Medan – Kreatifonline.com, Laksana pohon kering yang tetap tumbuh, itulah kehidupan seorang pendayung becak. Kehidupan era globalisasi yang semakin porak poranda, bagai api yang terus berkobar, menyempitkan berbagai peluang bagi semua orang terlebih lagi seorang pendayung becak sepeda. Meniti kehidupan yang sangat berat dengan apa adanya. Hidup yang serba kurang berkecukupan ini tidak membuatnya lelah untuk menjembatani berbagai macam rintanagn menjadi penghasilan.

Becak dayung yang menjadi andalan bapak beranak empat, dua laki-laki dan dua perempuan ini dalam mencari nafkah dirawatnya dengan baik. Sebab becak tersebut merupakan harta warisan turun temurun dari keluarganya. Bapak berumur 69 tahun yang bernama Tri ini, lahir pada 8 Agustus 1941. Tidak pernah terbersit kata “Menyerah” dalam menghadapi kehidupan yang semakin panas. Ia tidak pernah merasa pudar dengan pendapatannya yang tidak seberapa itu. Kendaraan tradisonal beroda tiga ini sangat besar jasanya bagi keluarga bapak dari empat orang anak ini. Kini anaknya telah memiliki keluarga masing-masing dan mencukupi kebutuhan masing-masing pula.

Sekarang ia hidup dengan istri dan satu orang cucu perempuan dari anak ketiga. Pekerjaan sebagai tukang becak sudah digelutinya sejak tahun 1963. “Berbagai pekerjaan juga telah bapak lakukan untuk memperbaiki hidup. Tapia pa mau dikata nak, mungkin inilah takdir yang terbaik yang diberikan Tuhan untuk keluarga kami,” ungkapnya dengan perasaan sedih. Ia sempat menggeluti pekerjaan lain, seperti berdagang. Berdagang di usia muda saat berumur 26 tahun membuatnya semangat untuk memperbaiki hidup, dengan karir yang baru. Berdagang adalah pilihannya. “Dengan modal yang telah bapak kumpulkan selama beberapa tahun. Dan dibantu istri, bapak mulai berdagang pakaian wanita dan pria.” tutur Pak Tri. “Awalnya kehidupan kami memang membaik, selama 2 tahun kami hidup dengan berdagang dan lumayan bisa membeli hal-hal yang diinginkan sejak lama seperti TV, kami sempat juga menabung. Namun menjalani hidup menjadi seorang pedagang tidaklah mudah, saat itu kami juga mengangsurkan pakaian dengan harga yang sedikit lebih mahal, karena diangsur. Banyak orang yang mengangsur pakaian, namun orang tersebut lalai dalam membayar, bahkan mereka kabur meninggalkan rumahnya. Sejak saat itu pula pelanggan kami mulai berkurang dan akhirnya gulung tikar dan bangkrut,” jelas Pak Tri dengan sedih.

Modal pengetahuan yang hanya sampai kelas 4 sekolah rakyat, tidak memberinya peluang untuk bekerja menjadi seorang pegawai atau karyawan kantor. Akhirnya becak peninggalan orangtuanya menjadi pilihan terakhir untuk memenuhi kehidupan dan kebutuhan sehari-hari. Dia mengatakan kalau dulu dengan uang lima ribu cukup untuk menutupi kehidupan sehari-hari, tapi kalau sekarang dengan penghasilan dua puluh ribu per hari sangatlah pas-pasan sekali. Hanya bisa membawa pulang ke rumah satu atau dua kilo beras. Kondisi seperti ini cukup sulit, tapi mau bagaimana lagi. Inilah hidup, kadang di atas kadang di bawah, bagai roda yang berputar. Keikhlasan hidup dan kebesaran hati membawa Pak Tri tegar dalam menghadapi segala hidupnya. Walau dengan hidup yang serba pas-pasan ia tetap merasa puas atau nikmat yang diberikan Tuhan. Hidupnya terasa lebih tentram dan bahagia. “Kita hanya hidup sementara,” ungkapnya sambil tersenyum.

