Kreatifonline.com – Medan (17/5) Berbagai macam kalangan seperti wartawan, pemerintah, seniman dan mahasiswa memenuhi ruangan Serbaguna Fakultas Ilmu Budaya Usu Sabtu lalu pada pukul 02.00 wib dalam menghadiri diskusi bedah buku berjudul “Toba Mengubah Dunia” karya Ahmad Arif yang diterbitkan oleh Kompas Gramedia. Acara ini juga terselenggara berkat kerjasama Kompas dengan Komunitas Jendela Toba, dan Fakultas Seni dan Budaya USU. Buku “Toba Mengubah Dunia” merupakan hasil reportase yang pernah di muat dalam harian Kompas Ekspedisi Cincin Api pada tiga tahun yang lalu. Ahmad Arif menceritakan alasan pembuatan buku ini agar memberitahukan kepada masyarakat “hal yang wajar ketika sewaktu-waktu gunung meletus karena Indonesia berada di daerah  ring of fire, sehingga masyarakat tidak salah asumsi mengenai bencana yang terjadi dan mengetahui apa penyebabnya”. Wartawan harian kompas ini juga mengatakan buku ini sebagai bahan referensi, karena sangat sulit sekali masih sedikit,  bahkan hampir tidak ada literatur-literatur tentang geologi Danau Toba yang ditulis oleh orang Indonesia. “ranah penelitian masih sangat terbuka bagi para peneliti tentang danau toba, karena banyak sekali potensi-potensi yang dimiliki danau toba” ungkap Ahmad Arif.

Diskusi bedah buku “Toba Mengubah Dunia” juga membahas tentang danau toba dari segala perspektif, mulai dari segi Geologi, Biologi, dan Budaya. Dari segi geologi diwakilkan oleh Drs. Indyo Pratomo yang merupakan seorang geolog dan staf ahli percepatan dan penetapan geopark dan dari segi budaya oleh Drs. Irwansyah selaku budayawan dan akademisi.

Tidak hanya bedah buku “Toba Mengubah Dunia”, diskusi ini juga mensosialisasikan Danau Toba yang akan menjadi satu diantara keindahan Sumatera Utara yang dicanangkan akan menjadi situs taman bumi oleh UNESCO. Ibu Sabrina selaku ketua tim percepatan dan penetapan geopark Danau Toba, mengatakan bahwa Indonesia mempunyai warisan yang sangat luar biasa yang diberikan oleh tuhan di Sumatera Utara. “banyak keajaiban-keajaiban yang ada dan terjadi di danau toba, dan tingkatnya bukan tingkat kampung-kampung melainkan tingkat dunia” sambung ibu Sabrina. Danau toba sudah sepantasnya menjadi taman bumi tingkat global, karena toba tidak hanya menyimpan keindahan alam  didalamnya melainkan juga keanekaragaman yang tersimpan yaitu  keanekaragaman batuan, hayati (flora dan fauna), dan keanekaragaman budaya. Sudah sepatutnya masyarakat Indonesia tidak hanya Sumatera Utara untuk mendukung upaya-upaya Geopark dengan cara mencintai dan menjaga serta memelihara lingkungan Danau Toba, agar Danau Toba menjadi destinasi wisata domestik maupun Internasional.

Jumlah kunjungan: 865 kali

Leave a Reply

Your email address will not be published.