Kreatifonline.com–  Pada zaman modern sekarang, kebutuhan manusia tidak terbatas. Pengaruh arus globalisasi, menuntut manusia untuk hidup gaya modern dan hidup serba praktis. Sehingga dalam kehidupan sehari-hari masyarakat sering sekali menerapkan gaya hidup tidak sehat. Pola hidup yang tidak sehat tersebut berasal dari pola konsumtif makanan yang tidak sehat. Seperti makanan cepat saji yang lebih dikenal dengan sebutan Fast Food dan Junk Food.
Fast food dan junk food sama-sama menyajikan makanan yang praktis, tetapi junk food kurang memiliki nutrisi yang cukup bagi tubuh. Makanan fast food seperti fried chicken, hamburger, dan pizza. Sedangkan makanan junk food seperti snack, nasi goreng, mie instan dan gorengan. Makanan ini memiliki banyak penggemar, terutama masyarakat Indonesia. 8 dari 10 Mahasiswa mengaku lebih sering mengkonsumsi makanan cepat saji, seperti mie instan dikarenakan tidak memiliki waktu untuk memasak, dan lebih murah sebagai alasan utamanya.
Sudah banyak penelitian yang telah dilakukan terhadap makanan fast food dan junk food. Dari kedua makanan tersebut, manakah yang tidak memiliki efek negatif bagi kesehatan tubuh manusia? Penelitian dari University of Adelaide menunjukkan bahwa pola makan yang sarat junk food diusia kecil, akan membuat IQ anak lebih rendah dua poin dari anak yang tidak banyak mengkonsumsi junk food saat masih kecil. Walaupun perbedaan IQ-nya tidak begitu jauh, studi ini membuktikan bahwa pola makan anak berusia 6 sampai 24 bulan memberikan efek yang kecil namun signifikan terhadap IQ saat usianya mencapai 8 tahun. Oleh karena itu penting bagi orang tua untuk mempertimbangkan dampak jangka panjang makanan yang diberikan pada anak. Sehingga tidak heran makanan junk food sangat populer di anak-anak, selain makanan yang cenderung manis dan enak, sejak kecil anak-anak sering diberikan orang tuanya makanan junk food untuk menyenangkan anaknya.
Lain halnya dengan fast food, makanan apapun yang disediakan dan persiapkan dengan cepat dan praktis akan membuat kadar nutrisi pada makanan itu berkurang. Sebuah studi yang dilakukan University of Minnesota School of Public Health, meneliti tentang efek berbahaya dari fast food. Penelitian ini dilakukan selama 10 tahun yang melibatkan lebih dari 60.000 orang Singapura keturunan China. Partisipan berusia antara 45-74 tahun. Selama 10 tahun periode studi, menunjukkan 1.397 partisipan meninggal akibat penyakit jantung dan 2.252 menderita penyakit diabetes tipe 2.
Penelitian ini memperoleh kesimpulan bahwa makan fast food dua kali atau lebih dalam seminggu memiliki kemungkinan 27 persen lebih besar untuk terserang diabetes dan 56 persen meninggal akibat penyakit jantung, dibandingkan dengan partisipan yang jarang atau tidak pernah makan fast food. Bahkan 811 partisipan yang diketahui makan fast food empat kali atau lebih perminggu, risiko kematian akibat serangan jantung meningkat hingga 80 persen.
Kedua makanan ini dapat kita jumpai dimanapun dan dalam bentuk apapun. Kenapa masyarakat suka dengan makanan ini, alasanya sederhana rasanya enak, murah, praktis, mudah didapat dan tampilannya menarik. Tetapi sayangnya alasan ini hanya dijadikan angin lewat bagi masyarakat. Kognitif atau pengetahuan seseorang mengenai efek negatif dari makanan tersebut sangat banyak, baik melalui televisi, artikel ataupun langsung dari dokter. Tetapi afektif atau sikapnya tetap tidak bisa menolak untuk terus mengkonsumsi makanan tersebut hingga sekarang.
Junk Food makanan sampah yang tidak dibutuhkan oleh tubuh karena memiliki kadar gizi sedikit dan Fast Food yang merupakan makanan bergizi tinggi yang padat kalori dan lemak serta sedikit serat. Menjadikan makanan ini tetap sebagai pilihan utama bagi masyarakat yang hidup dengan gaya modern dan serba praktis. Sehingga tak sering menu makanan rumah menjadi menu utama yang dinanti setiap pulang beraktifitas. Tetapi tidak disalahkan juga ketika lapar menyerang tiba-tiba secara tidak langsung kita memilih makanan cepat saji tanpa pikir panjang, karena yang ada didalam pikiran kita adalah “yang penting kenyang”. Tanpa kita sadar yang kita puasi selama ini adalah keinginan kita bukan kebutuhan nutrisi tubuh kita.

 

Jumlah kunjungan: 417 kali

Leave a Reply

Your email address will not be published.