Bekerja di luar rumah mulai pukul 07.00 sampai dengan 19.00 wib sudah menjadi kegiatan sehari-hari bapak kelahiran bulan Agustus ini. Mendapat uang pas untuk makan saja sudah menjadi keberkahan tersendiri dalam kehidupannya. Walaupun dalam kenyataannya setiap orang mempunyai mimpi yang tinggi dan berkhayal untuk mencari kehidupan yang layak. Sama halnya dengan manusia yang lain, Pak Tri pun begitu. Akan tetapi, hal itu tidak semata-mata membuatnya gelap mata dan melakukan hal-hal yang dilarang oleh keyakinannya.

Ia tetap yakin dan optimis bahwa inilah hidup. Pendapatan rata-rata sehari lima belas ribu sampai dua puluh lima ribu, untuk makan tiga kali sehari dengan lauk pauk dan sayur yang apa adanya sudah sangat syukur sekali, sebab becaknya adalah becak milik sendiri, bukan menyewa. Seperti pembecak lain, salah satunya teman Pak Tri yaitu Pak Mul. “Saya harus membayar sewa becak dan saya bekerja hingga larut malam untuk mendapatkan setoran mandor dan setoran perut keluarga.” ungkap Pak Mul. Pak Tri selalu berdoa dan memohon agar anak dan cucu-cucunya kelak dapat hidup lebih baik darinya.

Dia juga mengatakan ternyata di dunia ini masih banyak orang baik, meskipun tidak semuanya yang mau memperhatikan masyarakat bawah seperti dirinya. Terkadang orang melebihkan ongkos becaknya karena merasa iba dengan keadaannya. Bekerja dengan bermodalkan tenaga ia tekuni dan syukuri. “Saya sering menjadi penumpang becak Pak Tri, saat pulang belanja dari Aksara. Beliau adalah orang yang baik dan tidak pernah mengeluh dengan keadaannya, terkadang saya juga melebihkan ongkos becak,” tutur salah seorang penumpang yang sering menjadi penumpang Pak Tri.

Suatu kehidupan yang menarik bagi seorang yang mengerti akan makan hidup ini dan mengetahui seluk beluk keluarga Pak Tri. Kehidupan nyata dari seorang pendayung becak secara tradisional. Saat ini sangat jarang sekali dijumpai becak dayung, khususnya di Kota Medan orang banyak yang berpindah memakai becak mesin. Hal ini dikarenakan lebih menghemat waktu, namun sesungguhnya apabila orang mengerti, bahwa becak dayung merupakan kendaraan bebas polusi yang dapat mengurangi timbulnya berbagai penyakit dan udara yang kotor akibat polusi.  Mungkin orang-orang seperti Pak Tri akan bisa sedikit merasakan perbaikan  ekonomi agar dapurnay terus mengepul. Dan untuk kita sendiri mungkin hanya mendapatkan dua karunia sekaligus, yaitu kesehatan fisik dan kesehatan hati seperti yang ditanamkan Pak Tri pada keluarga dan dirinya.

“Ekonomi global membawa keterpurukan bagi mereka yang mempunyai latar belakang ekonomi yang sulit. Masyarakat bawah semakin ke bawah sedangkan masyarakat atas semakin ke atas. Pemerintah tidak pernah peduli akan hal ini, rakyatlah  yang selalu memikirkan diri sendiri. Semua saling memikirkan diri sendiri, sudah jarang sekali rasa sosialisme yang baik antar masyarakat. Kehidupan ekonomi menjadi jurang pemisah antar si kaya dan si miskin. Sedikit sekali masyarakat yang memiliki sikap sosialisme bila dibandingkan dengan jumlah masyarakat yang ada,” ungkap Pak Tri yang memberikan tanggapan tentang kehidupan ini.

Jumlah kunjungan: 985 kali

Leave a Reply

Your email address will not be published.