Medan – Kreatifonline.com – Kau pernah mendengar istilah bibir burit? Ya, ya..bibir yang setiap kali melontarkan kata – kata serupa melontar kotoran. Tapi aku, lebih dari sekedar mendengar istilah itu, aku bahkan sudah melihatnya sendiri saat aku masih sekolah. Disini, di kota ini. Sekarang duduk dan simaklah agar kelak kau berhati – hati dan tak terjebak oleh kelucuan bentuk bibir mereka.

Bibir burit I; bentuknya mirip bibir, tapi itu tetaplah burit
Dia temanku, teman sekelasku di SMP. Sekolahku itu, dulunya adalah sekolah favorit yang terletak di jantung kota. Jadi disanalah, pertama kalinya aku mengenal dia. Namanya Tri. Dia anak guru Budi Pekerti di sekolahku. Ibunya sangat galak. Siswa nakal yang tidak memakai sepatu hitam, yang berambut gondrong dan yang memakai seragam ketat adalah sasaran utama kemarahan Ibunya.

Sewaktu semester pertama, Tri duduk sendirian di bangku paling depan, tepat berhadapan dengan meja guru. Sementara aku duduk di bangku nomor tiga dari enam bangku yang ada. Teman sebangkuku bernama Ira. Karena aku adalah pendatang baru di kota itu, aku belum tahu-menahu tentang mencari teman. Saat di kampung, teman – temanku adalah anak – anak mandor. Kami tak boleh berteman dengan anak – anak pegawai biasa. Apakah di kota juga ada aturan semacam itu, aku pun belum tahu.

Mulanya Ira adalah teman yang baik. Dia sering mengajakku bermain ke rumahnya. Kukira dia adalah anak tunggal, tapi ternyata tidak. Dia memiliki dua orang adik perempuan, tapi mereka tinggal bersama Ayahnya di luar kota.

“Ayah Ibuku sudah cerai, Mel,” jelasnya lesu saat kupandangi foto keluarga yang gagah terpajang di ruang tengah. Bingkainya sungguh besar dan berwarna keemasan, wajah – wajah di foto itupun tersenyum begitu gemilang. Sayang sekali, pikirku.
“Adik – adikmu sekarang sudah kelas berapa?” tanyaku kemudian. Dia diam menatap foto itu. Tanpa menjawab, ditariknya tanganku. Di dapur, kami mengambil dua batang es krim yang lembut dari kulkas, lalu menjilatinya sambil menonton televisi di kamar Ibunya.
Kami berteman cukup lama hingga naik ke kelas tiga. Untuk pertama kalinya itu, Ira mengenal pacaran. Sepertinya ada yang salah dengan dirinya. Dia tumbuh semakin dewasa setiap hari. Dia tak mau lagi bermain lompat karet denganku. Ira yang bertubuh langsing dan berkulit putih itu paling senang dibonceng kesana kemari dengan pacarnya, anak kuliahan katanya. Bibirnya selalu diolesi lipstik merah muda. Seragamnya pun semakin hari semakin ketat, entah karena tubuhnya yang tumbuh membesar atau memang sengaja dikecilkannya di tukang jahit. Dia seksi dan tinggi.

“Duh, Mel. Sudah saatnya kita sebagai cewek, harus belajar berdandan. Cowok – cowok itu, cuma mau mendekati cewek yang cantik saja. Kalau kau seperti ini, mana ada cowok yang mau jadi pacarmu.” Ira mengoleskan lipstik ke bibirku. Aku menurut saja.
“Jadi kalau aku cantik, pacarku akan banyak, ya?” tanyaku polos.
“Ya, tentu saja nona manis.”
“Sebenarnya pacar itu untuk apa, sih?”
“Hmm..untuk jadi pelayanmu. Nanti kau diantar jemput ke sekolah, ditraktir makan bakso, dibelikan baju baru. Kalau dapat pacar yang ganteng, kau bisa pamerkan ke teman – temanmu.”
“Menurutmu, apa aku bisa dapat pacar?”
“Ya! Nanti kukenalkan, ya. Anak kuliahan..”

