Medan – Kreatifonline.com – Tak seorangpun tahu sejak kapan dia tinggal disana. Bagai muncul bersamaan dengan munculnya kampung ini. Begitulah, lama – kelamaan kehadirannya menjadi biasa dan menyatu dengan udara dingin kaki deleng Sibayak. Suatu pagi dia menghilang. Tentangnya, aku pun takut menceritakannya. Seolah ada selapis bayangan yang membuatku gigil setiap kali ingin membicarakan siapa dia. Karena itu pula, orang di kampung ini membisu, meskipun hati mendesak ingin tahu.

Aku baru saja pulang dari bank pagi itu, kebetulan Nisa, anakku yang berkuliah di Jawa, minta dikirimkan uang untuk beli diktat. Di perjalanan pulang, serbuan gerimis memaksaku berteduh beberapa jenak. Kupilih atap teras rumah Mak Joseph untuk meneduhkan diri. Dari sana aku bisa melihat bukit berselaput kabut yang sesekali tersingkap, menampakkan sebuah gubuk kecil ditengah lahan bercocok tanam yang sungguh luas.

Kulitku menegang. Kulirik ke belakang, pintu rumah Mak Joseph dikunci, pastilah dia sudah berjualan di pasar. Ketukan air langit di atap terdengar seirama detak jantungku. Aku merasa penghuni gubuk di atas sana sedang mengawasiku, dengan sorot mata tajam. Mengelupas keberanianku untuk bertahan lebih lama. Sementara gerimis telah berganti hujan yang beku. Sesekali angin menerbangkannya, berkibar bagai selendang di jemuran. Tempiasnya mencium wajahku.

Saat itu pula aku teringat sebuah kejadian. Setengah mati ingin kuhentikan cerita itu dari dalam memoriku. Tapi aku terlanjur memutarnya. Aku terpaksa menyimak ditemani takut yang beranak pinak. Itu tentang si penghuni gubuk di atas bukit, ladang ubinya dan seorang pemuda. Pertengahan April, di ladangnya tumbuh subur ubi ungu. Aku tahu, sudah saatnya ubi – ubi itu dipanen, tapi ketika itu gerimis dan kurasa dia juga kedinginan.

