Medan – kreatifonline.com, “Kusimpan rindu di hati gelisah tak menentu, berawal dari kita bertemu kau takkan kulupa. Kuingin engkau  mengerti betapa kau kucinta..”

Begitulah nyanyian anak jalanan yang sering terdengar ketika lampu lalu lintas berubah merah dan segala jenis kendaraan terhenti. Tampaknya lirik lagu tadi sudah sangat sering dinyanyikan sehingga mereka mampu menyanyikannya dengan ekspresi yang  pas.

Ya, anak jalanan memang merupakan pemandangan yang tak dapat dihindari ketika berhenti di lampu merah. Apa yang mereka lakukan di sana? Tak lain tak bukan untuk mencari rezeki. Ada yang memilih mengamen di depan pintu angkutan umum, di depan mobil mewah orang kaya, dan ada juga yang memilih menyanyi di hadapan pengendara sepeda motor.

Kerincing yang terbuat dari tutup botol dan gitar kecil menjadi sahabat mereka mencari uang. Demi kehidupan! itulah alasan yang memberi mereka kekuatan untuk  tetap bertahan di jalanan. Lantas, apakah mereka sudah pasti mendapat uang? belum tentu! Paling kalau tak ada yang bersedia menyisihkan uang untuk mereka,  mereka hanya bisa mengucapkan ‘terima kasih’.

Walau sama sekali tak memperoleh hasil, namun tak ada wajah marah atau kecewa. Mungkin hal ini sudah biasa bagi mereka.  Ketika usaha mereka tidak dihargai, tak jadi masalah, malah mereka   masih sempat  mengembangkan senyum dan bersenda gurau sesama mereka.

Begitu lampu hijau menyala, anak-anak ini pun menyingkir dan meninggalkan jalan umum. Mereka duduk dan berkumpul. Hanya beberapa detik yang tidak ingin dilewatkan begitu saja oleh mereka.

***

Anak jalanan adalah anak yang berusia antara 4 sampai 18 tahun yang mengahabiskan waktunya dijalanan untuk mencari nafkah atau sekedar berkeliaran saja. Mereka datang dari berbagai jenis keluarga, dan kehidupan yang berbeda-beda. Terkumpul menjadi satu dan bersahabat di tempat mereka biasa mangkal. Tidak peduli dengan gaya dan asal, kalau mereka merasa cocok, persahabatan itu akan cepat terjalin.

Keluh – Kesah Anak Jalanan

Dalam hiruk – pikuknya petang di persimpangan lampu merah Aksara,  Carlos dkk. tampak begitu riang bercanda dan bernyanyi dengan gitar yang dimainkan oleh salah satu dari mereka. Walau terdengar jelas dari suara seseorang diantara mereka pasti ada yang  mengalami gangguan pernafasan, dan dari ukuran tubuh pun mereka terlihat kurus. Namun raut muka mereka yang riang seolah menunjukkan bahwa hal itu bukanlah masalah. Bagaimana tidak, karena mereka terpaksa melakukannya demi memenuhi kebutuhan sehari – hari. Padahal jalanan tak seharusnya menjadi tempat mereka tumbuh dan berkembang.

Seharusnya di saat – saat seperti ini mereka sedang belajar di rumah untuk persiapan ke sekolah keesokan harinya atau sekedar beristirahat. Meskipun ada beberapa dari anak – anak ini yang sekolah sambil bekerja, namun dikarenakan pekerjaan banyak diantara mereka  yang menghabiskan waktu di jalanan daripada belajar.  Carlos, salah satu anak jalanan tadi mengaku ingin kembali hidup normal, belajar dan sekolah seperti anak-anak lainnya. “Namun apalah daya, tangan belum sampai untuk saat ini”, ujarnya.

***

Nur Halimah, seorang gadis kecil berusia 10 tahun juga melakukan aktivitas di jalanan. Ketika lampu merah menyala, maka dia akan ikut berlari ke arah angkutan umum yang sudah ditargetkan untuk mengamen. Membunyikan kerincing dan mulai bernyanyi, kemudian mengulurkan botol minuman kosong ke arah penumpang usai bernyanyi, adalah kebiasaannya. Lalu berapa isi botol minuman gelas kosong itu? hanya beberapa keping uang receh. “Terima kasih”, ucapnya ketika angkutan umum berlalu ketika lampu hijau sudah menyala. Dan dia pun kembali duduk di pinggir jalan bersama beberapa anak jalanan lainnya. Mereka kembali mengobrol dan bersenda gurau sambil menunggu aba-aba dari bos mereka untuk kembali mengais rejeki.