Itu kali pertama aku dijemput untuk bermalam minggu. Namanya Bang Widi. Aku tak mau Ayah memergokiku, dia bisa sangat murka. Jadi aku menyuruh Bang Widi menjemputku di rumah Ira. Dia mengajakku duduk di taman. Sambil minum es kelapa, aku mendengarkan cerita tentang teman – temanya di kampus. Astaga, aku masih SMP saat itu. Yang terlintas dipikiranku malah PR matematikaku yang belum siap dan aku masih bingung dengan persamaan kuadrat di halaman dua ratus sepuluh.
Semester dua di kelas tiga. Teman – temanku sibuk belajar untuk persiapan Ujian Nasional, sementara aku sedang mencoba mengendalikan diri dari sakit hati setelah putus dengan Bang Widi. Setiap malam aku menangis, mengenang masa – masa malam minggu yang romantis.
Ternyata dibelakangku, Bang Widi telah memiliki kekasih yang jauh lebih cantik daripada aku. Berseragam putih abu-abu pula.
“Sudahlah, masih banyak cowok lain. Kita kan masih muda, masih bisa lebih dipoles lagi, semakin cantik. Cewek seumuran kita ini, bisa dapat lebih banyak baju bagus, handphone baru, uang. Hmm..” Ira menyisir rambutku.

“Aku jera.”
“Loh kenapa? Kau seharusnya bisa membuktikan diri pada si Widi itu kalau kau bisa dapat cowok yang lebih daripada dia. Jangan mau jadi mantan.”
“Tapi..”
“Kalau aku jadi kau, aku pasti sudah cari cowok baru lagi. Biar kubuat mantanku itu menyesal karena selingkuh dan menyia-nyiakanku!”
Tiga hari aku tak mau pulang ke rumah. Aku kabur dari guru les privat yang didatangkan Ayah. Aku malas belajar. Aku mau berdandan di rumah Ira. Setiap sore, teman – teman Ira datang ke rumahnya. Kebanyakan teman – temannya adalah anak SMA, katanya kenalan dari dunia maya. Aku dikenalkan dengan salah seorang dari mereka dan kami pacaran.

Beberapa hari kemudian, aku dipanggil guru BP. Ayah melaporkanku padanya. Hampir sejam aku dinasehati. Gencar sekali bibir guru BPku itu melontarkan kalimat – kalimat emas, serupa tayangan motivasi di televisi. Aku tak ingin berontak dan membuat Ayah malu, jadi kudengarkan saja sampai dia lelah. Setelahnya, aku dipindah kelaskan. Aku pun duduk sebangku dengan Tri. Persis Ibunya, Tri juga gemar menasehatiku.
Aku ingin sekali mengadu pada Ira saat itu, tapi dia sudah dua hari tak datang. Ketika aku hendak menghubunginya, justru kabar mencengangkan yang kudengar.
“Teman – teman sekalian. Mohon sumbangannya, teman kita, Ira, dari kelas tiga-dua, telah meninggal dunia semalam.” Ketua OSIS mengedarkan kotak untuk uang bela sungkawa.
Esoknya, berita tentang Ira dimuat di koran. ‘Seorang Siswi SMP Tewas Setelah Diperkosa,’ begitulah judul beritanya. Sungguh malang.
Bibir burit II; bau kotoran
Dia temanku, teman sekelasku di SMP. Sekolahku itu, dulunya adalah sekolah favorit yang terletak di jantung kota. Jadi disanalah, pertama kalinya aku mengenal dia. Namanya Tri. Mulanya Tri adalah teman yang baik. Dialah teman sebangkuku selama satu semester terakhir di kelas tiga. Semula, kupikir dia adalah orang yang bijak dan berpikiran maju.
“Ibu selalu menasehatiku untuk memeriksa barang bawaan kita dulu, sebelum pulang. Untuk memastikan kalau tak ada barang yang tertinggal,” katanya padaku.
“Iya juga. Aku sering ketinggalan pulpen di laci, eh besoknya pulpenku sudah hilang entah kemana.” Kubuka kembali tasku dan memastikan peralatan tulisku sudah lengkap.
“Seharusnya memang begitu. Kalau kita menurut kata – kata orang tua, pasti hidup kita akan selamat.”
Aku mengangguk setuju. Selama duduk sebangku dengannya, aku terpacu untuk belajar. Ayah sangat senang bila aku membawanya bermain ke rumah. Bahkan Ibu dengan senang hati membuatkan mi goreng dan jus jeruk untuk kami.
“Si Tri itu teman yang bagus, Nak. Ibu lihat, dia membawa pengaruh baik untukmu. Begitulah baru yang namanya teman. Saling memotivasi,” kata Ibu.

