Medan, 16 Februari 2017 – Di era digital saat ini, perkembangan teknologi dirasakan begitu cepat. Sama halnya saat mengakses informasi. Hanya satu klik, kita mendapatkan berbagai pilihan headline yang ingin digali. Perlahan masyarakat beralih dari media cetak ke media online. November 2014 silam misalnya, Kompas Gramedia resmi mengumumkan berakhirnya perjalanan sembilan dari total 60 majalah dan tabloid yang mereka kelola. Sembilan terbitan itu sendiri meliputi majalah CHIC, tabloid Soccer, majalah Forsel, majalah Ide Bisnis, majalah InStyle, majalah More, majalah MSLiving, Fortune Indonesia, dan Digital Eight[1]. Setelah itu, menyusul tumbang berikutnya adalah Tabloid Bola yang pada masanya pernah menjadi media olahraga paling tersohor di negeri ini. Bukan hanya Kompas dan Tabloid Bola, masih ada media cetak lain yang memilih menutup operasionalnya.

Hal ini menjadi pertanyaan, dapat bertahankan media cetak di era digital? Dalam diskusi interaktif yang diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Pembangunan (STIK-P) pada 15 Februari2017, pembicara memaparkan tantangan dan alternative solusi untuk mempertahankan eksistensi media cetak. Diskusi yang diadakan di aula kampus, Armin Rahmansyah Nasution selaku pengamat ekonomi menjelaskan bahwa media cetak harus mencari cara agar tetap diminati pembaca. Media cetak hendaknya menetapkan market atau target pasar dengan jelas, kepada siapa media cetak tersebut diperuntukkan. “Media cetak harus pandai membuat market dengan jelas, pemasaran juga handal,” tutur Armin, yang sekarang banyak disibukkan menjadi dosen di salah satu perguruan tinggi negeri.

Nurhalim Tanjung, salah satu pembicara diskusi interaktif, yang merupakan praktisi media online memberikan alternative lain untuk mempertahankan eksistensi media cetak. “Gratiskan koran, dengan banyaknya oplah yang tersebar, maka iklan akan masuk,” jelas Halim, sapaan akrab beliau. Iklan merupakan salah satu sumber income untuk media massa. Beliau memberikan perumpamaan bahwa dahulu banyak yang meramalkan sepeda tidak akan diminati ketika ditemukannya sepeda motor. Namun, saat ini faktanya sepeda tidak tergerus oleh zaman, masih tetap digunakan.
Beberapa pihak mulai meragukan eksistensi media cetak, namun masih banyak yang optimis dapat bertahan dan berkembang. Dengan adanya inovasi, diyakini media cetak masih memiliki banyak peminat.
[1] http://www.harianbernas.com/berita-1536-Tantangan-dan-Peluang-Media-dan-Jurnalis.html

Jumlah kunjungan: 138 kali

Leave a Reply

Your email address will not be published.