Kreatifonline.com – Medan – Lambaian tangan Mamak mengiringi alunan langkah ketika aku menaiki sebuah tropas yang akan menghantarkanku menuju ranah yang jauh. Tampak bulir-bulir air mata membasahi sela-sela kerutan wajah yang tak muda lagi itu. Aku berusaha menyembunyikan kesedihanku yang amat dalam dengan senyuman rumit. Lirih aku membatin, “Relakanlah kepergian anak mu ini, setahun tak akan terlalu lama Mak. Aku akan segera kembali.”

Masih terngiang-ngiang di kepala, betapa nasihat Mamak menyentuh kalbu. “Abbas, jaga diri baik-baik, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.” Sekali lagi aku mengamini nasihat ini dalam hati. Kupandangi dalam-dalam wajah Mamak yang masih kukuh di tempatnya, sampai bayangannya menghilang dari jendela buram ini.
Kurebahkan tubuhku di atas kursi penumpang dan perlahan menutup mata. Pikiran ku melayang jauh ke udara, membayangkan bagaimana nasibku disana? Pengalaman apa yang akan kudapat? Ramahkah penduduk lokalnya? Dan segudang pertanyaan masuk ke dalam pikiranku. Sebagai peserta SM3T, (Sarjana Mengajar di daerah terpencil, terluar, tertinggal) aku memilih untuk pergi mengabdi ke tempat yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya. Bersama kedua orang temanku dari Universitas Negeri Medan, kami akan mengabdi di daerah yang bernama Desa Ngkodal, Kecamatan Sambirampas, Manggarai Timur, NTT. Mendengar namanya saja telingaku menangkap sinyal asing. Namun disitulah letak tantangannya, karena mungkin ini akan jadi pengalaman sekali seumur hidup.

Kunikmati perjalanan ini dengan ditemani merdunya suara Ayu Ting Ting dengan Alamat Palsunya. Semoga saja aku tidak salah alamat. Ditemani si Keling, sepatu warisan Bapakku tercinta, ku susuri perjalanan mahal ini. Edy dan Azis nampaknya sudah tertidur pulas. Akhirnya aku pun ikut diculik ke alam mimpi.

Perjalanan panjang berhenti di sebuah desa terpencil ini. Kami disambut hangat oleh Kepala Daerah setempat. Kami ditempatkan di sebuah rumah panggung kecil beralaskan papan dan berlangit daun rumbia. “Wah ini sudah lebih dari cukup Pak, terimakasih banyak Pak”, kataku sambil menjabat tangan Pak Mensen, Kepala Desa Ngkodal yang baik hati ini. Beliau lalu menuntun jalan ke Sekolah Dasar tujuan kami.

Hari pertama mengajar, aku awali dengan doa dan langkah penuh semangat. Sesuai saran Pak Kades, kami berangkat pagi-pagi sekali. Dengan pakaian rapi dan si Keling yang mengkilap. Hati-hati kami lalui jembatan papan yang terasa tidak kuat menahan bobot Azis sehingga membuat lantainya menjerit. Kejadian itu membuat kami tak kuasa menahan gelak tawa.

Setelah sungai, kami harus melewati jalan menanjak kemudian anak sungai dangkal yang didominasi oleh bebatuan besar. Setelah kami tempuh jarak sekitar 5 km, akhirnya kami sampai di SD Negeri 050780 Ngkodal.

“ Turis…turis…” bisik anak-anak yang terheran-heran melihat kami. “Wah dikirain turis, haha, ternyata aku ganteng juga ya Zis” dengan percaya diri Edy langsung menghampiri anak-anak yang berbisik itu. Kami lalu menyusul menyapa mereka yang baru selesai melaksanakan upacara bendera.