Karena orangtuaku menyenangi Tri, aku pun mendaftar di SMA yang sama dengannya setamat dari SMP. Itu juga adalah SMA favorit di kota. Tentu banyak peminatnya. Tapi sekolah itu hanya mampu menerima seperempat dari pendaftar, diurutkan sesuai nilai rata – rata ujian nasional. Aku tidak diterima.
“Apa Melinda memang yakin mau sekolah disitu?” tanya Ayah, raut wajahnya agak serius. Aku tahu Ayah hanya berpura – pura kecewa karena dibelakangnya, Ibu tersenyum – senyum.
“Iya, Yah. Maunya sebangku lagi dengan Tri.” Aku menatap mata Ayah, memohon.
“Ya sudah. Disana ada teman Ayah, nanti dia yang ngurus supaya Melinda masuk disana, ya.” Ayah mengembangkan senyum, aku menggapai tangan Ayah dengan melompat – lompat gembira. “Tapi janji, belajarnya yang serius. Ayah enggak mau dengar kalau Melinda buat masalah, ya.”
Aku berjanji, benar – benar sepenuh hati.
“Mel?” Alangkah terkejutnya Tri melihat kehadiranku di sekolah itu. Matanya mendelik tak percaya. Aku tahu apa yang dipikirkannya, bagaimana mungkin aku yang baru kemarin pagi dinyatakan tidak diterima tapi hari ini bisa memakai baju seragam bersimbolkan nama SMA yang sama dengannya?
“Hai,” sapaku. Aku sangat merindukannya.
“Kok Mel bisa masuk disini?” tanyanya bingung.
Kuraih telinganya dan berbisik, “Namanya masuk dari jendela. Itu loh, yang masuknya harus pakai uang, istilahnya uang bangku.”
Tri tersenyum kecut, “Hmm..”
Persis harapanku, aku dan Tri duduk sebangku lagi. Tak pernah kuduga, Tri menjadi seorang yang memberi inspirasi bagi teman – teman sekelas. Nasehat – nasehatnya selalu mereka teladani. Banyak yang ingin curhat pada Tri, sebab itulah dia akhirnya menjadi murid populer dan memiliki banyak teman.
“Tapi kita harus selalu ingat siapa teman pertama kita. Karena dialah orang yang pertama kali berteman dengan kita saat tak seorangpun menghiraukan kita untuk dijadikan teman.” Tri menasehati Fitrah yang sedang bermusuhan dengan teman akrabnya.
“Kalau dia jahat? Suka menghianati?” desak Fitrah.
“Ya, namanya manusia. Mana ada manusia yang sempurna, kadang kita berbuat salah, bahkan tanpa kita sadari. Apa salahnya memaafkan orang lain? Apalagi itu teman pertama kita sendiri.” Fitrah, Yuli dan aku yang mendengarkannya serentak menganggukkan kepala.
“Jadi Tri selalu memaafkan kesalahan teman pertama Tri?” tanya Yuli.
“Iya lah. Melinda adalah teman pertamaku. Apapun kesalahannya sudah kumaafkan walaupun dia tak menyadari kalau sedang membuatku kesal.” Tri memandangku. Sejenak aku merasa senang, tapi sedetik kemudian aku baru menangkap maksudnya, itu bukan pujian, itu sindiran.
Tri tak hanya dikenal teman – teman seangkatan, tapi juga adik – adik kelas. Mereka menganggapnya sebagai motivator hebat. Kemanapun dia pergi, aku selalu ikut karena kukira dia adalah sahabatku. Jadi setiap ada yang curhat padanya, aku turut menjadi pendengar.
“Sebagai seorang anak, kita harus patuh pada orangtua karena sejatinya, orangtua menginginkan yang terbaik untuk anaknya.” Tri mengusap punduk Citra, adik kelas kami.
“Tapi Mami maunya Citra masuk IPA, sementara Citra kan suka pelajaran Geografi. Citra mau jadi guru Geografi, Kak.” Gadis manis berambut lurus sebahu itu menatap Tri dengan mata berkaca – kaca.
“Oke. Begini, lebih baik Citra jelaskan dulu baik – baik keinginan Citra pada Mami. Tapi kalau Mami tetap tidak setuju, maka ikutilah kata – kata Mami, ya.”
“Citra enggak mau, Kak.”
Tri mendesah,“Kalau misalnya Citra masuk IPS, tapi Mami Citra jadi marah. Mami Citra enggak mau lagi berbicara pada Citra, apa mau jadi anak yang seperti itu?”
Cepat – cepat Citra menggeleng.
“Kita tidak boleh menjadi anak yang menyusahkan orangtua. Apalagi sampai – sampai orangtua kita datang dan melapor ke sekolah karena kenakalan kita.” Tri melembutkan suaranya. Citra mengangguk setuju, lalu tersenyum lega. “Ya, kan Kak Mel?”
“Iya,” jawabku ringkas. Aku tahu, sudah jelas dia sedang menyindirku. Tapi ah, kurasa ada benarnya juga menasehati seperti itu agar menjadi pelajaran bagi adik – adik kelas, lagipula mereka kan tidak tahu masa laluku.

