Medan – Kreatifonline.com, Matahari tepat berada di atas kepala,ketika kutemui kedua bocah tersebut. Dengan baju seadanya sambil menggenggam aqua gelas kosong di tangan, mereka setia menunggu di simpang Aksara Medan. Menunggu hingga lampu merah menyala dan kembali beraksi. Romi dan Febri, begitulah nama kedua bocah itu di panggil. Peluh yang membasahi, tak menghalangi mereka untuk singgah kepintu-pintu mobil dan angkutan umum yang berhenti di lampu merah. Dengan bermodalkan suara sambil bertepuk tangan, mereka singgah untuk bernyanyi di depan pintu angkutan umum. Romi (8), saat ini masih bersekolah di SD Impres Letda Sudjono Medan. Hampir setahun sudah ia menjalani profesi ini. Ayahnya yang sudah meninggal dan ibunya yang berprofesi sebagai tukang cuci, memaksa dia untuk membantu kehidupan keluarganya dan juga biaya sekolahnya. “Saya ingin membantu keluarga, dan saya juga ingin terus bersekolah. Saya tak ingin putus sekolah, jadi saya mengamen untuk membantu ibu saya,” katanya polos.

Ia juga mengatakan bahwa ibunya yang menyuruh dia untuk mengamen karena ibunya tak sanggup membiayai sekolahnya. Lain halnya dengan Febri (11), bocah yang bersekolah di SD PAB ini mengatakan bahwa ia mengamen bukan karena suruhan orang tuanya. ia mengamen, agar ia bisa menabung untuk masa depannya. Ayahnya yang berprofesi sebagai seorang tukang becak dan ibunya yang hanya sebagai tukang cuci membuatnya yakin bahwa orang tuanya tidak mungkin bisa membiayai pendidikannya hingga ia dewasa kelak. Hampir empat tahun sudah ia menjalani profesinya ini. Tentu bukan sedikit halangan dan rintangan yang dihadapinya di jalanan yang tidak bersahabat ini. ” Wah… waktu itu, saya teman-teman saya pernah di tangkap SatPol PP. Mereka membawa kami ke kantornya. Disana kami dinasehati dan disuruh agar tidak mengamen lagi. Emang sih, besoknya kami tidak mengamen. Tapi, esok lusanya kami kembali lagi beraksi ! Ha…ha…” ucapnya sambil tertawa.

Romi juga punya pengalaman buruk saat mengamen. Ia bercerita bahwa ketika ia mulai mengamen dulu, masih ada pengamen yang usianya jauh lebih tua darinya yang selalu minta setoran darinya ketika ia mengamen. “Sekarang duit kami dapat sudah buat kami sendiri. sudah tidak ada lagi yang berani minta setoran begitu,” ucap bocah yang tinggal di Jalan Sudjono Medan ini.

Walaupun niat mereka positif, yaitu mengamen untuk biaya pendidikan, namun tetap saja ada efek negatif dari profesi mereka sebagai pengamen jalanan ini. Di usianya yang masih sangat muda ini, Romi sudah mengenal judi dan rokok. Anak bungsu dari empat bersaudara ini mengaku mulai mengenal judi dan rokok ketika ia mengamen di jalanan. “Saya mulai mengenal rokok ketika saya mulai jadi pengamen. Waktu itu, abang-abang yang juga sering mangkal disini ngasi saya rokok, ya…saya terima saja,’ ungkap Romi.

Tak berbeda dengan Romi, Febri, bocah yang tinggal di Tembung Medan ini juga mengaku sudah merokok, padahal usianya masih tergolong sangat muda untuk menghisap tembakau-tembakau itu. “Tapi kami berusaha untuk tidak terjerumus lebih dalam lagi, kayak narkoba dan sejenisnya,’ ucap mereka kompak.

Dan ternyata, walaupun masih belia mereka juga sudah pintar membagi waktu. Mereka membuat jadwal setiap harinya. Di pagi hari mereka bersekolah dan sepulang sekolah mulai mengamen hingga petang atau malam hari. Kemudian sesampainya di rumah, mereka menyempatklan diri untuk mengerjakan tugas dari sekolah. Hasil yang didapat dari mengamen juga lumayan. Romi mengaku mendapat hasil ngamennya sekitar lima belas ribu hingga empat puluh ribu setiap harinya. Sedangkan Febri sering mendapat uang berkisar dari dua puluh ribu hingga tiga puluh ribu setiap harinya. Wah… kalau dipikir-pikir itu hasil yang bukan sedikit untuk anak seusia mereka.

Cita-cita mereka yang tinggi diantara keluarga yang kurang mampu, membuat mereka nekat hidup dijalanan yang tentu tak semanis gula aren. “Saya ingin menjadi polisi, biar bisa menangkap penjahat,” ucap Romi mantap. Terlihat Febri juga tersenyum, “kalau saya sih mau jadi dokter,” ucapnya smbil tersnyum malu.
Hmm…. dua jempol deh buat mereka.

Jumlah kunjungan: 901 kali

Leave a Reply

Your email address will not be published.