Gerimis mulai turun disusul dengan hujan yang semakin deras. Nur Halimah dan teman-temannya tetap di pinggir jalan dan tidak mencari tempat untuk berteduh. Mereka tetap mengamen ketika lampu merah menyala, tidak peduli dengan tubuh mereka yang mulai basah. “Kalau sakit ya berobat, tapi karena udah biasa, hujan seperti ini sih bukan apa-apa.” ucapnya seraya tersenyum.

Nur Halimah adalah anak bungsu dari 6 bersaudara. Ayahnya sudah meninggal sejak dia kelas 3 SD. Sekarang dia tinggal bersama Kakak sulungnya yang bekerja sebagai penjual pakaian di Sentral. Setiap hari, setelah pulang dari sekolah, dia akan langsung pulang ke rumah untuk ganti baju dan makan siang, kemudian pergi ke Aksara untuk mencari uang. Dia tidak sendiri, karena dua keponakannya, anak kakak sulungnya juga ikut mengamen di sana.

“Tidak dapat uang, ya tidak apa-apa. Berarti belum rejeki.” katanya sambil tersenyum tipis. Sebagian uang yang dia peroleh diberikan kepada kakaknya, dan sebagian lagi ditabung untuk biaya sekolahnya. Tidak ada hentinya berjuang dan selalu semangat adalah sifat yang selalu ditanamkannya di lubuk hatinya.

Anak Jalanan Dulu dan Kini Menurut Penelitian PKPA

Terlahir menjadi anak jalanan bukanlah keinginan mereka. Sebagian dari mereka merupakan pendatang dari berbagai daerah yang ingin merasakan gemerlapnya dunia kota, namun sesampainya di kota dan setelah merasakan hiruk pikuknya kehidupan kota mereka pun terjebak kehabisan ongkos untuk kembali ke kampung halaman. Akhirnya mereka terpaksa menetap di kota dan mencoba bertahan hidup. Mereka pun masuk ke dalam siklus kehidupan urban dan mencari tempat kumuh sebagai tempat tinggal. “Tidak hanya individu, mereka membentuk kelompok bahkan keluarga dan kemudian terjadi proses alamiah sehingga mereka  menjadi terbiasa dan menikmati kehidupan di jalanan seperti di kolong jembatan Juanda misalnya”, ujar Misran Lubis, Koordinator Emergency Aid lembaga Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) yang telah mengadakan penelitian mengenai anak jalanan pada tahun 1998, 2003 dan 2010.

Ia menemukan adanya perluasan eskalasi mobilitas jauh lebih luas dimana saat ini anak jalanan tidak hanya dari Medan dan sekitarnya, tapi mereka berasal dari daerah di luar Medan seperti pulau Nias. “Mungkin ini salah satu dampak dari bencana gempa pada tahun 2005 lalu.”, tambah beliau.

Mengenai pendidikan, saat ini ada 52% anak jalanan yang masih bersekolah dan 48% anak jalanan yang putus sekolah tetapi para anak jalanan yang masih sekolah ini pun berpotensi tinggi untuk tidak bersekolah lg, mereka lebih banyak libur daripada sekolah disebabkan  berbagai alasan, misalnya mereka lebih menyenangi dunia jalanan daripada dunia sekolah karena sikap teman-temannya atau pun sikap guru dan cara belajar yang membuat mereka tidak nyaman, atau karena mereka selalu ditagih uang sekolah. Hal – hal seperti  ini menyebabkan sekolah tidak lagi menyenagkan bagi mereka.

Dalam perkembangannya, PKPA menemukan perubahan perilaku anak jalanan seperti kecanggihan dalam mendapatkan uang. Di luar konteks jalanan mereka juga memiliki prilaku seksual. Saat ini banyak dari anak jalanan yang perempuan sudah mengalami beberapa kali aborsi. Kalau dulu mereka hanya berinteraksi sesama anak jalanan, namun sekarang mereka banyak berhubungan dengan Pekerja Seks Komersial (PSK),  misalnya mereka berbisnis seks seperti menjadi agen pekerja seks,  atau menjadi pekerja seks di pusat-pusat hiburan.

Sejauh ini sudah banyak lembaga-lembaga yang menangani persoalan anak jalanan seperti rumah-rumah singgah dan BKBM, namun banyak rumah singgah menjalankan program yang cenderung pemaksaan dan justru malah menambah jumlah anak jalanan ketika banyak lembaga-lembaga ini bubar. “Anak jalanan bukanlah anak-anak yang bodoh tapi mereka adalah anak-anak yang berkebutuhan khusus jadi untuk menangani permasalahan ini dibutuhkan cara-cara khusus yaitu:

Rehabilitas  atau  Pola transisi dimana mereka diajarkan pola hidup normal, membiasakan mereka hidup dalam keluarga dan hidup bersih.