Saat duduk di kelas tiga, Tri menjadi begitu populer, hingga guru – guru mengenal dan membicarakannya. Tak hanya cerdas Intelek-nya, tapi juga cerdas attitude-nya. Dia terkenal santun dan jujur. Suatu kali dia mendapat juara satu lomba pidato menyambut Hari Pendidikan Nasional di sekolah. Untuk itu, seusai upacara memperingati Hari Pendidikan Nasional, dia diberi kesempatan emas untuk menyampaikan pidatonya yang menjadi juara satu itu.
Aku tak begitu tertarik untuk menyimak pidatonya hingga dia berkata dengan nada tinggi menghentak, “..Ada pula istilah uang bangku. Untuk anak – anak pejabat yang memiliki uang, mereka bisa dengan mudah mendapatkan akses masuk ke sekolah favorit manapun yang mereka inginkan. Inikah yang dinamakan kemerataan pendidikan? Di luar sana masih ada anak – anak yang kurang secara finansial tapi memiliki intelektual dan kejujuran..”
Aku benar – benar yakin, dia sedang menyindirku, sebab matanya tertuju ke arahku.
“Apa maksud pidatomu tadi?” kucegat dia di koridor lengang, setelah menemaninya ke kamar mandi. Kucengkram kedua bahunya.
“Ya, tentang pendidikan.”
“Bukan. Aku tahu kau menyindirku!” Kuacungkan telunjukku ke wajahnya.
“Kenapa Mel harus merasa tersindir? Aku kan tidak menyebut nama Mel tadi. Aku hanya menyampaikan fakta dan pendapatku,” katanya dengan suara merendah seperti sedang menasehati. Aku pun melunak dan melangkah mundur.
“Jangan terlalu sensitif, Mel. Kita tak boleh terbawa emosi. Jernihkan pikiran, hilangkan duga.” Dia menepuk punggungku. Ya, aku setuju. Saat itu kukira dia adalah seorang yang bijak dan jujur, tapi ternyata tidak. Setelah kuceritakan kejadian itu pada Ibu, barulah kutahu siapa dia sebenarnya. Adik bungsunya ternyata masuk melalui jendela sepertiku, itupun berkat bantuan Ayah.
“Ayahmu enggak tega melihat bekas guru BP mu itu datang kemari dan mengemis – ngemis seperti itu. Jadi Ayah yang mengurusnya. Uang bangkunya pun Ayah yang bayarkan. Kok tega ya dia seperti itu?” Ibu memelukku dengan sedih. “Sudah, lebih baik jangan berteman dengannya lagi.”
Bibir burit III; tak henti berkomat-kamit
Kata Ibu, mungkin Dinda, anak teman Ibu sewaktu SMA itu akan menjadi teman yang baik untukku. Kebetulan Dinda memang sekelas denganku. Sewaktu arisan, Ibu menceritakan tentang Tri pada Bundanya Dinda.
“Astaga. Kok jahat benar ya, temanmu itu Dinda?” Perempuan bermata cokelat itu melirik Dinda, anaknya.
“Iya, Bunda. Memang Tri itu orangnya suka cakap tinggi.” Dinda menimpali. “Kamu sih yang terlalu percaya sama dia, Mel.”
Aku menatapnya tanpa bicara, entah harus mengiyakan atau tidak. Ibu mengusap rambutku.