Kepala Sekolah lalu memperkenalkan kami karena akan mengajar di SD ini selama satu tahun. Yang membuat hatiku terkesima adalah sambutan mereka sangat ramah dan gembira atas kehadiran kami. Aku pun bertekad dalam hati untuk mengamalkan isi Pembukaan UUD’45, yaitu “Mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia…”

Aku bersemangat mengayunkan kapur ke papan tulis. Menuliskan nama lengkapku, ‘Muhammad Abbas Daud’. Yang membuat ku heran, saat diminta untuk membacanya, tak satu pun murid mengeluarkan suaranya. Mereka malah tersenyum, ada yang malu-malu, ada yang salah tingkah, dan sebagainya. Mereka saat ini duduk di Kelas 1, namun menurut potongan wajah dan posturnya sudah setara dengan murid kelas 5 atau 6.

“Begitulah Pak, mohon bimbingannya agar anak-anak ini dapat membaca dan menulis sehingga bisa naik kelas”, jawab seorang guru atas pertanyaan yang kuajukan. “Wah ini tantangan baru untukku”, bisikku dalam nurani.

Setiap hari Aku, Edy dan Azis tak jemu-jemu mendidik murid-murid betuah ini. Kami pun membuka les tambahan seusai jam belajar. Melihat antusias mereka, kami yakin bahwa selama ini mereka hanya tidak mendapat kesempatan dan metode pengajaran yang tepat. Maklum, tenaga pengajarnya hanya orang lokal yang pendidikan tertingginya tamatan SMP.

Semakin hari, semakin terasa kedekatan diantara kami dan anak-anak ini. Timbullah rasa sayang kepada mereka. Kami sangat menikmati pengabdian ini, mendidik generasi emas Indonesia. Walaupun jalan terjal yang setiap hari menanti, walaupun malam hari hanya ditemani sumbu api, karena belum ada listrik, dan walaupun harus menuruni bukit selama 45 menit untuk mengisi baterai HP dan mendapatkan sinyal sekadar melepas rindu dengan Mamak nun disana, ada secercah harapan yang kami miliki agar anak-anak ini nantinya mendapat pendidikan dan kehidupan yang layak di masa depan.

Hari itu sangat berat bagi kami untuk melangkahkan kaki. Terpampang raut kesedihan di wajah kami bertiga. Ya, hari ini tiba juga. Seusai pelajaran berakhir seluruh murid berjajar rapi membuat barisan. Salah seorang murid dengan gagahnya maju kedepan memberikan sebuah kado untuk kami. Sambil memberi penghormatan ia berusaha menegakkan bahunya. Namun, keadaan mencair ketika ia tak sanggup membendung air matanya. Isak tangis memayungi langit hari itu. Semua murid berlari ke arah kami. Kami pun tak kuasa menahan haru. “ Bapak gu..gu..ru ba..ik, jangan pergi…” pelik seorang murid tersedu-sedu. Aku merangkul murid-murid ku, “Jangan bersedih nak, ingat semboyan yang Bapak ajarkan.” Seluruhnya dengan serempak meneriaki “INDONESIA NEGERI KU, AKAN KUHARUMKAN NAMAMU!!” sebuah drama yang tidak direkayasa, beginikah rasanya jika harus berpisah dengan hal yang sangat kau sayangi? Ada pertemuan pasti ada perpisahan.

Akhirnya perjalanan mahal ini terbayar sudah dengan keberhasilan mereka menguasai pelajaran-pelajaran dasar. Perasaanku sangat kacau. Sedih, bahagia, haru, dan lega. Sedih, karena harus meninggalkan kenangan ku bersama mereka. Bahagia, karena melihat mereka mampu berkembang dalam belajar. Haru, karena dapat bertahan hidup di tanah rantau di negeri sendiri selama setahun. Dan lega, karena sebentar lagi aku akan berjumpa dengan Mamak. “Selamat tinggal NTT, semoga suatu saat nanti aku dapat berpijak ke tanah ini lagi melihat kesuksesan kalian murid-muridku.”

Jumlah kunjungan: 184 kali

Leave a Reply

Your email address will not be published.