Reintegrasi yaitu mengembalikan mereka pada fungsi masyarakat dengan mengajarkan mereka baca tulis. Cara-cara ini dilakukan langsung dijalanan agar mereka lebih mudah dipantau selama 24 jam.

Integrated program, yaitu pendekatan yang dilakuakan tidak hanya pendekatan kota tapi juga perlu dilakukan pendekatan pedesaan karena 80% dari anak jalanan yang ada dikota medan saat ini berasal dari luar kota medan. Sebaiknya jangan menggunakan PERDA GEPENG (Peraturan

Daerah tentang Gelandangan dan Pengangguran) untuk menangani masalah ini karena bukan program jika mereka hanya dirazia lalu dikumpulkan dan selesai. Itu tidak menyelesaikan masalah.”, papar Misran Lubis.

LSM yang Peduli dengan Pendidikan Para Anak Jalanan

Telah disebutkan sebelumnya bahwa sekitar 52% anak – anak jalanan ini masih bersekolah. Program Wajib Belajar 9 Tahun yang digratiskan pemerintah tetap mereka jalani. Namun, karena kehidupan yang serba minim, mereka terpaksa pergi ke jalan untuk mencari tambahan uang demi kelangsungan hidup. Alhasil, sebagian besar dari mereka lebih banyak menghabiskan waktunya di jalanan ketimbang di sekolah.

Melihat kondisi yang seperti ini, Dosri Manurung pun berniat meningkatkan kualitas dan memperbaharui kehidupan mereka agar tidak berada di jalanan lagi.

Sudah hampir empat tahun tempat belajar Dian Bersinar Foundation ini di bangun. Tepatnya di pinggiran Jalan Salak dekat Jalan Asia. Dosri Manurung merupakan pembina sekaligus pendiri lembaga tersebut. Mantan mahasiswi USU jurusan FISIPOL ini sangat prihatin dengan kondisi anak-anak jalanan sehingga ia ingin membangun sebuah tempat untuk meberikan pendidikan bagi mereka. “Semasa mahasiswa saya sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini, penelitian sana sini dan akhirnya muncul niat untuk membantu mereka. Tanpa pikir panjang segera saya bergegas mendatangi tempat berkumpul para anak jalanan tersebut. Dengan meminta izin kepada para orang tua akhirnya mereka setuju. Awalnya saya membayar sewa tempat ini kepada pihak KA(Kereta Api) tapi kini sudah banyak bantuan dari pihak donatur”, ungkap Dosri panjang lebar mengenai tempat belajar anak jalanan tersebut.

Dengan niat tulus tempat ini dibangun serapi mungkin agar anak-anak dapat belajar dengan senang dan nyaman. Sekolah ini merupakan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), namun anak-anak di atas usia PAUD juga boleh ikut serta karena pelajaran yang diberikan hanya sebagai penambah pengetahuan saja. Tidak seperti sekolah formal. Tujuan sekolah ini dibangun adalah untuk mengurangi anak-anak di jalanan. Dengan di bukanya tempat ini mereka tak lagi menjadi anak-anak jalanan.

Uniknya, Anak PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) juga diwisuda seperti anak-anak PAUD di sekolah-sekolah lain. Kini jumlah keseluruhan siswa yang belajar adalah hampir 30 orang. “Awal memulainya memang sulit, karena butuh proses untuk mengetahui karakter anak-anak yang hidup seperti tanpa aturan. Tapi lama-kelamaan mereka juga akan segan dan mulai menghargai kami di sini sebagai pengajar.”, kata sang pembina. “Saya juga senang belajar di sini, belajar gratis dan menambah kegiatan. Kakak-kakak pengajar juga baik”,ungkap Haliah,salah seorang siswa sekolah itu.

Tanggapan Dinas Sosial

Jumlah anak jalanan pada tahun 2010 di Sumatera Utara adalah 4.834, sedangkan untuk Kota Medan sendiri ada  663 anak. sampai dengan saat ini Dinas Sosial sudah melakukan beberapa cara untuk menangani fenomena anak jalanan dalam sebuah program yang akan dilaksanakan di tahun 2011 ini, yaitu program pembinaan yang tidak hanya dilakukan pada anak jalanan itu sendiri tetapi juga pada para orang tua mereka.  Karena tidak semua anak yang turun ke jalanan merupakan kemauan mereka sendiri melainkan karena adanya ekploitasi oleh orang tua mereka.

