Medan – Kreatifonline.com-Ketika saya dan kawan-kawan duduk di lantai 2 Jurusan Pendidikan Sejarah, tiba-tiba saya dikejutkan dengan adanya anak-anak panti asuhan yang menyebarkan amplop kepada kami dengan bertuliskan memohon bantuan untuk mengobati nenek yang dirawat di rumah sakit. Saya masukkan uang Rp.1000 ke dalam amplop tersebut dan anak-anak itu mengumpulkannya kembali. Seolah saya larut dengan apa mereka rasakan. Tapi muncul juga rasa percaya atau tidak dalam otak saya saat itu, bukannya tidak ikhlas tapi hanya sedikit mempertanyakan saja dengan fenomena itu.


Apa memang tidak ada lagi donator yang bermurah hati kepada anak-anak itu hingga mereka sendiri yang menghimpun dana sampai menyerbu kampus hijau UNIMED. Ini menjadi refleksi untuk Ormawa (Organisasi Mahasiswa) baik intra dan ekstra kampus untuk lebih memperhatikan hal-hal yang terlihat di sekitar kampus dan coba membuat gerakan untuk respon tersebut.


Tahun ini mungkin fenomena ini sudah jarang saya lihat, mungkin nenek atau kakek adek-adek itu sudah sembuh sehingga mereka seperti tidak tampak lagi di sekitar kampus. Tetapi ada hal yang baru lagi yang saya perhatikan setelah fenomena tadi, ternyata banyak sekarang di tahun 2012 silam dan 2013 ini baik anak-anak dan ibu-ibu yang mengumpulkan botol-botol aqua di sekitar kampus, tergiang lagi pertanyaan dalam benak saya mereka datang dari mana? Apa mereka penduduk sekitar kampus atau dari daerah lain? Melihat anak-anak kecil itu muncul Tanya dalam hati apa mereka tidak sekolah? Apa mereka di suruh orang tua? Apa mereka ada orang lain menyuruh? Dan banyak lagi pertanyaan yang muncul dalam benak ini.


Setelah dua fenomena diatas, saya kembali heran saat banyak anak-anak kecil yang dengan suara mungilnya bernyanyi untuk mengamen kepada mahasiswa, tepat saat itu saya sedang duduk di bundaran FIS ingin menikmati makan siang. Saya menanya kepada adek-adek itu dimana rumahnya, mereka menjawab “dekat jembatan sana bang” (sambil menunjukkan arah FIP) dan saya langsung mengangguk, adek-adek itu ada dua orang mereka bernyanyi dengan sedikit malu-malu, lagu yang sering saya dengar dikumandangkan para kawan-kawan yang sering di lampu merah. Seperti ini liriknya “aku yang dulu bukanlah yang sekarang, dulu ditendang sekarang disayang… hidupku hanya lah seorang pengamen pulang malam hanya dengan uang recehan” dan berikutnya lagi.
Adek-adek itu mengatakan mereka masih memiliki orang tua, tapi mereka tidak mau menjawab saat saya bertanya siapa yang menyuruh mereka. Saat saya memberikan uang Rp.1000 mereka mengucapakan terimakasih dan segera lekas pergi dan menjumpai mahasiswa yang lain tanpa alas kaki.


Mereka sekolah atau tidak saya kurang tau, anak sekecil itu pun sudah harus menantang kerasnya kehidupan ini. Saya menjadi malu dengan diri sendiri yang masih tergantung dengan orang tua. Tapi saya menjadi bertanya kenapa anak-anak seusia itu belum sekolah? Apa memang subsidi pendidikan tidak mampu memeberikan 1 kursi untuk mereka menikmati pendidikan yang gratis itu? Saya melihat dari konstitusi kita bahwa di dalam UUD 1945 Pasal 34 Ayat 1 yang berbunyi Fakir Miskin dan anak – anak yang terlantar dipelihara oleh negara. Lalu dimana kekuatan dari Undang-Undang tersebut? Mengapa tidak sampai kepada anak-anak itu? Sungguh menjadi kebingungan dalam otak saya melihat fenomena itu. Bagaimana kawan-kawan mahasiswa memberi pendangan terkait fenomena itu? Dan mungkin masih banyak lagi fenomena yang bisa kita amati.
Mahasiswa yang didaulat menjadi Agen Perubahan sudah sepantasnya memberikan aksi dengan fenomena-fenomena tersebut. Mari kawan-kawan kita ber-action..
HIDUP MAHASISWA.

 

 

Jumlah kunjungan: 383 kali

Leave a Reply

Your email address will not be published.