Kreatifonline.com, Medan Suatu hari di kampung Mangarap, hiduplah sebuah keluarga kecil yang sederhana yaitu seorang ibu dan satu anaknya. Ibu itu bernama Ibu Eda, Ibu Eda selalu memakai sarung dan sendal. Rambutnya sebahu, kulitnya berwarna cokelat sawo matang, bulu matanya lentik dan cantik. Meski hidup dengan segala kekurangan, Ibu Eda adalah seorang yang baik dan suka bergaul. Ia terkenal akan keramahannya di Kampung Mangarap. Ibu Eda seorang petani ubi sekaligus seorang tukang cuci di kampung itu. Ibu Eda mempunyai anak yang cerdas dan rajin. Anaknya pun memiliki bulu mata yang sama lentik seperti Ibu Eda. Rambutnya hitam dan lurus, badannya pendek. Tingginya hanya sekitar sepinggang Ibunya. Birong namanya, Birong oun masuk sekolah favorit di kampung mangarap. Suatu ketika di pagi yang cerah itu.
“Birong gak mau masuk sekolah!”, ujar Birong dengan mata berkaca-kaca. Hatinya sangat galau.
“Kenapa, Ro?”, tanya Bunda sambil menghampiri anak semata wayangnnya yang sudah memakai seragam sekolah itu.
“Birong malu, Bunda. Bunda ingatkan waktu Birong masuk sekolah baru dulu?”.
“Ingat Ro, tapi kenapa?”.
“Birong ditertawakan teman-teman baru waktu memperkenalkan diri. Mereka bilang nama Birong itu aneh”. Bunda hanya tersenyum, dielusnya kepala Birong.
“Itukan dulu, waktu kamu masih SD. Sekarang kamu sudah SMP, sudah besar. Begitu juga dengan teman-teman barumu, Ro. Jangan berprasangka dulu…”, terang Bunda.
“Pokoknya gak mau. Birong tetap gak mau masuk sekolah hari ini”.
“Tapi ini kan hari pertamamu di SMP, Ro”.
“Iya, tapi Birong tetap malu, Bunda…”
“Waktu dulu Bunda kenapa sih kasih nama Birong?”, tambahnya lagi.
Bunda terdiam ketika mendengarnya, wajahnya tampak sedih. Ia teringat, waktu kecil dulu. Kulit Birong sangat hitam seperti arang. Di kampung Mangarap, orang yang kulitnya hitam sekali biasa dijuluki si Birong.
“Kenapa dulu Birong tidak dinamai Freddy, Yohanes, Petrus, atau Stepanus saja? Kenapa harus Birong, kenapa Bunda?”.
“Namamu itu pemberian almarhum Bapak, Nak”, jawab Bunda lirih.
Birong terkejut. Terlintas bayangan bapaknya yang gagah, yang biasa dilihatnya hanya lewat foto.
“Nah, sekaranng berangkatlah. Nanti malam sebelum tidur, Bunda ceritakan semuanya”.
“Benar ya, Bunda”.
“Iya-iya”, Bunda membelai rambut Birong.
Birong pun mencium tangan Bunda dan segera berangkat. Sesaat Birong tampak ragu-ragu. Ia teringat kemungkinan akan diejek teman-teman barunya nanti. Namun teringat nama itu pemberian almarhum Bapaknya, Birong mencoba untuk tidak perduli.
Sesampainya di sekolah, yang dikhawatirkannya pun terjadi. Ketika Pak Regar, wali kelasnya memanggil namanya, anak-anak serempak terbahak-bahak.
“Apa? Birong?? Hahahaha”, celetuk salah satu murid sambil tertawa.
“Iya cocoklah sama orangnya, itam!”.
“Hahahaha Birong, Birong. Kalo mati lampu gak nampak la itu”.
“Kecap-kecap!”
“Aspal-aspal”
“Bukan wee, arang-arang. Hahahaha”, sambung anak-anak yang lain.
“Diam semuanya!”, bentak Pak Regar memuluk meja sambil melototi murid-muridnya.