Hanya ada angin berhembus pelan – pelan diantara gelontoran air langit yang lahir terlalu dini. Orang – orang pasti masih bergelut dengan bantal dan selimut tebal. Sepi. Dahan – dahan mengantuk, mengangguk – angguk lembut. Tapi tiba – tiba kesenyapan itu pecah ketika dia melihat seorang pemuda berjinjit memasuki ladangnya.
Aku ingat persis bagaimana pemuda itu mencabut paksa sebongkah ubi dan membopongnya. Kulihat dia, seorang Nenek kurus bungkuk dibungkus sarung berlari keluar gubuknya dan mengejar pemuda itu. Langkahnya sungguh lamban. Ingin aku menolongnya, tapi aku sedang menyusukan bayiku. Sementara Mak Joseph yang kutunggui belum juga pulang dari mengantar anaknya ke sekolah. Nenek itu menjerit demikian perihnya, menggaduhkan langit. Beberapa hari setelahnya, kudengar dalam perut pemuda itu tumbuh ubi, entah bagaimana caranya, tapi itu benar – benar ubi.
Orang – orang di kampung ini tak ingin membahasnya. Tak ada yang berniat menuturkan cerita itu ibarat hikayat lisan, hanya ada bungkam yang saling bisa dipahami sebabnya. Takut. Aku mengusap keringat dingin di keningku. Kini timbul cemas. Selapis kulit telapak tanganku telah mengeriput.
“Bang, boleh aku numpang?” pekikku kutujukan pada mobil pick up yang melintas. Lelaki dalam mobil itu menurunkan kaca mobilnya dan melihatku. Dia mengangguk pelan, membiarkanku masuk dari pintu sebelah kirinya.
“Sedang apa Bibi tadi?” tanyanya memperhatikanku.
“Menunggu reda, Bang.” Kutangkupkan telapak tanganku, lalu mengusap – usapnya.
Jalan di luar basah. Bukan jalanan beraspal. Yang tidak tertutupi batu, menjadi lembek dan licin. Kaca mobil berkabut, pandangan baur dalam lembab. Aku tahu, lelaki yang kutumpangi mobilnya itu baru saja turun dari bukit tempat Nenek tinggal. Dalam benakku masih merancang kata – kata, tiba – tiba saja dia tanpa kuminta, menjelaskan.
“Nenek enggak ada di rumah. Lit idahndu?1 Sudah seminggu. Kupikir dia menjenguk anaknya, tapi baru kuingat, dia tak punya anak, apalagi kerabat. Dia hilang, padahal kol-nya sudah siap panen itu.”
Aku mengiyakan tanpa suara. Tak biasanya, aku gugup. Kemana perginya wanita paruh baya itu? Pelan – pelan kabut menyusup dalam kepalaku. Begitulah aku tahu dia menghilang. Aku tak memberitahukannya pada siapapun karena kupikir orang – orang di kampung ini pun sudah tahu, dalam diam yang tenang.
“Dengar, jangan dekati ladang di bukit itu. Jangan main – main disana.” Begitu takutnya aku, hingga setiap pagi, berulang – ulang kuperingatkan Ridho, anak lelakiku.
“Memangnya kenapa, Mak?” Dia tertawa.
Kata – kata itu begitu saja bergaung di kepalaku. Berdengung, lama – lama menjadi gumam. Ah, entah kenapa, selalu aku. Aku ditelan pusara perak yang menyilaukan, membuatku mengantuk. Lalu dimuntahkan. Tiba – tiba aku berada di sebuah peristiwa.
“Memangnya kenapa?” Seorang lelaki berlagak jago di depan Nenek. Satu tangannya menjepit rokok, sementara satu tangan lain menyandar pada pinggulnya. Wajahnya tampak ke-kotaan, bersih walaupun sedikit ditumbuhi kumis. Bajunya bagus, motif garis – garis halus dengan celana bahan yang serasi.
Nenek dengan tampang khasnya mengacuhkan lelaki yang datang naik mobil Jeep hitam itu. Sambil berjongkok dia mencabuti rerumputan liar yang mengganggu wortelnya.
“Kalau Nini2 menjual tanah ini padaku, orang – orang di sekitar ini akan sejahtera. Sudah tak jaman lagi berbisnis sayuran, saatnya bisnis hiburan. Penginapan murah, karaoke, pemandian air panas..” Nenek menatapnya sinis, dia berhenti berceloteh. Nenek seolah telah merobek – robek bendera bisnis hiburan yang hendak dikibarkan di tanahnya.
Tanpa menjawab, Nenek masuk ke gubuk. Melihat Nenek keluar membawa parang, lelaki itu mundur teratur dan masuk kedalam mobilnya, pergi. Agaknya, dia pun sudah mendengar cerita tentang Nenek, entah dari siapa.

Lelaki ke-kotaan itu tidak mau membeli tanah selain milik Nenek. Kurang strategis katanya. Tanah Nenek-lah yang menurutnya paling bagus karena menghadap hutan hijau lebat. Sedikit kabut saja akan membuatnya seolah melayang di atas awan putih, rinai hujan disana tumbuh serupa salju, ditambah cicitan burung – burung terdengar dari celah – celah pepohonan yang tumbuh liar di bawah bukit.
Ketika petang, gemawan menutupi sebagian mentari, terciptalah lautan oranye mengapung di langit. Bergelombang lembut serupa selimut sutera. Angin mendesah menidurkan daun – daun bawang yang masih lemah. Malam disana menjelma galaksi. Dipenuhi rekata dalam rindang gelap. Gubuk itu seolah melayang di satu orbit yang sama dengan bulan.
Bila pagi, maka daun bawang gigil berbaris rapat serupa karpet bercorak. Langit merah jambu beku. Dering gemerincing air menyeduh udara. Embun menari di atas dedaunan pohon pinus, hutan terbangun, nyanyian burung mengalir sahut-menyahut. Semesta diam sejenak, kemilau di langit tumbuh perlahan. Masih berselimut.
Sungguh, mendengar perkataan lelaki itu, hatiku ikut riak ingin memiliki gubuk kecil Nenek. Menginap sehari saja tak mengapa, pikirku. Bukan hanya aku, orang – orang di kampung ini juga berpikiran yang sama, tapi diujung hasrat ada Nenek yang menunggu, dengan parangnya. Menjaga sesuatu yang paling berharga, miliknya. Namun, secara tidak langsung, dia pula menjaga kami, rumah – rumah kami yang jauh dibawah bukitnya. Entah apa jadinya apabila di bukitnya berdiri bangunan menjulang. Rumah kami pasti akan tertimbun longsor musim penghujan.

