita jadi tahu busana adat Indonesia itu gimana. Mereka juga ada pake kebaya dan batik, jadi itu bisa mendekatkan kita gitulah ke Indonesia. Acaranya menarik banget” papar Zahra, mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris stambuk 2014.

Hal positif lainnya dikemukakan oleh Bunga Lestari selaku koordinator acara mengenai kelebihan SBB 2015, “Tahun lalu baju adat hanya di fashion show-kan saja. Tapi tahun ini baju adat diperlombakan, lebih digali pengetahuan mereka tentang pengetahuan, budaya, bahasa dan bangsa Indonesia.”

Ada awan di atas awan. Dibalik kelebihan yang diungkapkan, terdapat kekurangan acara yang berasal dari pengalaman mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia yang kecewa atas kegiatan tahun ini.

Tindak diskriminasi pada mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia terjadi di sela-sela acara, informasi kami dapat dari beberapa panitia dan mahasiswa Jurusan Bahasa Indonesia yang mengungkapkan bahwa pada hari pertama absensi diinformasikan tutup pada pukul 10.00 WIB, namun dihari H, absen tutup pada pukul 12.00 WIB. Begitu juga terjadi pada hari kedua kembali berubah absen ditutup pada pukul 10.00 WIB, dan pada hari ketiga ditutup pada pukul 11.00 WIB. Ketidak konsistenan absen ini membuat beberapa mahasiswa yang terlambat beberapa menit bahkan detik terlihat berdebat dengan panitia.

“Absen ditutup jam 10.00, lebih satu detik juga absen namanya!” tutur salah seorang panitia.

“Orang datang, absen, lalu pergi, kemudian jam selanjutnya datang, absen, lalu pergi. Sama saja bohong. Mending saya, telat datang tapi saya tonton dari awal sampai akhir. Itu pun saya gak dihadirkan. Panitia kurang berbaur dengan mahasiswa atau orang umum. Padahal kami kenal, tapi kalau ditegur tidak begitu respon” papar mahasiswa berinisial ‘N’ yang namanya tak ingin ditulis oleh reporter Kreatif.

Namun setelah dikonfirmasi, pihak panitia menyatakan bahwa sebelumnya panitia telah memberitahukan seluruh mahasiswa bahwa mahasiswa diharapkan datang pada pagi hari, sehingga absen menjadi kebijakan panitia.

Kemudian kekecewaan juga diungkapkan oleh beberapa peserta SBB tentang kurangnya jumlah kursi dan konsumsi yang diberikan panitia. “ini teman-teman saya mengeluh tentang makanan. Bayangkan saja kami bayar empat puluh lima ribu per orang dan kami Cuma dapat amos dan roti harga seribuan. Itu pun cuma hari pertama. Juga kursi, apa salahnya sih kursi itu diperbanyak” papar salah satu mahasiswa stambuk 2013 yang tidak ingin disebutkan namanya.

Juniar Barus, mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia stambuk 2013 mengatakan, “Sistematikanya kalau untuk acara kurang ya, karena juri tuh harus menunggu karena pesertanya belum siap. Seharusnya waktunya itu ditentukan, dan itu dibicarakan di technical meeting dibuat waktu persiapannya sekian, bukan harus menunggu lagi. Soalnya tadi ada juri yang bilang gitu. Tapi kalau untuk acaranya bagus sekali.”

Kami mencoba mewawancarai pihak di Jurusan lain dan kami mendapatkan bahwa ada dilema yang dialami beberapa Jurusan yang tidak terlibat dalam acara SBB. “Beberapa tahun lalu semua Jurusan ikut. Kalau Bulan Bahasa itu pasti bahasa semua, yang artinya bahasa rupa, bahasa gerak, makanya semua terlibat. Saya kira baru kali ini tidak, sebelum-sebelumnya ada. SBB seolah-olah milik Fakultas kita. Mungkin ada kebijakan lain, misalnya bahasa aja,” tutur Drs. R. Triyanto, M.Sn, dosen Jurusan Seni Rupa Unimed.

Kami juga mendapatkan informasi bahwa SBB di tahun-tahun sebelumnya terdapat karnaval, pameran, action painting yakni melukis dengan atraksi, “bahkan saya ada fotonya tuh. Kita kan Fakultas Bahasa dan Seni, supaya lebih meriah ya semua aja ikut,” lanjut beliau mengakhiri wawancara.

Fenomena atas kekurangan yang ada dalam acara tahuan seperti SBB di respon oleh Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Drs. Syamsul Arif, M.Pd yang mengatakan bahwa tahun depan Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia akan mengadakan kegiatan Lintas Jurusan yang bersamaan dengan SBB 2016 serta Seminar Nasional, dan acara tersebut akan diisi oleh penampilan-penampilan dari seluruh jurusan yang ada di FBS Unimed.

“Perkuliahan dialihkan ke SBB karena merupakan praktik dari perkuliahan. Sistem absen tetap berjalan dengan sistem absen per kelas seperti biasa pada setiap komting. Kalau masalah dispensasi 15 menit absensi, fleksibel saja. Asalkan mereka benar-benar hadir dan berpartisipasi untuk menyukseskan SBB. Namanya juga dispensasi, ya gak persis sama dengan perkuliahan. Pasti ada kelonggaran-kelonggaran” lanjut Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia mengklarifikasi.

Jumlah kunjungan: 218 kali

Leave a Reply

Your email address will not be published.