Murid-murid pun terdiam seketika. Lalu Pak Regar mempersilahkan Birong untuk maju disampingmya. Birong berusaha menenangkan hatinya. Ia tidak ingin kelihatan grogi. Bayangan Bapaknya membuat ia berdiri tegar. Pak Regar pun mempersilahkan Birong untuk melanjutkan.
“Nama saya Birong. Panggil saja saya Roro”, anak-anak kembali tertawa pelan. Birong tak perduli.
“Sudahlah, Birong ya Birong aja. Roro-roro, apaan tuh. Hahahaha”, bisik salah satu murid.
“Siapa itu yang bisik-bisik, hah! Awas kalau nanti kedapatan ya!”, tegas Pak regar memelototi murid-murid. Birong merasa terlindung, Ia meneruskan.
“Bapak saya seorang ABRI. Tapi beliau…”, Birong berhenti bicara. Ia menunduk dan matanya berkaca-kaca.
“Kenapa beliau, Ro?”, tanya pak Regar.
“Beliau sudah meninggal…”, ucap Birong tersendat. Kelas langsung menjadi hening sesaat. Pak Regar mengusapkan tangannya ke bahu Birong.
“Coba ceritakan sedikit, Ro?”, tanya Pak Regar ingin tahu.
“Roro juga belum tahu Pak…”, jawab Birong polos.
“Memang sejak kapan Bapak kamu meninggal, Nak?”.
“Sejak dari lahir, Pak”, jawab Birong tegar. Birong pun kembali duduk dibangkunya.
Malamnya, Birong masih terlihat sedih. Birong menatap foto Bapak. Ejekan dan tawaan teman-temannya masih tergiang di telinganya.
“Loh belum tidur, Ro?”, Birong terkejut mendengar suara Bunda yang datang menghampiri dan langsung menyembunyikan foto Bapak yang dipegangnya tadi.
“Apa itu, Ro?, Bunda langsung mengetahui dan mengambil apa yang disembunyikan Birong dan tersenyum.
“Katanya Bunda mau cerita tentang, Bapak…”, terang Birong. Bunda kembali melebarkan senyumnya sembari mengelus-elus kepala Birong.
“Maafkan Bapakmu yang telah memberimu nama yang menurutmu aneh, Nak”, ujar Bunda kemudian mulai bercerita.
Ternyata ketika Birong lahir, Bapaknya baru pulang dari tugas luar daerah. Saat itu, kulit bapak yang sudah hitam, semakin hitam. Begitu hitamnya sampai Bapak berkata,
“Ihh, Birong kali kulitku ya!”.
“Ketika melihat kulitmu yang juga hitam, Bapak jadi ingin menamaimu Birong. Sebenarnya ibu tidak setuju. Namun tidak disangka, sebelum hari pemberian namamu…”, Bunda berhenti sejenak. Birong menatap ibu dan menunggu kelanjutan dari cerita ibu.
“Bapak meninggal dunia karena kecelakaan”, lanjut Bunda merangkul Birong sambil terisak.
“Akhirnya Bunda mengabadikan usul Bapak menjadi namamu, Nak”. Birong terdiam mendengar cerita Bunda. Suasana menjadi sunyi.
“Tapi apalah arti sebuah nama? Apa artinya kalau punya nama bagus kalau perilakunya jelek?”, lanjut Bunda tersenyum mengusir kesunyian.
“Namamu boleh Birong, alias hitam. Tapi hati Roro putihkan? Itu yang paling penting”, tambah Bunda. Birong mengangguk-angguk. Lalu Bunda meninggalkan setelah mencium kening Birong. Birong pun merebahkan tubuhnya, berdoa, dan tidur dengan lelap.
Keesokkan harinya dengan semangat dan percaya diri Birong berangkat ke sekolah tanpa menghiraukan nama miliknya itu.

Jumlah kunjungan: 48 kali

Leave a Reply

Your email address will not be published.