JOHN Lennon tidak tinggal di Salatiga. Tapi lewat kata-kata, ia sampai di sana. Sepenggal lirik lagu Imagine ciptaannya tadi tercetak di salah satu poster yang terpampang besar di tembok Salatiga. Tepatnya, di dinding Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW).
Dua menit berjalan kaki dari dinding tadi berdiri beberapa rumah indekos. Kebanyakan mahasiswa yang berkuliah di UKSW menetap di sana. Salah satunya adalah indekos Himell yang berlokasi di Jalan Kemiri, RT.01/RW 09, Sidorejo, Salatiga. Gedungnya bercat krem. Tiga lantai, tiga puluh lima kamar. Satu kamar untuk satu orang dan semua penghuninya putri.
Di balik tembok megah Himell, Levina, seorang muslim asal Batang, tinggal lantai dua pondokan tersebut. Ia mahasiswi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) semester tujuh di UKSW. “Teman-teman di sini baik semua. Berbeda etnis dan agama bukan masalah, justru keberagaman itu bagus,” katanya saat Sejuk temui Sabtu (3/9) kemarin.
Masih mengenai keberagaman di indekos Himmel, penghuni lantai satu di samping dapur menambahkan informasi rekan seindekosnya itu dengan bangga. Namanya Kartika. Sudah hampir dua tahun ia memilih menjadi salah satu bagian dari keluarga besar Himell. Dara asal Batak ini merasa bersyukur dapat berada di tengah keberagaman, tentu dengan keberadaan teman-teman satu indekos yang berasal dari berbagai etnis dan agama. “Kami memang beda-beda suku dan agama, tapi disini kadang ada kumpul bareng sama anak indekos tiap malam minggu, atau kerja bakti membersihkan lingkungan indekos,” kata Kartika.
Kartika juga bercerita pengalamannya bersama teman satu indekos di Himmel saat hari raya Idul Fitri. “Pernah waktu itu, kami yang Kristen mengajak teman-teman yang muslim untuk buka puasa bersama, kalau mereka puasa, kami juga ikutan puasa,” tambahnya.
Indekos Himmel sendiri dipunyai oleh seorang Tionghoa dan dijaga oleh wanita Jawa bernama Harsih. Sambil menggendong anaknya yang terus nggelendot rewel, ia dengan ramah bercerita kepada Sejuk bahwa indekos ini dihuni oleh berbagai etnis seperti Manado, Ambon, Jawa, Tionghoa bahkan beberapa diantaranya Batak. Tidak ada pelabelan khusus ihwal agama. “Mau agama apapun, tidak ada pengelompokan disini. Pokoknya umum,” ujarnya.
Kota Toleran
Salatiga memang patut diacungi jempol. Ia dinobatkan Setara Institute sebagai kota paling toleran nomor dua di Indonesia pada 2015. Salatiga bahkan menjadi satu-satunya kota di pulau Jawa yang masuk peringkat sepuluh besar. Beberapa indikator yang digunakan antara lain peraturan daerah yang memuat unsur diskriminasi, regulasi sosial, demografi agama, dan respons pemerintah terhadap insiden pembatasan keberagaman. Tentu, ada beberapa kontributor yang mendukung indikator tersebut untuk dipenuhi. Antara lain pemerintah, masyarakat setempat, dan mahasiswa.
Bagaimana dengan daerah lain di Indonesia?
Kota Jember misalnya. Sebuah kisah Sejuk dapatkan dari Ani Mazidah, mahasiswi Universitas Jember yang tinggal di Jember. Ia muslim. Tinggal di balik dinding rumah kontrakan sejenis indekos, yang mewajibkan penghuninya untuk beragama seragam.
Keasingan begitu mencuat ketika salah satu rekan jurnalis mendatanginya di indekos tersebut. Dengan pandangan ‘berhati-hati’ , mereka menyambut rekan kami dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan umum seperti bertanya nama dan keperluan.
“Mereka kesini untuk keperluan apa? wartawan, ya? ”, hujan mereka dengan nada khawatir. Ani terlihat berbisik pada mereka, tidak terlalu jelas apa yang mereka bicarakan.
Mereka (red : penghuni kos) masih mengawasi rekan kami dengan lirikan tajam, bahkan hingga ke area kaki. Ia bertanya pada Ani pelan.
“Bilang pada mereka kalau saya datang untuk bersilaturahmi dan ingin berbincang sebentar”
“… kami khawatir terjadi konflik jika ada tamu yang berbeda keyakinan bahkan berbeda agama datang kesini,” ungkap Ani.
Kesan tertutup bukan hanya dimiliki oleh kelompok muslim. Banyak mahasiswa non muslim juga memiliki kelompok sendiri dan susah berbaur dengan agama lain. Walau tertutup dan cenderung eksklusif, konflik keagamaan jarang sekali terjadi di Jember. Ini yang kemudian membuat masyarakat sekitar menganggap bahwa warga Jember memiliki toleran yang tinggi. Ironis.
Toleransi Diskriminatif dan PR Toleransi
Sekitar tiga menit berjalan kaki dari indekos Himell, Sejuk sampai di rumah Ketua RT 01/RW 09, Yuswanto (65). Ia mengakui penguni indekos di lingkungannya memang beragam. “Yang penting rukun. Anak-anak indekos sering ikut kerja bakti bersama warga,” ujarnya. “Kemarin waktu [perayaan] 17-an, juga ikut drumband-an [main musik] itu.”
Himell hanya salah satu indekos yang menjamur di kawasan ini. Yuswanto mengungkapkan, hampir setiap rumah di RT-nya digunakan sebagai usaha indekos. Di balik dinding bisu indekos inilah tinggal para mahasiswa dengan beragam latar belakang. Plus-plus. Plus etnisnya, plus agamanya. Untuk menjamin ketertiban, setiap induk semang akan menyetorkan biodata para penghuni indekosnya. “Penghuninya harus isi biodata,” ungkap lelaki yang sudah menjabat Ketua RT selama 12 tahun tersebut.
Mayoritas penduduk Sidorejo sendiri beragama Islam. Mahasiswa yang beragama Kristen, rata-rata beribadah di Gereja Kristen Jawa yang terletak di depan kampus UKSW. Dua masjid juga berdiri di kawasan Kemiri. “Kalau Idul Fitri misalnya, banyak juga [umat Kristiani] yang mengucapkan selamat lebaran,” tambah Yuswanto. Pembauran dan saling menghargai antar umat beragama pun terjadi.
“Kadang-kadang agak terganggu juga dengan anak-anak yang dari [Indonesia] Timur,” Yuswanto melanjutkan ceritanya. Mayoritas penghuni indekos memang dari kawasan Indonesia Timur, semisal Papua, Kupang, dll. “Sering mereka mabuk. Teriak malam-malam.”
“Kalau kami sering mengistilahkan itu, anak-anak hitam itu mereka. Agak nakal memang,” tutup Yuswanto.
Sejuk tercengang dengan sebutan anak-anak hitam yang keluar dari mulut Yuswanto. Tolerankah? Rasiskah? Syukurnya, rasa tidak suka di redam, tanpa menjadi sebuah dendam.
Mungkin kata-kata John Lennon mesti dipahat di seluruh dinding di Salatiga.

Jumlah kunjungan: 81 kali

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published.