Aku tahu, berteman dengan Dinda bukanlah hal yang mudah karena dia sudah menetap dalam satu perkumpulan, yang beranggotakan belia – belia cantik dan kaya. Mereka menyebutnya ‘Dinda and the geng’. Hari pertama aku berteman dengannya, dia menyambutku ramah.
Tak banyak berbicara dan selalu mendengarkan agaknya membuatku diterima menjadi salah satu diantara mereka. Semula kukira Dinda adalah teman yang baik. Dia tak suka berdandan dan pacaran, tak pula suka menyindir dan menasehati. Dia bahkan memberiku kepercayaan untuk menjaga rahasianya.
“Janji, ya, jangan bilang siapa – siapa,” kata Dinda pelan. Aku lekas setuju. Dinda melanjutkan, “Sebenarnya aku benci sekali melihat Lina. Dia kikir. Jika kami belanja, kan selalu disatukan saja struknya, biasanya pakai uang dia dulu karena dia selalu sedia uang recehan. Di struk belanja itu biasanya ada tulisan PPN, kan. Jadi walaupun itu lima ratus, dia menagihnya juga. Bayangkan! Bukannya mau pelit, ya, tapi aku mana ada uang lima ratus perak!”
Aku terkekeh mendengar nada bicara Dinda yang khas. Setelah aku mendengar ceritanya, segera kubuktikan sendiri. Ternyata memang benar. Lina, salah satu anggota Dinda and the geng itu sangat kikir. Dinda ternyata bukanlah seorang pembohong, meskipun tadinya kukira dia hanya mengada – ngada.
Pernah pula dia membagiku cerita yang sepertinya tak seorangpun di sekolah itu yang pernah mendengarnya. Itu tentang ketua OSIS kami. Meskipun memiliki tubuh tegap berisi, Orlando takut berenang. Alasannya selalu karena dia memliki semacam alergi dengan air berkaporit.
“Tapi tahu tidak?” Dinda menahan tawa. “Setelah berpacaran dengannya, barulah aku tahu alasan dia tak mau berenang.”
“Kenapa? Malu karena tak bisa berenang, ya?” tanyaku antusias.
“Bukan.” Tawa Dinda pecah, “Kakinya berkurik!”
Mendengar cerita Dinda membuatku tak henti tertawa, tapi tak bertahan lama.
Hari itu Dinda tak datang, kata Bundanya dia sakit tifus dan harus dirawat di rumah sakit. Meskipun tak nyaman, aku harus tetap berteman dengan teman – temannya Dinda. Setelah menjenguk Dinda, aku diantar pulang oleh Desi naik mobilnya.
“Mel, aku mau tanya, boleh?” Desi melihatku sekilas sambil mengemudi.
“Boleh. Memang mau tanya apa?” balasku ramah.
“Bagaimana rasanya?” Desi takut – takut mencuri pandang ke arahku. “..Itu loh. Bagaimana rasanya menjadi enggak perawan lagi.”
“Hah?”
“Eh, iya enggak sih? Maaf deh, soalnya aku dengar dari Dinda, itupun tahu dari Tri katanya. Tapi, kata Dinda, Tri bilang ini rahasia dari Ira. Duh, bagaimana ya, menjelaskannya..”
***

Jumlah kunjungan: 1082 kali

Leave a Reply

Your email address will not be published.