Kreatifonline.com– Kalau lapar atau sekedar ingin mengganjal perut, singgahlah sebentar ke Fakultas Bahasa dan Seni. Tak jauh dari koridor (pengubung gedung B dan C) kamu dapat membeli Bakso Kejujuran.
Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.
Demikian kerap ia pancang kuat dalam hati. Nita Syah Umar, mahasiswa pendidikan bahasa inggris stambuk 2012 kelahiran Mandailing Natal yang baru saja selesai menunaikan solat zuhur pada Jumat 21 november 2014. Setelah menemukan tempat yang nyaman untuk berbincang, maka mengalirlah kisah ini.
Bermula saat semester tiga, beliau mengalami krisis keuangan. Bingung, sedih, kalut, takut studinya akan kandas begitu saja. Sejak awal ia memang kuliah bermodal nekat, maka segala kemungkinan pekerjaan yang mampu ia lakoni mulai ia pertimbangkan demi mempertahankan kuliah. Mencuci baju teman-teman hingga jadi cleaning service pun ia rela. Namun pekerjaan itu sulit ia lakukan dengan aktivitasnya sebagai mahasiswa perguruan tinggi negeri.
Iseng, ia membeli bakso goreng dan tiba-tiba ide itu menyelinap begitu saja. Bagaimana kalau dia berjualan bakso goreng di kampus? Setelah melakukan diskusi dan negosiasi dengan penjual bakso goreng itu, akhirnya ia mulai menjajakan dagangannya di kampus.
Dengan niat sungguh-sungguh, ia tekan rasa gengsi, yakin upaya ini halal dan jalannya untuk hidup di perantauan. Ia berjualan di kelas, lalu di koridor namun sempat kena tegur Pembantu Dekan II karena mengganggu aktivitas di koridor. Nita pun menjelaskan alasan mengapa ia berjualan di kampus.
“Mahasiswa dilarang jualan di kampus, tapi karena untuk biaya kuliah, jadi diperbolehkan. Alhamdulillah, diterima permohonan Nita.”
Dengan kursi lipat, ia jajakan bakso goreng tersebut.
“Awalnya bawa 50 tusuk, Alhamdulillah laku keras, jadi semangat, bawa 70 tusuk juga habis.” Nita tersenyum sambil bercerita.
Mendapat antusias yang besar, ia meningkatkan penjualannya. 100, 150, 200, 250 hingga penjualan paling fantastis menyentuh angka 880 tusuk dengan harga Rp. 1.000 per tusuk.
Nita mengaku tak merasa kesulitan kuliah sambil berjualan. Ketika masuk kelas, dagangannya ia tinggal begitu saja diatas sebuah kursi, ia menerapkan bakso kejujuran. Mahasiswa ambil sendiri baksonya lalu meninggalkan uang di tempat yang disediakan.
“Pernah kurang sampai empat puluh ribu, dipotong dari keuntungan Nita, tapi nggak apa-apa, Nita ikhlas, semoga berkah.”
Rasa minder kadang menghampiri, namun ia menyadari banyak berkah yang ia peroleh dari usahanya ini, selain mampu membayar uang kuliah sendiri, tidak menyusahkan orang tuanya lagi, ia pun kini mempunyai banyak teman.
“Kadang dikenali sebagai kak Nita tukang bakso.”
Ketika ditanya mengenai pengaruh BBM yang naik, “Terasa, bahan pembuatannya kan jadi lebih mahal, kalo dulu jualnya seribu laris, kalo sekarang seribu lima ratus, sekitar 300 sampai 400 tusuk per hari.”

Jumlah kunjungan: 1264 kali

Leave a Reply

Your email address will not be published.