Ketika aku tersadar, Ridho sedang menatapku bingung. Aku tak berkata apa – apa, gegas menyiapkannya sarapan. Dalam benakku, penasaran akan Nenek belum juga pudar. Pergi kemana dia? Ada dugaan yang kemudian muncul. Dia sengaja disingkirkan oleh orang kampung ini secara diam – diam.
Kepergiannya menimbulkan bisu yang kini menjadi buta. Mula – mula tak seorangpun yang ingin membahasnya. Lambat laun, tak seorangpun yang menyadari kalau dia pernah ada! Begitu mudah mereka melangkah di jalan setapak miliknya, tanpa rasa takut. Seolah jalan itu memang sudah ada sebelumnya. Anehnya, setiap kali aku lewat di depan bukitnya, aku merasa ada seseorang dalam gubuk itu. Tidak hanya mengawasi sesiapa yang lalu – lalang, juga rumah – rumah dan ladang – ladang yang tampak dari atas bukit itu. Ah, mungkin sebab aku tahu terlalu banyak tentang dia, jadi hanya aku yang merasa ganjil seperti ini. Aku tak membicarakannya pada siapapun, termasuk suamiku.
“Kau pergilah ke Kabanjahe besok. Bawakan selimut – selimut ini.” Sambil menyesap kopi hitamnya, dia menunjuk setumpuk selimut di atas kursi.
“Dari mana selimut – selimut itu, Bang?” Kubuka lipatan salah satunya.
“Tadi ada yang mengantarnya kesini. Katanya dari Medan.”
Aku seperti tersengat begitu mendapati motif bunga mawar merah pada selimut yang ditumpuk paling bawah. Aku pernah melihat selimut ini dijemur di depan gubuk Nenek. Tanganku gemetar. Besok, aku harus menemuinya.
Gubuk itu terlihat sangat kecil, disusutkan udara dingin. Aku memberanikan diri mengetuk pintunya. Aku tahu dia bukanlah orang yang ramah dan bocah – bocah, bahkan orang dewasa sekalipun takut padanya.
“Nek,” panggilku. Kakiku kaku, tak bisa melangkah lebih jauh. Tanganku mengetuk, dua kali tanpa jeda yang lama. Tapi tak ada sahutan. “Sentabi aku3, Nek. Apa selimutmu terbawa ke rumah kami?”
Aku menunggu jawaban. Sekedar ya atau tidak. Tapi jangankan ya atau tidak, gumamnya saja pun tak dapat tertangkap telingaku. Selapis kabut yang tiba – tiba menyekapku membuatku bergidik takut, segera aku turun.
“Eh, Mak Ridho. Katanya mau ke Kabanjahe, ya?” Mak Saut melongok dari jendela angkot suaminya. Aku mengangguk, wajahku pasti memucat.
“Ya sudah, sekalian saja. Kami juga mau kesana.” Mak Saut membuka pintu belakang angkot.
“A-aku ambil selimutnya dulu, ya.”
Mak Saut tak bertanya kenapa aku naik ke bukit itu. Orang – orang kampung ini benar melupakan Nenek atau tak ingin membahasnya. Ingin sekali aku bercerita dan mengadukan apa yang selama ini mengganjal, tapi mereka, Mak Saut dan suaminya itu asyik bercakap – cakap.
“Ini tempatnya, kan Mak Ridho?” Mak Saut memastikan.
Aku mengangguk, meskipun ini pertama kalinya aku kesana, tapi tempat itu persis dengan deskripsi suamiku. Bangunan bercat putih dengan genting coklat tua. Beberapa anak gadis pengungsi sedang menjemur baju di pagar sekolah setinggi bahuku. Bocah – bocah bermain, berlarian, ada pula yang merenung menatap jalan.
“Sini aku bantu.” Mak Saut mengangkat sebagian selimut yang kupeluk. Korban letusan gunung Sinabung itu terlihat gelisah. Tidur berhimpit – himpitan. Pastilah mereka merindukan rumah, juga ladang. Aku tak begitu menyimak apa yang dibicarakan Mak Saut. Mataku terpaku, menembus jendela samping yang terbuka, pada sosok yang sedang menuangkan sup ke mangkuk di dapur umum posko itu.
“Ternyata dia disini, Mak Saut,” desisku.
“Siapa?” tanya Mak Saut menjulurkan kepalanya melihat sekeliling.
“Nenek itu,” bisikku pelan. “Nenek yang tinggal di bukit itu. Seberang rumah Mak Joseph.”
“Nenek mana?” Mak Saut tertawa.
Nenek menoleh padaku, dia tersenyum.
***

Catatan :
1Lit idahndu? : ada kamu lihat? (bhs. Karo)
2Nini : nenek (bhs. Karo)
3Sentabi aku : maafkan aku (bhs. Karo)

Jumlah kunjungan: 1330 kali

Leave a Reply

Your email address will not be published.