Program ini akan dilaksanakan di 3 kota yaitu Medan, Binjai, dan Langkat. “Untuk pelaksanaaanya, Dinas Sosial akan bekerja sama dengan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) dan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) lainnya”, ujar Nasrin yang menjabat sebagai KA bidang Rehabilitasi Anak.

Selain itu, sebelumnya Dinas sosial juga sudah menangani beberapa persoalan anak jalanan seperti menyalurkan mereka pada suatu lembaga tertentu sesuai dengan minat dan bakat mereka. “Kebanyakan anak jalananan disalurkan untuk mengikuti pelatihan di sekolah musik. Dan setelah mengikuti pelatihan tersebut mereka jadi punya keterampilan dalam bermusik dan bisa jadi pekerjaan mereka dengan bermain musik di tempat2 hiburan seperti mengisi acara – acara pernikahan”,lanjutnya.

Masyarakat dan Anak jalanan

Meskipun kehadiran mereka di jalanan pada dasarnya tidak menggangu –  namanya juga usaha untuk bertahan hidup –  namun tetap saja ada masyarakat yang merasa resah melihat anak jalanan. Seperti kata penjaga parkir di pusat perbelanjaan Aksara yang mengaku resah dengan kehadiran anak-anak jalanan ini. Meskipun mereka tidak menggangu namun ia merasa kurang nyaman dengan pakaian yang mereka kenakan, “Saya berharap pemerintah bisa menertibkan dengan jalan tidak hanya di razia setelahnya dibiarkan, tapi dibina agar mereka tidak kembali ke jalanan lagi”, ujarnya.

Selain itu seorang mahasiswa Unimed juga berpendapat bahwa anak jalanan harus dapat perhatian khusus dari pemerintah untuk masa depan bangsa yang cerah, “Harapan saya pemerintah membuat suatu program yang jelas untuk penanganan masalah anak jalanan. Jangan hanya dirazia. Itu sama saja nol alias tidak membawa hasil”.

 

Namun ada pendapat lain dari seorang penjual jajanan pinggir jalan. Dia sama sekali tidak merasa terganggu dengan kehadiran anak jalanan, malah mereka berteman. “Ya menurut saya karena sudah lama di sini, hampir bertahun-tahun berdagang. Mereka sudah kenal dan tidak menggangu. Hanya terkadang mereka mau meminta minum, ya saya beri saja, dan kalau sudah sore masih ada makanan yang sisa mereka juga saya beri” ungkapnya.

Fenomena Anak Jalanan Dalam Pandangan Antropologi

Antropologi adalah salah satu cabang ilmu sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis tertentu. Dari segi antropologi fenomena anak jalanan ini termasuk masalah struktural dan kultural karena termasuk dalam UUD 1945 Pasal 34 yang berbunyi, “Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara”. “Namun pada kenyataannya saat ini, pemeliharaan yang dimaksud kurang tepat untuk mengatasi persoalan anak jalanan. Anak jalanan yang ada seharusnya diberdayakan agar memiliki suatu keahlian untuk dapat bertahan hidup”, begitu ucap M.Iqbal, M.Si, seorang dosen antropologi Universitas Negeri Medan. Kultural yang dimaksud adalah masalah anak jalanan ini jadi budaya karena satu anak jalanan dapat mempengaruhi anak lain yang berpotensi turun ke jalanan, dimana anak yang bersekolah melihat aktivitas anak jalanan dan kemudian tertarik.

Lebih lanjut Iqbal menjelaskan bahwa dalam Sosio Antropologi, anak jalanan adalah golongan maryarakat yang termarginalkan (pinggiran). Ada 3 kelompok anak jalanan yaitu:

Anak yang selama seharian penuh berada dijalanan,

Anak  yang hanya 4-5 jam berada di jalanan,

Anak yang mendekati jalanan atau bermain-main di jalanan.

Namun sebenarnya masalah anak jalanan ini tidak sepenuhnya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga merupakan tanggung jawab pihak akademis seperti mahasiswa, sebagai akademisi dangan masyarakat yang mengawasinya. Iqbal menambahkan, “Sebagai saran kepada pemerintah sebaiknya memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi para anak jalanan ini untuk memperoleh pendidikan dan layanan kesehatan yang layak misalnya dengan program pemberian beasiswa dan pembebasan dana pendidikan agar mereka termotivasi untuk belajar dan tumbuh rasa etos kerja yang tinggi sehingga mereka memiliki potensi”.

Jumlah kunjungan: 4155 kali

Bagikan

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published.